0878 8077 4762 [email protected]

Mendustakan Agama

Nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat ini adalah agama Islam. Allah hadirkan Islam untuk kita sebagai penerang jalan dan rambu menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan Islam kita mengenal hakikat hidup, dengan Islam kita mengetahui cara mengisi hidup, dan dengan Islam kita mengetahui tujuan hidup.
Pada hari ini Kusempurnakan untukmu agamamu, Kusempurnakan nikmat-Ku padamu, dan Aku rela Islam menjadi agama-Mu” (QS al-Maidah: 3).
Hanya saja tidak semua orang bisa menerima Islam. Banyak di antara mereka yang tidak siap dan tidak percaya kepada agama Islam. Kalau sikap ingkar dan mendustakan agama ini dilakukan oleh orang-orang kafir, tidak ada yang aneh. Namun, kalau sikap mendustakan tersebut dilakukan oleh mereka yang mengaku muslim, ini yang aneh.
Pertanyaannya, adakah muslim yang mendustakan agama Islam? Jawabannya ada, bahkan banyak. Sebagian mendustakan dengan lisan dan sebagian lagi mendustakan dengan amal. Sangat sering kita menjumpai muslim yang tidak mau taat dan patuh pada ajaran agama. Inilah yang disebut mendustakan agama. Mengaku muslim, tetapi ucapan, gerak-gerik, tingkah laku, dan amal perbuatannya jauh dari nilai-nilai Islam.
Sebagai contoh dalam surat al-Ma’un Allah memberikan satu gambaran sekaligus meluruskan persepsi tentang model orang yang mendustakan agama. Allah memulai dengan sebuah pertanyaan “Apakah engkau pernah melihat orang yang mendustakan agama?” Atau “Tahukah engkau siapa yang mendustakan agama?” Barangkali sebagian menduga bahwa yang mendustakan agama adalah mereka yang kafir. Atau yang tidak mau melakukan ibadah mahdah seperti shalat, puasa, zakat, dan seterusnya.
Ternyata bukan itu. Orang yang kafir dan tidak mau melakukan ibadah mahdah sudah jelas menyimpang dan sesat. Namun, ada bentuk mendustakan agama yang kadang tidak terlintas dalam benak manusia. “Yaitu orang yang menghardik anak yatim. Serta yang tidak menganjurkan memberi makan kepada fakir miskin.”
Jadi dikatakan mendustakan agama orang yang tidak punya perhatian kepada sesama; yang tidak mau membantu orang yang membutuhkan; yang tidak iba dan tidak tergerak perasaannya untuk menolong.
Pertama-tama anak yatim disebutkan secara khusus, bukan dhuafa secara umum, karena mereka adalah golongan yang paling membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Mereka ditinggal oleh ayahnya saat masih kecil. Sudah sepantasnya kalau kita memberikan perhatian dan kasih sayang kepada yatim. Sampai-sampai Rasul SAW bersabda, “Aku dan orang yang mengasuh yatim, akan seperti ini (sembari menyandingkan jari telunjuk dan tengahnya) di dalam surga.” (HR al-Bukhari).
Nah, orang yang mendustakan agama, jangankan memberikan perhatian, mereka malah menghardik, bersikap kasar, dan menelantarkan anak yatim.
Selanjutnya, orang yang mendustakan agama adalah orang tidak menganjurkan memberi makan kepada fakir miskin. Allah tidak mengatakan orang yang mendustakan agama adalah yang tidak memberi makan kepada fakir miskin. Namun “tidak menganjurkan”. Sebab, bisa jadi mereka memang tidak memiliki harta yang cukup atau makanan berlebih yang bisa diberikan kepada yang lain. Akan tetapi dalam kondisi demikian, mereka masih bisa menjadi perantara dan sarana kebaikan, dengan meminta orang lain yang mampu untuk membantunya. Ini seperti yang dilakukan oleh Rasul SAW saat tidak punya makanan. Beliau masih berusaha membantu dengan menanyakan sahabat, siapa di antara mereka yang dapat menjamu tamu beliau yang lapar. Begitulah akhlak muslim.
Setelah itu dalam surat al-Ma’un, Allah berbicara tentang orang yang shalat, yang diancam celaka. Yaitu yang shalatnya hanya dikerjakan secara formalitas dan riya, tanpa penghayatan dan tidak sesuai tuntunan. Apalah artinya shalat yang tidak mendatangkan kebaikan dan perbaikan akhlak?!
Kesimpulannya, agama ini adalah agama rahmah, agama kasih sayang; tidak hanya sekedar shalat dan ibadah. Cukup dikatakan mendustakan agama orang yang tidak memiliki kasih sayang. Nabi SAW bersabda, “Kasih sayang tidak dicabut kecuali dari orang yang celaka.” (HR Abu Daud).
Wallahua’lam
Sumber:
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 353 – 11 Desember 2015. Tahun ke-8
Telah diterbitkan sebelumnya oleh:
Harian Umum Republika
Rubrik Hikmah – 30 November 2015.
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah.
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya

Ringkasan Ta’lim : Karakter Da’i Sejati

? Kajian Kontemporer Majelis Ta’lim Al Iman
 
“Karakter Da’i Sejati”
Bersama: Ust. Fauzi Bahreisy
Ahad, 29 November 2015
Pkl. 18.00-19.30
Di Pusat Dakwah Yayasan Telaga Insan Beriman
Jl. H. Mursid No.99B, Kebagusan, Jakarta Selatan
 
? Mukaddimah
? Perkataan yang paling baik dan punya nilai di sisi Allah adalah perkataan yang mengajak orang ke jalan Allah.
? Kita adalah da’i sebelum apapun (nahnu du’at qabla kulli sya-i).
? Dakwah tidak hanya diatas mimbar, dakwah tidak hanya pekerjaan para asatidzah dan ulama tetapi setiap muslim.
? Tugas mengajak orang ke jalan Allah (dakwah) adalah tugas yang sangat mulia
 
? Karakter yang harus dimiliki da’i:
✅ Ikhlas
⏩ Ikhlas merupakan bekal/pondasi dasar
⏩ Kita ajak orang ke jalan Allah bukan ke yang lain.
⏩ Sekecil apapun amal jika dilakukan dengan ikhlas maka akan diterima Allah namun jika amal yang besar tidak dilandasi dengan keikhlasan maka tidak berarti disisi Allah.
⏩ Salah satu kunci sukses dakwah Rasul dan para sahabat adalah keikhlasan.
⏩ Orang kalau sudah ikhlas, ia akan sungguh-sungguh.
 
✅ Alim dan Mutafaqquh Fiddin
⏩ Da’i harus membekali dirinya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, yang kemudian ilmu tersebut akan ditransfer ke orang lain.
⏩ Da’i harus terus belajar, jangan pernah merasa puas dan cukup.
 
✅ Beramal dengan ilmunya
⏩ Da’i harus menjadi contoh baik di dalam keluarga maupun di masyarakat
⏩ Rasulullah SAW adalah pribadi yang banyak memberikan contoh keteladanan dibandingkan ceramah/taushiyah beliau kepada para sahabat.
⏩ Ilmu yang diperoleh harus diamalkan.
⏩ Dengan diberikan contoh/keteladanan, biasanya atsar (pengaruh) nya lebih kuat dibandingkan melalui perkataan
 
✅ Memiliki Sifat Kasih Sayang
⏩ Da’i jangan posisikan masyarakat/obyek dakwah sebagai target saja tetapi dilandasi rasa cinta kita kepada mereka.
 
✅ Memiliki Kelapangan Hati
⏩ Seorang da’i harus memiliki sifat kelapangan hati menghadapi berbagai tabiat obyek dakwah sebagimana do’a Nabi Musa ketika menghadapi Firaun (rabbi shrohli shadri)
 
✅ Hikmah
⏩ Da’i harus tahu kondisi obyek dakwahnya.
⏩ Da’i harus berbicara sesuai dengan kadar intelektualitas obyek dakwahnya.
⏩ Dakwah harus mempermudah, jangan mempersulit.
 
✅ Selalu Berdoa
⏩ Da’i selalu mendoakan obyek dakwahnya agar kelak mendapatkan hidayah Allah.
 
✅ Jangan membusungkan dada ketika ada yang mendapatkan hidayah lewat dakwah kita.
 
***
Majelis Ta’lim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabazy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya

Ringkasan Ta’lim : Keteladanan Ibrahim as

? Ringkasan Pengajian Tadabbur Al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah ayat 4-6
“Keteladanan Ibrahim Alaihis Salam”
? Ustadz Fauzi Bahreisy
Ahad, 13 Desember 2015
Pkl. 18.00-19.30
Di Majlis Ta’lim Al-Iman
Jl. Kebagusan Raya No.66, Jakarta Selatan
 
? Surat Al Mumtahanah ayat 4-6
✅ Ayat 4:
Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, “Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata), “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakkal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.
✅ Ayat 5:
Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
✅ Ayat 6:
“Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian, dan barang siapa berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
✒ Tadabbur Ayat ke-4 dan ke-5:
? Di dalam Islam di antara satu Nabi dengan Nabi yang lain punya keterkaitan erat, demikian juga apa yang di bawakan oleh Nabi kita Muhammad SAW punya kaitan erat dengan apa yang di bawakan oleh Nabi Ibrahim.
? Ada contoh terbaik pada Nabi Ibrahim dan orang-orang bersamanya. Orang-orang yang bersamanya di sini ada 3 pendapat:
1⃣ Keluarga Nabi Ibrahim yang ikut bersamanya.
2⃣ Kaum Nabi Ibrahim yang beriman.
3⃣ Para Nabi-Nabi yang sejalan dengan Nabi Ibrahim.
? Dalam hal apa kita harus mencontoh Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya?
Dalam hal:
? Berlepas diri dari orang-orang kafir, dan harus menunjukkan sikap tegas terhadap mereka dalam urusan iman/aqidah.
? Mengingkari atau tidak mengakui mereka. Hal ini tidak perlu dideklarasikan atau diucapkan, cukup dengan menunjukkan sikap.
? Memusuhi mereka, benci atau tidak senang terhadap apa yang mereka lakukan, sampai mereka beriman kepada Allah.
Memusuhi dan membenci disini bukan berarti harus dengan perang, karena tidak semua orang kafir harus di perangi, jika mereka berbuat baik kepada kita maka kita juga berbuat baik kepada mereka. Namun bukan berarti berbuat baik kemudian memberikan loyalitas dan cinta kepada mereka.
? Terkait dengan cinta kepada orang kafir, Imam Al-Kharafi membagi menjadi 3 kategori :
▶ Cinta yang bisa membatalkan iman, seperti kagum kepada agama dan keimanan mereka.
▶ Cinta yang bisa mengurangi iman, seperti cinta karena maksiat yang mereka lakukan, seperti dengan mengatakan “enak juga ya menjadi non muslim bisa melakukan apa saja”
▶ Cinta yang mubah, seperti mencintai karib kerabat yang non muslim bukan karena iman dan agama mereka dan bukan juga karena maksiat yang mereka lakukan. Seperti mencintai Ibu yang non muslim, atau istri dari ahlul kitab, beserta karib kerabatnya.
? Ada satu hal yang tidak boleh di contoh dari Nabi Ibrahim yaitu, meminta ampunan kepada Allah untuk orang-orang kafir, walaupun mereka adalah keluarga dan kerabat terdekat. Ini tidak boleh dilakukan kecuali dengan permohonan  agar Allah memberikan mereka hidayah.
? “Tawakkal kepada Allah adalah sebuah bukti keimanan yang paling kuat”
? Di antara do’a-do’a yang di ucapkan oleh Nabi Ibrahim dan kaumnya:
☑ Ya Tuhan kami, hanya kepada engkau kami bertawakkal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.
☑ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa, Mahabijaksana.
✒ Tadabbur ayat ke-6 :
? Penekanan bahwa pada Nabi Ibrahim dan pengikutnya ada suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharap pahala dari Allah dan keselamatan pada hari kemudian.
***
Majelis Ta’lim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabazy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi www.AlimanCenter.Com agar mendapatkan ringkasan pengajian Majelis Ta’lim Al Iman
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya.

Ringkasan Ta’lim : Menjadi Mukmin yang Kuat

Ringkasan Kajian Kontemporer Majelis Ta’lim Al Iman
“Menjadi Mukmin Yang Kuat”
Bersama: Ust. Abdullah Haidir, Lc
Ahad, 6 Desember 2015 | Pkl. 18.00-19.30 | Pusat Dakwah Yayasan Telaga Insan Beriman, Jl. H. Mursid No.99B, Kebagusan, Jakarta Selatan.
 
? Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Walaupun semuanya tetap baik jika beriman kepada Allah.
? Untuk menjalankan banyak kebaikan dibutuhkan kekuatan.
? Kekuatan yang dimaksud bukan hanya pada perkara perkara materi saja. Tetapi kekuatan yang bersifat mendasar sebab kekuatan materi tanpa kekuatan mendasar maka itu tidak memberikan makna apa-apa.
? Ada banyak kekuatan yang perlu dimiliki seorang mukmin, namun ada 2 kekuatan mendasar yang harus ada agar menjadi mukmin yang kuat:
 
? Quwwatul Iman/Aqidah (Kekuatan Iman/Aqidah)
? Iman yg Allah berikan, hendaknya kita pelihara dan jaga agar semakin kokoh dan kuat.
? Iman itu hidup dan dinamis. Dia semakin kuat jika kita pandai merawat dan menjaganya. Dia akan mati jika tidak dirawat.
? Kekuatan iman/aqidah inilah yang jika bermasalah menjadi muara semua problematika dan kelemahan kaum muslimin.
? Secara materi, kita punya banyak potensi, sumber daya alam, tapi ternyata semua itu tidak cukup membuat ummat ini bangkit jika tidak dikelola oleh orang-orang yang memiliki kekuatan iman.
? Kalau iman/aqidahnya kuat tidak akan ada yang bisa mengalahkannya.
? Jika berada di jalan Alloh dgn iman/aqidah yang kuat, maka semua pilihan adalah kebaikan. Menang adalah kebaikan, mati juga kebaikan.
? Kekuatan aqidah/iman harus menjadi pintu pertama sebelum kekuatan-kekuatan lainnya.
? Ruang lingkup aqidah/iman adalah ketegasan.
 
? Quwwatul Akhlaq (Kekuatan Akhlaq)
? Akhlaq merupakan kontrol dalam menjalani keimanan. Akhlaq yang baik bagi seorang mukmin menunjukkan sempurnanya iman.
? Antara aqidah dan akhlaq adalah 2 hal yang saling menyatu dan menguatkan.
? Aqidah tanpa akhlaq bisa jadi akhlaq tanpa aqidah.
? Kekuatan iman harus dibarengi tuntutan kita untuk bersikap yang baik/akhlaq yg mulia.
? Pengaruh kekuatan akhlaq: sebagai bekal dakwah menundukkan hati manusia, kunci dalam mengalahkan musuh.
? Banyak kemenangan diraih bukan karena kekuatan lain, tapi dengan kekuatan akhlaq.
 
? Rambu-rambunya:
☝Kekuatan iman dan akhlaq harus dijalankan secara pas agar saling menguatkan bukan sebaliknya.
☝Jangan sampai kekuatan iman yg bersifat tegas menyebabkan seorang mukmin berlaku kaku dan kasar terhadap orang lain.
☝Demikian juga untuk meraih simpati orang lain dengan berakhlaq baik jangan sampai menggadaikan iman/aqidah.
 
⛳ Selain 2 kekuatan mendasar tersebut ada beberapa kekuatan lain yang selanjutnya perlu dimiliki oleh orang mukmin seperti: kekuatan ilmu, ukhuwah, askariyah (pasukan), siyasiyah (politik), maaliyah (harta), dll.
***
Majelis Ta’lim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
 
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabazy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
 
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya

Hikmah Sabar dan Baik Sangka

Dulu ada seorang pedagang salih. Setiap kali mendapat musibah yang seharusnya membuat marah, ia malah berdoa, “Ya Allah jadikan ini sebagai kebaikan.” Orang-orang heran dengannya karena begitu banyak musibah dan kesulitan yang ia alami namun ia tetap sabar. Bahkan setiap mendapat musibah ia selalu berdoa, “Ya Allah jadikan ini sebagai kebaikan.”Tidak ada yang berubah saat ia mendapat musibah. Tampaknya ia tidak terpengaruh sama sekali. Sebab ia percaya semua musibah pasti baik baginya.
Suatu hari ia melakukan perjalanan bersama sejumlah teman dalam sebuah rombongan untuk tujuan perdagangan. Setiap orang membawa unta yang mengangkut barang dagangan, makanan, dan minuman. Setelah melakukan perjalanan panjang, mereka berhenti untuk beristirahat. Ketika melihat pedagang salih itu tertidur, mereka sepakat untuk menyembunyikan untanya berikut perlengkapan yang berada di atasnya. Mereka melakukan itu untuk melihat reaksinya saat mengetatahui hal tersebut.
Ketika ia bangun dari tidur, mereka berkata, “Untamu lari. Kami sudah berusaha menahan, tetapi tidak mampu. Seketika ia berdoa, “Ya Allah, jadikan ini sebagai kebaikan.” Mereka semua terheran-heran. Mereka berkata, “Untamu lari namun engkau malah berdoa, ‘Ya Allah, jadikan ini sebagai kebaikan.’” Pedagang salih itu tetap mengucapkan hal yang sama. “Berikut semua barang yang berada di atasnya,” ujar mereka. Mendengar hal itu ia kembali berucap, “Ya Allah jadikan ini sebagai kebaikan.” “Berikut makanan dan minumanmu,” ujar mereka lagi. “Ya Allah jadikan ini sebagai kebaikan,” doa si pedagang salih tersebut.
Tiba-tiba tanpa insyarat dan peringatan, mereka didatangi oleh sejumlah perompak. Para perompak itu merampas unta berikut barang bawaannya. Setelah itu mereka lari. Akhirnya para pedagang itu berkata, “Mari kita keluarkan unta milik teman kita.” Ketika diserahkan kepadanya, ia berkata, “Bukankah sudah kukatakan, ‘Ya Allah jadikan ini sebagai kebaikan!’” Maka, mereka pun menyatakan hal serupa, “Ya Allah jadikan ini sebagai kebaikan, ya Allah jadikan ini sebagai kebaikan.”
ed : danw

Buah Keshalihan Seorang Pemuda

Pemuda itu, dengan kekuatan dan semangat yang menggelora yang ada pada dirinya berusaha menjadi seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Kemuliaan pada kemudian hari melekat pada dirinya, kehormatan diberikan orang lain padanya, bahkan tak sedikit kemudian rasa iri untuk menjadi seperti dirinya pun muncul dari banyak kalangan.
Ia adalah Mirza, seorang pemuda desa Nurs (pinggiran Negara Turki) yang dikenal oleh penduduk desanya sebagai orang yang berbudi luhur, baik kepada siapa saja, dan taat menjalankan perintah agama. Ia juga dikenal sebagai pemuda yang rendah hati dan pandai menjaga waktunya. Siang hari ia gunakan untuk berbakti pada orang tuanya, dan malam hari ia gunakan untuk menuntut ilmu dari beberapa orang ulama yang ada didesanya.
Suatu hari, Mirza yang selalu membasahi lisannya dengan berdzikir mengingat Allah SWT diperintahkan oleh ayahnya untuk mengembala beberapa ekor kambing milik keluarga. Maka hari itu, selepas sholat subuh ia menggiring kambing-kambingnya kepadang gembala. Ia sangat perhatian terhadap apa yang dimakan oleh kambing-kambingnya. Ia tidak ingin satu ekor pun dari kambingnya memakan rumput tidak halal dikebun orang lain. Karena komitmennya itu, setiap perjalanan menuju tempat mengembala Mirza selalu mengikat mulut kambing-kambingnya hingga benar-benar sampai kepadang rumput yang halal untuk dimakan oleh kambing-kambingnya.
Ketika sampai disebuah padang rumput yang halal, maka Mirza segera mengikat kambing-kambingnya dengan patok dan melepas ikatan yang ada dimulut kambing-kambing tersebut. Dengan seketika kambing-kambingnya melahap rerumputan yang ada disekitarnya.
Memastikan kambing-kambingnya telah aman, Mirza pun segera mencari pohon rindang disekitar padang gembala untuk melaksanakan sholat Dhuha dan istirahat sambil menunggu kambing-kambingnya kenyang. Tidak terasa karena lelah istirahatnya pun mebuat ia memejamkan mata dan tidur dengan pulas. Setelah bangun dari tidur ia mengecek kambing-kambingnya dan ternyata ada satu ekor kambingnya yang menghilang. Mirza pun mencari kemana perginya kambing tersebut. Ia berjalan dan berlari mencari kambingnya yang hilang, hingga akhirnya ia temukan kambingnya sedang asyik makan disebuah rumput.
Ia begitu kaget dan merasa berdosa, karena kambingnya memakan rumput yang tidak halal untuk dimakan. Maka ia mencari sang pemilik rumput dan ia pun menemukan sebuah rumah yang sepertinya rumah sang pemilik rumput.
Mirza segera pergi ke rumah itu untuk memohon keikhlasan atas rumput-rumput yang dimakan oleh kambingnya. Sang pemilik kebun sempat heran dan kagum seraya berkata pada diri sendiri, ternyata masih ada dizaman ini pemuda yang begitu jujur, takut pada dosa dan memastikan keberkahan atas sesuatu yang ia miliki.
Sang pemilik rumput pun bertanya dimana rumah Mirza. Mirza yang merupakan anak sholih dari keturunan orang tua yang juga sholih dan sholihah begitu takut, ia takut ayahnya marah karena ia telah lalai mengembala kambing hingga memakan rumput yang tidak halal. Mirza memohon kepada sang pemilik rumput untuk mengikhlaskan rumputnya dan jangan memberi tahu orang tuanya. Sang pemilik rumput pun memastikan bahwa ia telah mengikhlaskan rumputnya dan tidak akan membuat Mirza dimarahi oleh orang tuanya.
Tanpa sepengetahuan Mirza, sang pemilik rumput pergi ke rumah Mirza dan bertemu orang tuanya. Dan ternyata orang tua Mirza dan sang pemilik rumput merupakan dua orang sahabat yang sudah lama tidak jumpa. Sang pemilik rumput menyampaikan kekagumannya pada Mirza kepada kedua orang tuanya. Bahkan ia menawarkan kepada orang tua Mirza agar menikahkan Mirza dengan anaknya.
Sang pemilik rumput memiliki putri yang bernama Nuriye. Ia anak yang sholihah, berbakti pada kedua orang tuanya, dan taat pada agamanya. Bahkan putri sang pemilik rumput juga merupakan seorang pemudi yang selalu menjaga auratnya, ia tidak pernah keluar rumah kecuali didampingi oleh mahramnya dan iapun seorang pemudi yang telah hafal 30 juz Al-Qur’an.
Mendengar tentang Nuriye, orang tuan Mirza pun sepakat untuk menikahkan Mirza dengan Nuriye. Mirza yang sholih pun seteleh diberi tahukan oleh ayahnya tentang Nuriye, menerima tawaran untuk menikah dengannya.
Dari pernikahan mereka lahirlah generasi yang sholih dan sholihah. Dan satu dari keturunan mereka kemudian menjadi orang yang namanya begitu menyejarah, ialah BADI’UZZAMAN SAID NURSI.
ed : danw