by Danu Wijaya danuw | Jul 15, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
SENEGAL– Menurut laporan lembaga Human Rights Watch (HRW), banyak pesantren di Senegal justru memaksa sekitar puluhan ribu santri mereka supaya mengemis. Jika menolak, maka mereka bakal disiksa atau dilecehkan secara seksual.
Para santri mengaku sengaja datang jauh-jauh dari kampung mereka di pelosok buat masuk pesantren di Ibu Kota Dakar. Sayang, setelah tiba di sana mereka harus menghadapi kenyataan diperlakukan dengan sangat buruk.Dilansir dari laman The Guardian, Rabu (12/7),
Dari penuturan sejumlah santri, mereka dipaksa meminta-minta. Jika pulang dengan tangan hampa, maka sudah pasti bakal dihukum.
Menurut HRW, 7 tahun lalu mereka pernah menggelar penelitian tentang para santri yang dipaksa mengemis. Hasilnya, mereka menemukan ada kurang lebih 50 ribu santri mengemis. Bahkan tiga tahun lalu, menurut survei dari pemerintah Senegal, kemungkinan jumlah itu lebih besar.
Dari sejumlah bocah diwawancara, terkuak kekejaman di balik tembok pesantren di Senegal. Mereka mengaku dipukuli jika ketahuan tidak belajar, atau ketika hasil mengemisnya meleset dari target. Contohnya pada Maret lalu, seorang santri di Diourbel meregang nyawa setelah digebuki di dalam pesantren entah karena menolak mengemis atau hasilnya meleset.

Seorang anak diminta mengerjakan sebuah tugas di Medina Gounas Senegal. Sebagian besar marbout atau guru ngaji mereka akan menghukum, jika kuota mengemis harian tak tercapai.
Bahkan, ada juga santri yang dihukum pasung dengan dirantai. Malah pada Desember tahun lalu, seorang santri tewas terpanggang dalam kebakaran pesantren, lantaran dia diikat dan dirantai
Bagi para santri, masalah itu bak lingkaran setan. Pesantren di Senegal justru menjadi tempat tidak aman, meski negara itu sudah didesak supaya mencari jalan keluarnya. Para santri dianiaya, dilecehkan secara lisan dan seksual, serta ditelantarkan.
“Bagian menyedihkannya adalah anak-anak itu berada dalam situasi sangat rawan. Mereka dipukuli, dilecehkan secara seksual, atau dirantai di dalam pesantren karena tidak membawa uang atau makanan dari mengemis,” kata peneliti HRW wilayah Afrika Barat, Jim Wormington.
Juni tahun lalu, Presiden Senegal, Macky Sall, meluncurkan program buat mengakhiri masalah pengemis anak-anak. Polisi dan pekerja sosial merazia para santri dan membawa mereka ke rumah singgah dan diurus secara layak, kemudian dipertemukan dengan orang tua masing-masing.
Sejak saat itu hingga Maret 2017, sekitar 1.547 bocah pengemis berhasil diselamatkan, di mana sekitar 1.089 di antaranya adalah santri. Sayangnya, karena keterbatasan tempat dan tenaga, para santri justru dikembalikan ke pesantren. Tak lama kemudian, mereka kembali lagi ke jalanan buat mengemis.
“Masalah ini sudah ada dalam masyarakat Senegal bertahun-tahun. Seharusnya yang menjadi fokus pemerintah adalah mengusut para ustaz di pesantren yang menyebabkan hal itu terus terjadi,” pungkasnya.
Sumber : Merdeka
by Danu Wijaya danuw | Jul 15, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
GEREJA berbentuk masjid dengan kubah dan menara berasitektur Turki itu terletak tak jauh dari Austria Trend, hotel bintang lima tempat kami menginap di Kota Budapest, ibu kota Hongaria.
Setiap interval waktu satu jam lonceng yang berada di menara gereja itu selalu berbunyi. Seakan-akan lonceng gereja yang terus-menerus berbunyi itu merupakan penegasan eksistensi dan otoritas tunggal rumah ibadah beraliran kependetaan di negeri yang di era perang dingin pernah bergabung dalam Blok Timur itu.
Gereja berbentuk masjid di Kota Budapest itu dan banyak tempat lainnya di berbagai pelosok negeri Hongaria bukanlah sebuah kebetulan. Bukan sekadar kesamaan arsitektur saja. Karena awalnya bangunan rumah ibadah itu memang mesjid tempat umat Islam bersembah sujud kepada Tuhannya dan kemudian seiring dengan perubahan waktu dan dominasi kekuasaan di Hongaria masjid-masjid yang ada di sini diubah menjadi gereja.
Sejarahnya panjang. Pada tahun 1526 Masehi, Kekhalifahan Turki Usmani di bawah pimpinan Sultan Sulaiman Yang Agung atas permintaan sebagian besar rakyat Hongaria yang terancam oleh Kerajaan Austria menyerang dan menganeksasi Hongaria. Kerajaan Hongaria berhasil ditaklukkan. Sejak saat itu, banyak penduduk Hongaria memeluk Islam dengan kesadaran sendiri tanpa ada paksaan sedikit pun.
Mereka memilih Islam karena logika-logika keimanan Islam yang disaampaikan para dai ketika itu lebih logis dari dialektika keimanan yang secara turun-temurun mereka yakini.
Bersamaan dengan pertumbuhan pesat jumlah umat Islam di Hongaria saat itu, di samping memberikan kebebasan beragama kepada penganut kepercayaan lainnya, Kekhalifahan Turki Usmani juga mendirikan banyak masjid untuk keperluan tempat ibadah umat Islam.
Masjid-masjid yang dibangun Kekhalifahan Turki Usmani di Hongaria, sejauh yang saya saksikan, arsitektur bangunannya persis dan mirip benar dengan arsitektur dan konstruksi mesjid yang ada di Turki, terutama di Kota Istanbul. Ini, antara lain, dikarenakan insinyur dan tukang yang terlibat dalam pembangunan mayoritas dari Turki.
Di Hongaria tidak hanya masjid yang dibangun orang Turki, tapi banyak juga bangunan lainnya yang sampai hari ini masih bisa kita saksikan. Misalnya, Turkish Bath (pemandian air panas Turki) di beberapa tempat. Selain Turkish Bath dengan air panas alam, di pasar tradisional Budapest juga masih banyak makanan yang dijual dengan bumbu khas Turki. Jejak Turki dengan Islamnya masih sangat tersa di negeri ini.
Setelah Kekhalifahan Turki Usmani tumbang pada tahun 1922 M, Hungaria dengan ibu kotanya Budapest berkembang jadi kerajaan yang sangat disegani di Eropa Tengah bersama Austria, Swiss, dan Ceko.
Bersamaan dengan berkurang dan menipis hingga hilangnya pengaruh Turki Usmani di Hongaria, eksistensi Islam dan umatnya pun semakin terancam. Dalam catatan sejarah banyak umat Islam dipaksa masuk Kristen dan banyak pula yang dibunuh karena menolak pindah agama. Sesuatu yang kontras dengan era Turki Usmani yang justru memberi kebebasan dan perlindungan kepada penganut agama lainnya.

Masjid-masjid yang dulu dibangun umat Islam satu persatu direbut dan dikuasai kaum Kristen Ortodok di negeri itu dan diubah fungsinya menjadi gereja. Karena itu, wajar saja bila banyak wisatawan muslim yang berkunjung ke Hongaraia, utamanya ke Budapest, bertanya-tanya, “Kok, banyak gereja di sini mirip sekali dengan masjid?”
Sebagai seorang muslim, saat hari pertama menginjakkan kaki di Kota Budapest dan melihat di sejumlah menara “masjid” terpasang salip, sungguh hati saya terasa galau. Ini tentu sebuah kegalauan yang alamiah terkait dengan nestapa jejak peradaban Islam di sebuah tempat.
Rasa “emosional” tersebut juga terpicu oleh aktivitas saya selama ini yang relatif intens membaca dan mempelajari sejumlah referensi terkait sejarah dinamika Khalifah Turki Usmani termasuk ekspansi dan jasa besar imperium ini memperkenalkan Islam ke dataran Eropa. Termasuk ke Hongaria.
Makanya, ketika tiba di Budapest saya melihat sejumlah masjid yang di puncak menaranya tak lagi bertengger bulan sabit, saya merasa bagaikan terjerembab dalam romantisme psikologis.
Andai gereja-gereja di sini masih berfungsi sebagai masjid seperti sebelumnya, maka selama dua malam saya menginap di Kota Budapest pasti lima kali sehari semalam saya akan mendengarkan lantunan azan yang syahdu dengan logat Eropa dari menara-menara indah gereja itu.

Namun apalah daya, selama di Kota Budapest yang saya dengar justru bunyi lonceng gereja yang bertalu-talu setiap satu jam sekali. Dan yang sangat “mengganggu serta menyiksa” nurani saya adalah ketika lonceng gereja itu berdering di kala alam sunyi sepi saat seharusnya lantunan azan subuh bergema.
Seperti halnya di tanah air, saat menjelang subuh bersama istri saya sudah terbangun. Pada subuh pertama kami di Budapest, di kamar hotel istri saya berkata, “Ayah, kok nggak ada suara azan di sini ya?”
Saya termenung, kemudian saya ajak istri shalat Subuh berjamaah di kamar hotel. Saya pun berbisik, “Sungguh, ayah pun merindukan bunyi azan dari langit Budapest ini!”
Sumber : Usamahelmadny.com
by Danu Wijaya danuw | Jul 14, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Turki menghasilkan berbagai kesepakatan antar kedua negara. Hasil salah satunya berupa kesepakatan investasi senilai US$ 520 juta (setara dengan Rp 6,7 triliun Selain itu adalah kesepakatan bisnis antara perusahaan Indonesia dengan Turki.
Seperti perjanjian antara PT Dirgantara Indonesia dengan Turkish Aerospace Industry mengenai pengembangan pesawat jenis turboprop baling-baling. Pesawat yang akan dikembangkan oleh kedua negara adalah pesawat N245.
Kerjasama Membuat Pesawat
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Fajar Harry Sampurno mengaku, bukan tanpa alasan PT DI memilih Turki sebagai negara mitra dalam pengembangan N245.

Kerjasama Pengembangan Pesawat 245
“Turki itu pengguna terbesar CN235. PT DI juga sudah memberikan banyak teknologi modifikasi mission control dan perawatan CN235 ke Turki,” kata Harry kepada Liputan6.com, seperti ditulis Minggu (9/7/2017).
Indonesia-Turki Bikin Tank
Jokowi menyambut baik hasil konkret kerja sama industri pertahanan, antara lain peluncuran tank kelas menengah Kaplan MT.
Tank tempur ini merupakan produksi bersama antara Indonesia dan Turki yang dikembangkan oleh FNSS Turki dan PT Pindad Indonesia.
1. Kerja Sama Tank Medium Kaplan MT
Model Tank Medium FNSS Turki dan PT Pindad, pertama kali muncul di Indo Defence, awal November 2016 di Jakarta. Wujud nyatanya, berupa prototype akhirnya muncul pada IDEF 2017 di Istanbul Turki.

Dua buah Tank Medium Kaplan kerjasama Indonesia-Turki di acara Indo Defence
2. Tank Medium Kaplan (FNSS Savunma)
Tank Medium berbobot hingga 35 ton ini, memiliki kemampuan tembakan langsung yang akurat, berbagai pilihan amunisi mulai dari dukungan tembakan (close fire support) hingga amunisi anti-tank. Tank ini juga memiliki mobilitas taktis dan strategi yang superior.
Tank Medium 105mm ini didukung oleh power pack di bagian belakang kendaraan, yang memberikan rasio power-to-weight sekitar 20 HP / ton. Mesin memindahkan tenaga ini ke sistem penggerak, yang memiliki sistem suspensi anti-shock enam roda dengan tuas ganda yang dipasang pada torsi, dengan daya jelajah operaional 450 km.
Daya tembak tank disediakan oleh CMI Cockerill 3105 turret, terintegrasi dengan senapan tekanan tinggi 105mm Cockerill dan autoloader tingkat lanjut. Berkat turret ini, tank medium KAPLAN memiliki kekuatan senjata yang tinggi meski bobotnya relatif rendah.
Rencananya Tank ini mulai diproduksi pada tahun 2018 dan diharapkan muncul dalam Peringatan Hari TNI ke-72, tanggal 5 Oktober 2017. Selain untuk Angkatan Darat Indonesia
Kerja Sama Kapal Selam
Sebelumnya, koran Handelsblatt yang berbasis di Düsseldorf, Jerman, melaporkan bahwa ThyssenKrupp, perusahaan yang juga memproduksi kapal selam dengan mitra dari Turki, dalam negosiasi untuk bermitra mengambil bagian dalam proyek kapal selam Indonesia, yang dikutip oleh Dailysabah.com, 4 Mei 2017.
“Tadi juga telah kita sepakati untuk menambah kerja sama di bidang pembuatan kapal selam dan truk, dan ini juga akan segera ditindaklanjuti oleh tim dari kedua negara,” ujar Presiden Jokowi.

Desain Kapal Selam Type 209 Thyssenkrup Marine Systems (TKMS) di Asian Defence and Security (ADAS) Trade Show 2016, (rhk111)
Bulan sebelumnya, Galangan Kapal Gölcük Turki di provinsi Kocaeli mengajukan sebuah proposal kepada tentara Indonesia untuk kapal selam tipe 214. Menurut laporan tersebut, Golcük Shipyard akan menjadi tuan rumah sekelompok pejabat yang datang berasal dari ibu kota Indonesia, Jakarta.
Selama hampir 50 tahun terakhir, angkatan laut Turki telah memesan kapal selam dari galangan kapal Grup Ruhr, yang saat ini beroperasi di bawah TKMS.
Turki diharapkan bisa bekerjasama dengan TKMS untuk memasuki bisnis ekspor dengan bersama-sama ingin menjual kapal selam ke Indonesia, menurut surat kabar Jerman, yang diyakini telah menerima laporan intelejin dari orang dalam industri.
Sumber : Indogreater/Liputan6
by Danu Wijaya danuw | Jul 14, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Ribuan orang berkumpul di Sebrenica untuk memperingati 22 tahun pembantaian Muslim Bosnia dilansir dari Evening Standard, Selasa (11/7). Para kerabat terlihat menangis di atas peti mati hijau yang berjajar menunggu untuk dikubur di antara batu nisan putih di pemakaman di Potocari. Tahun ini, ada 71 korban baru yang teridentifikasi.
Pada 11 Juli 1995 terjadi pembantaian Sebrenica hingga sekitar dua pekan setelahnya. Sebrenica merupakan sebuah kota di bagian timur Bosnia Herzegovina.
Negara tersebut berpenduduk Muslim dengan jumlah yang signifikan di Benua Eropa.
Laman Forbes, Senin (10/7), mengutip pandangan mantan sekjen PBB Kofi Annan. Pada 2005, Annan menyebut tragedi Sebrenica sebagai kasus pembantaian yang paling buruk sejak Perang Dunia II.
Hanya lima hari sejak 11 Juli 1995, sebanyak 8.372 orang anak-anak dan dewasa dibantai kekuatan Serbia. Di lapangan, para pelaku merupakan laskar Republik Srpska Scorpion di bawah pimpinan Ratko Mladic.

Seorang wanita berjalan diantara 8.000 makam pembantaian Bosnia
Pembantaian Sebrenica merupakan puncak dari konflik yang mendera Bosnia sejak 1992. Ini juga adalah bagian dari rentetan turbulensi politik dan militer yang mendera Yugoslavia, uni pro-komunisme yang mewadahi delapan negara, termasuk Bosnia Herzegovina sejak akhir PD-II.
Pada 1 Maret 1992, Bosnia Herzegovina menyatakan kemerdekaannya dari Yugoslavia. Sekitar dua bulan kemudian, negara baru ini masuk keanggotaan PBB. Akan tetapi, justru situasi ketegangan antar etnis tidak kunjung reda.
Sebenarnya, sejak April 1993, PBB telah menetapkan kawasan Sebrenica sebagai wilayah proteksi PBB. Hal itu menyusul ketegangan antar etnis di kawasan bekas Yugoslavia itu.
Namun, pada Juli 1995, para tentara penjaga perdamaian dari PBB tidak dapat mencegah masuknya tentara Republik Srpska ke Sebrenica, sehingga mereka dapat dengan leluasa menjarah dan membunuh para penduduk sipil yang kebanyakan Muslim itu.
Pada 26 Februari 2007, Mahkamah Internasional menjatuhkan vonis yang antara lain menegaskan pembantaian Sebrenica sebagai sebuah genosida.
Sedikitnya, ada 11 orang yang dijatuhi hukuman karena terbukti bersalah. Rentang masa hukuman berbeda-beda tetapi tidak ada yang lebih dari 43 tahun.

Slobodan Milosevic, seorang Komunis pemimpin pembantaian etnis Bosnia, Kroasia, Herzegovina
Belakangan, setelah lama berkelit, pada 1999, Slobodan Milosevic akhirnya divonis oleh Mahkamah Internasional untuk Negara-negara Bekas Yugoslavia (ICTY). Milosevic terbukti bersalah sebagai penjahat perang terkait perang di Bosnia, Kroasia, dan Kosovo.
Namun, Milosevic keras menyangkalnya. Lima tahun lamanya pengadilan atas diri Milosevic berlangsung. Pada 11 Maret 2006, dia meninggal dunia dalam tahanannya di Den Haag, Belanda karena mengidap serangan jantung.
Dilansir Forbes, Parlemen Eropa telah mengeluarkan resolusi pada 15 Januari 2009 yang mengakui Hari Peringatan Sebrenica. Hal ini mendahului respons dari PBB, yang baru pada 2015 secara resmi mengakui tragedi Sebrenica sebagai sebuah genosida, sekalipun upaya PBB ini diblok oleh Rusia, negeri bekas komunis.
Sumber : Evening Standard/Republika
by Danu Wijaya danuw | Jul 12, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Mesir menahan mahasiswa Muslim Uighur menanggapi permintaan China melalui polisi Mesir (Jum’at, 07/07/2017). Sejumlah orang Uighur terpaksa melarikan diri di Kairo dan Alexandria setelah polisi menanggapi permintaan Beijing, kata kelompok Hak Asasi Manusia.
Sekitar 20 siswa Uighur dari Universitas Al-Azhar Kairo ditangkap di Alexandria, Polisi Mesir telah menahan sejumlah pelajar China dari etnis minoritas Uighur atas permintaan Beijing, dan memaksa puluhan orang untuk bersembunyi atau melarikan diri ke Turki, kata para aktivis.
“Penyapuan dimulai pada hari Selasa ketika polisi menggerebek dua restoran yang sering dikunjungi oleh siswa Uighur di Kairo dan menahan setidaknya 37 orang, kata Abduweli Ayup, seorang aktivis Uighur di Turki, mengatakan langsung kepada Al Jazeera pada hari Jumat.
Belasan lagi telah ditangkap sejak, Ayup, mengatakan, termasuk 20 orang dari Universitas Al-Azhar Kairo yang berhenti di kota Alexandria dalam perjalanan mereka keluar dari negara tersebut pada Rabu malam.
Mereka diberitahu bahwa mereka akan dideportasi ke China, kata Ayup. “Siswa, terutama mereka yang belajar agama, menjadi sasaran,” kata Ayup.
“Polisi sedang mencari apartemen-apartemen di Kairo, orang-orang bersembunyi, mereka ketakutan, mereka takut untuk pergi keluar.” ujarnya.
Penahanan tersebut dilakukan di tengah laporan bahwa pihak berwenang di tanah air Uighur, Xinjiang di China barat meminta segera Uighur yang belajar di luar negeri.
China menyalahkan kerusuhan di Xinjiang, yang mencakup pemboman dan serangan kendaraan dan pisau, pada kelompok separatis Uighur yang diasingkan.
Namun hal ini karena banyak warga Uighur mengeluhkan penindasan budaya dan agama serta diskriminasi oleh China.
Menurut Lucia Parrucci, juru bicara kelompok advokasi ‘Kelompok Bangsa dan Organisasi yang tidak Terwakili’ (UNPO) mengatakan, bahwa kelompok hak asasi manusia telah memindahkan sekitar 60 siswa Uighur dari Mesir ke tempat yang aman di Turki pada hari Kamis.

UNPO : Muslim Uighur berdoa memohon keselamatan saat akan dideportasi
Banyak dari mereka yang tersisa di Kairo mengatakan kepada kami bahwa mereka takut untuk tidur di rumah, “Karena takut ditangkap saat sendirian,” katanya dalam sebuah email ke Al Jazeera.
“Sekitar 80 siswa Uighur telah ditangkap sejak penyapuan dimulai”, katanya. Pemerintah China telah memaksa ribuan siswa Uighur ke luar negeri untuk kembali ke rumah sejak Januari 2017, katanya.
Sekitar 90 persen dari sekitar 7.000 – 8.000 warga Uighur yang tinggal di Mesir telah kembali ke China.
“Kami telah mengetahui bahwa banyak siswa telah ditangkap langsung di bandara saat mereka kembali dan dikirim ke camp pendidikan ulang. Tak satu pun dari mereka dapat melihat anggota keluarga dan tidak ada informasi yang diberikan kepada keluarga mereka tentang keberadaan mereka,” kata Lucia.
Human Rights Watch mendesak Mesir pada hari Rabu untuk tidak mengirim tahanan Uighur kembali ke China, dengan mengatakan bahwa mereka akan menghadapi ‘penganiayaan dan penyiksaan’ di sana.
Sarah Leah Whitson, direktur Middle East HRW, juga mendesak pihak berwenang untuk mengungkapkan keberadaan tahanan Uighur dan memberi mereka akses ke pengacara.

Video dari akun twitter Turkistan Timur terkait pemborgolan muslim Uighur di Mesir
Video yang belum diverifikasi yang dibagikan di Twitter menunjukkan lebih dari 70 orang Uighur duduk di lantai di gedung pemerintah dan yang lainnya didorong naik truk dengan borgol.
Ayup mengatakan bahwa kelompok hak asasi manusia kehilangan kontak dengan para tahanan pada hari Jumat.
Abdullah, seorang mahasiswa Islam Asia di universitas Al-Azhar, mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa orang-orang Uighur ditahan di daerah Hay el Sabia di distrik Nasr City, Kairo.
Dia hanya memberikan nama depannya, karena takut akan pembalasan. “Mereka kebanyakan menangkap pemuda-pemuda itu.”
Sumaya, seorang wanita Uighur yang tinggal di Kairo, mengatakan kepada The Middle East Eye pada hari Kamis. “Tapi saya tahu wanita yang telah diambil juga, meski kita sembunyikan saat kita mendengar pemerintah mengetuk pintu kita.”
Seorang juru bicara kementerian luar negeri China pada hari Kamis mengakui bahwa warga China telah ditahan di Mesir, mengatakan pada sebuah briefing reguler bahwa pejabat konsuler akan mengunjungi mereka.
Geng Shuang, juru bicara kementerian luar negeri, mengatakan bahwa “sejauh yang saya tahu, kedutaan China di Mesir telah mengirim pejabat konsuler untuk melakukan kunjungan konsuler”.
Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut. Polisi Mesir menolak permintaan untuk berkomentar. China telah mencaplok wilayah Turkistan Timur yang mayoritas dihuni muslim Uighur tahun 1949.
Sumber : Al Jazeera dan kantor berita utama
by Danu Wijaya danuw | Jul 12, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Pemerintah melalui Menko Polhukam Wiranto, hari ini (Rabu,12/07/2017) mengumumkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) tentang Pembubaran Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).
Keputusan ini menjadi pilihan pemerintah untuk membubarkan ormas-ormas yang terindikasi radikal termasuk ingin mengubah dasar negara seperti yang dilakukan Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan ideologi khilafah mereka.
“Tadi saya tanya ke Presiden, Perppu sudah ada di tangan beliau dan ditugaskan ke Menko Polhukam untuk mengumumkannya” kata Juru bicara kepresidenan Johan Budi saat dikonfirmasi diJakarta, Selasa (11/7).
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj juga mengungkapkan jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mengumumkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) pembubaran ormas radikal. Kepastian ini didapat usai Said Aqil menemui Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (11/7).
“Pembubaran ormas radikal Insya Allah besok ini langsung ditandatangani dam diumumkan,” kata Said Aqil usai bertemu dengan Jokowi, Selasa (11/7).
Meski demikian, Said Aqil mengaku tak mengetahui secara rinci isi Perppu yang telah diteken oleh Presiden Jokowi itu. Termasuk, ia tak mengetahui ormas mana saja yang akan dibubarkan oleh Perppu tersebut. “Saya enggak nanya. Kalau kurang, saya usul lagi nanti,” ujarnya.
Ormas HTI kemungkinan besar akan menjadi ‘korban’ pertama dari perppu ini.
Sebab pada 8 Mei 2017, pemerintah mengumumkan mengusulkan pembubaran HTI, karena organisasi berbadan hukum itu dianggap tidak melaksanakan peran positif untuk mengambil bagian, dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional. Diantaranya, kader-kader HTI mengajak masyarakat golput saat pemilu.
Selain itu, kegiatan yang dilaksanakan HTI juga terindikasi kuat telah bertentangan dengan tujuan, azas, dan ciri yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.
Langkah itu ditempuh untuk mencegah berbagai embrio yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat dan mengganggu eksistensi Indonesia sebagai bangsa yang sedang membangun dan berjuang mencapai tujuan nasional, karena HTI dinilai ingin mewujudkan pemerintahan berdasarkan khilafah versinya.
Saat itu, dengan menggunakan UU Ormas yang ada, Menko Polhukam Wiranto menyatakan akan mengusulkan pembubaran HTI. Namun, hingga tiga bulan berlalu, pemerintah tidak kunjung mengajukan pembubaran HTI ke pengadilan. Malah dalam beberapa kesempatan, Wiranto mengatakan, pemerintah akan mengambil langkah tercepat untuk melakukan pembubaran HTI.
“Kita tunggu saja ya. Pada saatnya akan tahu. Pembubaran ormas anti Pancasila itu satu keniscayaan. Mau tidak mau, harus kita selesaikan. Negeri ini berdaulat. Tidak mungkin di dalam negeri sendiri ada kekuatan-kekuatan dan gerakan yang anti terhadap ideologi negara. Itu kan, enggak pantas,” kata Menko Polhukam Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (12/6) lalu.
Ini yang Akan Dilakukan HTI untuk Gagalkan Perppu Pembubaran Ormas
Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia ( HTI) Ismail Yusanto mengatakan, HTI akan bertemu dengan pakar hukum Yusril Ihza Mahendra, selaku kuasa Hukum HTI, pada Rabu (12/7/2017).
Pertemuan itu membahas langkah-langkah HTI untuk menggagalkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ( Perppu) tentang Pembubaran Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang akan segera diterbitkan pemerintah.
Perppu tersebut muncul sebagai salah satu cara pemerintah membubarkan ormas yang dinilai anti-Pancasila, salah satunya HTI.
“Tentu saja kami akan mencermati seperti apa bentuk Perppu itu. Sudah kami komunikasikan dengan Pak Yusril. Kami akan konsultasi dengan Pak Yusril,” ujar Ismail saat dihubungi, Selasa (11/7/2017) malam.
Sumber : Merdeka/Kompas