0878 8077 4762 [email protected]

Untukmu Kader Dakwah : Al Ikhlas

Oleh: KH. Rahmat Abdullah
 
Yang dimaksud dengan al ikhlas adalah “Seluruh ucapan, perbuatan, dan perjuangan seorang aktivis muslim selalu ditujukan dan dimaksudkan hanya kepada Allah Ta’ala saja. Tidak mengharapkan imbalan apapun, baik berupa harta, tahta, martabat dan kedudukan tanpa melihat maju mundurnya perkembangan dakwah.” ~ Hasan Al Banna.
Ada orang yang sangat sederhana dalam beramal dengan ketulusan tiada tara. Puji tak membuatnya gairah dan celaan tak menghambatnya dari meningkatkan amal kebajikan. Ia ada ditengah keramaian dan jiwanya sendiri menghadap Khaliqnya tanpa berharap dan peduli terhadap penilaian manusia.
Tiga hal yang tak membuat hati mukmin kering : 1. Ikhlas dalam beramal karena Allah, 2. Tulus terhadap para pemimpin (dengan nasihat non koreksi), 3. Setia kepada jamaah muslim karena doa mereka meliput dari belakang mereka “(H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, Abu Daud dan Tirmidzi)
Hasan Al Bashri mencurahkan kebeningan hati di zamannya : “Tak ada lagi yang tersisa dari kenikmatan hidup kecuali tiga hal:

  1. Saudara yang kau selalu dapatkan kebaikannya; bila engkau menyimpang ia akan meluruskanmu
  2. Shalat dalam keterhimpunan (jasad, hati dan pikiran), kau terlindungi dari melupakannya dan kau penuh meliput ganjarannya
  3. Cukuplah kebahagiaan hidup dicapai bila kelak tak seorangpun punya celah menuntutmu di hari kiamat.”

Ketika seseorang berusaha keras untuk beramal tanpa berfikir apa keuntungan yang bakal didapatnya, ia disebut mukhlis, artinya orang yang menyerahkan amalnya kepada Allah dengan sepenuh hati tanpa pamrih duniawi. Kemudian pada saat ia mendapat dorongan beramal tanpa ingat  apapun kecuali ridha Allah ia menjadi mukhlas, artinya orang yang dijadikan mukhlis.
Hati Tanpa Jelaga
Hati bening seorang alim ibarat penaka gelas kristal yang bening dan bersih, akan memancarkan cahaya ilmunya.Sulit untuk mendapatkan hati yang bening dan amal yang ikhlas tanpa kejujuran. Ia adalah kejujuran kepada bisikan nurani san Al Khaliq. Betapa mengerikan kemiskinan hati bila melanda kaum berilmu.
Orang-orang yang Ringkih Jiwa
Bal’am bin Baura, Wakid bin Nughirah, dan Abdullah bin Ubay adalah profil kaum berilmu yang tak berfaham. Yang pertama jelas-jelas bersebrangan dengan Nabi Musa as dan perjuangannya, lalu bermanis-manis dengan kubangan dunia, fir’aun. Adakah perbedaan fir’aunisme kemarin dengan fir’aunisme hari ini, yang membuat Bal’am-bal’am kontemporer membelanya mati-matian?
Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan Walid yang di awal-awal laporan ilmiahnya tentang Al Qur’an menutup semua jalan bagi penolakan Al Qur’an sebagai kalam Allah. Gemertak gigi orang awam di Darun Nadwah rupanya lebih mengerikan baginya, sehingga di akhir presentasinya ia mengeluarkan konklusi : “Al Qur’an adalah sihir, lihatlah ia sudah memisahkan anak dari orangtuanya dan budak dari tuannya”.
Abdullah bin Ubay yang menarik penampilannya dan tutur katanya. Kandidat pemimpin tertinggi Madinah pra hijriah ini melihat peluang besar baginya. Penyakit nifaq merasukinya dan loyalitas tak dimilikinya. Yang ada hanya kepentingan dan kedengkian. Jadilah ia orang yang manis di muka dan mengutuk dibelakang, beriman di mulut dan kafir di hati.
Ikhlas dan Shidiq
Ikhlas artinya menjaga diri dari perhatian makhluk. dan shidiq artinya menjaga diri dari perhatian nafsu. Seorang mukhlis tak punya riya dalam dirinya dan seorang shidiq tak punya ijab nafsi (kagum diri), demikian Abu Ali Daqqaq mengurai.
Kaab bin Malik pantas mendapatkan gelar shidiq sebab hukuman yang diterima dengan ikhlas. Tak kurang 50 hari berlalu keterasingan berat akibat alasan absen dari perang tabuk.
Banyak ulama yang tak henti-hentinya mengkritik dan meluruskan pemerintahan, sementara sang Amir tak jemu memenjarakannya. Namun saat sang Amir menggaungkan jihad, para ulama tampil didepan tanpa dendam pribadi. Kritik sudah kulancarkan, demikian paradigma mukhlisin.
Khalid bin Walid tegas menjawab pertanyaan heran orang lain, mengapa kau maui bertempur dibawah komando orang sementara engkau dimakzulkan dari posisi panglima? Ia berjihad karena Allah bukan karena Umar.
Betapa mengerikan keterasingan pengamal yang selalu saja dihantui apa kata orang. Sunyi terdampar di gurun riya, tersungkur dijurang ujub, segala ketakutan ada disana, kecuali takut kepada Allah.
Referensi :
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Da’watuna, KH Rahmat Abdullah

Bangga Menjadi Muslim

Oleh: Fauzi Bahreisy
 
Dalam Alquran terdapat satu fakta dan ketetapan yang sangat jelas. Yaitu bahwa umat ini, umat Islam, telah ditempatkan oleh Allah pada kedudukan yang mulia. Allah SWT berfirman:
Kalian adalah umat terbaik yang dihadirkan untuk manusia. Kalian menyeru kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran, dan tetap beriman kepada Allah.” (QS Ali imran: 110)
Begitulah kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan untuk menjadi saksi (penilai) bagi manusia.” (QS al-Baqarah: 143)
Kedua ayat di atas menegaskan bahwa umat Islam adalah soko guru bagi seluruh umat manusia. Posisi ini bukan pilihan manusia. Akan tetapi ia adalah pilihan Allah. Allah yang memilih umat ini menjadi umat yang mulia dan istimewa.
Karena itu kemuliaan dan keistimewaan tersebut harus terwujud dan terlihat pada identitasnya; pada akidah, ibadah, akhlak, dan tampilan mereka. Allah tidak ingin umat ini menjadi pengekor. Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian seperti orang-orang kafir….” (QS Ali Imran: 156).
Bahkan minimal sebanyak tujuh belas kali sehari kita minta kepada Allah agar diantarkan kepada jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat; bukan jalan mereka yang dimurka dan bukan pula jalan mereka yang tersesat (lihat QS al-Fatihah: 7).
Hal itu, lantaran Islam punya jalan istimewa yang berbeda dengan jalan-jalan lainnya. Misalnya dalam masalah kiblat. Tadinya shalat menghadap Masjidil Alaqsha. Namun kemudian, Allah kabulkan keinginan Nabi SAW dengan merubah kiblat umat Islam sehingga mereka menghadap ke Ka’bah baitullah.
Contoh lain dalam masalah penanda masuknya waktu shalat. Ada sahabat yang mengusulkan penggunaan terompet. Ada yang mengusulkan penggunaan api. Ada pula yang mengusulkan penggunaan lonceng. Tapi semua itu ditolak oleh Rasul SAW lantaran identik dengan umat lain. Lalu dipilihlah lafal adzan seperti yang kita kenal sampai sekarang.
Demikian pula dalam urusan hari raya, puasa, dan banyak urusan lainnya. Nabi SAW mengajari umat ini untuk tampil beda dan istimewa sesuai dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada mereka.
Hanya saja, perjalanan waktu membalilkan kondisi di atas, umat Islam mulai meninggalkan ajarannya. Mulai meninggalkan identitas mereka. Ini persis seperti peringatan Nabi SAW:
Sungguh kalian akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikan mereka masuk ke lubang ‘Dhobb’ (sejenis biawak-red), niscaya kalian akan memasukinya pula”.
Kami bertanya, “Wahai Rasulullah! (mereka itu) maksudnya orang-orang Yahudi dan Nashrani?”. Beliau bersabda: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)” (HR al-Bukhari)
Hadits di atas menggambarkan kondisi umat Islam yang demikian jatuh dan merosot. Umat Islam dilukiskan mengikuti sesuatu yang kotor dan tidak masuk akal. Yaitu ikut masuk ke lubang biawak. Mereka mencontoh dan mengikuti kenistaan yang ada, entah dalam hal keyakinan, ibadah, budaya, tampilan, pakaian, pergaulan, dan seterusnya. Akhirnya identitas umat menjadi kabur dan tidak jelas.
Padahal Nabi SAW bersabda, “Siapa yang menyerupai satu kaum, ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR Ahmad).
Karena itu, sudah seharusnya umat ini memperlihatkan identitas aslinya dengan kembali kepada jalan Islam; jalan yang penuh dengan nikmat dan keberkahan.
Ya, kita harus bangga menjadi muslim sebagaimana firman-Nya : “Saksikan bahwa kami adalah muslim.” (QS Ali Imran: 64)
ed : danw

Menyikapi Tahun Baru Masehi

Oleh: Fahmi Bahreisy, Lc
 
Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat dan saat ini kita berada di penghujung tahun 2015 masehi. Tahun 2015 akan menjadi kenangan dan cerita, kemudian tahun 2016 akan datang menyambut kita semua. Malam pergantian tahun merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dan warga dunia.
Berbagai macam persiapan diatur sebaik mungkin untuk menyambut datangnya tahun baru. Mereka rela berlarut malam agar tidak kehilangan momentum ini. Ratusan miliyar bahkan triliyunan mereka keluarkan demi suksesnya acara pergantian tahun. Tidak sedikit yang menjadikan malam pergantian tahun sebagai ajang untuk melakukan pelanggaran dan kemaksiatan.
Sungguh hal ini merupakan sebuah kondisi yang menyedihkan dan jauh dari syariat Islam, terlebih lagi hal itu dilakukan juga oleh sebagian besar kaum muslimin. Lantas bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi tahun baru masehi ini?
Ada dua sikap utama yang harus dimiliki oleh setiap muslim dalam menghadapi momen pergantian tahun. Yang pertama ialah bersyukur kepada Allah atas kesempatan yang Ia berikan kepada kita. Kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada-Nya. Kesempatan untuk menambah amal shaleh dan memperbanyak pahala.
Pasalnya, nikmat waktu atau kesempatan merupakan salah satu kenikmatan terbesar yang Allah berikan kepada kita. Waktu yang Allah sediakan untuk kita merupakan sarana untuk melakukan berbagai macam aktifitas kebaikan. Namun, nikmat ini pula yang sering dilupakan dan diabaikan oleh manusia sebagaimana yang terjadi saat pergantian tahun. Rasulullah saw bersabda, “Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia; kesehatan dan waktu luang.”
Banyak kaum muslimin yang tidak menyadari bahwa tahun baru adalah kenikmatan yang seharusnya dihadapi dengan rasa syukur kepada Allah, bukan dengan kemaksiatan dan kegiatan yang bisa melalaikan dirinya dari Allah. Ia habiskan waktu dan hartanya hanya untuk bersenang di dalamnya, padahal perbuatan yang seperti itu merupakan perbuatan yang sangat dicela dan dimurkai oleh Allah SWT.
Sikap yang kedua ialah melakukan muhasabah atau evaluasi diri, baik itu dilakukan secara individu atau secara berjama’ah. Sebab, proses untuk melakukan perbaikan diri harus diawali dengan muhasabah. Terjadinya pergantian tahun seharusnya menjadi momen yang paling tepat bagi kita untuk melakukan introspeksi diri atas apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Meskipun proses muhasabah ini sebenarnya sudah menjadi rutinitas seorang muslim yang baik.
Bahkan para salaf telah mencontohkan kepada kita bagaimana menjadikan muhasabah sebagai aktifitas rutin mereka setiap hari. Salah seorang salaf berkata, “Setiap kali aku akan mulai tidur, aku menghitung-hitung amalanku. Jika yang kudapatkan adalah kebaikan, maka aku bersyukur. Dan jika aku dapatkan amalanku adalah keburukan aku beristighfar kepada Allah.”
Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Hibban yang diriwayatkan oleh Abu Dzar r.a. disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dalam shuhuf Ibrahim a.s. tertulis: Orang yang berakal wajib membagi waktunya menjadi berikut ini; Waktu untuk bermunajat kepada-Nya, waktu untuk melakukan muhasabah, waktu untuk merenungkan ciptaan-Nya, dan waktu untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Oleh sebab itu, muhasabah merupakan kegiatan rutin yang harusnya dimiliki oleh setiap muslim agar ia menjadi hamba yang lebih baik lagi, terlebih lagi dalam momen pergantian tahun. Sebagaimana seorang direktur setiap pekan atau bulan atau setiap tahun melakukan evaluasi terhadap pekerjaan dan karyawannya agar bisnisnya semakin baik, begitu pula seorang muslim ia harus melakukan evaluasi diri.
Apalagi proses muhasabah yang dilakukan oleh seorang muslim tidak hanya akan membawa kebaikan baginya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Semakin dia rajin melakukan muhasabah, maka akan ia akan semakin menghargai waktu yang diberikan oleh Allah, dan akan semakin sadar bahwa ia akan dimintai pertanggung jawaban atas nikmat waktu tersebut.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat kelak sampai ia ditanyakan akan empat hal; Tentang umur ia habiskan untuk apa?, tentang masa mudanya ia pergunakan untuk apa, dan hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta ilmunya untuk apa ia amalkan?”
Inilah dua hal yang hendaknya kita lakukan pada malam pergantian tahun, agar pada tahun berikutnya kehidupan kita semakin diberkahi dan berguna. Tidak lupa dalam momen pergantian tahun ini hendaknya kita mengingat sebuah ucapan dari imam Hasan al-Bashri rahimahullah, “Sesungguhnya engkau itu adalah hari, jika harimu telah berlalu, maka itu berarti sebagian dari dirimu telah tiada.”
Pergantian tahun menandakan bahwa sebagian dari diri kita telah hilang dan tiada. Maka, sikapilah momentum pergantian tahun dengan bijak agar kita menjadi orang-orang yang beruntung. Wallahu a’lam.
ed : danw

Untukmu Kader Dakwah : Al Fahmu

Oleh : KH Rahmat Abdullah
 
Yang dimaksud al fahmu disini adalah bahwa “Fikrah (pandangan) kami adalah fikrah islamiyah yang solid dan tangguh, serta memahami Islam seperti apa yang kami pahami dalam kerangka dua puluh landasan (al ushuul al’isyruun)” ~ Hasan Al Banna.
Bagi Ashabul Kahfi sesudah iman, tambahan nikmat lain berupa Huda (petunjuk) itu yang pada hakikatnya juga ilmu. Bahkan Imam Al Ghazali mengatakan “Lewat beberapa masa, aku menuntut ilmu tak pernah mau dituntut kecuali karena Allah”.
Tentu saja seseorang tidak harus mengumpulkan ilmu sebagai kolektor tanpa komitmen amal, karena hal seperti ini dapat dilakukan oleh hard disc, pita rekam, ataupun mata pensil. Menurut Ibnu Athaillah kedudukan ilmu dan kemuliaan berupa ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat) termasuk Al Qur’an dan Assunnah.
Pemeliharaan Tradisi Keilmuan
Seorang imam pergi musafir berbulan-bulan hanya untuk mencari satu hadist singkat. Seorang ulama produktif bahkan menulis dipenghujung malam. Tradisi keilmuan juga menyangkut etika pergaulan. Ulama yang arif billah datang kepada raja hanya untuk menasihati dan mengingatkan mereka, bukan menjilat.
Harun Al Rasyid pernah meminta Imam Malik untuk mendatanginya agar anak-anaknya dapat mendengarkan Kitab Al Muwattha. Namun atas jawaban Imam Malik sebaiknya ilmu lah yang harus didatangi dengan aturan duduk seadanya tanpa melangkahi bahu jamaah. Begitupula Imam Syafii, kepiawaiannya dalam diskusi dilandasi keikhlasan dan mengharap kebenaran dari Allah.
Ilmu antara Tahu dan Malu
Apa kabar penghafal sekian banyak ayat, pelahap sekian banyak kitab, dan pembahas sekian banyak qadhaya yang belum beranjak dari tataran tahun untuk menjadi mau?
Alim, jahil, atau sakitkah engkau? Kemana lagi engkau sesudah ini? Seandainya engkau menjumpai planet lain, sadarkah engkau bahwa itu bukan ciptaanmu?
Ilmu dan Kelapangan Wawasan
Berapa banyak pedang diperlukan untuk mengembalikan kaum khawarij yang memecah belah jamaah? Kaum ini sesat bukan karena tidak shalat, shaum, atau jihad. Namun fiqh (kedalaman ilmu dan keleluasaan) tak menggenapi kehidupan intelektual mereka. Oleh karenanya Ibnu Abbas ra. cukup dengan argumentasi untuk mengembalikan 1/3  dari sekian puluh ribu kaum khawarij.
Belum lagi kaum nabi Nuh as membangun tugu-tugu untuk tokoh terhormat mereka; Wada, Suwa, Yauq, Yaguts, dan Nashr. Barulah setelah generasi ini wafat dan ilmu dilupakan orang, maka tugu itupun mulai disembah.
Kemudian mengapa ulama akhirat tak pernah berkelahi dan ulama dunia tak putus-putus bertengkar? Karena akhirat itu luas tak bertepi, sedangkan dunia sangat sempit. Wajar bila ulama saling bertabrakan.
Diantara karunia besar datangnya Rasul penutup adalah mata dunia dibuka, era akal sehat dimulai, bebas dari mitos-mitos dan manipulasi orang picik atas rakyat yang lugu. Inilah tonggak peralihan dari pengabdian manusia kepada sesama manusia, menuju pengabdian hanya kepada Allah semata.
Referensi :
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Da’watuna, KH Rahmat Abdullah

Ringkasan Ta’lim : Sabar dan Sikap Lemah Lembut

? Ringkasan Kajian Kitab Riyadhus Shalihin Bab 74
 
“Sabar dan Sikap Lemah Lembut”
? Bersama:  Ustadz Abdul Rochim, Lc.
Ahad, 20 Desember 2015
Pkl. 18.00-19.30
Di Majelis Ta’lim Al-Iman, Kebagusan, Jakarta Selatan
 
?Alhilmu maksudnya menahan diri, menahan emosi atau memaafkan.
?Al-Anah artinya tidak terburu-buru atau tergesa-gesa.
?Ar-Rifqu artinya lemah lembut.
?Diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah mampu menahan emosi dan memaafkan kesalahan orang lain, jika sifat ini belum ada berarti indikasi ketaqwaan belum ada pada dirinya.
?Tidaklah sama antara kebaikan dan keburukan, tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik. seperti tidak menyikapi perkataan buruk seseorang dengan keburukan yang sama, akan tetapi balaslah dengan cara yang lebih baik.
?Jadilah orang-orang yang pemaaf, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan berpaling dari orang-orang yang bodoh.
?Orang-orang yang bodoh adalah mereka  tidak mengetahui. Diantara cara berpaling dari mereka adalah dengan  menghindari perdebatan, karena dengan tidak melayani perdebatan dengan mereka adalah merupakan sebuah jawaban untuk mereka, dengan demikian bisa menyelesaikan masalah.
?Sabar adalah induk daripada akhlak yang mulia, oleh karenanya semua bentuk akhlak yang mulia adalah termasuk bagian dari kesabaran, seperti tidak emosi, tidak tergesa-gesa, dan santun kepada orang lain. semua itu adalah bagian dari ‘azmil umur yaitu sebuah keinginan kuat di dalam diri untuk memiliki sesuatu.
?Di dalam Hadits Asyaj (Abdul Qais) ada 2 sikap atau sifat yang disukai oleh Allah SWT :
1. Mampu menahan emosi dan memberi maaf
2. Tidak tergesa-gesa, karena tergesa-gesa adalah perbuatan syaithan, bahkan segala sesuatu yang di lakukan secara tergesa-gesa adalah perbuatan dan rekayasa syaithan.
?Pada Hadits Ar-Rifqu (santun), Rafiiq bukan temasuk nama dari nama-nama Allah, akan tetapi kata-kata Rafiiq di sini hanya sekedar untuk menjelaskan, bukan dalam rangka menyebut nama Allah, maka tidak boleh memberikan nama anak dengan nama Abdul Rafiiq.
?Diantara bentuk sifat santun adalah tidak gampang memvonis keburukan orang lain dan tidak besikap kasar, karena sikap yang kasar dapat memberikan bekas di dalam hati orang lain.
?Kesimpulan para ulama dari hadits Badui yang kencing di dalam masjid Rasulullah :
1. Tidak bersikap reaktif terhadap masalah.
2. Harus selalu mempertimbangkan segala efek atau akibat yang muncul dari sebuah sikap atau perbuatan.
3. Harus selalu memperlakukan manusia walau seburuk apapun secara manusiawi.
4. Selalu mempertimbangkan perasaan orang lain.
***
Majelis Ta’lim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya

Muhasabah Akhir Tahun

Oleh : Adi Setiawan, Lc., MEI
Suatu malam, seorang anak yang shaleh membaca ayat pertama dan kedua surat Al-Muzzammil:
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (١) قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا
Wahai orang yang berselimut, Bangunlah di malam hari walaupun sebentar.
Kemudian ia bertanya kepada ayahnya,
“Wahai ayah, apa maksud ayat di atas? Apa arti “qumil laila?”
Ayahnya menjawab: “Itu hamba Allah Swt. yang shalat tahajud di malam hari.”
Si Anak bertanya lagi: “Kenapa aku tidak pernah lihat ayah tahajud?”
Ayahnya menjawab: “Ayat ini khusus buat Nabi Muhmmad Saw.”
“Kalo begitu, bagaimana dengan ayat,
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Mereka orang-orang yang sangat sedikit tidurnya pada malam hari dan memperbanyak istighfar di waktu sahur“. QS. Adz-dzaryat: 17-18
Siapakah mereka? Tanya si anak.
“Mereka adalah orang-orang mukmin.” Kilah ayahnya.
Si Anak makin penasaran, “Oh.. ayah kan orang mukmin, kenapa ayah tidak tahajud?.”
“Baiklah sayang, engkau menjadi saksi malam ini ayah akan tahajud.” Jawab sang ayah meyakinkan anaknya.
Percakapan belum berakhir, si anak berkata lagi, “ayahku sayang, jika nanti ayah sudah bangun untuk tahajud, tolong bangunkan aku juga.
“Mau apa engkau sayang?”
“Aku mau tahajud bersama ayah.”
Namun Sang Ayah menolak, “anakku sayang, engkau masih muda, masih kecil belum wajib shalat, apalagi shalat tahajud ini hukumnya sunnah, tidurlah sampai esok pagi. Biar badanmu menjadi segar di waktu bangun.”
Si anak beralasan, “Ayah, jika nanti, saat hari kiamat tiba. Kemudian Allah Swt. Tuhan kita membangkitkan aku dan bertanya; “Wahai hambaku kenapa engkau tidak pernah tahajud sewaktu di dunia dahulu?”
Relakahah ayah, jika  aku menjawab pertanyaan Allah ini, “Ya Allah ampunilah aku, aku dahulu tidak tahajud, bukan karena aku tidak mau, melainkan karena dahulu ayahku menghalangiku. Bahkan menyuruhku tidur sampai pagi.
Momentum akhir tahun ini menjadi waktu yang tepat untuk introspeksi diri. Bagaimana kualitas ibadah kita selama ini? Sudahkan kita mengajarkan kepada anak-anak kita tentang sholat? Lebih-lebih sholat tahajudnya? Bagaimana idealnya kita, sebagai seorang muslim melewati malamnya?
Bisa jadi selama ini kita telah kehilangan waktu malam kita sebagai hamba Allah. Firman Allah Swt. dalam surat An-naba ayat 10 dan 11:
و جعلنا الليل لباسا
Dan kami jadikan malam sebagai pakaian.”
Allah Swt. jadikan malam agar makhluk berhenti dari aktifitasnya. Malam menjadi waktu untuk istirahat, sekaligus untuk mendekatkan diri dan bermunajat kepada Allah.
Setelah seharian mancari karunia-Nya, sebuah  kenikmatan tersendiri. Sebagaimana Allah menjadikan fungsi siang dalam firman-Nya:
و جعلنا النهار معاشا
Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”,
Disinilah Islam memposisikan malam, sebagai waktu untuk istirahat dan taqarrub kepada Allah. Inilah malam-malam orang muslim. Sejatinya.
Namun maaf, lihatlah realita sekarang. apa yang terjadi malam-malam orang muslim? Sungguh menyedihkan.
Malam-malam orang muslim bergeser, menjadi waktu untuk sekedar bersenda gurau, bermaksiat, melalaikan, bahkan hura-hura hanya untuk merayakan tahun baru. Sehingga malam jadi siang, siang jadi malam. Dan akhirnya hilanglah fungsi malam bagi seorang muslim untuk mengadu kepada Robbnya.
Sekaranglah momen kita untuk bertaubat kepada Allah dari segala kelalaian kita, dan membuktikan taubat kita dengan memperbanyak shalat malam kita. Waallahu a’lam.