0878 8077 4762 [email protected]

Perlakuan Umar dalam Penggusuran Rumah untuk Perluasan Masjid

Semakin banyaknya masyarakat yang masuk Islam pada masa ketiga tahun Umar bin Khaththab menjabat sebagai Khalifah. Masjid Nabawi senantiasa dipenuhi oleh umat Islam untuk beribadah.
Dengan banyaknya umat Islam yang melaksanakan ibadah di Masjid Nabawi menyebabkan Masjid Nabawi dirasa sempit karena tak kuasa lagi menampung jamaah yang jumlahnya semakin meningkat.
Umar bin Khaththab bermaksud memperluas masjid tersebut. Namun, dia menghadapi kendala dalam pemugaran dan perluasan masjid, karena keberadaan rumah Abbas bin Abdul Muththalib di samping masjid.
Maka, suatu hari, Umar pun menemui paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tersebut. Selepas berbagi sapa beberapa lama dengan Abbas bin Abdul Muththalib, sang khalifah kemudian berucap kepada Abbas,
“Wahai Abbas! Saya pernah mendengar Rasulullah, menjelang wafat, bermaksud akan memperluas masjid Kota Madinah ini. Tapi, rumahmu yang berada di dekat masjid ini menghalangi perluasan tersebut. Karena itu, kini, serahkanlah rumah ini kepada kami, sehingga kami bisa memperluas masjid itu. Kami akan menggantinya dengan lahan yang lebih luas.”
“Tidak, wahai Amirul Mukminin! Saya tidak akan menyerahkannya,” jawab Abbas lugas.
“Kalau begitu, kami terpaksa menggusurnya!” ucap Umar tak kalah lugas.
“Engkau tak berhak melakukan hal itu, wahai Amirul Mukminin!” kata Abbas dengan tegas. “Tetapi, sebaiknya kita tunjuk seseorang yang akan mengadili persoalan kita ini berdasarkan kebenaran.”
“Siapa yang engkau pilih?” tanya sang khalifah.
“Hudzaifah bin Al-Yaman!” jawab Abbas
Mereka berdua kemudian mengundang Hudzaifah bin Al-Yaman yang kala itu menjabat Ketua Mahkamah Agung.
Selepas mendengar penuturan kedua belah pihak, Hudzaifah berucap, “Saya pernah mendengar kisah yang sama dengan ini, suatu saat Daud ‘Alaihi sallam bermaksud akan memperluas Bait Al-Maqdis. Kebetulan dia mendapati sebuah rumah di samping tempat beribadah itu. Rumah itu milik seorang anak yatim. Daud pun meminta izin kepada anak itu untuk menyerahkan rumahnya. Tetapi, anak yatim itu menolak permintaan Daud, hingga Daud bermaksud mengambil rumah itu dengan paksa. Maka Allah mewahyukan kepadanya, “Sungguh, rumah yang paling layak terhindar dari keaniayaan adalah rumah-Ku.” Mendengar wahyu itu, Daud pun membatalkan rencananya dan membiarkan rumah itu seperti sediakala.”
Selepas mendengar uraian Hudzaifah bin Al-Yaman tersebut, Abbas bin Abdul Muththalib pun memandangi Umar bin Khaththab seraya bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau masih bermaksud akan mengambil rumah saya ini demi perluasan Masjid Nabawi?”
“Tidak!” jawab Umar dengan tegas.
“Jika demikian, saya akan menyerahkan rumah saya ini kepadamu untuk memperluas masjid itu,” Ucap Abbas.
 
Sumber : JalanSirah

MUI : Ulama se-Indonesia Sudah Mengharamkan PKI dan Menganggap Murtad yang Berideologi Komunis

Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali mengingatkan bahwa pada tahun 1957 para ulama se-Indonesia di Palembang, Sumatera Selatan, telah mengeluarkan fatwa haram terkait ideologi komunisme. Umat Islam yang mengikuti ideologi komunisme sama saja telah murtad.
“Umat Islam yang mengikuti ideologi komunisme murtad, keluar dari Islam. Haram masuk PKI. Jadi PKI partai haram yang sudah difatwakan oleh ulama tahun 1957. Bahkan fatwa itu menyampaikan dilarangnya perkawinan seorang Muslim dengan keluarga PKI,” kata Ketua Dewan penasihat MUI Cholil Ridwan.
Paham Komunis menurut Ulama
Syekh Yusuf Qaradhawi dalam Fiqih Kontemporer menjelaskan, komunisme merupakan paham materialis yang tidak mengakui sesuatu kecuali bersifat kebendaan dan terjangkau bagi pancaindra. Komunisme juga tidak mengakui sesuatu yang ada di balik materi (immateri). Mereka tidak beriman kepada Allah, tidak percaya kepada akhirat, dan perkara gaib lainnya.
Syekh Qaradhawi pun berpendapat, seorang Muslim berpaham komunis adalah murtad atau keluar dari Islam. Meski, jika si komunis itu hanya mengambil sisi sosial dan ekonomi dari sisi komunisme, bukan dari sisi agama. Menurut Qaradhawi, yang demikian itu sudah cukup menjadikan orang tersebut murtad.
Syekh Qaradhawi beralasan, Islam memiliki ajaran-ajaran yang tegas dan jelas dalam mengatur kehidupan ekonomi. Prinsip ini ditentang oleh komunisme. Contohnya, kepemilikan pribadi, kewarisan, zakat, dan hubungan lelaki dengan perempuan. Hukum-hukum ini merupakan bagian dari prinsip agama di dalam Islam.
Ulama kenamaan Saudi, Syekh Muhammad Salih Al Munajjid menjelaskan, tidak mungkin seorang Muslim bisa menjadi komunis dalam waktu bersamaan. Dua paham ini saling bertentangan. Tidak bisa ada pada satu individu tanpa salah satunya dieliminasi. Barang siapa yang menjadi komunis maka dia bukanlah Muslim.
Menurut Syekh Muhammad Salih, komunisme termasuk bentuk kekafiran yang nyata, karena seorang komunis tidak mengakui keberadaan Allah SWT. Mereka pun tidak mengakui adanya du nia yang tidak terlihat. Komunisme juga kerap melecehkan agama Allah dan mencemooh aturan dan nilai-nilai moral di dalamnya.
Akhirul kalam, mengutip dari pernyataan KH Salahuddin Wa hid, komunisme hanya bisa tum buh dan hidup dalam masyarakat yang subur untuk paham itu. Ma sya rakat yang penuh dengan ketidakadilan, kemunafikan, kemiskinan, kebodohan, keterbelakang an, dan berbagai penyakit sosial lainnya.
Untuk memberantas komunisme, kita harus menjawab tantangan itu dengan berjuang menghilangkan lahan yang subur untuk tumbuhnya paham tersebut. Karena itu, umat Islam harus berjihad menghilangkan ketidakadilan, korupsi, kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan penyakit masyarakat lainnya. Wallahu’alam.
 
Disadur : Republika/Viva
Foto : Ulama-ulama palembang, jakarta dan lainnya

Sepertinya Saya Kurang Piknik?

 
Iman itu terkadang naik terkadang turun, kenapa koq kayaknya ga naik-naik ya, sepertinya saya kurang piknik?
Ghiroh di dada ini terasa hampa, sepertinya saya kurang piknik.
Ibadah koq kayaknya cenderung melemah (semangat gitu-gitu aja dan cenderung berkurang), lagi-lagi sepertinya saya kurang piknik?
Akhir zaman semakin dekat, tanda-tanda semakin jelas, hati terasa resah gelisah, apakah akan mengalami masa-masa puncak akhir zaman ,sedangkan sekarang saja zamannya penuh dengan fitnah.
Dimanakah posisi saya saat terjadinya masa-masa puncak akhir zaman? Ataukah nanti anak keturunan saya yang mengalaminya?
 
Hati semakin resah betapa beratnya di akhir zaman ini, bagaimana saya bisa mendidik anak keturunan saya kalau iman dan aqidah saya pun lemah? Ibadah pun hanya sekedarnya?
Apa jadinya jika saya hanya menuntut menyuruh keluarga saya sholat, beribadah semaksimal mungkin sedang saya pun lalai? Astagfirullohal’adzim.
Ya sudah, sekarang waktunya saya piknik.
Piknik ke majelis-majelis ilmu, belajar kembali tata cara ibadah yang benar sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Hadits bukan berdasarkan kata-katanya.
Semoga piknik ini saya bertemu dengan orang-orang sholih, ustadz, ulama ahlussunnah waljama’ah yang mengamalkan Al-Quran dan Sunnah-sunnah Rasulullah, agar saya bisa belajar memperbaiki diri. Perlahan mengamalkan apa yang telah dicontohkan Rasulullah.
Semoga dijauhkan dari pemikiran dan pemahaman yang sesat dan menyesatkan, dilindungi dari fitnah-fitnah Dajjal yang kian kuat.
Jangan ragu ajak saya piknik ya, semoga ada kesempatan umur dan waktu serta kesehatan. Saya malu, karena dosa dan aib saya sangat banyak.
 
Oleh: Hadi Taufik
Sumber : Islampos

Jauhi Dengki

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)
 
Mari kita mentafakuri api unggun. Api unggun berawal dari kayu bakar yang berasal dari batang pohon. Kemudian batang-batang pohon itu dibelah dengan berbagai ukuran sedemikian rupa. Lalu ditumpuk-ditumpuk, disiram sedikit minyak dan dibakar. Dalam sekejap kayu-kayu bakar yang sudah melalui berbagai proses begitu lama itupun ludes menjadi abu. Dan musnah. Inilah gambaran kedengkian.
Rasululloh Saw. bersabda, “Jauhilah oleh kalian sifat dengki. Karena dengki itu memakan kebaikan bagaikan api unggun menghanguskan kayu bakar.” (HR. Abu Daud)
Bayangkan, sholatnya jalan, tahajudnya hampir tiap malam, shaum sunnahnya jarang ketinggalan, sedekahnya mengagumkan, tilawah Al Qurannya setiap waktu, dan kebaikan-kebaikan lainnya banyak ia lakukan. Namun, ia memendam satu penyakit, yaitu dengki.
Orang pendengki itu rumusnya sederhana, susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah. Mengapa Alloh tidak suka kepada seorang pendengki?
Karena pendengki adalah orang yang tidak menyukai perbuatan Alloh Swt. Pendengki adalah orang yang kurang iman. Pendengki adalah orang yang buruk sangka kepada Alloh Swt. Dan, pendengki adalah orang yang tidak mengakui bahwa Alloh Maha Baik dan Maha Adil.
Ketika Alloh mentakdirkan sesuatu keberuntungan kepada salah seorang dari hamba-Nya, maka pendengki tidak rela akan takdir tersebut. Berarti lebih jauhnya, ia tidak suka kepada Dzat yang menghendaki takdir itu terjadi, yaitu Alloh Swt.
Bayangkan, manakala kita melakukan berbagai kebaikan, namun ada penyakit di dalam hati kita yaitu kedengkian, maka terhapuslah kebaikan-kebaikan kita itu. Subhaanalloh. Semoga kita terlindung dari hal yang demikian.
Saudaraku, ini adalah masalah yang penting. Mungkin kita tidak jarang menilai bahwa iri hati, dengki adalah masalah yang sepele. Padahal jikalau kita tafakuri lebih dalam, betapa ini adalah urusan yang serius.
Tidak heran jika Rosululloh Saw. dalam hadits di atas mewasiatkan tentang dampak buruk dari kedengkian. Artinya, dengki adalah penyakit yang benar-benar perlu kita jauhi. Jangan sampai berbagai amal kebaikan kita menjadi sia-sia disebabkan penyakit dengki di dalam hati kita.
Semoga Alloh Swt. selalu memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita senantiasa membersihkan hati kita dan menjauhkannya dari iri hati dan dengki. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.
 
Sumber : SmsTauhid
Aa Gym menjadi Pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhid Bandung – Jakarta.

Wisatawan Muslim Meningkat, Jepang Tingkatkan Kuliner Halal

Wisatawan Muslim Meningkat, Jepang Tingkatkan Kuliner Halal

Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan Muslim ke Jepang, pemerintah di sana mulai mengembangkan industri kuliner halal. Saat ini wisatawan yang memeluk agama Islam tidak sulit memilih makanan halal di Jepang.
Pasalnya Direktur Eksekutif Japan National Tourism Organisation (JNTO), Hideki Tomioka mengungkapkan kalau saat ini mereka sedang memperbanyak jumlah tempat makan bermenu halal.
“Kami merasa kalau jumlah tempat makan halal masih sangat sedikit. Kami akan memperbanyaknya pada tahun ini,” ujar Tomioka.

2302_02b

Salah satu tempat makan halal yang tersebar


Tomioka juga membeberkan saat ini tempat makan halal banyak tersebar di kawasan Kyoto dan Osaka. Namun, belum banyak wisatawan Muslim yang mengetahuinya.
“Sebelum berkunjung ke Jepang, wisatawan Muslim bisa mencari tahu informasi mengenai keberadaan tempat makan halal di Kyoto atau Osaka. Di sana, berbagai macam menu tersedia,” tukasnya.
Tak hanya tempat makan, keberadaan masjid juga masih membuat banyak wisatawan Muslim berpikir dua kali untuk mengunjungi Jepang.
“Kalau masjid memang jarang ditemui di pinggiran jalan Jepang. Tapi, di beberapa tempat publik seperti mal, keberadaan mushola masih gampang ditemui,” imbuhnya.
“Di kawasan seperti Yokohama, Kobe, dan Tokyo, ada beberapa masjid. Yang datang tak hanya wisatawan muslim, tapi juga wisatawan non-muslim. Mereka ingin melihat langsung keindahan bangunan tempat ibadah itu,” kata Tomioka.
Dia berharap jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Jepang semakin meningkat.
“Wisatawan tak hanya mengenal Jepang sebatas Tokyo saja, ada banyak kawasan lain yang tak kalah indah dari Tokyo. Kami mengundang wisatawan untuk datang dan menikmati keindahannya secara langsung,” papar Tomioka.
Selain itu sebanyak 70 Masjid tersebar di seluruh Jepang dan kebanyakan berada di Kota ini, serta kota-kota besar lain seperti, Toyama, Fukuoka, Kyoto, Kobe, Osaka, Nagoya, Sapporo dan Sendai.
Pemerintah Jepang pun lantas mendorong berbagai usaha lokal kecil untuk menyediakan produk dan layanan bagi wisatawan Muslim dengan memberikan subsidi dana dan kemudahan mendapatkan sertifikat halal.
Tahun lalu sebanyak 270 orang wisatawan asal Indonesia telah berkunjung ke Jepang jumlahnya meningkat sebanyak 32 persen dari tahun sebelumnya.
Adapun Muslim UEA dan negara Teluk yang mengunjungi Jepang dikabarkan meningkat. Peningkatan jumlah wisatawan selama 18 bulan terakhir. Orang Emirates atau ekspatriat ingin melihat dan merasakan wisata Jepang.
Dengan menargetkan jumlah kunjungan wisatawan dari Asia. Pemerintah Jepang memberlakukan bebas visa bagi Indonesia, Malaysia dan Thailand juga menjadi salah satu strategi Jepang untuk meningkatkan 65 persen wisatawan Muslim dari Asia Tenggara.
 
Sumber : Gomuslim

Hujan Lebat Menambah Kesengsaraan Pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh

UKHIA, BANGLADESH – Hujan yang lebat semakin menumpuk kesengsaraan baru pada ratusan ribu Muslim Rohinyga yang terjebak di kamp darurat di Bangladesh setelah melarikan diri dari kekerasan di Myanmar.
Sekitar 7,7 cm hujan turun dalam 24 jam dan diperkirakan bertambah lagi dalam dua hari ke depan, kata Departemen Cuaca Bangladesh.
“Hujan telah melipatgandakan kesengsaraan mereka,” kata Mohammed Kai-Kislu, kepala polisi di Ukhia dekat Cox’s Bazar, rumah baru bagi banyak orang Rohingya.
Pekerja bantuan mengatakan ribuan orang Rohingya basah oleh kembalinya musim hujan setelah beberapa hari tidak turun.
Arfa Begum dan tujuh keluarganya mencoba bersembunyi di bawah pohon karet di dekat pemukiman Balukhali dimana mereka tiba lima hari sebelumnya.
“Mereka mengusir kami dari perkebunan karet,” katanya, merujuk pada polisi dan penjaga perbatasan yang memaksa para pengungsi keluar dari tempat penampungan darurat.
“Butuh waktu berjam-jam untuk menemukan tempat yang aman. Kami basah kuyup, “katanya kepada AFP.
Dihadapkan dengan kubangan lumpur yang menyebar, Muslim Rohingya sudah mulai membangun karpet bambu untuk melewati tanah yang banjir.
Seorang pakar hak asasi manusia di Cox’s Bazar mendesak pemerintah untuk menutup sekolah lokal selama tiga hari untuk mengizinkan orang Rohingya berkemah di dalamnya.
“Ini adalah bencana lain yang sedang berlangsung. Ribuan orang Rohingya tidak memiliki tempat untuk bersembunyi saat hujan turun, “kata Nur Khan Liton, yang memimpin kelompok hak asasi Bangladesh Ain O Salish Kendra, kepada AFP.
Kondisi penampungan pengungsi di Cox’s Bazar
Dengan kekurangan makanan dan air yang membuat hidup terasa berat, hujan deras membawa kondisi rawa-rawa ke banyak bagian kota perbatasan Cox’s Bazar yang telah menjadi magnet bagi Muslim Rohingya.
Pihak berwenang Bangladesh, yang telah mengeluarkan pembatasan perjalanan terhadap Rohingya, melancarkan operasi pada Sabtu malam untuk memindahkan puluhan ribu orang dari kamp-kamp di pinggir jalan dan gubuk-gubuk di lereng bukit menuju sebuah kamp baru raksasa.
PBB mengatakan 409.000 orang Rohingya sekarang telah memenuhi Cox’s Bazar sejak 25 Agustus ketika militer di Myanmar yang mayoritas umat Buddha meluncurkan operasi di negara bagian Rakhine.
Karena kamp-kamp yang ada sudah penuh dengan 300.000 Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan sebelumnya, sebagian besar warga Rohingya terpaksa tinggal di udara terbuka atau di bawah lembaran plastik tipis.
Polisi berkeliling ke jalan-jalan dengan pengeras suara memerintahkan keluarga-keluarga yang kelelahan untuk pergi ke kamp Balukhali di Cox’s Bazar, yang sedang dibersihkan untuk membangun tempat penampungan baru.
“Kami memindahkan mereka dari pinggir jalan dimana banyak dari mereka tinggal,” Khaled Mahmud, juru bicara pemerintah untuk distrik Cox’s Bazar mengatakan kepada AFP.
Mahmud mengatakan secara bertahap semua Warga Rohingya baru akan dibawa ke Balukhali.
Pada hari Sabtu, polisi Bangladesh mengeluarkan perintah baru yang keras yang melarang warga Rohingya untuk pindah dari wilayah yang ditentukan.
Perintah tersebut bahkan mencegah mereka berlindung dengan teman dan saudara mereka. Pos pemeriksaan telah disiapkan di titik transit utama.
Dengan ribuan lainnya Rohingya tiba setiap hari, pemerintah Bangladesh khawatir para pengungsi bisa menggerogoti kota-kota lain di seluruh negeri.
Namun PBB sudah memperingatkan kondisi yang tidak dapat ditolerir di kamp-kamp seputar Cox’s Bazar.
Peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, yang banyak dikritik di seluruh dunia karena tidak mengutuk kekerasan terhadap Rohingya, harus menghadapi kemarahan global meski tidak membuat marah militer, yang memiliki kekuatan besar.
Jenderal Min Aung Hlaing, kepala tentara Myanmar yang sedang melakukan gencatan senjata, meminta pendirian “bersatu” dalam menangani krisis akibat tekanan duni, namun tidak memberikan tanda konsesi.
 
Sumber : VoaIslam