0878 8077 4762 [email protected]

Sumayyah binti Khabath : Wanita Muslimah Pertama yang Mati Syahid

Oleh: Lia Nurbaiti
 
Sumayyah binti Khabath adalah seorang hamba Abu Hudzaifah bin Mughirah, seorang tokoh terkemuka di Makkah. Abu Hudzaifah menikahkan Sumayyah dengan Yasir, seorang perantau Yaman yang tinggal di Makkah. Saat Allah mengkaruniakan mereka seorang anak yang diberi nama Ammar bin Yasir, kebahagiaan mereka semakin sempurna ketika Abu Hudzaifah membebaskan Sumayyah dan keluarganya dari statusnya sebagai budak. Namun,tidak lama setelah itu Abu Hudzaifah meninggal dunia. Tidak lama berselang dari itu, mereka bertiga Sumayyah, Yasir dan Ammar bin Yasir menjadi keluarga yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Rasulullah adalah utusan Allah.
Keislaman keluarga Sumayyah terdengar sampai kepada para pembesar Makkah. Saat kaum Quraisy mengetahui Sumayyah sudah memeluk Islam, mereka menyerbu rumahnya. Mereka sekeluarga ditangkap dan dibawa ke depan khalayak untuk disiksa. Sumayyah tidak gentar dengan perlakuan kaum musyrikin Quraisy yang menyiksa dan membunuh siapapun yang diketahui telah memeluk Islam.
“Mereka sudah menyambut ajaran Muhammad walaupun mereka berada ditengah perlindungan pihak Quraisy. Kamu akan menerima balasan karena ingkar terhadap kami,” kata Abu Jahal kepada pengikutnya sambil menarik keluarga Yasir yang terikat ke kawasan padang pasir di luar kota Mekah.
“Kali ini saya tidak akan bebaskan mereka bertiga sehingga mereka mengaku berhala-berhala kita sebagai Tuhan mereka,” tegas Abu Jahal yang mengarahkan tombaknya ke arah keluarga Yasir yang diseret secara kasar oleh pengikutnya.
Mereka berhenti di kawasan yang dipenuhi bongkah batu besar. Yasir, Amar dan Sumayyah ditanggalkan pakaian mereka lalu diikat pada bongkah batu yang panas yang terpapar matahari padang pasir. Kaki dan tangan mereka diikat sangat ketat sehingga tidak dapat bergerak. Abu Jahal, si pembesar Quraisy dan pengikut setianya tertawa melihat penderitaan keluarga itu.
Disana kondisinya sangat terik bahkan mereka dipakaikan pakaian besi sehingga panasnya matahari semakin membuat keluarga Yasir tersiksa. Kaum Quraisy benar-benar kejam memperlakukan keluarga Yasir yang tetap teguh pada keimanannya kepada Allah SWT. Sekalipun mereka telah kepayahan menahan sakit dan panasnya matahari serta menahan rasa haus yang teramat sangat, karena mereka sama sekali tidak diberikan minum.
Sumayyah, Yasir dan Ammar hanya bisa bersabar dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Pada suatu hari, Rasullullah saw lewat dan melihat penyiksaan yang dialami Sumayyah, Yasir dan Ammar. Lalu beliau bersabda “Berbahagialah wahai keluarga Ammar karena sesungguhnya kalian telah dijanjikan masuk surga.”(diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqaat, vol.3 hlm.188.)
Siksaan demi siksaan terus dilakukan oleh kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahal.
“Kamu akan disiksa dengan lebih buruk seandainya kamu tidak mau meninggalkan agama yang dibawa oleh Muhammad. Kamu akan dibebaskan jika kamu mengakui berhala-berhala ini sebagai Tuhan dan mereka lebih baik dari Tuhan yang dibawa Muhammad,” kata Abu Jahal sembari mengambil cambuk untuk menakut-nakuti Yasir, Sumayyah dan Ammar.
“Kami tidak akan mengakui berhala-berhala itu sebagai Tuhan kami. Hanya Allah Tuhan kami,” balas Yasir dengan tenang.
“Saya beriman dengan Allah saja,” tambah Sumayyah pula.
“Ini balasan kepada kamu karena enggan menerima berhala-berhala ini sebagai Tuhan kamu,” Abu Jahal dan pengikutnya mulai menyambuk tubuh Yasir, Sumayyah dan Ammar dengan kejam. Hingga darah mengalir dari tubuh mereka yang terikat pada bongkah batu yang panas.
“Kita lihat berapa lama kamu mampu menahan siksa di tengah-tengah panas matahari ini,” sindir Abu Jahal sambil memandang wajah Yasir dan Sumayyah dengan bengis.
“Tiada tuhan melainkan Allah,” kata Yasir, Sumayyah dan Ammar merintih dalam kesakitan.
“Letakkan batu besar keatas badan Yasir,” ujar Abu Jahal lagi karena geram mendengar kata-kata Yasir sekeluarga.
Siksaan demi siksaan atas Yasir menyebabkan fisiknya menjadi lemah karena usianya yang sudah lanjut. Akhirnya, Yasir menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan menyebut nama Allah tanpa menerima agama berhala Abu Jahal.
Walaupun hati Sumayyah hancur melihat suaminya mati akibat siksaan Abu Jahal yang kejam, dia gembira karena suaminya mati dalam menegakkan agama Allah.
“Apakah kamu mau mati seperti suamimu? Lebih baik kamu terima tawaran ini sebelum ajal kamu tiba!”
Lalu Sumayyah menjawab, “Jangan kamu berharap saya akan menurut kata-kata kamu itu. Tiada Tuhan melainkan Allah”. Hati Sumayyah keras seperti batu teguh pada keimanannya pada Allah Ta’ala.
“Kamu sudah semakin bodoh dan melawan saya!”kata Abu Jahal seraya mengambil tombak dari tangan budaknya lalu dihujamkan kebagian bawah tubuh Sumayyah (kemaluannya).
“Allahu Akbar”. Begitulah kata terakhir Sumayyah sebelum menghembuskan nafasnya akibat tikaman tombak Abu Jahal yang tembus kebagian atas tubuhnya.
Peristiwa pembunuhan itu terjadi pada tahun 7 Hijriah. Ia telah syahid dengan mulia demi mempertahankan keimanannya terhadap Allah SWT, syahidah pertama yang teguh dan sabar dalam menjalani ujian keimanan dan ketaqwaannya terhadap Allah SWT ialah Ummu Ammar, Sumayyah.
Sesungguhnya Allah berfirman dalam (Surat Al – Anfalayat : 46 ) yaitu :
“…Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.”
Allah juga menjanjikan balasan yang terbaik bagi orang – orang yang besabar. Allah mengatakan dalam al-Qur’an (QS: Ar-Ra’d ayat 23 – 24)
(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri- isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun `alaikum bimashabartum” (keselamatan bagi kalian, atas kesabaran yang kalian lakukan). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
Semoga Allah meridhai Sumayyah ra. dan menjadikannya ridha, serta menjadikan surga Firdaus sebagai tempat persinggahan terakhirnya.
Sumber : 35 Shirah Shahabiyah, Mahmud Al Mishri
ed : danw

Kecerdasan Imam Syafi’i dan Kecintaannya kepada Ilmu

Oleh: Muhammad Syukron Muchtar
 
Imam Asy-Syafi’i begitu biasa ia dipanggil, nama yang begitu terkenal, bahkan hampir semua kaum muslimin dimuka bumi ini pernah mendengar namanya. Beliau salah seorang imam madzhab. Lahir di Gaza, pada bulan rajab tahun 150 H dengan nama lengkap Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman Asy-syafi’i. Ia keturunan Arab dari kabilah Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah SAW pada kakeknya Abdu Manaf.
Meski lahir dari keturunan kabilah yang sangat mulia, Imam Syafi’i tidaklah seberuntung orang-orang yang hidup se-zaman dengannya, ia lahir dan tumbuh dalam keluarga yang faqir. Ayahnya wafat saat usianya baru menginjak 2 tahun. Imam Syafi’i berkata : “Aku adalah seorang yatim dibawah asuhan ibuku. Ibuku tidak mempunyai dana untuk membayar seorang guru agar mengajariku”.
Tumbuh dalam kondisi yatim dan faqir tidaklah membuat Imam Sya’fi’i lemah dan hina, bahkan kelak ia menjadi orang yang sangat dihormati dan disegani karena ilmu dan kecerdasan yang dimilikinya.
Perjalanan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu dimulai saat ibunya (Fatimah) membawanya ke Makkah Al-Mukarramah, dan tinggal disebuah kampung dekat Masjidil Haram, yang disebut kampung Al-Khaif. Disana ia mendapati sebuah halaqah Al-Qur’an yang dibimbing orang seorang Syaikh yang sangat menguasai ilmu Al-Qur’an. Rasa ingin tahu dan ingin bisa Imam Syafi’i begitu besar, hingga ia memutuskan untuk mendengarkan halaqah tersebut meski tidak ikut didalamnya.
Karena kesungguhan dan keseringannya mendengarkan halaqah tersebut, sang Syaikh pun mengizinkan Imam Syafi’i untuk ikut duduk didalam halaqahnya. Bahkan kemudian sang Syaikh pun sangat takjub dengan kecerdasan yang dimiliki Imam Syafi’i. Ia mampu menghafal apa yang didiktekan oleh Syaikh dengan waktu yang sangat cepat. Karena kecerdasannya itu sang Syaikh pun berkata : “Demi Allah, aku tidak pantas mengambil bayaran dari kamu sesen pun”.
Imam Syafi’i pun berhasil menghatamkan hafalan Al-Qur’annya pada usia tujuh tahun, bahkan pada usia ini ia telah banyak menghafal bait-bait syair matan-matan ilmu bahasa, sebab terkadang ia pergi kepedalaman untuk mempelajari bahasa dari para ahli bahasa yang ada disana.
Selesai menghatamkan hafalan Al-Qur’annya Imam Syafi’i pun kemudian belajar memperdalam ilmu hadits dan fiqh dari para ulama yang ada di Masjidil Haram. Karena kefaqirannya Imam Syafi’i terpaksa harus mencatat apa yang disampaikan oleh para gurunya diatas tulang belulang yang ia temukan. Karena begitu banyak tulang-belulang yang memenuhi lemarinya Imam Syafi’i pun memutuskan untuk menghafal semua yang tertulis ditulang belulang tersebut, hingga akhirnya ia pun berhasil menghafal semuanya dengan begitu cepat.
Karena kecerdasan dan kepandaiannya, dengan waktu cepat Imam Syafi’i mampu menjadi seorang ahli tafsir dan bahasa Arab, Sofyan bin Uyainah seorang muhaddits (ahli hadits) Masjidil Haram ketika mendapatkan pertanyaan yang sulit seputar tafsir dan fiqih pun menoleh kearah Imam Syafi’i seraya berkata : “Coba tanyakan kepada anak itu”. Bahkan Syaikh Muslim bin Khalid, seorang Syaikh Masjidil Haram yang juga guru pertamanya telah mengizinkannya untuk berfatwa saat usianya menginjak 15 tahun.
Kemampuannya dalam menguasai berbagai bidang agama lantas tidak melenakannya untuk terus belaja rmendalami ilmu agama. Pada usia 20 tahun Imam Syafi’i mendengar kehebatan seorang alim di kota Madinah Al-Munawarah, seorang penulis kitab Al-Muwaththa’ yang sangat terkenal yakni, Imam Malik bin Anas.
Dengan bantuan Gubernur Makkah dan Gubernur Madinah saat itu, Imam Syafi’i pun berhasil bertemu dengan Imam Malik. Lantas ia menyampaikan keinginannya memperdalam kitab Al-Muwaththa’. Sempat ditolak berguru Imam Syafi’i pun menunjukkan kecerdasannya, ia mengatakan kepada Imam Malik bahwa ia telah menghafal sebagian isi kitab Al-Muwaththa’ dari sahabatnya yang ada di Makkah seraya menyebutkan apa yang ditulis oleh Imam Malik dalam kitab monumentalnya tersebut. Imam Malik pun takjub dengan kecerdasannya, akhirnya Imam Syafi’i pun diizinkan berguru dengannya. Kurang lebih 8 bulan Imam Syafi’i bersama Imam Malik, hampir disetiap majelis Imam Malik selalu mendampinginya, hingga akhirnya Imam Syafi’i berhasil mengusai semua isi kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik.
Selesai menguasai isi kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, Imam Syafi’i pun memiliki keinginan untuk memperdalam apa yang diajarkan oleh Imam Abu Hanifah melalui muridnya Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang berada di Iraq. Dengan bekal 64 dinar yang diberikan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i pun berangkat ke Iraq dan menemui murid Abu Hanifah tersebut.
Beberapa lama tinggal di Iraq Imam Syafi’i pun berhasil menguasai apa yang disampaikan oleh murid Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i pun menjadi orang yang sangat dikenal oleh para penuntut ilmu saat itu bahkan hingga kini. Setiap orang yang belajar ilmu agama pasti ia mengetahui kecerdasan dan kehebatan Imam Syafi’i dalam menguasai ilmu agama.
Karena kecintaannya terhadap ilmu Imam Syafi’i pun terus melakukan perjalanan demi menguasai ilmu yang dimiliki oleh para ulama yang ada di zamannya.Tercatat ia pun telah melakukan perjalanan ke Persia, Yaman, dan Mesir. Semua ia lakukan untuk menguasai ilmu agama dan mengajarkannya ikhlas karena Allah SWT.
Imam Syafi’i wafat pada malam jum’a tmenjelang subuh, pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 H, dalam umurnya yang ke 54 tahun. Semoga Allah merahmatimu wahai Imam…
Referensi :
1. Kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani
2. Buku 60 Biografi Ulama Salaf, terjemahan kitab Min a’lam As-Salaf karya Syaikh Ahmad Farid
3. Buku Perjalanan Ulama Menuntut Ilmu, terjemahan kitab Rihlatul Ulama Fi Thalabil ‘Ilmi, karya Abu Anas Majid Al-Bankani
4. Buku Biografi 10 Imam Besar, terjemahan kitab Hayaatul Aimmah, karya Syaikh M.Hasan Al-Jamal
ed : danw

Islamnya Seorang Pendeta

Adalah Rahmat Purnomo, seorang pendeta sekaligus ketua gerakan misionaris di Gereja Bethel Injil Sepenuh, Sumatra Utara yang mendapatkan hidayah dalam hidupnya hingga ia memutuskan untuk memeluk agama Islam.
Kisah itu dimulai saat suatu hari, pemimpin gereja mengutusnya untuk melakukan perjalanan misi penyebaran injil selama tiga hari tiga malam di daerah Dairi, sekitar 100 km dari kota Medan, Sumatra Utara.
Dalam perjalanan pulang dari melaksanakan misi tersebut Rahmat Purnomo bertemu dengan seorang laki-laki kurus dengan tongkat ditangannya dan mengenakan sebuah kopiah putih yang sudah lusuh dan pakaian yang warnanya telah memudar. Mungkin karena sering dipakai sampai sandalnya pun diikat dengan kawat untuk menguatkannya.
Laki-laki tersebut mendekatinya, setelah saling memberikan salam hormat, laki-laki tersebut memberikan sebuah pertanyaan yang bagi Rahmat Purnomo adalah sebuah pertanyaan yang aneh. Laki-laki tersebut berkata : “Engkau telah menyebutkan bahwa Isa Al-Masih itu adalah Tuhan, mana dalil yang menunjukkan ketuhanannya?” Dengan nada yang sedikit kesal Rahmat Purnomo menjawab : “Sama saja ada dalilnya ataupun tidak, itu tidaklah penting bagimu. Jika kamu ingin maka imanilah, atau jika ingin maka ingkarilah”
Laki-laki tersebutpun memutar badannya dan pergi menjauh dari Rahmat Purnomo. Namun ternyata hal tersebut tidak selesai sampai disitu, setibanya di rumah Rahmat Purnomo mendapati pertanyaan laki-laki tersebut terngiang-ngiang dalam ingatan dan mengetuk pendengarannya dengan sangat kuat, sehingga mendorongnya untuk membuka dan menganalisis kitab Injilnya, dalam rangka mencari jawaban yang benar dari pertanyaan laki-laki tersebut.
Setelah membuka dan menganalisis kitab Injil miliknya, Rahmat Purnomo pun mendapati empat keganjilan.
Keganjilan pertama, siapakah Yesus?
Setelah mengkaji 4 kitab Injil yang berbeda (Mathius, Markus, Lukas dan Yohanes), Rahmat Purnomo mendapati jawaban yang berbeda dari setiap kitab Injil yang dikajinya. Ada yang mengatakan bahwa Yesus memiliki nasab hingga ke Ibrahim dan Daud, ada yang mengatakan bahwa Yesus memiliki nasab hingga ke Ya’qub, dan ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah anak Allah.
Keganjilan kedua, benarkan doktrin “Dosa Turunan”?
Sebagaimana diketahui, bahwa dalam agama Kristen terdapat doktrin “dosa turunan” atau kesalahan pertama, yaitu kesalahan yang dilakukan Adam ketika memakan buah terlarang. Dosa tersebut diwariskan kepada seluruh manusia sampai janin yang masih ada dirahim ibunya pun harus menanggung dosa tersebut. Setelah membuka kitab Hezekiel ia pun medapatkan bahwa anak tidak membawa dosa ayahnya, dan ayah tidak tidak menanggung dosa anaknya.
Keganjilan ketiga, benarkan doktrin bahwa “dosa manusia tidak akan diampuni sampai Yesus disalib?”
Setelah mengkaji kitab perjanjian lama Rahmat Purnomo pun mendapati bahwa Allah mengampuni dosa tanpa perlu perantara dari siapapun.
Dan keganjilan yang terakhir adalah, doktrin bahwa “ Yesus adalah penyelamat dunia”
Salah satu paham agama Kristen adalah barang siapa yang beriman pada Yesus maka dia pasti akan selamat meskipun melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan seperti apapun. Rahmat Purnomo pun mengkaji kitab kisah para Rasul surat Paulus 1 sambil berpikir tentang hakikat keberadaan manusia, Rahmat Purnomo pun menyimpulkan bahwa tidak mungkin Yesus sebagai penyelamat dunia, jika Yesus saja tidak mampu menyelamakan dirinya, bagaimana ia bisa menyelamatkan orang lain.
Setelah menemukan keganjilan-keganjilan tersebut seraya mempelajari Islam serta ajaran yang dibawanya, tepat pada tanggal 2 Februari 1972 pendeta Rahmat Purnomo secara resmi memeluk agama Islam. Alhamdulillah..
Penulis : Muhammad Syukron Muchtar
Referensi :
1.Kitab ‘Uluwwil Himmah karya Syaikh DR.Muhammad Isma’il Al-Muqaddam
2.Buku Segarnya Mata Air Iman, terjemahan kitab Jaddid Imaanak karya DR.Mukmin Fathi Al-Haddad
ed : danw

Setan pun Takut Padanya

Oleh: Muhammad Syukron Muchtar
 
Suatu ketika, Rasulullah SAW kedatangan beberapa orang wanita Quraisy, mereka bertanya kepada Rasulullah SAW tentang berbagai permasalahan, dan diantara mereka ada yang bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi dari nada Rasulullah SAW.
Disaat terjadi diskusi antara Rasulullah SAW dan wanita-wanita Quraisy tersebut, tiba-tiba datang sahabat Umar Bin Khattab dan memohon izin untuk masuk dan bertemu Rasulullah SAW. Wanita-wanita Quraisy itupun segera bersembunyi dibalik tirai. Setelah diizinkan, Umar Bin Khattab pun masuk dan disambut dengan senyuman oleh Rasulullah SAW.
Melihat Rasulullah tersenyum Umar Bin Khattab berkata : “Wahai Rasul, apakah gerangan yang membuatmu tersenyum?”
Rasulullah SAW menjawab : “Karena aku heran melihat mereka (wanita Quraisy). Sebab ketika mendengar suaramu, mereka segera bersembunyi dibalik tirai
Umar Bin Khattab berkata : “Engkau lebih berhak untuk dimuliakan daripada aku wahai Rasulullah”
Umar pun mendekati wanita-wanita Quraisy tersebut seraya berkata : “Wahai kalian yang menjadi musuh bagi diri kalian sendiri. Apakah kalian takut padaku dan tidak takut pada Rasulullah SAW?”
Mereka menjawab : “Karena engkau lebih keras dari Rasulullah SAW wahai Umar”
Rasulullah SAW pun bersabda : “Wahai Umar! Demi jiwaku yang berada didalam genggaman-Nya. Tidaklah syetan mendapatimu berjalan disebuah lembah melainkan ia akan mencari jalan lain yang tidak engkau lewati
ed : danw

Kisah Hikmah: Syar’iat-Mu lah yang Benar Ya Rabb

Oleh: Muhammad Syukron Muchtar
 
Abdullah adalah hamba Allah yang beruntung, ia sosok seorang muslim yang gigih dalam bekerja. Karena kegigihannya Allah menjadikanya seorang yang kaya raya, kebahagiaan Abdullah semakin lengkap karena ia dikaruniai beberapa orang anak yang sehat tanpa cacat.
Abdullah mengisi hari-harinya dengan kebahagiaan, segala apa yang diinginkan mampu untuk ia hadirkan, karena memang ia mampu untuk memilikinya. Ia sangat mencintai anak-anaknya, karena mereka anak-anak yang rajin juga berbakti kepadanya.
Di usia senjanya, Abdullah merasa senang karena anak-anaknya dengan sukarela bergantian merawatnya. Setiap hari mereka bergantian datang ke rumah sang ayah untuk memberikan pengabdiannya. Abdullah sangat senang dengan bentuk pengabdian yang diberikan oleh anak-anaknya, ia pun berencana memberikan hadiah yan sangat spesial kepada anak-anaknya.
Setelah berpikir, akhirnya Abdullah berencana membahagiakan anak-anaknya dengan cara membagikan seluruh harta yang dimilikinya sebelum kematiaannya, agar kelak anak-anaknya tidak ribut soal pembagian hartanya.
Abdullah sadar dan paham, bahwa syari’at agama mengatur pembagian harta warisan setelah kematian namun, karena kecintaan yang besar kepada anak-anaknya maka Abdullah tetap membagikan seluruh hartanya kepada anak-anaknya sebelum kematiannya.
Tibalah hari, dimana Abdullah mengumpulkan semua anak-anaknya dan kemudian membagiakan seluruh hartanya kepada mereka. Di hari itu pula Abdullah berwasiat agar mereka tetap akur dan bersedia menjaga ayahnya.
Setelah pembagian harta dilakukan, ternyata semuanya berubah, anak-anak yang tadinya silih berganti merawat sang ayah, kini satu persatu mulai enggan meneruskan pengabdiannya, harta yang telah dibagikan satu persatu mulai diambil dan diganti kepemilikannya, bahkan hingga akhirnya yang sangat menyedihkan adalah salah seorang anak mengusir sang ayah dari rumahnya sendiri karena sang anak menganggap bahwa rumah tersebut sudah diberikan kepadanya dan rumah itu akan ia jual.
Abdullah pun mengisi hari-harinya dengan kesedihan dan penderitaan, ia heran dan sempat tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh anak-anaknya kepadanya setelah semua harta yang dimilikinya dibagikan kepada mereka.
Abdullah menangis dan menyadari bahwasannya syari’at Allah-lah yang benar dan sempurna, ia pun menyesal telah melanggar syari’at dengan membagikan harta warisan sebelum kematian. Ia menyesal, sangat menyesal.
Ibrah :
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya segala peraturan kehidupan yang telah Allah tetapkan itu amatlah tepat buat kita, meskipun terkadang kita belum tahu apa hikmah dibalik ketetapan yang Allah berikan. Maka terimalah ketetapan Allah dan jalanilah apa yag telah Allah tetapkan buat kita semua.
* Kisah nyata terjadi dinegeri Arab, berdasarkan penuturan syaikh DR. Muhammad Shofa (Dosen Tafsir LIPIA asal Saudi Arabia)
**Abdullah bukan nama sebenarnya
ed : danw

Yuk! Jadi Wanita Hebat

Oleh: Lia Nurbaiti
 
Sahabat Muslimah,
Masihkah ada terbesit di dalam pikiran kalian, keinginan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Sadarlah wahai saudariku, kita tidak sedang dalam mimpi dan angan-angan, kita di dunia yang nyata, hanya sebentar saja. Kelak kau akan kekal di tempatmu yang lain. Semoga masih ada secercah harapan untuk selalu ingin menjadi yang jauh lebih baik lagi di mata Allah SWT. Jangan kau biarkan iblis menjadi pemenang sejati atas dirimu, cukup sudah saat iblis diusir dari surga pertama kali karena menggoda manusia, yaitu Adam dan Hawa hingga terbuka aurat keduanya.
Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS. Al-A’raf: 22)
Sungguh, menutup aurat adalah perkara penting yang pada zaman sekarang ini banyak yang beridentitaskan agama Islam tetapi tidak menjalankan dengan sebenar-benarnya. Tidak menutup aurat dengan banyaknya alasan. Mulai dari belum siapnya hati untuk memutuskan memakai jilbab, atau beralasankan terkait kekhawatiran tidak adanya pekerjaan karena terhambat oleh penampilan seorang muslimah, yakni berjilbab.
Dalam era globalisasi yang seolah membuat dunia tanpa sekat ini, umat Islam perlu waspada akan maraknya fashion yang jauh dari nilai-nilai Islam. Banyak umat Islam terutama wanita muslimah yang terjebak dalam arus modernisasi. Berbagai fashion yang jauh dari unsur Islami banyak ditawarkan kepada umat Islam. Mulai dari mode pakaian yang terbuka menampakkan auratnya, lalu mode busana yang sangat menerawang sampai kepada mode busana sempit yang menonjolkan daya tarik seksual (sex appeal)-nya.
Hal ini perlu di waspadai oleh umat Islam karena pada dasarnya busana atau pakaian berfungsi sebagai penutup aurat dan tidak menjurus pada kesombongan atau pemborosan. Rasulullah telah memperingatkan :
Allah tidak akan melihat dengan rahmat pada hari kiamat kepada orang yang memakai kainnya (pakaian) karena sombong.” (HR Bukhari dan Muslim).
Apa itu Aurat?
Aurat menurut bahasa berarti an naqshu (kekurangan). Sedangkan dalam istilah syar’i (agama), aurat berarti sesuatu yang wajib ditutup dan haram untuk dilihat. Pada hakikatnya pakaian menurut Islam adalah untuk menutup aurat, yaitu menutup bagian anggota tubuh yang tidak boleh dilihat orang lain.
Dalam syariat diatur beberapa ketentuan dalam berpakaian (menutup aurat ) yaitu :
1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan
2. Pakaian tidak tipis dan tidak menerawang serta tidak memperlihatkan lekuk dan bentuk tubuh (tidak ketat)
3. Warna bahannya tidak terlalu mencolok
4. Model pakaiannya tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki
5. Tidak boleh menggunakan pakaian yang mendatangkan rasa bangga dan bermegah-megahan hingga muncul rasa sombong
Kenapa Aurat Harus Ditutup?
Jawaban yang paling utama adalah karena hal itu merupakan perintah Allah. Hanya saja terkadang manusia suka meminta keringanan-keringanan dalam menjalankan kewajiban kepada Allah SWT. Allah juga memberikan banyak dampak yang akan membawa keburukan apabila aurat tidak ditutup seperti akan memudahkan jalan untuk orang lain berbuat pelecehan atau perlakuan sikap yang tidak baik. Bahkan perzinahan pun tidak jarang terjadi dikalangan remaja akibat disuguhkan pemandangan yang seharusnya tidak diperlihatkan kecuali kepada mahramnya, antara lain suaminya.
Tidakkah kalian merasa terganggu etika banyak pasang mata melihat tubuh indahmu yang kau biarkan terbuka…
Naudzubillahimindzalik..
Betapa nikmatnya anugerah Allah jika kita jaga dengan sebaik-baiknya, Aurat adalah sesuatu yang harus kita jaga.
Allah SWT berfirman
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab: 59).
Ketika kita telah mampu menutup aurat, maka Allah limpahkan kebaikan dan keberkahan berupa tidak akan hilangnya identitas sebagai wanita yang suci dan juga terhormat.
Ialah Wanita yang Hebat!
Hebat! ya hebat, bukan wanita sembarang wanita, bukan yang senang dipandangi banyak orang, bukan yang suka menampakkan auratnya dan berpakaian bermegah-megahan, dan bukan pula yang berjalannya senang berlenggak-lenggok dikerumunan laki-laki.
Wanita hebat itu adalah muslimah berakhlak mulia yang takut kepada Allah, yang selalu tunduk dan taat pada aturanNya. Menutup aurat sudah menjadi keputusannya untuk beribadah kepada Rabbnya.
Keindahan yang Allah anugerahkan hanya ia tujukan buat suami tercintanya, subhanAllah….
Menundukkan pandangan adalah perisainya ketika ia menghadapi dunia luar yang penuh godaan syaitan dan maksiat.
Itulah wanita hebat. Muslimah yang tak takut dibilang ketinggalan zaman. Ia hanya seorang hambaNya yang taat, sekalipun terkadang zaman menganggapnya kuno. Ia hanya mengharap KeridhoanNya. Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk terindah bernama wanita.
Saudariku wahai wanita, Yuk! jadi wanita hebat
 
ed : danw