by Danu Wijaya danuw | Jun 8, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
KETIKA Raja Faisal memutus pasokan minyak hingga negara-negara Barat mengalami krisis minyak pada Oktober 1973, ia melontarkan kalimat yang terkenal dan mengguncang dunia: “Kami dan leluhur kami telah mampu bertahan hidup hanya mengandalkan kurma dan susu, dan kami akan kembali dengan cara itu lagi untuk bertahan hidup (tanpa bantuan barang-barang dari Barat).”
Henry Kissinger, Menteri Luar Negeri AS, langsung mengunjungi Raja Faisal dan mencoba membujuknya untuk menarik keputusannya itu.
Akan tetapi Raja Faisal hanya berkata dengan wajah penuh yang dingin, “Hancurlah Israel!”
Henry Kissinger mencoba melontarkan sebuah lelucon untuk menghibur sang Raja:
“Pesawat saya kehabisan minyak, berkenankah yang mulia memerintahkan orang agar mengisinya dengan minyak kembali? Dan kami siap membayarnya dengan kurs internasional.”
Namun Sang Raja tak tertawa sedikitpun. Ia memandang Kissinger sambil berkata:
“Dan aku hanyalah seorang lelaki tua yang menginginkan untuk dapat shalat dua rakaat di Masjid Al Aqsa sebelum aku mati; maka maukah engkau (Amerika) mengabulkan permintaanku ini?”
Raja Faishal, Raja Arab yang Shalih dan Teguh

Beliau dikenal sebagai pemimpin yang shalih dan sangat memperhatikan kesejahteraan dan kepentingan rakyatnya, banyak sekali program-program baru yang dicanangkannya selepas penobatannya sebagai kepala negara.
Beberapa diantaranya adalah, pada tahun 1967 Raja Faisal menggalakkan program penghapusan perbudakan. Langkah ini ia lakukan dengan membeli seluruh budak di Arab Saudi dengan kas pribadinya hingga tak tersisa satupun budak.
Raja Faisal juga melakukan penyederhanaan gaya hidup keluarga kerajaan serta melakukan penghematan kas kerajaan dengan menarik 500 mobil mewah Cadillac milik istana.
Dana dari hasil program diatas salah satunya terealisasi pada pembangunan sumur raksasa hingga sedalam 1.200 meter sebagai tambahan sumber air rakyat untuk dialirkan pada lahan-lahan tandus disemenanjung Arab.
Di awal kepemimpinannya, Raja membuat berbagai keputusan yang mengagumkan, mulai dari mengizinkan anak-anak wanita Arab untuk bersekolah.
Beliau membangun rumah untuk penduduk, menstabilkan perekonomian Arab, dan menemukan ladang minyak baru di perairan Saudi dengan jumlah cadangan minyak lebih dari 240 milyar barrel dan menjadikan Arab Saudi sebagai negara penghasil minyak terbesar di dunia.
Ladang minyak yang luas itu sesuai dengan janji Allah dalam Al Qur’an, “Jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan menurunkan berkah dari langit dan bumi.”
Di era perang 6 hari Arab-Israel pada Juni 1967, Raja Faisal menjadi penyokong dana untuk membiayai segala perlengkapan perang bangsa Arab sehingga memudahkan bangsa Arab untuk memukul mundur Israel dari Palestina.
Namun Israel tidak menyerah, di tahun 1973 mereka memulai kembali perang Arab-Israel dengan sokongan dari militer Amerika. Disinilah kekalahan Arab, akibat keterlibatan bantuan Amerika melalui lobi-lobi yahudi diparlemen Amerika.
Hal ini membuat Raja marah dan serta merta melakukan embargo minyak terhadap negara-negara barat. Embargo ini membuat bangsa barat kewalahan karena mereka adalah konsumen minyak bumi terbesar dalam kapasitas mereka sebagai negara industri.
Hal tersebut berkembang menjadi krisis yang besar di Amerika dan negara barat lainnya. Negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (N.A.T.O) yang tadinya mendukung Amerika pun berbalik diam dan meninggalkan dukungannya atas Amerika, dikarenakan takut terkena embargo besar Raja Faisal tersebut.
Selamat jalan Raja yang bijaksana, semoga engkau ditempatkan ditempat yang baik bersama dengan para Syuhada. Semoga segala kesalahanmu di ampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala. Mungkin saat ini, kami umat muslim di zaman ini, sangat kekurangan sosok pemimipin yang seperti anda..
Ket : Foto cover utama di atas tampak menggambarkan sikap Raja Faisal yang tak menyukai Kissinger, dan Kissinger yang berusaha menarik hati Sang Raja.
Sumber : Ekazzahra.wordpress/Islampos
by Danu Wijaya danuw | Jun 8, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Jakarta – Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan saat ini tengah melaksanakan umrah. Di sela umrah, pada Selasa kemarin, Anies bertemu dengan imam besar Masjid Nabawi Syekh Sholah al-Budair.
Juru bicara Anies-Sandi, Naufal Firman Yursak, mengatakan pertemuan tersebut atas undangan langsung sang imam saat mengetahui Anies sedang berada di Madinah.
Anies sangat beruntung bisa bertemu dengan Syekh Sholah. Pasalnya, tidak semua orang bisa bertemu dengan imam besar Masjid Nabawi tersebut. “Bahkan bila ada tamu dari luar datang, meski menteri sekalipun, jarang mau diterima oleh imam besar,” kata Naufal dalam keterangan tertulis, Rabu (7/6/2017).
Kali ini, Syekh Sholah langsung mengundang Anies. Undangan itu diberikan saat dia mengetahui Anies sedang berada di Madinah. “Hal ini jarang terjadi,” ucap Naufal.
Pertemuan itu digelar di lantai tiga kantor Masjid Nabawi. Bagian kantor itu berada di tengah-tengah masjid. Dari ruangan itu, bisa terlihat seluruh bagian masjid yang dibangun pada tahun 622 Masehi tersebut.
Saat bertemu dengan Anies, Syekh Sholah tidak sendiri. Dia didampingi kepala kesekretariatan dan kepala humas Masjid Nabawi.
Pertemuan itu, lanjut Naufal, berlangsung hangat dan bersahabat. Banyak hal yang dibahas. “Mulai dari kondisi umat Islam di dunia hingga apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Beliau tampak sangat memperhatikan kondisi di Indonesia,” ujar dia.

Anies doa bersama dengan Syekh Sholah, Imam Masjid Nabawi
Seusai pertemuan, Syekh Sholah juga memimpin doa bersama. Syekh Sholah, yang pernah menjadi imam di Masjidil Haram, juga berjanji mendoakan Indonesia pada doa kunut saat salat tarawih yang dipimpinnya.
Anies tak hanya bertemu dengan imam besar. Pada siang harinya, Anies juga bersilaturahmi dengan empat muazin di Masjid Nabawi. Mereka juga ingin bertemu dengan Anies.
“Mereka (para muazin) terkesima dengan Indonesia. Terutama dengan besarnya bangsa dan sebaran penduduk di kepulauan hingga menghasilkan keberagaman bahasa dan budaya yang luar biasa,” ucap Naufal
Sumber : Detik
by Danu Wijaya danuw | Jun 6, 2017 | Artikel, Dakwah
Qatar adalah negara pulau mungil di Timur Tengah, sekarang tengah diblokade oleh Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan rezim-rezim Arab sekutu Amerika dan Zionis Israel.
Negara-negara Arab yang terlihat mendiamkan Zionis itu marah terhadap Qatar, karena membuka negaranya untuk menjadi suaka ulama-ulama dan pejuang-pejuang Islam terutama yang anti Zionis.
Qatar memang saat ini menampung banyak ulama-ulama yang lurus yang diburu rezim-rezim Arab. Termasuk diantara ulama ini adalah Dr Yusuf Qaradhawi, yang menjadi Ketua Persatuan Ulama Sedunia.
Qatar juga mengizinkan pejuang-pejuang Hamas dari Palestina untuk tinggal di negaranya dan bahkan konsisten membantu secara finansial pemerintah Hamas di Jalur Gaza.
Tidak cuma itu, Qatar juga menampung banyak aktivis Ikhwanul Muslimin yang sekarang diburu oleh rezim As Sisi yang bengis dan kejam.
Ketika Presiden Mohammad Mursi dari IM berkuasa, Qatar adalah negara pertama dan paling banyak membantu pemerintah Mursi dengan bantuan keuangan.
Tidak banyak yang tahu, Dinasti Emir Tamim bin Hamad Al Thani yang berkuasa di Qatar sekarang berasal dari Bani Tamim.
Emir Qatar adalah anggota dinasti Al-Thani. Qatar didirikan pada tahun 1868 oleh Muhammad bin Thani. Keluarga Al-Thani merupakan keturunan Tamim.
Bani Tamim bukan saja salah satu kabilah atau klan Arab terbesar, tetapi juga klan sahabat Rasullullah, Abu Bakar As Siddiq.
Bani Tamim juga salah satu klan yang dicintai Rasulullah SAW dan kabilah yang akan mendukung Imam Mahdi melawan Dajjal.
Berikut hadits-haditsnya:
Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW telah mengambil tangan Ali RA dan bersabda: “Akan keluar dari sulbi pemuda ini (Ali) yang memenuhi dunia dengan keadilan (Imam Mahdi). Bilamana kamu melihat yang demikian itu, maka wajib kamu mencari Putera dari Bani Tamim, dia datang dari sebelah Timur dan dia adalah pemegang panji-panji Al Mahdi” (HR. Tabrani)
Dari Abu Hurairah RA dia berkata; “Saya akan senantiasa mencintai Bani Tamim, karena tiga hal yang pernah saya mendengar dari Rasulullah SAW tentang mereka:
Pertama, saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Mereka (Bani Tamim) adalah umatku yang paling gigih melawan Dajjal.’
Kedua, ada seorang tawanan perempuan dari Bani Tamim di rumah Aisyah. Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Hai Aisyah, bebaskanlah ia! Karena ia adalah keturunan Ismail.’
Ketiga, Rasulullah SAW pernah bersabda ketika ada zakat dari Bani Tamim: ‘Ini adalah zakat kaum kami.’ (HR. Bukhari)
Ikrimah RA berkata; seorang lelaki sahabat Nabi SAW menceritakan kepadaku, bahwa pernah Bani Tamim disebut-sebut di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba seorang laki-laki berkata; “Suku dari Bani Tamim ini berlambat-lambat dalam perkara ini (zakat).”
Rasulullah SAW kemudian memandang ke arah lelaki suku Muzainah itu seraya berkata: “Mereka (Bani Tamim) tidak lebih lambat dari kalian.”
Suatu hari seorang laki-laki juga pernah berkata, “Mereka dari suku Bani Tamim itu lamban dalam memberikan sedekahnya.”
Ikrimah melanjutkan, “Maka datanglah unta dan kain indah milik suku Bani Tamim”.
Rasulullah SAW lantas bersabda: ‘Ini adalah unta kaumku.’
Kemudian suatu hari ada seorang laki-laki dari suku Bani Tamim berada di sisi Rasulullah SAW, beliau lalu bersabda: “Janganlah kalian katakan sesuatu kepada Bani Tamim kecuali yang baik, sebab mereka adalah orang-orang yang lemparannya paling jauh kepada Dajjal.” (HR. Ahmad)
Adakah blokade kepada Dinasti Bani Tamim di Qatar menjadi salah satu tanda-tanda mendekatnya Yaumus Sa’ah (hari Kiamat)?
Wallahu ‘alam
Sumber : ngelmu.id
by Danu Wijaya danuw | Jun 6, 2017 | Fatwa
JAKARTA–Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa tentang hukum dan pedoman bermuamalah di media sosial pada Senin (5/6/2017). Fatwa ini dibuat karena selama ini ada dampak positif maupun negatif dari penggunaan media sosial.
Asrorun Ni’am Sholeh selaku Sekretaris Komisi Fatwa MUI, berpendapat media sosial memiliki dua sisi.
- Pertama sisi positif, digunakan untuk kepentingan kehidupan sosial dan silaturahmi.
- Kedua sisi negatif, yang dapat memicu pelanggaran hukum dan keresahan sosial.
“Dilatarbelakangi oleh media digital yang memiliki nilai pemanfaatan untuk kepentingan silaturahmi, kehidupan sosial, dan pendidikan. Akan tetapi di sisi lain memicu keresahan sosial, pelanggaran hukum, dan disharmoni antar sesama dan kestabilan nasional,” ujar Ashrorun, saat membacakan Fatwa Hukum Bermuamalah di Media Sosial, di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Senin (5/6/2017).
Fatwa ini merupakan dasar pemikiran berbagai pihak baik dari para ulama, pemerintah, dan masyarakat luas. “Dari berbagai pihak MUI bertujuan memberikan landasan pemanfaatan medsos dengan baik melalui fatwa ini,” imbuh Ashrorun.
Di dalam fatwa tersebut, dijelaskan bahwa yang dimaksud muamalah adalah proses interaksi antar individu atau kelompok yang terkait dengan hablun minannas (hubungan antar sesama manusia) meliputi pembuatan (produksi), penyebaran (distribusi), akses (konsumsi), dan penggunaan informasi dan komunikasi.
Di dalam Fatwa MUI No 24 Tahun 2017 tersebut juga dijelaskan bahwa setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk:
- Haram melakukan ghibah, fitnah, naminah, dan penyebaran permusuhan.
- Haram melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan.
- Haram menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup.
- Haram menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i.
- Haram menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.
- Haram memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat.
- Haram memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoax, ghibah, fitnah, naminah, aib, bullying, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak.
- Haram mencari-cari informasi tentang aib, gosip, kejelekan orang laim atau kelompok hukumnya haram kecuali untuk kepentingan yang dibenarkam secara syar’i.
- Haram memproduksi dan/atau menyebarkan konten/informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olaj berhasil dan sukses, dan tujuan memyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak.
- Haram menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, pdahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke publik, seperti pose yang mempertontonkan aurat.
- Haram menjadi buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, ghibah, fitnah, naminah, bullying, aib, gosip, dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non ekonomi, hukumnya. Demikian juga haram menjadi orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.
Dalam kesempatan ini, MUI memberikan secara simbolik fatwa kepada Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo).
Menkominfo Rudiantara mengapresiasi pemberian fatwa tersebut sebagai rekomendasi kepada pemerintah untuk menjaga dan meminimalisasi penyebaran konten-konten negatif di media sosial.
“Berdasarkan rekomendasi MUI ini bukan akhir tapi awal kerja sama dengan MUI. Mensosialisasikan fatwa ini, bagaimana menggunakan ini sebagai rujukan dari MUI untuk mengelola dan memanajemen konten-konten negatif di sosmed,” ujar Rudiantara.
Sumber : Kumparan/Ngelmu/MUI
Selengkapnya bisa dilihat di sini: fatwa-nomor-24-2017-ttg-hukm-dan-pedoman-bermuamalah-melalui-medsos-final-ses (1)
by Danu Wijaya danuw | Jun 5, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Awal pekan ini diawali dengan berita oleh putusnya hubungan antara Arab Saudi dan Qatar. Langkah-langkah pemutusan hubungan langsung dilakukan, termasuk pengusiran diplomat dan warga dari Qatar oleh Arab Saudi yang diikuti negara-negara Teluk.
Arab Saudi, Mesir, Bahrain dan Uni Emirat Arab, dan Yaman pada Senin (5/6) serentak menyatakan “bercerai” dengan Qatar.
Penyebab Alasan Putus Diplomatik
Alasannya, Qatar dinilai tidak lagi berada bersama mereka dalam memerangi terorisme dan provokasi sektarian oleh Iran.
Tudingan ini bermula dari tulisan di kantor berita Qatar, Qatar News Agency, pada 24 Mei lalu. Dalam tulisan itu, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, dilaporkan berpidato dalam sebuah upacara militer, menyebutkan bahwa Iran adalah “kekuatan besar” dan mengatakan hubungan Qatar dengan Israel “baik”.
Pernyataan Emir ini juga dikutip dalam news-ticker siaran stasiun televisi Qatar, namun tanpa menampilkan cuplikan pidato.
Dalam kutipan itu, Emir mengatakan: “Iran mewakili kekuatan regional dan Islam yang tidak bisa diabaikan, dan tidak bijaksana jika melawan mereka. Iran adalah kekuatan besar dalam stabilitas di kawasan.”
Pernyataan ini membuat Arab Saudi dan negara-negara Teluk berang. Pasalnya, Iran adalah rival mereka dalam berebut pengaruh di kawasan. Saudi dan Iran berseberangan dalam berbagai konflik di Timur Tengah, seperti di Yaman dan Suriah.
Konfirmasi dari Qatar tentang ‘Peretasan’ dan ‘Berita Palsu’
Tidak lama setelah itu, pemerintah Qatar seakan kebakaran jenggot. Mereka mengklaim bahwa pemberitaan itu tidak benar.
Menurut mereka, kantor berita Qatar telah diretas dan ditulisi berita hoax mengatasnamakan Emir.
Menurut juru bicara pemerintah Qatar, Saif Ahmed Al Thani, hacker telah membuat kutipan palsu dari Emir dan Menlu Qatar.
News-ticker yang memuat kutipan itu juga tidak muncul di tayangan televisi Qatar, melainkan rekaan di tayangan Youtube.
Untuk membuktikan klaimnya, Qatar bahkan mendatangkan penyidik dari Amerika Serikat.
Menurut media-media Saudi juga tidak peduli dengan klaim Qatar tersebut. Para komentator mengatakan, walau itu peretasan, namun kutipan itu mewakili pandangan sebenarnya dari pemimpin Qatar.
Dalam tulisan opini di Saudi Gazette, pengamat dan pengusaha Hussein Shobokshi, menuliskan bahwa sikap politik Qatar yang mulai mentolerir Iran, dan Hizbullah, telah ditunjukkan sejak Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani memperoleh kekuasaan dari ayahnya.
Putus Hubungan Diikuti Sekutu Arab Saudi
Buntut dari kisruh media itu adalah putusnya hubungan antara Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain dengan Qatar dengan alasan keamanan nasional.
Qatar disebut mendukung terorisme dan konflik sektarian yang mengancam stabilitas kawasan.
Saudi dan sekutunya disebut berang dengan Qatar yang mendukung Iran di tengah upaya mereka menyudutkan Teheran akibat konflik sekretarian di Suriah dan Yaman.
Sebelumnya bulan lalu, Saudi dan AS sepakat untuk bersatu melawan Iran. Masalah pengaruh syiah Iran di timur tengah dan penjuru dunia membuat kekhawatiran sendiri. Sementara nuklir Iran menjadi kekhawatiran PBB.
Sumber : Kumparan
by Danu Wijaya danuw | Jun 5, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Pengguna media sosial kembali dihebohkan dengan sebuah pemberitaan kontroversial yang melibatkan perusahaan penyedia jaringan telepon, Indosat.
Menurut kabar yang beredar, perusahan Indosat memecat seorang karyawan yang hanya kedapatan membela Imam Besar (Front Pembela Islam) Habib Rizieq.
Kehebohan netizen itu tertuang dalam agar #BoikotIndosat yang sudah menjadi trending topic di media sosial Twitter.
Tagar itu sendiri berisi soal topik-topik dan percakapan terkait pemecatan seorang karyawan Indosat bernama Riko M. Ferajab.
Banyak netizen menyuarakan kritik dan kebanyakan menghujat kebijakan Indosat yang dianggapnya sudah membuat keputusan sepihak yang amat merugikan.
“Jika benar-benar terjadi pemecatan, maka kita serukan #BoikotIndosat!! #BoikotIM3!!,” tulis pemilik akun bernama @YudhiVernanda.
“Indosat berani pecat orang Muslim karena membela Islam dan Ulama,” cuit @CondetWarrior.
Bahkan kemarahan netizen rupanya tidak hanya dengan bentuk hashtag, beberapa diantaranya justru meninggalkan penggunaan kartu chip keluaran Indosat, walaupun mereka sudah menggunakannya selama belasan tahun.
“Yaudah gw boikot sj indosat ini. Beda pandangan politik jgn dbawa2 ke pekerjaan. Klu masih sama2 jd kuli nyadar diri lah.” @BuddySatriaz
“Kami sekeluarga pelanggan setia Indosat sejak 12 tahun lalu. Atas tindakan sewenang2 Anda ini kami akan ganti provider lain. #BoikotIndosat “ @roninpribumi
“Mulai kemarin, 11 orang anggota keluarga kami buang nomor Indosat yg sudah dimiliki lebih dari 10 tahun !! #BoikotIndosat #BoikotIndosat,” @ZAEffendy
Peristiwa ini sendiri diduga bermula dari sebuah postingan yang diunggah oleh Riko di akun Facebook pribadinya pada Selasa (30/5/2017) silam.
Kemudian dilanjutkan dengan tulisan, “Semoga Allah SWT berkenaan utk mengamanahkan kekuasaan kepada Habib agar bisa menegakkan keadilan di negeri ini dg seadil2nya
Dan segera menyeret org2 zalim yg saat ini berkuasa, serta siapa pun yang punya andil dlm kriminalisasi para ulama dan fitnah2 thd umat islam, hingga ke pengadilan dan tiang gantungan. #PSHRSfor2019 #KamiBersamaHRS”
Pria yang menulis dan memposting dukungannya kepada Habib Rizieq Syihab ini, bernama Riko M Ferajab dan bekerja sebagai Manager Business Inteligent & Reporting di perusahaan provider Ooredoo Indosat, akhirnya harus menerima sikap tegas dari pihak perusahaan seperti yang disebut oleh seorang petinggi Indosat, Alexander Rusli melalui akunnya @alexanderrusli.
“Sebagai perusahaan kami tdk tolerate sama sekali pegawai yang anti NKRI.” Tulis Alexander ketika membalas permintaan dari akun pendukung Ahok, Ulin Yusron.
Pendukung Ahok ini yang meminta kepada pihak Indosat melalui akunnya @ulinyusron dan @asep_ibrahim201 untuk memecat Riko.
Walaupun sudah ada yang mencoba untuk mengkroscek lagi kembali, namun Alexander tetap bersikeras.
“Bukan hoax Pak. Langkah sudah diambil. Spt yg disampaikan terpisah kami tdk tolerir staf yg terbukti tdk sejalan dgn negara dan pemerintah.” Jawab @alexanderrusli yang menjabat sebagai CEO Indosat menggantikan Erik Meijer.
Namun netizen justru merasa heran dengan pernyataan Alexander yang menganggap jika tulisan tersebut, maka Riko dianggap anti NKRI.
“Saya masih gagal paham dgn kalian. Sebelomnya bahas staf tdk sejalan dgn pem. Yg ini koment ttg intoleransi. Yg jadi pointnya apa nih?.” Heran akun bernama @Privideniya_TL
“Tidak sejalan apa harus menjilati? Teman sejalan itu, mengingatkan kalau khilaf. Aneh. #BoikotIndosat saja lah.” @SophiaNerissa
“Gak usah berlebihan komentarnya. Anda amat NKRI sekali.” Sindir akun untuk CEO sombong itu, dari akun @eae18 alias Efendi yang dikenal sebagai salah satu dosen perguruan tinggi di Jakarta.
“Apa yg anda maksud anti NKRI? Bersikap kritis thd pemerintah itu intoleran? Alangkah kerdilnya anda. Sombongmu adalah nasib malangmu.”_ @bandabening
Akibatnya kemarahan netizen khususnya umat Islam kepada pihak Indosat langsung ditumpahkan, dengan berencana untuk memboikot Indosat, dengan memakai hestek #BoikotIndosat.
Sumber : Kabarin.co/PembawaBerita/