0878 8077 4762 [email protected]

Dewan Fatwa Mesir : Pintu Taubat untuk Pelaku Dosa Besar

Assalamualaikum ustad. Bagaimana seseorang yang saat ini telah berusia sekitar 36 Tahun, telah melakukan beberapa dosa besar di masa kecilnya, diantaranya zina, minum minuman keras, judi, serta mengambil barang orang lain yang bukan haknya dan ia pun tidak mampu untuk mengembalikannya. Apakah pintu taubat masih terbuka untuknya ? Dan apa saja yg harus ia lakukan agar taubatnya diterima ?
 
Jawaban :
Asshalatuwasalam ala rasulillah amma ba’du :
Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53)
Dalam surat Al Imran Allah berfirman panjang lebar : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”
Di dalam shahih Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, beliau berkata, “Wahai Rasulullah saw. dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu.”
Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68, “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).”
Di dalam kitab Bukhari bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda, “Wahai manusia, bertaubatlah kalian semua kepada Allah. Demi Allah, aku beristighfar dan bertaubat kepadanya lebih dari 70 kali setiap hari.
Oleh karena itu, bagi orang-orang yang telah melakukan dosa besar bersegeralah untuk kembali dan bertobat kepada Allah SWT , dengan menyesali atas apa yang telah dikerjakan dan bertekad untuk tidak mengulanginya serta memperbanyak amal ibadah seperti istighfar, tilawah al qur’an, shalat dan ibadah-ibadah lainnya, karena amal-amal kebaikan tersebut dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu.
Diriwayatkan dari Amr bin Ash r.a. ia berkata, “Suatu saat Mu’adz bin Jabal akan melakukan safar, lalu ia berkata, “Berikanlah aku nasihat wahai Rasul.” Lalu Rasulullah saw. berkata, “Jika engkau melakukan keburukan, bersegarah untuk berbuat kebaikan.”
Dan diriwayatkan oleh Adi bin Hatim bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Bertakwalah kalian semua walaupun dengan separuh biji kurma.
Dari Mu’adz bin Jabal r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Puasa adalah benteng dan sedekah akan menghapuskan kesalahan sebagaimana air yang memadamkan api.”
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang dibenci (seperti pada keadaan yang sangat dingin, pen.), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath, itulah ribath.”
Bagi mereka yang telah melakukan dosa, baik itu kecil maupun besar, maka bersegeralah bertaubat kepada Allah SWT dengan taubat yang tulus disertai dengan penyesalan, serta menjaga diri untuk tidak menceritakan dosa-dosa tersebut kepada orang lain, sebab hal itu merupakan aib bagi dirinya sendiri yang telah Allah jaga dan tutup.
Kemudian juga dianjurkan untuk memperbanyak sedakah,menyantuni fakir miskin dengan mengharapkan rahmat Allah, ampunan serta ridha-Nya. Semoga Allah SWT menerima taubatnya, dan sungguh Allah SWT mencintai orang yg bertaubat kepada nya.
Sumber : Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah (Dewan Fatwa Mesir)
Nomor : 6699
Tanggal : 26/6/2003
Penerjemah : Nasheer

Adab Hutang Piutang dalam Islam

Hukum asal hutang piutang dalam Islam adalah mubah. Di diriwayatkan dari Abu Rafi’, bahwa Nabi saw pernah meminjam seekor unta kepada seorang lelaki.
“Aku datang menemui beliau membawa seekor unta dari sedekah. Beliau menyuruh Abu Rafi’ untuk mengembalikan unta milik lelaki tersebut. Abu Rafi’ kembali kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah! Yang kudapatkan hanya-lah sesekor unta ruba’i terbaik?” Beliau bersabda, “Berikan saja kepadanya. Sesungguhnya orang yang terbaik adalah yang paling baik dalam mengembalikan hutang.”
(HR. Bukhari dalam Kitab Al-Istiqradh, baba istiqradh Al-Ibil (no.2390), dan Muslim dalam kitab Al-Musaqah, bab Man Istaslafa Syai-an Fa Qadha Khairan Minhu (no.1600)).
Nabi saw juga bersabda: “Setiap muslim yang memberikan pinjaman kepada sesamanya dua kali, maka dia itu seperti orang yang bersedekah satu kali.” (Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albani di dalam Irwa’ Al-Ghalil Fi Takhrij Ahadits Manar As-Sabil (no.1389)).
Meskipun berhutang adalah hal mubah dalam Islam, tetapi hal hendaknya dilakukan jika dalam keadaan darurat ekonomi saja. Dan hendaknya menghindari hutang sebisa mungkin jika mampu bermuamalah dengan tunai. Karena hutang, merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Hutang juga dapat menyebabkan akhlak yang tidak terpuji, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari).
 
Keburukan Jika Hutang Tidak Dilunasi
Jika seseorang orang meninggal sedangkan dia masih memiliki tanggungan hutang, maka dia akan mendapatkan banyak keburukan, diantaranya:
1. Tidak dishalati oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat
Bahwa Rasulullah saw pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. (HR. Bukhari no. 2289). Hal ini sebagai bentuk pengajaran beliau bahwa membiasakan diri untuk berhutang tanpa memiliki jaminan adalah sesuatu kebiasaan yang buruk. Oleh karena itu, tidaklah mengapa jika orang-orang terpandang, tokoh masyarakat dan agama melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah saw.
2. Dosa-dosanya tidak akan diampuni sampai di lunasi hutang-hutangnya
Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra dari Rasulullah saw bahwasanya seseorang bertanya kepada beliau: “Bagaimana menurutmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan diampuni?”. Beliau pun menjawab: “Ya, dengan syarat engkau sabar, mengharapkan ganjarannya, maju berperang dan tidak melarikan diri, kecuali hutang. Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam baru memberitahuku hal tersebut” (HR Muslim no. 4880/1885).
Hadits di atas menjelaskan bahwa ibadah apapun, bahkan yang paling afdhal sekalipun yang merupakan hak Allah tidak bisa menggugurkan kewajiban untuk memenuhi hak orang lain.
3. Ditahan untuk tidak masuk surga, meskipun dia memiliki banyak amalan
Diriwayatkan dari Tsauban, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang mati sedangkan dia berlepas diri dari tiga hal, yaitu: kesombongan, ghuluul (mencuri harta rampasan perang sebelum dibagikan) dan hutang, maka dia akan masuk surga”. (HR At-Tirmidzi no. 1572, Ibnu Majah no. 2412 dan yang lainnya. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Shahih” di Shahih Sunan Ibni Majah).
 
Beberapa Adab dan Nasihat Hutang Piutang
1. Jangan membiasakan diri untuk berhutang. Apalagi jika tidak memiliki jaminan.
2. Segera membayar hutang dan jangan menunda-nundanya.
3. Jika benar-benar tidak mampu membayar hutang pada waktu yang telah ditentukan, maka bersegeralah meminta maaf kepada orang yang menghutangi dan minta tenggang waktu untuk membayarnya.
4. Jangan pernah tidak mencatat hutang piutang. “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan hutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya..” (Q.S Al Baqarah 282).
5. Jangan pernah berniat tidak melunasi hutang. “Siapa saja yang berhutang, sedang ia berniat tidak melunasi hutangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang pencuri..” (HR Ibnu Majah).
6. Jangan pernah menunda-nunda membayar hutang.“Menunda-nunda (pembayaran hutang) bagi orang yang mampu adalah kedzaliman..” (HR Bukhari dan Muslim).
7. Jangan pernah menunggu ditagih dulu baru membayar hutang. “Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam pembayaran hutang..” (HR Bukhari dan Abu Daud).
8. Jangan pernah mempersulit dan banyak alasan dalam pembayaran hutang. “Allah ‘Azza wa jalla akan memasukkan ke dalam surga orang yang mudah ketika membeli, menjual, dan melunasi hutang..” (HR Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
9. Jangan pernah meremehkan hutang walaupun sedikit. “Ruh seorang mukmin itu tergantung kepada hutangnya hingga hutangnya dibayarkan..” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, ad-Darimi, dan Ibnu Majah).
10. Jangan pernah berbohong kepada pihak yang menghutangi. “Sesungguhnya, apabila seseorang berhutang, maka bila berbicara ia akan dusta dan bila berjanji ia akan ingkari..” (HR Bukhari dan Muslim).
11. Jangan pernah berjanji jika tidak mampu memenuhinya.“..Dan penuhilah janji karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban..” (Q.S Al Israa’ : 34).
12. Jangan pernah lupa doakan orang yang telah menghutangi. “Barangsiapa telah berbuat kebaikan kepadamu, balaslah kebaikannya itu. Jika engkau tidak mendapati apa yang dapat membalas kebaikannya itu, maka berdoalah untuknya hingga engkau menganggap bahwa engkau benar-benar telah membalas kebaikannya..” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
13. Jangan pernah sungkan untuk menagih hutang. Kalau kita sayang kepada orang yang berhutang maka hendaknya kita menagih hutang tersebut darinya. Karena kalau kita malu menagih hutang bisa menimbulkan kemudharatan bagi kita dan juga baginya, diantaranya : Kita jadi dongkol terus jika bertemu dengan dia, bahkan bisa jadi kita terus akan menggibahnya karena kedongkolan tersebut. Jika kita membiarkan dia berhutang hingga meninggal dunia maka ini tentu akan memberi kemudharatan kepadanya di akhirat kelak.
14. Jika hutang tidak dibayar di dunia maka akan dibayar di akhirat dengan pahala, padahal pada hari itu setiap kita sangat butuh dengan pahala untuk memperberat timbangan kebaikan kita.
15. Jangan pernah meremehkan hutang meskipun sedikit. Bisa jadi 50 ribu rupiah adalah jumlah yg sedikit bagi kita, akan tetapi di mata penghutang adalah besar dan dia tidak ridho kepada kita jika tidak dibayar, lantas dia akan menuntut di hari kiamat.
16. Jangan pernah berhusnudzon kepada penghutang. Jangan pernah berkata : “Saya tidak usah bayar hutang aja, dia tidak pernah menagih kok, mungkin dia sudah ikhlaskan hutangnya” hal ini adalah naif dan memalukan.

Jalan Menuju Allah

 
Oleh: Syaikh Salman Al-Audah
 
Betapa meruginya diriku, manakala aku mengira bahwa jalan yang sedang aku lalui akan mengantarkanku pada-Mu, namun ternyata aku sedang melalui jalan yang memisahkanku dengan-Mu.
Sungguh sangat disayangkan manakala aku meninggalkan dunia ini tanpa pernah merasakan hal yang ternikmat di dalamnya yaitu, bermunajat dan bertaqarrub kepada-Mu serta menghayati nama-nama dan sifat-Mu yang Maha Tinggi.
Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.” (QS. al-Muthaffifin : 15).
Orang yang terhalang pada hari kiamat ialah orang yang juga terhalang dari-Nya di dunia. Mereka adalah orang-orang yang curang yang tidak dapat menakar “timbangan” dengan baik.
Ketika aku meminta jalan hidayah pada-Mu, maka hidayah yang paling agung adalah pintu ma’rifah (mengenal) dan beriman pada-Mu serta mendapatkan secercah cahaya dari-Mu yang dapat menerangi hatiku.
Bagaimana caranya supaya aku dapat memelihara saat-saat dimana hatiku mendapat penerang dan tersingkap semua hijab dari qalbuku?
Bagaimana caranya agar aku dapat melepaskan diri dari jerat kemaksiatan yang menyebabkan kekeringan dan kekosongan di dalam hatiku sehingga ia dapat menghancurkan bangunan yang aku dirikan?
Di saat aku mengingat-Mu, hatiku menjadi lembut dan lunak. Akan tetapi, aku tidak memiliki kekuatan untuk terus menerus berada dalam kondisi seperti itu kecuali dengan anugerah yang Kau berikan kepadaku.
Manakala aku membaca Al-Qur`an, pikiranku ikut berjalan menyusuri kisah-kisah orang-orang yang dekat dengan-Mu. Ia menangkap berbagai kabar gembira dan peringatan dari-Mu. Saat itulah, dunia terasa kecil di mataku, seakan-akan ia hanyalah kehidupan yang sepintas dan cepat.
Kondisi semacam itu terasa sangat nikmat nan indah, namun aku khawatir ia akan menjadi penuntut bagiku bukan menjadi sarana untuk mendekatkanku pada-Mu.
Barangsiapa yang merasakan manisnya taqarrub dan tunduk kepada-Mu, bagaimana mungkin ia akan lupa dan lalai?
Aku adalah orang yang sering berputus asa di saat melakukan kemaksiatan, dan aku adalah orang yang suka membangkang di saat aku mendapatkan nikmat. Aku orang yang suka meminta saat berada dalam kondisi sulit, akan tetapi aku menjadi orang yang tertipu di saat lapang dan senang.
Aku tidak mampu jika aku harus terus menerus berada dalam kesulitan, dan kehidupan ini tidak akan terus menerus berada dalam kenikmatan.
Apakah ada cara agar jiwaku, diriku, akalku dan qalbuku terus terwarnai dengan kehidupan yang rabbani tanpa ada kotoran riya` dan sum’ah bahkan di saat aku sedang malas?
Bagaimana caranya meneladani mereka yang telah Kau pilih dan Kau jadikan sebagai orang-orang yang shalih, yang telah Kau antarkan mereka menjadi orang-orang yang dekat dengan-Mu? Bgaimana caranya agar bisa mengikuti mereka yang telah Kau jadikan sebagai orang-orang yang Kau kabulkan do’anya, Kau berikan perlindungan dan pertolongan pada-Nya serta Kau jauhkan mereka dari segala macam keburukan dan kesulitan?
Posisiku sebagai hamba menghendaki diriku untuk melepaskan diri dari sikap egois dan sombong. Setiap kali aku menyadari hinanya diriku, di saat itulah aku merasakan kedekatan denganmu.
Aku terus menghadirkan makna sujud (ketundukan) dan terus membersihkan diri ini dari sifat sombong dan ghurur. Hal itu melapangkan diriku menuju jalan Allah. Akan tetapi, pantaskah aku mendapatkannya padahal aku adalah orang yang sudah tenggelam dalam ketamakan terhadap dunia dan sibuk dengan penampilan diriku di hadapan orang lain? Pantaskah aku mendapatkannya padahal aku telah lalai karena kesibukanku berteman dengan fulan dan fulan?
Di kala aku sadar, aku berkata: “Aku wajib memilih jalan menuju Allah dengan penuh keridhaan dan rasa cinta sebelum kematian menjemputku.”
Aku ingin seperti orang tercinta yang telah lama hilang kemudian ia datang kembali pada keluarganya, bukan seperti budak yang diseret secara paksa ke hadapan tuannya.
Sebaik-baik cara yang dapat membuatku ingat kepada Allah adalah tilawah Al-Qur`an dan berdzikir dengan shalawat dan dzikir-dzikir yang lainnya.
 
* Diterjemahkan oleh: Fahmi Bahreisy, Lc
** Sumber: iumsonline.org

Kutakut pada-Mu Ya Allah

Suatu malam, khalifah Umar bin Khattab RA berjalan mengelilingi sebuah kampung yang termasuk daerah kekuasannya untuk mengetahui secara langsung kondisi daerah tersebut pada malam hari.
Dalam perjalanan tersebut tiba-tiba sang Khalifah mendengar seorang wanita melantunkan sebuah sya’ir :
لقد طال هذ الليل و اسود جانبه
و أرقني ألا خليل ألاعبه
فو الله لو لا الله تخشى عواقبه
لحرك من هذا السرير جوانبه
Malam lama berlalu dan langitpun semain pekat,
Namun aku masih dalam kesendirian dan tak ada kekasih yang kucumbu,
Demi Allah , kalau bukan karena Allah yang ditakuti hukumannya,
Niscaya ranjang ini telah bergoyang
Sya’ir tersebut menggambarkan kerinduan seseorang kepada kekasihnya yang telah lama tidak bertemu dengannya, kerinduan tersebut memuncak hingga muncul keinginan bermaksiat tanpa sepengetahuan kekasih. Namun, karena merasa dipantau oleh Allah SWT dan takut akan hukuman yang akan diberikan, keinginan untuk bermaksiat itu pun mampu diredam.
Khalifah Umar bin Khattab RA setelah mendengar sya’ir yang dilantunkan wanita tersebut berupaya menyelidiki, siapakah wanita tersebut? Dan apa gerangan yang membuat wanita tersebut melantunkan sya’ir kerinduan itu?
Setelah mencari informasi, khalifah Umar bin Khattab pun mengetahui bahwa wanita tersebut adalah wanita shalihah yang begitu rindu kepada suaminya yang sudah lama ikut dalam pasukan jihad, namun belum juga kembali kerumah. Ia rindu pada belaian dan cumbu rayu seorang kekasih, hingga terbesit dalam hatinya untuk bercumbu rayu dengan laki-laki lain yang bukan suaminya. Namun, karena iman yang tertancap didalam hatinya, keyakinan bahwa Allah melihat setiap gerak-geriknya, dan takut pada hukuman yang akan Allah berikan ia pun berupaya merendam keinginan bermaksiat itu.
Setelah mengetahui kondisi wanita tersebut, sang khalifah pun bertanya kepada anaknya, Hafshah : “wahai Hafshah berapa lamakah seorang wanita sanggup ditinggal oleh seorang kekasih?” Hafshah pun menjawab : “bahwa wanita sanggup ditinggal oleh kekasih tidak lebih dari empat bulan”
Akhirnya khalifah Umar bin Khattab RA berijtihad dan membuat keputusan bahwa tidak boleh pasukan jihad pergi meninggalkan istrinya lebih dari empat bulan.
‘Ibroh :
Saudaraku, dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran penting, bahwa sikap merasa diawasi oleh Allah SWT dapat menjauhkan seseorang dari perbuatan maksiat yang dilarang oleh-Nya.
Sebagaimana wanita tadi, jika ia ingin bermaksiat bisa saja, sebab peluang untuk melakukan itu terbuka luas dan sang suami mungkin tidak akan mengetahuinya jika ia melakukannya. Namun ia meyakini bahwa kalaupun sang suami tidak mengetahui jika ia bermaksiat, namun Tuhannya, Allah SWT pasti mengetahuinya. Sebab Allah SWT Maha mengetahui segala yang dilakukan setiap hamba-Nya, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Allah SWT berfirman :
Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi” (QS.Al-Fajr : 14)
Dan Dia (Allah SWT) bersama kamu dimana saja kamu berada” (Q.S Al-Hadid : 4)
Saudaraku, Jika saja setiap orang merasa dipantau oleh Allah SWT dan takut akan hukuman yang akan Allah berikan, maka dipastikan tidak akan ada lagi yang namanya kejahatan. Perjudian, pemerkosaan, pembunuhan, korupsi dan bentuk penyimpangan lainnya tidak akan pernah ada dimuka bumi.
Dan jika setiap orang merasa dipantau oleh Allah SWT, maka kesejahteraan dan kebahagiaan akan menyeliputi kehidupan, sebab agama ini tidaklah mewajibkan suatu hal kecuali membawa kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang merasa dipantau oleh-Nya dan takut akan hukuman-Nya, hingga kita benar-benar mampu menjauhi segala bentuk penyimpangan.
ed : danw

Musa dan Mustajabnya Doa Orang Tua

Musa dan Mustajabnya Doa Orang Tua

bakti ibu
Allah SWT memberikan wahyu kepada Musa Alaihissalam: “Wahai Musa, si fulan akan bersamamu kelak di surga.”
Musa Alaihissalam bertanya-tanya dan keheranan mendengar hal tersebut. Ia pun pergi untuk mencari tahu apa yang dilakukan oleh orang tersebut.
Musa Alaihissalam pun mengetahui bahwa ia adalah orang yang berbakti kepada ibunya. Ia selalu menyuapi makanan kepada ibunya dengan menggunakan kedua tangannya sendiri.
Musa Alaihissalam bertanya kepada laki-laki tersebut, “Apakah ibumu mendoakan sesuatu untukmu?”
Ia menjawab, “Tidak, hanya ada satu doa yang selalu ia minta, Ya Allah jadikanlah ia sebagai pendamping Musa di surga-Mu kelak”
Lalu Musa berkata, “Ketahuilah, aku adalah Musa, dan engkau akan bersamaku kelak di surga sebab Allah telah mengabulkan do’a ibumu.”
Cerita ini dikisahkan oleh Syeikh Nabil Al Awdhi, hafidzahullah.
Ingatlah wahai saudaraku, bahwa doa kedua orang tua untuk anaknya adalah doa yang mustajab. Pergunakanlah kesempatan berharga ini dengan sebaik-baiknya.
Mintalah kepada keduanya supaya mereka mendoakanmu agar engkau nanti berkumpul dengan Rasulullah saw di surga Firdaus.
 
ed : Rustm/danw/yayasanaliman