by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Sep 4, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh: Ust. Fahmi Bahreisy, Lc
Diantara karunia yang Allah berikan kepada hamba-Nya, terutama kaum muslimin, Ia menjadikan beberapa hari dalam satu tahun sebagai hari yang mulia dengan berbagai keutamaan yang dapat diraih oleh kaum muslimin. Pada hari-hari ini kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak amal shaleh dan beristighfar kepada Allah agar dapat meraih keistimewaan yang disediakan oleh Allah SWT.
Diantara hari-hari tersebut ialah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a, “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (pertama) dari bulan Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad fi sabilillah?” Rasul menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari).
Bahkan di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjadikan hari-hari tersebut sebagai sumpah, sebagaimana yang terdapat di dalam surat al-Fajr, “Demi waktu fajar. Dan demi 10 malam.” (QS. Al-Fajr: 1-2). Ibnu Katsir berkata, “Maksud dari ayat tersebut ialah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid dan lainnya.”
Ibnu Abbas juga menafsirkan firman Allah SWT, “Mereka mengingat Allah pada hari-hari yang telah diketahui.” (QS. Al-Hajj: 28), bahwa yang dimaksud dengan hari-hari yang telah diketahui ialah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah.
Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, “10 hari pertama Dzulhijjah adalah hari yang paling utama diantara hari-hari yang lainnya.” Lalu ada sahabat yang bertanaya, “Bahkan hari-hari yang dipergunakan untuk berjihad juga tidak lebih baik darinya?” Rasulullah menjawab, “Tidak juga dengan hari-hari yang pergunakan untuk berjihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang beribadah dengan penuh ketundukan.” (HR. Ibnu Hibban dan al-Bazzar).
Ayat-ayat dan hadits diatas menegaskan kepada kita akan keutamaan dari 10 hari pertama dari Dzulhijjah. Bahkan diantara ulama ada yang mengatakan bahwa hari-hari tersebut lebih utama daripada 10 malam terakhir dari bulan ramadhan. Oleh sebab itu, para salaf terdahulu ketika memasuki 10 hari Dzulhijjah, mereka berlomba-lomba untuk melakukan amal shaleh. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Said bin Jubair –rahimahullah- bahwa dikisahkan ia bersungguh-sungguh melakukan amal shaleh dan tidak ada yang dapat menandinginya.
Maka itu, para ulama menjelaskan beberapa amalan utama yang dianjurkan untuk dilakukan pada hari-hari tersebut, diantaranya ialah: Yang pertama, menunaikan haji dan umrah, dimana ia adalah amalan yang paling utama untuk dilakukan pada hari tersebut. Tentunya bagi mereka yang mampu untuk melaksanakannya.
Yang kedua ialah ibadah puasa, sebagaimana telah disebutkan bahwa pada pada tanggal 9 Dzulhijjah dianjurkan untuk berpuasa arafah. Rasulullah saw bersabda, “Puasa Arafah dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Muslim).
Selain puasa Arafah, puasa senin kamis juga sangat dianjurkan, karena pada 10 hari tersebut, pahala seorang hamba akan dilipatgandakan oleh Allah SWT sebagaimana hadits yang telah disebutkan diatas.
Yang ketiga ialah menjaga shalat lima waktu tepat waktu dan dilakukan secara berjamaah di masjid. Begitu juga dengan shalat-shalat sunnah yang dengannya seorang hamba akan semakin dekat hubungannya dengan Allah.
Yang keempat ialah memperbanyak takbir, tahmid, tahlil dan dzikir lainnya. Ibnu Umar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada satu haripun dimana amalan yang dilakukan di dalamnya lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah daripada 10 hari ini (Dzulhijjah). Maka perbanyaklah mengucapkan kalimat tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad).
Imam Bukhari berkata bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar menuju pasar kemudian mereka berdua bertakbir sehingga orang lainpun ikut juga bertakbir bersamanya. Bahkan dalam sebuah riwayat beliau bertakbir di dalam rumahnya, di kamarnya, dan kemanapun ia pergi ia selalu bertakbir.
Masih banyak amalan lainnya yang dianjurkan untuk dilakukan di 10 hari tersebut, seperti tilawah Al-Qur’an, sedekah, memperbanyak taubat, berbakti kepada orang tua, dan lainnya. Hendaknya seorang muslim benar-benar memanfaatkan waktu yang disediakan oleh Allah SWT. Mereka yang mempergunakan hari-hari tersebut dengan baik, maka mereka akan beruntung. Namun sebaliknya, mereka yang lalai dan meremehkannya, maka mereka akan merugi dan celaka. Wallahu a’lam
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Sep 2, 2016 | Konsultasi, Konsultasi Umum
Assalamualaikum Pak ustad. Saya mau bertanya, contoh saya petani lebah. Lebah saya mengambil nektar bunga dari bunga/pohon milik tetangga. Apakah lebah saya termasuk mencuri dari tetangga, dan madu yang dihasilkan menjadi haram? Terimakasih
Jawaban:
Waalaikumussalam wr. wb.
Dalam syariat Islam hukum hanya berlaku bagi yang berakal saja. Sedangkan yang tdk berakal termasuk binatang, tidak mendapatkan hukuman atas pelanggaran syariah. Hanya saja, jika binatang atau tumbuhan secara sengaja diperuntukkan untuk merugikan hak orang lain, maka sang pemilik binatang tersebut berdosa.
Dalam hal ini harus dilihat dulu, apakah sang pemilik bunga dirugikan dengan adanya lebah yang mengambil nektar dari bunganya. Jika tidak, maka sang pemiliki lebah tidak terkena hukuman atau ganti rugi. Tapi jika ada yg dirugikan, misalnya bunga tersebut menjadi rusak, dan sebagainya maka pemilik lebah harus membayar ganti rugi.
Wallahu a’lam
Ustadz Fahmi Bahreisy, Lc
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Jun 17, 2016 | Artikel, Buletin Al Iman, Ramadhan
Oleh: Fahmi Bahreisy, Lc
Sebagai seorang mukmin kita meyakini bahwa setiap perintah atau larangan dari Allah dan Rasul-Nya, pasti mengandung hikmah dan manfaat bagi manusia. Tidak ada satupun aturan dari Allah kecuali didalamnya terdapat kemashlahatan bagi manusia, termasuk ibadah puasa.
Sebagian manusia beranggapan bahwa tak ada manfaat dari ibadah puasa. Persepsi semacam ini tidak lain disebabkan oleh kedangkalan iman dan ketidakfahaman mereka terhadap syariat Allah.
Kita sebagai orang yang beriman, tidak dituntut untuk mencari tahu hikmah atau manfaat dari sebuah ibadah yang telah Allah tetapkan bagi kita. Yang dituntut oleh Allah adalah pelaksanaan ibadah tersebut secara sempurna dan benar, baik kita ketahui hikmahnya ataupun tidak.
Ketika kita melaksanakan syari’at Allah dengan baik dan benar, maka secara otomatis manfaat dan hikmah dari ibadah tersebut akan kita rasakan sendiri. Namun, alangkah baiknya juga jika kita bisa mengetahui hikmah dari ibadah yang kita laksanakan, sebab hal itu akan menambah semangat kita dalam beribadah.
Dalam ibadah puasa, banyak sekali hikmah dan manfaat yang bisa didapatkan oleh orang yang melaksanakannya. Diantaranya ialah bahwa puasa mendidik kita untuk bersikap ikhlas dalam setiap aktivitas yang kita lakukan. Puasa adalah ibadah yang bersifat rahasia antara kita dengan Allah. Tidak ada yang mengetahui apakah seseorang benar-benar berpuasa kecuali kita dan Allah.
Maka dari itu, tatkala ada seseorang yang menjaga dirinya untuk tidak makan dan minum, serta menjaga diri untuk tidak berhubungan suami istri di siang hari, tidak ada yang ia harapkan kecuali ridha dan pahala dari Allah. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits Qudis disebutkan, “Puasa adalah untukku, dan aku yang akan memberikan secara langsung pahalanya”.
Ibadah puasa juga dapat membersihkan diri kita dari dosa-dosa yang telah kita lakukan dan dapat melipatgandakan pahala ibadah kita. Sebagaimana dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berpuasa di bulan suci ramadhan, maka dosa-dosanya satu tahun yang lalu akan diampuni oleh Allah” (HR. Bukhari).
(Baca juga: 4 Kiat Sukses Ramadhan)
Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Amal manusia ditampilkan pada hari senin dan kamis. Oleh karena itu, aku ingin amalku ditampilkan oleh Allah dalam kondisi aku sedang berpuasa”.
Para ulama mengomentari hadits ini bahwa ketika kita melakukan sebuah ibadah di saat kita berpuasa, maka hal itu akan menambah pahala dan kedudukan dari ibadah tersebut.
Puasa juga melatih kita untuk mengontrol syahwat dan hawa nafsu kita. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa selain setan ada nafsu yang sering kali membuat manusia melakukan perbuatan yang menyimpang dari aturan Allah. Larangan untuk berhubungan intim di siang hari dan ancaman akan gugurnya pahala puasa bagi mereka yang tidak menjaga lisan dan sikapnya, hal ini dapat mengekang hawa nafsu dan syahwat. Ia akan menjadi kontrol agar tidak mendorong manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai, maka ia tidak boleh berkata kotor dan tidak boleh bersikap bodoh. Jika ada seseorang yang mencela dan memusuhinya, maka katakan ‘saya sedang berpuasa’” (HR. Bukhari).
Selain itu ibadah puasa juga dapat menumbuhkan sikap disiplin dalam beribadah dan mengatur waktu. Dalam berpuasa kita dituntut untuk bangun sebelum shubuh untuk makan sahur dan mulai tidak makan dan minum saat adzan shubuh berkumandang. Kemudian kita baru diperbolehkan untuk makan dan minum ketika waktu maghrib sudah masuk.
Ini merupakan sebuah tarbiyah dari Allah agar kita terbiasa hidup disiplin dalam beribadah. Terlebih lagi ibadah puasa membutuhkan fisik yang fit di siang hari, sehingga tubuh kita memerlukan istirahat yang cukup. Hal ini membuat tidur kita lebih teratur demi lancarnya puasa yang kita lakukan.
Puasa juga mendidik kita untuk menjadi manusia yang sosial, peka terhadap sesama, dan perhatian terhadap hubungan silaturrahim. Anjuran untuk memberikan ifthar (ta’jil) dalam berpuasa dan rasa lapar dan haus yang kita rasakan saat berpuasa, ini semua merupakan sebuah tarbiyah dari Allah agar kita menjadi manusia yang peduli terhadap kondisi sesama dan mempererat hubungan silaturrahim dan ukhuwah diantara umat Islam.
Manfaat lainnya ialah dari sisi kesehatan, bahwa dalam banyak penelitian yang telah dilakukan oleh ahli kesehatan dan kedokteran menyebutkan bahwa puasa memberikan dampak positif terhadap kesehatan. Orang yang terbiasa berpuasa memiliki tingkat kesehatan yang lebih baik daripada yang tidak berpuasa. Apalagi jika kita mengikuti tata cara Rasulullah dalam mengkonsumsi makanan yang dimakan pada saat sahur dan berbuka.
Inilah beberapa manfaat yang dapat menjadi tambahan motivasi bagi kita untuk melaksanakan ibadah puasa. Tentu saja, masih banyak manfaat yang lainnya yang tak dapat kita ketahui. Namun, yang lebih penting dari itu adalah kita melaksanakan puasa dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, agar tujuan dari puasa, yaitu menjadi insan yang bertaqwa, dapat kita raih.
Wallahu a’lam.
Sumber:
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 375 – 3 Juni 2016. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan. Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah. Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Jun 17, 2016 | Artikel, Tausiyah Iman
Tausiyah Iman – 28 Mei 2016
Dalam setiap tarikan nafas, terdapat tanda akan kekuasaan Allah
Dalam setiap detak jantung dalam diri kita, terdapat tanda akan rahmat Allah.
Dalam setiap kedipan mata yang bergerak, terdapat petunjuk akan besarnya nikmat Allah.
Rasakanlah saudaraku, bahwa kenikmatan hidup yang paling indah ialah tatkala engkau mengenal Allah dan merasakan kebersamaan-Nya dalam setiap aktivitas kehidupanmu.
Ustadz Fahmi Bahreisy, Lc
(Baca juga: Akhlak Pilar Peradaban)
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Jun 4, 2016 | Artikel, Tausiyah Iman
Tausiyah Iman – 25 Mei 2016
Diantara tanda orang yang tertipu ialah tatkala ia sibuk dengan amalan sunnah hingga hal itu membuatnya lalai dari kewajibannya.
Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Barang siapa yang melakukan amalan wajib hingga lupa dengan yang sunnah, maka hal ini dimaklumi. Namun jika ia sibuk dengan amalan sunnah, hingga lupa dengan kewajibannya, maka ia telah terperdaya.”
(Baca juga: Pentingnya Ketulusan dan Kejujuran)
Ustadz Fahmi Bahreisy, Lc
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman