by Danu Wijaya danuw | Oct 19, 2016 | Artikel, Dakwah
Jihad berakarkan dari ‘al juhdu‘, yakni kesungguhan yang dikerahkan hingga batas kepayahan. Pada orang demikian, pertolongan Allah dekat dan datang.
Dalam kitab Madarijus Salikiin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah menggolongkan jihad berdasarkan lawan yang harus dihadapi, diantaranya :
Jihadun Nafs (jihad terhadap diri sendiri), Jihadus Syaitan (jihad melawan syaitan), Jihadu ahlil ma’ashi wal bida’ (jihad melawan ahli maksiat dan bid’ah), dan Jihadu ahlil kufri wasy syirki (jihad melawan kafir dan musyrik yang boleh diperangi).
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 18, 2016 | Artikel, Dakwah
Bersyukur itu melatih ketakjuban. Jika berhasil menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, yang besar akan lebih dahsyat. Kita mengucapkan terima kasih atas apa yang kita terima. Jika tak bisa berterimakasih kepada manusia, takkan utuh mensyukuri Allah.
Dalam ketakjuban kala membaca ayat dan ciptaan-Nya, terukir jalan untuk membuat terobosan mashlahat bagi umat manusia. Kata “Alhamdulillah” menjadi fadhilah nikmat atas karunia-Nya.
Dalam “lillah” (berjuang dijalan Allah) pasti ada lelah. Tetapi beserta kesulitan ada kemudahan, dan nikmatnya rehat tak diperoleh dengan bersantai. Ada galau yang membuat berdzikir. Damai yang membuat berpikir. Tafakur yang membuat tak kikir. Semua ada hikmahnya.
Bersyukur menyibak kabut. Ia menuntun ke jalan-jalan kebaikan yang kadang tersembunyi dibalik kesulitan-kesulitan menghadang.
Walaupun tidak ada penghargaan orang atas kebaikan yang kita lakukan, tetaplah syukuri berlipat. Mungkin Allah hendak menyempurnakan balasan.
Selalu ada hal untuk disyukuri. Maka selalu juga ada peluang untuk karunia-Nya ditambah berlipat kali.
Ada dua rabun dekat yang paling gawat : tak mau menginsyafi aib diri, dan tak mampu melihat nikmat yang berlimpah untuk disyukuri.
Dan terhadap nikmat Rabbmu, unjukkanlah ungkapan syukur. Dunia sudah menderita, jangan bebani dengan keluh kesah kita. Dunia merupakan tempat menikmati hal yang penting, bukan mementingkan yang nikmat.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Oct 18, 2016 | Adab dan Akhlak, Artikel
Imam Abu Hamid Al Ghazali berkata dalam kitab Bidayatul Hidayah, ketahuilah bahwa ada 3 kategori penuntut ilmu.
Pertama, seseorang yang menuntut ilmu untuk dijadikan bekal dikemudian hari.
Hanya satu tujuannya yaitu ridha Allah dan hari akhir. Ini adalah kategori orang yang beruntung.
Kedua, seseorang yang menuntut ilmu dengan tujuan untuk menopang kehidupan dunianya.
Dengan ilmu itu ia berharap mendapat popularitas, kedudukan dan harta. Namun ia tahu dan sadar bahwa hatinya lemah dan tujuannya hina.
Orang yang semacam ini berada dalam kondisibyang berbahaya. Jika ajalnya menjemput ia belum sempat bertaubat, maka dikhawatirkan mati dalam kondisi su’ul khatimah.
Adapun jika ia sempat bertaubat sebelum ajalnya tiba, dan ia mengamalkan ilmu yang dimiliki, serta menyadari kesalahannya yang lalu, ia termasuk orang yang beruntung.
Ketiga, orang yang dibelenggu syaitan.
Ia menjadikan ilmunya sebagai sarana memperbanyak harta, merasa hebat dengan kedudukan, dan membanggakan diri dengan banyak pengikut.
Ia memanfaatkan ilmunya untuk mendapatkan kepentingan duniawi. Terlebih lagi ia merasa bahwa ia memiliki kedudukan yang tinggi disisi Allah karena ia adalah seorang ulama dan berpenampilan layaknya ulama. Padahal ia telah berlumuran dengan dunia secara zahir maupun batin. Ini termasuk kategori orang yang celaka dan binasa, yang tertipu oleh dirinya sendiri.
by Danu Wijaya danuw | Oct 17, 2016 | Artikel, Dakwah
Keberhasilan tak cukup dirayakan dengan tahmid kesyukuran, ia digenapi tasbih kehambaan dan mohon keampunan. ….Innahu kaana tawwaabaa. (Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat) Q.S. An Nasr ayat 3.
Mengukur keberhasilan ibadah kala didunia agaknya musykil. Sebab nabi Ayyub as hancur kebun dan ternaknya bukan karena kurang sedekah.
Seringkali keberhasilan dalam suatu hal, justru mengantakan kita pada kedudukan yang akan mengungkapkan ketidakmampuan kita.
Keberhasilan dalam shalat menurut Mushtafa Masyur, “Khusyuk shalat yang paling nyata adalah tercegahnya diri dari perbuatan keji dan mungkar sebagai dampaknya.”
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 14, 2016 | Artikel, Dakwah
Kita mandi, berharum wangi, berhias rapih, celaki mata dan siwaki gigi. Lalu mohon pada Allah agar hiaskan akhlak mulia dalam diri. Kita berdandan, kenakan pakaian bersih, kopiah terindah dan surban yang ranggi. Lalu mohon pada-Nya ampunan dan tutupi aib diri.
Kita jalan tebarkan senyum, ulurkan tangan, jabatkan tangan, pelukkan bahu. Lalu mohon pada Allah agar ukhuwah tautkan hati. Kita juangkan diri menahan kuap. Menyimak khutbah yang mewasiatkan taat. Lalu mohon pada Allah agar mengaruniakan takwa dalam jiwa.
Semoga Jum’at kita perayaan Iman. Allah dan Rasul teragung melebihi segala. Cinta dan benci karena-Nya. Dan kita tak suka kembali pada dosa dan jahiliah lama.
Semoga Jum’at kita perayaan Islam. Berserah tunduk pada Allah semata dan membebaskan sesama dari gelap kezaliman menuju hidup bercahaya.
Semoga Jum’at kita perayaan Ihsan. Mengibadahi Allah seakan hadir nyata dihadapan dan merasa diawasi-Nya dalam apapun berkegiatan.
Jum’at ini semoga Allah cahayai pembaca Al Kahfi, ampuni yang mandi dan bersuci, sayangi yang berhias dan berwewangi, takwakan hati.
Jum’at ini semoga terteladani keteguhan pemuda Kahfi, semangat belajar Musa sang Nabi, dan kesigapan Dzul Qarnain yang rendah hati.
Jum’at ini shalawat untukmu Ya Nabi. Semoga Allah balas berlipat puluh. Semoga Dia ridhai sambutmu atas kami di telaga suci. Syafa’at terberi.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 13, 2016 | Artikel, Dakwah
Ditengah bumi yang sesak oleh lamisnya bibir, palsunya kata, dan basinya basa, alangkah lezat dan syahdu firman-Mu Yang Mahabenar.
Yang lebih indah bukan lepas dari masalah, tapi mengeja kesabaran. Yang lebih jelita bukan mendapat karunia, tapi menampak kesyukuran. Yang tercerdas adalah yang paling banyak mengingat matinya. Yang terhebat adalah yang paling gigih menyiapkan bekalnya.
Tangis karena Allah itu embun yang membasuh bunga ruhani. Senyum adalah hangat sinaran yang memekarnya. Suci. Jelita. Insan memandang wajah, maka penampilan kita perindah. Allah menatap hati, maka gandakan perawatan agar ia rapih dan suci.
Salah satu hal yang paling merusak kebahagiaan kita adalah tumbuhnya hasrat untuk menyusahkan orang lain. Setiap detik adalah pertambahan rugi, kecuali terisi iman, keshalihan, dan saling wasiat untuk kebenaran dan kesabaran.
Hidup yang mulia, hina jika angkuh. Hidup yang indah, gersang jika dengki. Hidup yang mudah, susah jika tamak. Kebenaran tak harus dikawal kemegahan, sebagaimana Musa yang gagap bicara, seperti Yahya pun tinggalnya di padang gurun.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media