0878 8077 4762 [email protected]

Berlomba dalam Kebaikan

Oleh: Iman Santoso, Lc
 
Kualitas keislaman seseorang adalah sejauhmana dia mampu melaksanakan amal-amal berkualitas dan meninggalkan perbuatan yang tidak berguna apalagi mengandung dosa. Rasulullah SAW bersabda: ”Diantara kebaikan Islam seseorang, ia meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna”.
Sedangkan hidup ini adalah kumpulan dari hari-hari, maka sangat merugilah orang yang menyia-nyiakan waktunya. Keimanan akan senantiasa mendorong dan memotivasi orang beriman untuk senantiasa beramal dan berlomba dalam setiap medan kebaikan.
Berlomba dalam Kebaikan (Musabaqoh Fil Khairaat)
Orang beriman memahami bahwa kewajiban yang ditugaskan lebih banyak dari waktu yang tersedia. Oleh karenanya, ia terus-menerus beramal dan keimanan itu memotivasi dirinya untuk tetap beramal dalam kondisi apapun. Bagi orang beriman tidak ada istilah menganggur dan tidak punya kerjaan karena amal shalih dan ibadah itu banyak sekali bentuk dan macamnya.
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa sebagian sahabat bertanya pada Rasulullah saw. ”Wahai Rasulullah SAW orang-orang kaya telah memborong pahala kebaikan, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa. Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka“. Rasul SAW bersabda: ”Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian bisa sedekah? Bahwa setiap tasbih sedekah, setiap takbir sedekah, setiap tahmid sedekah, setiap tahlil sedekah, setia amar ma’ruf sedekah, setiap nahi mungkar sedekah. Dan seseorang meletakkan syahwatnya (pada istrinya) sedekah”. Sahabat bertanya: ”Apakah seseorang menyalurkan syahwatnya dapat pahala? Rasul SAW menjawab: “Ya, bukankah jika menyalurkannya pada yang haram akan mendapat dosa? Begitulah jika menyalurkan pada yang halal maka akan mendapat pahala”.
Hadits ini mengisyaratkan bahwa orang-orang beriman memiliki motivasi tinggi dalam beramal dan senantiasa belomba dalam kebaikan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya kebaikan dan pahala. Dan hadits ini juga menerangkan betapa amal shalih itu banyak dan beragam bentuknya. Ketika kita melakukannya, dan dengan niat karena Allah, maka itu bagian dari sedekah dan kontribusi kita pada umat dan bangsa.
Lapangan hidup bagi orang beriman tidaklah sempit, bukan hanya rumah dan tempat mencari nafkah saja. Tetapi lapangan hidup orang beriman adalah bumi dan seisinya dengan berbagai macam aktivitasnya. Apalagi jika orang beriman terlibat dengan aktivitas dakwah, maka ia akan mendapatkan banyak manfaat dan kebaikan dari dunia ini.
Dan potret kehidupan yang luas dan diisi dengan semangat perlombaan ini sangatlah banyak pada orang-orang beriman generasi terbaik dari umat ini.
Diriwayatkan dari Umar bin Khattab ra berkata: ”Rasulullah SAW melewati Abdullah bin Mas’ud, saya dan Abu Bakar bersama beliau dan Ibnu Ma’sud sedang membaca Al-Qur’an. Maka Rasulullah SAW bangkit dan mendengarkan bacaannya, kemudian Abdullah ruku dan sujud. Berkata Umar ra, Rasul SAW bersabda: ”Mintalah pasti akan dikabulkan, mintalah pasti akan dikabulkan”. Berkata Umar ra. Kemudian Rasulullah SAW berlalu (dari Ibnu Mas’ud ra) dan bersabda: ”Barangsiapa ingin membaca al-Qur’an seindah sebagaimana diturunkan, maka bacalah sebagaimana bacaan Ibnu Ummi Abdi (Ibnu Mas’ud)”. Berkata (Umar): ”Maka saya bersegera di malam hari datang menuju rumah Abdullah bin Mas’ud untuk menyampaikan kabar gembira apa yang dikatakan Rasulullah SAW, berkata (Umar): ”Tatkala saya mengetuk pintu atau berkata agar (Ibnu Mas’ud) mendengar suaraku, berkata Ibnu Mas’ud ra. “Apa yang membuatmu datang pada saat seperti ini?”. Saya (Umar) berkata : “Saya datang untuk menyampaikan kabar gembira (padamu) sebagaimana apa yang telah dikatakan Rasulullah SAW“. Berkata Ibnu Mas’ud ra. “Abu Bakar telah mendahuluimu”. Saya berkata: ”Apa yang dia lakukan, dia selalu menang dalam perlombaan kebaikan, tidaklah saya berlomba untuk suatu kebaikan pasti dia (Abu Bakar) telah mendahuluiku” (HR Ahmad).
Itu adalah motivasi keimanan yang menggerakkan orang-orang beriman untuk senantiasa berlomba dalam kebaikkan. Abu Bakar dan Umar telah mencontohkan yang terbaik dalam setiap perlombaan kebaikan. Begitulah kondisi mereka tidak pernah meninggalkan pintu-pintu kebaikan, kecuali mereka cepat melaksanakannya dengan motivasi yang kuat. Hal ini hanya dimiliki oleh orang-orang beriman yang selalu siap untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka yaitu pahala, keridhaan dan surga Allah.
Sumber:
Artikel Utama Buletin Al Iman. Edisi 352 – 4 Desember 2015. Tahun ke-8.
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan. Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah.
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya

Saatnya Islam Bersatu

Oleh: Nanda Nurilham*
 
Pada masa ini kita sudah banyak dipertontonkan oleh perbedaan-perbedaan atau fiqroh umat Islam di Indonesia, dari perbedaan tersebut akhirnya memunculkan kelompok-kelompok Islam yang mempertahankan ciri khasnya masing-masing.
Salafi dengan mengikuti sunah Rasulullah, Jamaah Tabligh dengan dakwahnya menghampiri masjid-masjid, Ikhwanul Muslimin dengan pergerakannya terhadap pemerintah yang zalim, ada juga Nadhatul Ulama dan Muhamaddiyah.
Berkelompok dalam kebaikan sangatlah bagus karena Rasulullah SAW juga melakukannya secara berkelompok atau berjamaah dengan para sahabatnya. Segala sesuatu yang dilakukan secara berkelompok akan lebih ringan daripada sendiri.
Pada saat ini umat Islam di Indonesia sudah tidak cocok lagi untuk memikirkan kelompok masing-masing, karena kita sudah dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang akan mengubah negara kita menjadi sekuler dan bebas dari agama. Walaupun, kelompok-kelompok tersebut telah lama masuk di Indonesia, tetapi saat ini kelompok tersebut sudah mulai terang-terangan dalam menebarkan ajarannya. Naudzubillah min dzalik.
Mereka sudah berani terang-terangan karena pemerintahan kita yang lagi bobrok dan lupa akan janji-janjinya dulu. Sampai kapan kita akan melihat negara kita seperti ini?
Sudah sewajarmya kita sebagai umat Islam bersatu dalam menegakkan kalimat Allah dan menegakkan nilai-nilai Islam di negara kita. Sudah sepantasnya, kita tidak memikirkan kelompok kita, tetapi kita harus memikirkan bagaimana cara kita untuk menjaga agar negara kita bebas dari sekuler dan liberal.
Alangkah indahnya apabila kelompok-kelompok Islam di Indonesia dipadukan menjadi satu kesatuan. Salafi dengan mengikuti sunnah Rasullullah, Ikhwanul Muslimin dengan pergerakan politiknya terhadap pemerintah zalim, Hizbut Tahrir dengan keinginannya menjadikan Indonesia menjadi khilafah, dan Jamah Tabligh dengan dakwahnya mendatangi masjid dan rumah.
Keindahan Islam akan terlihat di Indonesia apabila kita sudah bersatu dengan tujuan menegakkan kalimat Allah dan menjadikan nilai-nilai Islam berdiri kokoh di negara kita. Seharusnya kita sadar dan mengambil pelajaran dari saudara kita di Palestina, mereka tak henti-hentinya diserang oleh Yahudi yang ingin menguasai negara tersebut. Tetapi, saudara kita di sana tak kalah gagahnya melawan Yahudi laknatullah. Mereka berperang dengan peralatan seadanya. Mereka selalu bersemangat dalam menegakkan kalimat Allah di negara mereka. Saudara kita di Palestina sadar akan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam menghancurkan orang-orang zalim di muka bumi ini.
Lalu, apakah kita harus seperti di Palestina dulu baru kita akan bersatu? Wahai saudaraku, kita ini sesungguhnya dalam satu kesatuan Ahlusunnah wal Jamaah, tetapi kita masih memikirkan kelompok kita masing-masing, kita tidak boleh seperti itu lagi saat ini. Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana kita dapat mempersatukan umat Islam di negara kita.
*Penulis merupakan anggota AlimanCenter Media Volunteer Batch 1

Kisah Hikmah: Jangan Tergesa-gesa!

Oleh: Fauzi Bahreisy
 
Pada suatu hari, seorang anak yang berusia sepuluh tahun masuk ke dalam cafe. Ia duduk di sebuah meja. Seorang pelayan wanita segera meletakkan sebuah gelas berisi air di depannya. Lalu anak tadi bertanya, “Berapa harga es krim dengan coklat?” pelayan itu menjawab, “Lima dollar.”
Si anak mengeluarkan tangan dari sakunya dan mulai menghitung uang yang ia miliki. Ia kembali bertanya, “Baik, berapa harga es krim tanpa coklat?”
Ketika itu banyak pelanggan lain yang menunggu kosongnya meja di cafe agar bisa duduk. Sehingga si pelayan menjadi marah dan menjawab dengan ketus, “Empat Dollar.”
Si anak kembali menghitung uangnya. “Kalau begitu saya pesan es krim biasa,” ujarnya. Si pelayan segera memberikan pesanannya dan meletakkan kwitansi di atas meja lalu pergi.
Anak tadi menghabiskan es krimnya, lalu membayar, dan pergi meninggalkan cafe. Ketika pelayan kembali ke meja anak tadi dan mengelapnya ia menangis.
Ia menemukan uang satu dollar di samping mangkok yang sudah kosong. Anak tersebut sengaja tidak minum es krim bercampur coklat untuk menyisakan satu dollar guna diberikan kepada si pelayan.
Ketika itulah si pelayan menyesal telah memarahi orang yang justru bermurah hati padanya.

Kisah Hikmah: Saat Setan Mempermainkan Manusia

Oleh: Fauzi Bahreisy
 
Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih, bahwa ada setan yang ingin menyesatkan seorang rahib yang sedang berada di tempat peribadatannya. Namun tidak bisa.
Maka, ia datang memanggilnya dengan berkata, “Bukalah!” Namun sang rahib tidak merespon. Lalu setan berkata, “Aku adalah al-Masih.”
Rahib itupun menjawab, “Jika engkau al-Masih, lantas apa yang harus aku lakukan? Bukankah engkau yang telah memerintahkanku untuk beribadah, bersungguh-sungguh, dan engkau menjanjikan akan datangnya hari kiamat? Jika sekarang engkau datang dengan membawa yang lain kami tidak akan menerima.”
Akhirnya ia berkata, “Aku adalah setan. Aku ingin menyesatkanmu akan tetapi aku tidak mampu. Maka, aku datang kepadamu agar engkau bisa menanyakan sesuatu dan aku akan memberitahu.”
Mendengar hal tersebut sang rahib berkata, “Coba beritahu padaku, akhlak yang seperti apa yang paling bisa membantumu untuk menguasai manusia?”
Ia berkata, “Marah. Jika seseorang marah, aku bisa mempermainkannya sebagaimana seorang anak kecil mempermainkan bola.”
ed : danw

Fatwa Ulama Jordan : Hukum Bergabung dengan ISIS

Apa hukumnya bergabung dengan ISIS?
Jawaban :
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
ISIS adalah sebuah organisasi teroris yang diharamkan bergabung dengannya, sebagaimana diharamkan bergabung dengan organisasi-organisasi teroris lainnya yang menumpahkan darah, mengkafirkan kaum muslimin, menghalalkan kehormatan dan harta orang lain karena perbuatan seperti ini bertolak belakang dengan ajaran Islam yang menyeru kepada toleransi dan memaafkan yang merupakan ciri dari sebuah keagungan jiwa dan akhlak mulia. Islam juga menyeru kepada cinta dan kasih sayang, menolak terorisme dan radikalisme, sebab ia adalah tanda adanya kebencian, kezhaliman dan permusuhan.
Oleh karena itu, siapa saja yang bergabung dengan organisasi teroris ini maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan telah jauh dari jalan yang lurus, serta telah tersesat dengan kesesatan yang nyata. Allah SWT berfirman “Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata” (QS. Al-Ahzab : 36).
Dan barang siapa yang ikut serta dengan mereka di dalam peperangan maka dia tergolong kepada pelaku kejahatan terorisme yang haus akan pertumpahan darah, perampasan harta dan kehormatan. Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (QS. An-Nisa’ : 93).
Rasulullah SAW juga bersabda : “Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, (dan juga kehormatan kalian) semua itu adalah haram atas kalian sebagaimana kesucian hari kalian ini (hari ‘Arafah), pada bulan kalian ini dan di negeri kalian yang suci ini.” (HR. Muslim).
Dan barang siapa yang membunuh seorang muslim maka dia telah melakukan dosa besar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: ”Dosa yang paling besar adalah menyekutukan Allah, membunuh jiwa, durhaka kepada kedua orang tua, perkataan palsu (dusta).” (HR. Bukhari).
Mereka melakukan tindak kejahatan dan pembunuhan tersebut dengan mengatasnamakan agama. Hal ini sebagai pembenaran atas aksi teror mereka dan untuk menipu para pengikutnya, padahal agama berlepas dari tindak kejahatan yang mereka lakukan. Bahkan perbuatan-perbuatan mereka itu telah mengotori ajaran agama Islam yang lurus dan bersih.
Mereka telah membunuh kaum muslimin, dengan tidak membedakan antara anak-anak dan orang tua, laki-laki dan perempuan, dan mereka juga membuat kerusakan di muka bumi. Ini semua bertentangan dengan nasihat Rasulullah SAW kepada para shahabatnya ketika mengutus pasukan ke Syam, dengan  berkata : “Berangkatlah dengan menyebut nama Allah, bersama Allah, diatas milah Rasulullah ! jangan membunuh orang tua renta, bayi, anak-anak, dan wanita ! Jangan mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi ! Kumpulkan harta rampasan kalian, perbaiki diri kalian dan berbuatlah kebajikan ! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” (HR. Abu Daud).
Dan Abu Bakar Ra. juga telah berwasiat kepada Yazid bin Abi Sufyan: “Jangan membunuh wanita, anak-anak, orang tua renta! Jangan menebang pohon yang sudah berbuah! Jangan merobohkan bangunan! Jangan menyembelih kambing dan unta kecuali untuk dimakan!  Janganlah membakar pohon kurma dan jangan pula menenggelamkannya (memusnahkannya), Janganlah berlaku khianat, dan Janganlah menakut-nakuti (rakyat)! (Muwaththa’: Imam Malik).
Dan yang sangat menyedihkan sekali ialah bahwa kelompok ini merasa gembira dengan pembunuhan, penyiksaan dan pembakaran yang dilakukan terhadap kaum Muslimin. Jika demikian, maka bagi mereka apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Barangsiapa membunuh seorang mukmin lalu dia bergembira dengan pembunuhan tersebut, maka Allah tidak akan menerima amalan sunnah juga amalan wajibnya”. (HR. Abu Daud)
Demikian juga sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa memerangi umatku membunuh orang baik dan orang jahatnya, tidak berhati-hati dari orang mukminnya, dan tidak menepati perjanjian kepada yang membuat perjanjian dengan mereka; maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan termasuk golongannya” (HR. Muslim). Maksudnya adalah ia tidak peduli dengan apa yang ia katakan dan tidak takut akan akibat serta balasannya.
Begitu juga bagi siapa yang telah bergabung ke dalam organisasi teroris ini maka sesungguhnya dia telah rugi dan binasa serta mati dalam keadaan jahiliyah, sesuai dengan hadits dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang terbunuh di bawah bendera ‘ummiyyah (kesesatan), mengajak kepada ashabiyah (fanatisme kelompok) atau dalam rangka menolong ashbiyah, maka matinya adalah mati jahiliyah”.(HR. Muslim)
Dan  ISIS adalah sebuah kelompok ‘ummiyyah (sesat), yang tidak diketahui dasar, tujuan dan arah perpolitikan mereka.
Kami menasihati para pemuda agar tidak tertipu oleh slogan-slogan palsu mereka, oleh pengakuan bohong mereka. Berhati-hatilah agar tidak jatuh di dalam perangkap mereka, dan tidak tertipu juga engan semboyan yang mereka gencarkan. Rasulullah SAW bersabda: “Agama adalah nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak (untuk) siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak (untuk) Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)” (HR. Muslim).
Sumber : Darul Ifta’ al-Urduniyah (Majelis Fatwa Jordania)
Nomor Fatwa : 3065 | Tanggal : 13-4-2015
Penerjemah : Syahrul | Editor Ahli : Fahmi Bahreisy, Lc

Untukmu Kader Dakwah : Al Jihad

Oleh: KH. Rahmat Abdullah
 
Yang dimaksud al jihad disini adalah
Suatu kewajiban yang masanya membentang (tak akan berhenti) sampai hari kiamat. Urutan jihad paling tinggi adalah mengangkat senjata berperang di jalan Allah. Sedangkan ditengah-tengah itu adalah jihad dengan lisan, pena, tangan, berkata benar dihadapan penguasa tirani. Adapun urutan paling bawah adalah ingkar hati.
Dakwah tak akan hidup dan berkembang kecuali dengan jihad. Karena kedudukan dakwah yang begitu tinggi dan bentangannya luas, sehingga jihad merupakan jalan untuk bisa menghantarkannya. Firman Allah Ta’ala : “Dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (Q.S. Al Hajj : 78). Dengan demikian anda sebagai aktivis dakwah tahu akan hakikat doktrin “Jihad adalah jalan kami”

(Hasan Al Banna)

Dari sedikit orang yang tahu, Said Hawa adalah salah seorang yang mampu memberi tahu, bahwa pengertian fardhu kifayah harus dipahami secara benar, akurat dan sehat. Mengqiyaskan fardhu kifayah pada jihad dengan fardhu kifayah pada pengurusan jenazah, jelas tak dapat ditoleransi lagi. Bila tak cukup jumlah rakyat Palestina, Ambon, Poso, Kashmir, Aceh, Chechnya dan lainnya memperjuangkan dirinya maka harus ditagih dari kawasan sekitar hingga memadai alias kifayah.

Sedikit orang yang ingat bahwa jihad adalah jalan yang paling tepat dan terhormat, termasuk dalam menghadapi money laundry saat uang sekotor dan sepanas apapun, sehingga bisa berubah menjadi ghanimah. Dan ghanimah hanya terjadi lewat aksi jihad tangan (qital). Maka sesungguhnya rezeki yang paling mulia datang dari amal paling mulia yaitu jihad, sesuai ungkapan Afdhalul arzaq ta’ti min afdhail amal.

Orang yang bertaubat dengan mengorbankan nyawa dan darahnya, syahid dijalan-Nya lebih berhak atas ampunan Allah. Semoga Allah merahmati Abdullah Ibnul Mubarak dan Fudhail bin Iyadh.

Kita lihat kisah hari-hari Ibnul Mubarak dalam setahun terbagi tiga : ta’lim, haji dan jihad. Seperti kebiasaannya, ia berhaji dan membawa rombongan dengan biaya sendiri. Tiba-tiba ia membatalkan perjalanan haji karena ada perintah jihad. Dari jabhah (front), ia bersurat kepada sahabatnya Fudhail bin Iyadh: Jika kau lihat kami wahai abid (ahli ibadah) Haramain, kau tahu dalam ibadah kau cuma bermain, siapa yang membasahi pipinya dengan air mata, leher kami dengan darah kami membasah.

Dengan suka hati, Fudhail menghadiahinya sebuah hadist yang ia riwayatkan sendiri tentang derajat syahid tak tertembus kecuali dengan shalat malam seumur hidupnya tanpa tidur dan berpuasa sunah seumur hidupnya tanpa berbuka.

Sebagian masyarakat di dunia Islam berada dalam tuntutan kondisi jihad lisan. Sementara lainnya sudah dalam kondisi jihad qital. Yang pertama dapat dilihat dalam unjuk rasa, tulisan-tulisan, orasi dan pengumpulan dana solidaritas dunia Islam di Palestina, Afghanistan, Bosnia, Chechnya, Kosovo, Poso, Ambon, Maluku utara dan lainnya. Termasuk sikap pelarangan minuman ringan Amerika sejak 20 tahun lalu di Malaysia. Karena 1% harga setiap kalengnya akan mengalir ke Tel Aviv, yang kemudian menjadi peluru-peluru ganas bahkan terhadap bayi sekalipun.

Hal yang sama nampak pada fatwa-fatwa Dr Qardhawi sesuai doktrin ekonom umat Islam Al Banna. Jauh beberapa abad sebelum ini, syaikh Izzudin bin Abdus Salam telah mengeluarkan fatwa tegas tentang jual beli tanah dan senjata kepada musuh umat Islam.

Sedikit yang sadar uang Rp 1.000 yang tak laku untuk membeli semangkuk bakso, tetap berguna untuk membeli kertas surat atau pulsa yang ditujukan kepada stasiun kemaksiatan, kebohongan, dan kesombongan baik di TV, radio, majalah dan surat kabar.

Bila setiap hari dialog di media cetak dan elektronik direspon kader muda yang bergairah, dan redaksi menerima 1.000 atau 2.000 pucuk surat serta teguran telepon, dakwah ini akan menjadi subur dengan kader-kader tanggap, sigap dan tidak telmi. Kaum muda cepat berubah dari khalayak dungu yang emosional menjadi kader yang efisien dan efektif. Banyak orang tak malu telanjang didepan umum, mengajarkan ajaran busuk, tawuran bodoh yang sia-sia, mati dalam kemaksiatan dan narkoba. Berbeda jauh dengan siapa yang siap mati dengan syahid dijalan-Nya. Tanpa rasa sakit kecuali seperti satu kali sengatan (H.R. Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban) dan sesudah itu hanya gerbang surga yang terbentang.

Referensi :

Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Dakwatuna, K.H. Rahmat Abdullah