by Danu Wijaya danuw | Dec 31, 2015 | Artikel, Dakwah
Oleh : K.H. Rahmat Abdullah
Yang diinginkan dari al amal adalah:
Buah dari ilmu dan ikhlas seperti yang disebutkan dalam Q.S. At Taubah ayat 105 : “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amal kalian itu dan kalian akan dikembalikan kepada Allah…”
Adapun urutan amal adalah:
- Mengkoreksi dan memperbaiki diri
- Membentuk dan membina keluarga muslim
- Memberi petunjuk dan membimbing masyarakat dengan dakwah
- Membebaskan tanah air dari penguasa asing
- Memperbaiki pemerintahan
- Mengembalikan kepemimpinan dunia kepada umat Islam
- Menjadi soko guru dunia dengan menyebarkan dakwah islamiyah ke seluruh penjuru dunia
(Hasan Al Bana)
Banyak orang merasa telah beramal namun tak ada buah apapun yang dapat dipetik dari amalnya, baik itu perubahan sifat, kelembutan hati ataupun kearifan budi dan keterampilan beramal. Bahkan tak sedikit diantara mereka beramal jahat tetapi mengira beramal baik. Karenanya Al Qur’an selalu mengaitkan amal dengan keshalihan, jadilah amal shalih.
Kata shalih tidak sekedar bermakna baik, tetapi adalah suatu pengertian tentang harmoni dan tanasukhnya (keserasian) suatu amal dengan sasaran, tuntunan, tuntutan, dan daya dukung. Amal disebut shalih bila pelakunya selalu mengisi ruang dan waktu yang seharusnya diisi.
Betapa banyak amal menjadi berlipat ganda nilainya oleh niat baiknya dan itu tak akan terjadi bila pelakunya tak punya ilmu tentang hal tersebut. Dan demikian pula sebaliknya. Barangsiapa yang beramal tanpa dilandasi dengan ilmu, maka bahayanya akan lebih banyak daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa niat berakibat kelelahan, dan ikhlas tanpa realisasi berakibat buih.
Kita tak punya kekuatan apapun untuk melarang orang bekerja dalam lingkup amal islami, bahkan mereka yang menjalaninya dengan cara yang kita nilai merugikan perjuangan. Sehingga pada saatnya kita mendapat penyikapan negatif atas kesalahan yang dilakukan aktifis amal Islami. Problema kaum khawaraj dan berbagai gerakan lainnya menunjukkan fenomena para pengamal mulai dari yang ikhlas minus fiqih, sampai yang oportunis dan pemanfaatan jargon.
Hama-hama Amal
Sebagaimana tumbuhan, amalpun terancam hama. Riya (beramal untuk dilihat), ujub (kagum diri), sum’ah (beramal untuk populer/didengar), mann (membangkit-bangkit pemberian) adalah hama yang akan memusnahkan amal. Seorang aktifis yang berkurban dengan semua yang dimilikinya harus mengimunisasi amalnya agar disaat hari perjumpaan kelak tak kecewa karena amalnya menjadi haba-an mantsura (debu berterbangan).
Pelipat gandaan kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan para sahabat tak dapat dikejar generasi manapun. Bayangkan, hanya dalam dua dekade saja terjadi perubahan besar pada pola sikap, pandangan hidup, dan tradisi bangsa arab. Kerja besar taghyir (perubahan) ini sukses seperti ungkapan Sayyid Quthb dalam Ma’alim fit Thariq berkat komitmen mereka yang
- Menuntut ilmu bukan sekedar mengoleksi ilmu
- Putus dari jahiliyah kemarin dan menghayati hidup baru dalam Islam, tanpa keinginan sedikitpun untuk kembali ke dalam masa jahiliyah
- Bersiap siaga menunggu komando Al Qur’an seperti prajurit siaga menunggu aba-aba komandan
Kerja untuk Perubahan Masyarakat
Hari ini ribuan surat kabar, radio, dan televisi dunia bekerja diberbagai kawasan untuk menyebarkan fasad (kerusakan). Hati orang-orang dibunuh sebelum jasad mereka dikubur. Kemana ribuan kader yang hanya menggerutu tanpa berbuat apapun kecuali gerutu?Apakah masyarakat dapat berubah dengan gunjingan dari mimbar masjid?
Hari ini rumah umat kebakaran. Tidakkah setiap orang patut memberi bantuan memadamkan api walaupun hanya dengan segelas air; dengan pulsa, perangko, dan kertas surat yang dikirimkan kepada pedagang kerusakan. Menegaskan pengingkarannya terhadap ulah mereka yang sangat menyengsarakan masyarakat dengan siaran dan penerbit fasad. Sebelum akhirnya mengirim darah dan nyawa mereka kesana ketika usaha santun tak lagi membawa hasil.
Banyak orang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jamaah, berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubahan sejarah, namun sayang mereka tak pernah merasa defisit, padahal sama sekali tidak meneladani keutamaan mereka. “Barangsiapa lambat amalnya tidak akan menjadi cepat karena nasabnya”. (H.R. Muslim)
Apa yang Harus Dikerjakan?
Orang beramal dihari itu seperti 50 kali kerja kamu hari ini sebagaimana dalam riwayat Abi Daud, Tirmidzi, Nasa’i. Sebagian kerja dakwah memang kata, tetapi tak dapat dituding sebagai cuma omong, seperti halnya penyiar dan reporter yang mengisi daftar profesi dengan omong. Namun perlu dibedakan mana dakwah yang mencukupkan diri dan puas dengan memberi informasi seram kepada khalayak. Bisa pula menina bobokan khalayak dengan mimpi-mimpi indah, atau mengingatkan bahaya seraya memberi jalan keluar. Mampukah mereka tampil sebagai problem solver. Dan hari ini banyak juga orang kaya menjadi problem trader.
Referensi:
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Da’watuna, KH. Rahmat Abdullah
by Ahmad Sodikun S.Pd.I. ahmadsodikun | Dec 30, 2015 | Artikel
Oleh: Ahmad Sodikun, S.Pd.I, M.Pd.I
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang lelaki yang sedang melakukan perjalanan merasa sangat haus. Ia menemukan sumur, lalu turun dan minum. Ketika keluar dari sumur, ia melihat seekor anjing terengah-engah, menjilat-jilat tanah kehausan. Lelaki itu berkata, anjing ini sangat haus sebagaimana yang kurasakan. Ia lalu turun ke sumur, memenuhi sepatunya dengan air. Digigitnya sepatu itu lalu ia naik ke atas. Air itu lalu diminumkan pada anjing yang sedang kehausan itu. Allah ta’ala memujinya dan mengampuni dosanya. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita mendapat pahala jika berbuat baik pada hewan?” Beliau menjawab, “Setiap perbuatan baik pada yang bernyawa ada pahalanya”.
Al-Hasan meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Tidak akan masuk surga kecuali orang yang bersifat kasih. Para sahabat berkata, kita semua pengasih. Beliau berkata, Bukan kasih sayang kalian pada diri kalian sendiri, tetapi kasih sayang kalian terhadap umat manusia secara umum. Tidak dapat menyayangi mereka semua kecuali Allah.”
Abu Ubaidillah berkata, “Jika kalian melihat saudara kalian terkena hukuman Allah, jangan kalian mengutuknya, jangan kalian membantu syetan (dengan kutukan itu), tetapi katakanlah
اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ
“Ya Allah kasihanillah dia, Ya Allah ampunilah dia”
Asy-Sya’bi berkata, bahwa Nu’man bin Basyir naik mimbar, memuji Allah lalu berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Seharusnya kaum muslimin itu saling menasihati dan saling menyayangi. Mereka ibarat satu tubuh yang bila sakit salah satu bagiannya, maka tubuh itu tidak akan dapat tidur sampai rasa sakit itu hilang.”
Anas bin Malik bercerita, “Ketika Umar berkeliling untuk jaga malam, ia melewati rombongan yang baru datang, Ia mendatangi Abdurrahman bin ‘Auf. Apa maksud kedatanganmu malam-malam begini ya Amirul Mu’minin? Tanya Abdurrahman bin ‘Auf. Aku baru saja melewati rombongan yang baru saja datang, aku khawatir jika mereka tidur nanti datang pencuri. Ikutlah bersamaku untuk menjaga mereka, kata Umar. Mereka berdua lalu mendatangi rombongan itu dan berjaga sepanjang malam. Setelah masuk shubuh, Umar berseru berulang kali, ‘Hai anggota rombongan, shalat..shalatlah!’. Umar dan Abdurrahman bin ‘Auf baru pulang setelah para anggota rombongan terbangun dari tidur mereka.”
Seharusnya kita meneladani generasi terdahulu. Allah memuji para sahabat Nabi SAW karena kasih sayang yang terjalin di antara mereka:
رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ الفتح:29
“Bersifat kasih sayang di antara mereka”
Mereka dahulu sangat kasih kepada kaum muslimin dan kepada semua makhluk, bahkan mereka juga menyayangi orang-orang kafir dzimmi. Kisah mengharukan yang diriwayatkan dari Umar ra bahwa ia melihat seorang tua miskin dari kaum kafir dzimmi meminta-minta di pintu rumah orang. Umar berkata, “Kami tidak berlaku adil terhadapmu. Kami mengambil jizyah sewaktu kau masih muda, sekarang kami menyia-nyiakanmu.” Lalu ia memerintahkan orang agar orang tua miskin itu diberi bantuan dari baitul mal untuk kebutuhan hidupnya.
Saudaraku, sungguh indah kehidupan yang dipenuhi dengan kasih sayang, kedamaian terasa disetiap penjuru kehidupan. Tidak ada yang dirugikan apalagi terdzalimi.
Tapi, hari ini kasih sayang terasa langka, tidak ada kedamaian, perang menjadi sebuah kebiasaan, pembunuhan terhadap sesama seolah hal yang biasa-biasa saja. Bagaimana Allah akan menurunkan kasih sayang-Nya, sedang manusia tidak menyayangi sesamanya.
Sebagian sahabat meriwayatkan:
اَلرَّاحِمُيَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمْ مَنْ فِى اْلأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Tuhan Ar-Rahman. Sayangilah yang di bumi niscaya yang dilangit akan menyayangi kalian” (kalimat ini juga merupakan hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad).
Wallahua’lam.
(disarikan dari kitab Syathrun min Tanbihil Ghafiiliin bab Ar-Rahmah Wasy-syafaqah karya Syeikh Nashr bin Muhammad As-Samarqandi dengan sedikit gubahan)
ed : danw
by Ari Yanto ariyanto | Dec 30, 2015 | Audio Kajian, Download
Rekaman Audio Kajian Kontemporer Majlis Ta’lim Al Iman – Ikhlas Dalam Beramal oleh Ust. Sholeh Drehem, Lc
Download file mp3 disini
by Farid Numan Hasan faridnuman | Dec 29, 2015 | Artikel
Oleh: Farid Nu’man Hasan
Kami umat Islam menghargai adanya perbedaan, dan mengakui perbedaan itu adalah sunatullah kehidupan. Sebab Rabb kami telah berfirman:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
Seandainya Rabbmu berkehendak niscaya manusia Dia jadikan umat yang satu, namun mereka senantiasa berselisih. (QS. Huud: 118)
Ayat yang lain:
وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (QS. Yunus: 99)
Oleh karena itu, kami akan tetap berbuat baik dan adil kepada siapa pun yang berbeda dengan kami, selama mereka tidak berbuat aniaya kepada kami.
Rabb kami mengajarkan:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. (QS. Al Mumtahanah: 8)
Maka, biarlah kami istiqamah atas agama kami dan budaya kami, jangan kalian kecut dan jangan pula cemberut, sebab itu bagian dari tuntutan iman kami.
Nabi kami – Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam– mewasiatkan kami:
قُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah! (HR. Muslim, 62/38, At Tirmidzi No. 3574, Ahmad No. 15416, 15417, 19431, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 11425, Abu Bakar Al Khalal dalam As Sunnah No. 1677, Ibnu Hibban No. 942, dll)
Dan, kami pun tidak memaksa kalian untuk mengikuti agama dan budaya kami. Sebab memaksa bukan ajaran Rabb kami.
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS. Al Baqarah: 256)
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ
Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (untuk memaksa). (QS. Al Ghasyiah: 21-22)
Jadi, sangat ingin kami katakan kepada kalian. Bahwa hari raya kalian bukan hari raya kami, begitu pula hari raya kami bukan hari raya kalian, sebagaimana tahun baru masehi kalian bukanlah tahun baru bagi kami, karena titik tolak sejarah awal tahun kalian berbeda dengan tahun hijriyah kami, tahun baru kalian diawali oleh kelahiran Nabi kami yang mulia -yang telah kalian Tuhankan- ‘Isa ‘Alaihissalam, sementara tahun kami diawali hijrah Rasulullah dan para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah. Walaupun banyak saudara kami muslimin awam yang ikut-ikutan berbahagia dan bersuka cita atas hari raya dan budaya kalian karena ketidaktahuan mereka itu bukan alasan bagi kami untuk turut larut di dalamnya.
Nabi kami – Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam– mengajarkan:
إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا
“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya masing-masing, dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari No. 952, Muslim, 16/892)
Ya, jelaskan?! Setiap kaum, setiap umat punya hari raya dan hari besarnya sendiri, silahkan berbahagia dan suka cita dihari itu. Kami tidak memaksa dan menuntut kalian mengucapkan selamat atas kami karena kebahagiaan kami sangat berlimpah dan tidak akan berkurang tanpa ucapan selamat dari kalian. Kami pun meyakini, kebahagiaan kalian tidak akan berkurang seandainya kami tidak mengucapkan selamat atas hari raya kalian, sebab sangat tidak dewasa bila perasaan kebahagiaan dan suka cita mesti didahului ucapan selamat dahulu.
Kami, umat Islam, memiliki sangat banyak hari raya dan hari-hari istimewa, dan kami pun puas atas hal itu, itulah kenapa kami tidak membutuhkan hari raya yang tidak berasal dari Rabb dan nabi kami, yang telah menjadi budaya dan sejarah kami.
Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata:
“Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, dia bersabda: “Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yakni hari Fithri dan hari Adha.” (HR. Abu Daud No. 1134, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1755, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 1098, katanya: hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar (Fathul Bari, 3/371) juga mengatakan: shahih.)
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.”)
Dari Abu Lubabah bin Abdil Mundzir, dia berkata: Bersabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Sesungguhnya hari Jumat adalah Sayyidul Ayyam (pimpinan hari-hari), keagungannya ada pada sisi Allah, dan dia lebih agung di sisi Allah dibanding hari Idul Adha dan Idul Fitri. Padanya ada lima hal istimewa: pada hari itu Allah menciptakan Adam, pada hari itu Allah menurunkan Adam ke bumi, pada hari itu Allah mewafatkan Adam, pada hari itu ada waktu yang tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah melainkan akan dikabulkan selama tidak meminta yang haram, dan pada hari itu terjadinya kimat. Tidaklah malaikat muqarrabin, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan, melainkan mereka ketakutan pada hari Jumat.” (HR. Ibnu Majah No. 1083. Ahmad No. 15547, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 4511, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 2973, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 817, Al Bazzar No. 3738. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 2279).
Lihatlah hari raya kami. Idul Fitri (1 Syawwal), Idul Adha (10 Dzulhijjah), hari Arafah (9 Dzulhijjah), hari-hari tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah), dan hari Jum’at yang datangnya tiap pekan.
Belum lagi hari istimewa lainnya, walau bukan hari raya tetapi ini merupakan hari istimewa bagi kami karena di dalamnya mengandung keutamaan yang banyak untuk beribadah dan nilai sejarah. Seperti Senin, Kamis, 10 hari pertama Dzulhijjah, 6 hari Syawwal, hari ‘asyura, Ayyamul Bidh, 17 Ramadhan, 1 Muharam awal penanggalan kami, dan Lailatul Qadar. Semua ini ada dasarnya dalam agama dan sejarah kami.
Inilah kami, dan inilah agama kami, walau kami bersikap Lakum diinukum wa liyadin dalam urusan agama, tetapi kami ini rahmatan lil ‘alamin bagi kalian dalam urusan muamalah. Kalian tetap saudara dan sahabat, jangan khawatir. Sebab Rabb kami mengajarkan:
إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ
Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 106)
إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ
Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 124)
إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلَا تَتَّقُونَ
Ketika saudara mereka, shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 142)
إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ
Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 161)
Lihatlah, Allah Ta’ala tetap menyebut para nabi pembawa risalahNya; Nuh, Hud, Shalih, dan Luth, sebagai saudara bagi kaumnya, walau kaumnya mengingkari agama yang dibawa mereka, mengingkari kenabian, dan mengingkari ketuhanan Allah Ta’ala. Itulah sikap kami juga, walau kalian ingkar kepada agama yang kami yakini, kalian tetap saudara kami.
Wallahu A’lam.
ed : danw
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Dec 28, 2015 | Artikel, Buletin Al Iman
Oleh: Fahmi Bahreisy, Lc
Sebagai seorang muslim, tentu kita ingin merasakan nikmat dan lezatnya iman. Sebab, apalah artinya iman tanpa ada kenikmatan di dalamnya. Apalah artinya berislam tapi tak bisa merasakan kelezatannya. Diantara cara agar kita dapat merasakan nikmatnya iman ialah adanya perasaan cinta dan kasih sayang kepada sesama muslim. Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dalam Shahih Muslim, “Ada tiga hal yang jika engkau mendapatkannya maka engkau merasakan nikmatnya iman,” diantaranya ialah, “Engkau mencintai seseorang hanya karena Allah SWT.”
Rasa cinta kepada sesama muslim ini telah dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW, diantaranya ialah kecintaan yang ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib kepada para sahabat, terutama kepada Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu’anhuma. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa keduanya memiliki hubungan yang sangat akrab dan saling mencintai satu dengan yang lainnya. Hal ini tidaklah aneh sebab keduanya merupakan binaan dari Rasulullah SAW yang selalu mengajarkan ummatya untuk saling menghargai, mencintai dan berkasih sayang.
Diriwayatkan oleh Muhammad bin Hanafiyah ia berkata, “Aku berkata kepada ayahku, siapakah manusia yang paling mulia setelah Nabi SAW?” Ali r.a. menjawab, “Abu Bakar.” Kemudian ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Ia menjawab, “Umar.” Bahkan Ali bin Abi Thalib pernah berkata dalam sebuah riwayat dari Imam Ahmad, “Tidak ada seorang pun yang lebih mengutamankanku daripada Abu Bakar dan Umar kecuali aku akan cambuk dia sebagai balasan atas kedustaannya.”
Dalam riwayat dari Uqbah bin Harits disebutkan, “Aku pernah keluar bersama Abu Bakar setelah shalat Ashar dan Ali berada disampingnya. Lalu ia bertemu dengan Hasan bin Ali sedang bermain dengan teman sebayanya. Lalu Abu Bakar menggendongnya dan berkata dengan nada bercanda, “Wahai seorang anak yang mirip dengan Nabi, tapi tidak mirip dengan Ali.” Dan saat itu Ali pun tertawa mendengar ucapan Abu Bakar.”
Sebagaimana keakraban dan keharmonisan yang terjalin antara Ali dengan Abu Bakar, begitu juga hubungan antara Ali bin Thalib dengan sahabat-sahabat yang lainnya terutama Umar bin Khattab. Kecintaan Ali kepada tampak jelas ketika Umar bin Khattab mengajak Ali untuk berunding sebelum melakukan peperangan melawan Romawi dan Persia. Pada saat itu, ketika pasukan akan berangkat menuju peperangan, Ali bin Abi Thalib berkhutbah yang mana intinya ialah (sebagaimana yang tertera dalam kitab Nahjul Balaghah); Ali menamakan pasukan yang disiapkan oleh Umar sebagai pasukannya Allah, ia juga menegaskan bahwa dirinya merupakan salah satu bagian dari tentaranya Umar bin Khattab, di dalam khutbah tersebut beliau juga menafikan adanya permusuhan diantara sahabat terutama di masa Umar, bahkan ia menegaskan bahwa dengan keberadaan Umar, Islam menjadi kuat dan kokoh.
Dalam sebuah surat yang dikirim oleh Ali kepada Muawiyah, di dalamnya tertulis mengenai keutamaan Abu Bakar dan Umar yang isinya ialah sebagai berikut, “Muslim yang terbaik dan yang paling setia terhadap Allah dan Rasul-Nya adalah Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, kemudian setelah itu adalah Umar bin Khattab al-Faruq. Keduanya memiiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Ketiadaan keduanya merupakan musibah yang besar bagi agama Islam. Semoga Allah merahmati keduanya dan membalas kebaikan keduanya.” (Lihat kitab Syarh Nahjul Balaghah).
Subhanallah, inilah pengakuan Ali bin Abi Thalib r.a. akan kemulian kedudukan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Rasa cinta yang tertanam di dalam dirinya merupakan buah akan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Dan masih banyak riwayat-riwayat lainnya yang menunjukkan akan besarnya kecintaan dan penghormatan Ali kepada Abu Bakar dan Umar.
Hal ini sekaligus juga membantah anggapan bahwa adanya permusuhan antara Ali bin Abi Thalib –karramahullah wajhahu- dengan dua sahabat yang agung ini. Bahkan rasa cinta tersebut beliau wujudkan dengan menamakan keturunannya dengan nama Abu Bakar dan Umar. Ketika Ali ditanya perihal alasan dari pemberian nama tersebut, ia menjawab bahwa ia ingin anaknya sama seperti dengan Abu Bakar dan Umar.
Ini adalah sebuah gambaran akan eratnya hubungan diantara mereka yang juga seharusnya dicontoh oleh generasi penerus yang mengaku mencintai Abu Bakar, Umar, Ali, dan sahabat-sahabat yang lainnya. Keagungan dan kemuliaan mereka sesuai dengan firman Allah SWT, “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.” (QS. al-Fath: 29). Semoga Allah meridhai mereka semua. Amiin.
Sumber:
Artikel Utama Buletin Al Iman
Edisi 350 – 20 November 2015. Tahun ke-8
***
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah.
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
by Farid Numan Hasan faridnuman | Dec 27, 2015 | Artikel
Oleh: Farid Nu’man Hasan
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: “Tahukah kalian apa itu muflis (bangkrut)?” Mereka menjawab: “Orang bangkrut pada kami adalah mereka yang tidak punya dirham dan barang berharga.” Nabi bersabda: “Sesungguhnya orang bangkrut pada umatku adalah orang yang pada hari kiamat nanti datang membawa shalatnya, puasa, zakat, tetapi dia juga memaki ini, menuduh yang ini, memakan harta yang ini, menumpahkan darah si ini, memukul yang ini, maka korbannya itu akan diberikan kebaikan orang itu, dan dia akan diberikan kebaikan orang itu, jika kebaikannya sudah habis sebelum tuntas dibalasnya, maka kesalahan si korban akan dipindahkan ke orang tersebut, lalu dia dilemparkan ke neraka. (HR. Muslim, 59/2581)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menasehati umatnya untuk menjaga lisan. Hadits-hadits seperti ini cukup banyak, di antaranya:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari No. 11, Muslim No. 42)
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا، وَصِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا، غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: ” هِيَ فِي النَّارِ “، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا، وَصَلَاتِهَا، وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ، وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: ” هِيَ فِي الْجَنَّةِ ”
Berkata seorang laki-laki: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah diceritakan sebagai seorang wanita yang banyak shalatnya, puasa, dan sedekah, hanya saja dia menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Beliau bersabda: “Dia di neraka.” Laki-laki itu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah diceritakan sebagai wanita yang sedikit puasanya, sedekah, dan shalatnya, dia memberikan sedekah kepada sapi berupa keju, dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Beliau bersabda: “Dia di surga.”
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 119, Ahmad No. 9675, Al Bazzar No. 902, Ibnu Hibban No. 5764. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9545, 9546. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnaduhu hasan. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 9675)
Dari Amru bin ‘Anbasah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apakah Islam itu?” maka Beliau bersabda:
أَنْ يُسْلِمَ قَلْبُكَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَنْ يَسْلَمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِكَ وَيَدِك
َHendaknya kau mempasrahkan hatimu untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan menjaga muslim lainnya dari lisan dan tanganmu.
(HR. Ahmad No. 17027, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Imam Al Haitsami mengatakan: “semua rijalnya tsiqat.” Lihat Majma’ Az Zawaid, 1/59)
Dari Abdullah bin Amru Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ صَمَتَ نَجَا
Barang siapa yang diam maka dia telah selamat.
(HR. At Tirmidzi No. 2501, Al Qudha’I dalam Musnad Asy Syihab No. 334, Ahmad No. 6481. Ibnu Abi Ad Dunya dalam Ash Shamtu wa Hifzhul Lisan No. 10. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 6481. Sementara Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 536. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “para perawinya tsiqat.” Lihat Fathul Bari, 11/309. Imam Al Mundziri menyandarkan hadits ini kepada Ath Thabarani, dan mengatakan: “para perawinya tsiqat.” Lihat At Targhib, 3/536)
Dari Bara bin ‘Azib Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Datang seorang Arab Badui yang menanyakan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang amalan apa saja yang dapat memasukkanya ke dalam surga. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan beberapa macam amal kebaikan, dan mengatakan:
فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَلِكَ، فَكُفَّ لِسَانَكَ إِلَّا مِنَ الْخَيْرِ
Jika kau tidak mampu mengatakan itu, maka tahanlah lisanmu kecuali dari kebaikan.
(HR. Ahmad No. 18647. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 69, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsar No. 2744, Ibnu Hibban No. 374. Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 2419. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 4335. Ibnul Mubarak dalam Al Bir wash Shilah No. 277, dan lain-lain)
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
قُلْت يَا رَسُول اللَّه مَا النَّجَاة ؟ قَالَ : أَمْسِكْ عَلَيْك لِسَانك
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Beliau bersabda: “Tahanlah olehmu lisanmu.”
(HR. At Tirmidzi No. 2406, katanya: hasan. Syaikh Al Albani mengatakan: shahih lighairih. Lihat Shahih At Targhib wat Tarhib No. 2741).
Wallahua’lam.