by Danu Wijaya danuw | Jun 3, 2017 | Artikel, Dakwah
Masyhur tak selamanya jadi jaminan. Begitulah yang terjadi pada doa berbuka puasa. Doa yang selama ini terkenal di masyarakat, belum tentu shahih derajatnya.
Terkabulnya doa dan ditetapkannya pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dari setiap doa yang kita panjatkan tentunya adalah harapan kita semua. Kali ini, mari kita mengkaji secara ringkas, doa berbuka puasa yang terkenal di tengah masyarakat, kemudian membandingkannya dengan yang shahih. Setelah mengetahui ilmunya nanti, mudah-mudahan kita akan mengamalkannya. Amin.
Doa Berbuka Puasa yang Terkenal di Tengah Masyarakat
Lafazh pertama:
اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت
”Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Doa ini merupakan bagian dari hadits dengan redaksi lengkap sebagai berikut:
عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَ عَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
“Dari Mu’adz bin Zuhrah, sesungguhnya telah sampai riwayat kepadanya bahwa sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau membaca (doa), ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu’ (ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka).”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud, dan dinilai Dhaif (lemah) oleh Syekh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud.
Perawi hadist bernama Mua’dz ini tidak dianggap sebagai perawi yang tsiqah. Keterangan lainnya menyebutkan bahwa Mu’adz adalah seorang tabi’in. Sehingga hadits ini mursal (di atas tabi’in terputus). Hadits mursal merupakan hadits dho’if karena sebab sanad yang terputus. Syaikh Al Albani pun berpendapat bahwasanya hadits ini dho’if.
Di antara ulama yang mendho’ifkan hadits semacam ini adalah Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.
Lafazh kedua:
اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت
“Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka).”
Mulla ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan ‘wa bika aamantu‘ adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih.”
Artinya do’a dengan lafazh kedua ini pun adalah do’a yang dho’if sehingga amalan tidak bisa dibangun dengan do’a tersebut.
Berbuka Puasa dengan Doa-doa berikut Ini
1. Do’a pertama:
Terdapat sebuah hadits shahih tentang doa berbuka puasa, yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ
“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.”
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki
(Hadits shahih , Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678)
Periwayat hadits adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Pada awal hadits terdapat redaksi, “Abdullah bin Umar berkata, ‘Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau mengucapkan ….‘”
Yang dimaksud dengan إذا أفطر adalah setelah makan atau minum yang menandakan bahwa orang yang berpuasa tersebut telah “membatalkan” puasanya (berbuka puasa) pada waktunya (waktu berbuka).
Oleh karena itu doa ini tidak dibaca sebelum makan atau minum saat berbuka.
Sebelum makan tetap membaca basmalah, ucapan “bismillah” sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.
(HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)
2. Do’a kedua:
Adapun doa yang lain yang merupakan atsar dari perkataan Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma adalah,
اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، أنْ تَغْفِرَ لِيْ
“Allahumma inni as-aluka bi rohmatikal latii wasi’at kulla syain an taghfirolii-ed”
[Ya Allah, aku memohon rahmatmu yang meliputi segala sesuatu, yang dengannya engkau mengampuni aku]
(HR. Ibnu Majah: 1/557, no. 1753; dinilai hasan oleh al-Hafizh dalam takhrij beliau untuk kitab al-Adzkar; lihat Syarah al-Adzkar: 4/342)
Disadur : Konsultasi Syariah
by Danu Wijaya danuw | Jun 3, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Membuang muka adalah memalingkan muka atau menghadapkan muka ke lain arah ketika berbicara dengan orang lain.
Membuang muka ketika berbicara dengan orang lain merupakan perilaku yang merendahkan lawan bicara dan cerminan sifat tinggi hati pembicara. Allah telah membahas ini dalam firmannya:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong); dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi tinggi hati.” (QS. [31] ayat 18).
Maksud ayat di atas adalah apabila kita berhadapan dengan orang yang sedang berbicara dengan kita, kita tidak boleh memalingkan muka dari lawan bicara kita. Sebaliknya, hendaklah kita menghadapkan wajah kita kepada lawan bicara kita dan mendengarkannya dengan seksama dan penuh persaudaraan.
Memalingkan atau membuang muka dari siapapun merupakan perilaku yang tidak disukai oleh Allah dan Rasul-Nya, karena sikap semacam ini adalah bukti kesombongan dan tinggi hati pelakunya. Bersikap sombong dan tinggi hati adalah perbuatan yang sangat dimurkai oleh Allah swt
Rasulullah SAW pun bersabda:
“Janganlah kamu saling membenci, jangan saling mendengki, dan jangan saling membelakangi; tetapi hendaklah kamu sekalian menjadi hamba Allah yang saling bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Anas)
Islam menaruh perhatian yang sangat besar terhadap akhlak seseorang dalam menghadapkan muka ketika berdialog dengan lawan bicara. Karena sikap seseorang ketika berbica dengan orang lain mencerminkan tingkat penghormatan kepada lawan bicara. Apa lagi apabila lawan bicara kita adalah ibu bapak sendiri. Sudah tentu haknya untuk diperlakukan dengan penuh rasa hormat lebih besar daripada orang lain sebagai lawan bicara.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang anak-anak membuang muka ketika bertemu dengan orang tuanya; atau ketika disuruh menghadap kedua orang tuanya. Mereka menjawab sambil memalingkan muka ke arah lain. Perilaku semacam ini adalah bukti sikap penghinaan terhadap lawan bicara. Apalagi yang menjadi lawan bicara adalah ibu bapak sendiri.
Maka dari itu, ketika bertemu dengan orang tuanya, hendaknya anak-anak menghadapkan wajahnya kepada mereka. Jika anak dipanggil menghadap orang tuanya, hendaklah mukanya dihadapkan kepada mereka. Menghadapkan muka kepada orang tua ketika berbicara termasuk memperlakukannya secara hormat. Mendapatkan perlakuan hormat dari anak-anak mereka adalah hak orang tua.
Namun, apabila anak telah melakukan kedurhakaan dengan memalingkan mukanya ketika berbicara dengan orang tua, hendaklah ia segera meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Ketika seorang anak sudah meminta maaf atas kesalahannya, alangkah lebih bijaknya jika orang tua mampu memaafkan kesalahan anaknya tersebut dan mendidiknya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Sumber : Buku 20 perilaku Durhaka Anak Terhadap Orang Tua
Oleh : Drs. M. Thalib, Penerbit : Irsyad baitus Salam
by Danu Wijaya danuw | Jun 2, 2017 | Artikel, Hadist Palsu
Sebenarnya bagi mereka yang suka menghidupkan malam Ramadhan tidak perlu dengan adanya hadis palsu seperti ini, barulah mereka akan bersungguh-sungguh menghidupkan amalan Tarawih.
Oleh karena itu jangan dibaca dan disebarkan hadis palsu fadhilat solat tarawih setiap malam, nanti kita termasuk dalam golongan yang berdusta ke atas Nabi SAW, sehingga dilarang keras oleh Baginda Rasul.
Begini bunyi hadistnya; Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang keutamaan Shalat Tarawih pada Bulan Ramadhan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
- Di malam pertama, Orang mukmin keluar dari dosanya , seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
- Di malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
- Di malam ketiga, seorang malaikat berseru di bawah Arsy: ‘Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.’
- Di malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan.
- Di malam kelima, Allah Ta’ala memberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjid al-Haram, masjid Madinah, dan Masjid al-Aqsha.
- Di malam keenam, Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang ber-thawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
- Di malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa ‘alaihissalam dan kemenangannya atas Firaun dan Haman.
- Di malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
- Di malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Di malam kesepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
- Di malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
- Di malam kedua belas, ia datang pada hari kiamat dengan wajah bagaikan bulan di malam purnama.
- Di malam ketigabelas, ia datang di hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
- Di malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
- Di malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para pemikul Arsy dan Kursi.
- Di malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
- Di malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
- Di malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, ‘Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.’
- Di malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajatnya dalam surga Firdaus.
- Di malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
- Di malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya gedung dari cahaya.
- Di malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
- Di malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
- Di malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
- Di malam kedua puluh lima, Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
- Di malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
- Di malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
- Di malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
- Di malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
- Di malam ketiga puluh, Allah ber firman : ‘Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku.’
Sumber hadits ini disebutkan oleh Syaikh al-Khubawi dalam kitab Durrotun Nashihiin, hal. 16 – 17 (terbitan Mesir tahun 1949). Tetapi setelah dikaji ulama berbagai negara menunjukkan kepalsuan hadist atau dikenal hadist maudhu (palsu).
Berikut ini beberapa indikasi atas palsunya hadits tersebut :
1. Pahala yang terlalu besar untuk amalan yang sederhana.
Banyak keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam hadits di atas termasuk dalam kejanggalan jenis ini, misalkan pada lafadz “Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.”
2. Yang lebih parah adalah seseorang bisa mendapatkan pahala sebanding dengan pahala para Nabi, disebutkan dalam keutamaan shalat tarawih pada malam ke-17.
Hal tersebut mustahil terjadi, karena sebanyak apapun amalan ibadah manusia biasa, tentu dia tidak akan mampu menyamai pahala Nabi.
Nubuwah (Kenabian) merupakan pilihan dari Allah semata. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Hajj : 75.
3. Tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad (sandaran hadistnya).
Hadits tentang 30 keutamaan shalat tarawih di atas, tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad.
Syaikh DR. Lutfi Fathullah mengatakan, “Jika seseorang mencari hadits tersebut di kitab-kitab referensi hadits, niscaya tidak akan menemukannya.” Hal tersebut mengindikasikan bahwa hadits tersebut adalah hadits palsu.
Pendapat para Ulama
Lebih jauh lagi, apabila kita memperhatikan perkataan para ulama tentang hadits itu, tentu akan kita dapati mereka menganggapnya hadits palsu.
1. Al-Lajnah ad-Da’imah (Lembaga Fatwa Arab Saudi)
Al Lajnah ad Da’imah pernah ditanya tentang hadits tersebut, kemudian mereka menjawab,
كلا الحديثين لا أصل له، بل هما من الأحاديث المكذوبة على رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Hadits tersebut tidak memiliki landasan dan termasuk dalam hadits-hadits dusta terhadap Rasulullah saw. (al Lajnah ad Daimah Li al Buhuts al Ilmiyah wa al Ifta’ No. 8050)
2. Disertasi Syaikh DR. Lutfi Fathullah
Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan beliau dimana disertasi beliau meneliti kitab Durratun Nashihin. Beliau mengatakan:
“Ada sekitar 30 persen hadits palsu dalam kitab Durratun Nashihin. Diantaranya adalah hadits tentang fadhilah atau keutaman shalat tarawih, (yaitu) dari Ali radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallaam ditanya tentang keutamaan shalat tarawih, (lalu beliau bersabda) malam pertama pahalanya sekian, malam kedua sekian, dan sampai malam ketiga puluh.”
Hadits tersebut tidak masuk akal. Selain itu, jika seseorang mencari hadits tersebut di kitab-kitab referensi hadits, niscaya tidak akan menemukannya.
4. Lembaga Fatwa Kesultanan Brunei Darussalam
Lembaga Fatwa Kesultanan Brunei juga menyatakan kepalsuan hadist tersebut,
“Setelah merujuk kepada kitab-kitab hadis yang muktabar di kalangan ahli Sunnah Wal Jama’ah, termasuk kitab-kitab yang menjadi sandaran dalam pencarian hadis-hadis. Sehingga setakat ini tidak dijumpai hadis-hadis yang khusus menyebutkan tentang kelebihan sembahyang Tarawih dengan menyatakan ganjaran yang diperolehi pada setiap malam Ramadhan sepertimana yang dinyatakan.
Apa yang telah ditemui setakat ini, hanyalah riwayat-riwayat yang hampir sama dengannya dan dihubungkan sanadnya kepada sayyidina Ali Bin Abu Talib iaitu tersebut dalam kitab Bihar Al-Majlisi, salah Ramadhan.
Dan kirab Was’a’il Al- Syi’ah karangan Al-Shiekh Muhammad bin Al-Hasan Al-Har Al-‘Amili dalam bab Istihab Al-Shalah Al-Mukhshushah Kulla Lailah min Syahr Ramadhan wa Awwal Yaum Minh.
Maka sehubungan itu, oleh karena hadis yang ditanyakan itu tidak diketahui sumbernya, yang boleh ditanyakan itu tidak diketahui sumbernya yang boleh dii’timad, maka ia mestilah dihentikan daripada dipromokan melalui radio ataupun televisyen.
Sekiranya Pusat Da’wah Islamiah ingin menggalakkan orang ramai supaya rajin dan bersungguh-sungguh mengerjakan sembahyang Tarawih, adalah lebih baik hadis-hadis yang dipromokan itu diambil daripada kitab-kitab yang muktabar.
Fadhilat sembahyang Tarawih yang ada disebut dalam hadis-hadis yang terkandung dalam kitab-kitab sunan yang muktabar hanyalah secara umum sahaja, tanpa menyebut fadhilat 30 malam Ramadhan itu.”
Badan yang mengisu fatwa : Jabatan Mufti Kerajaan, Jabatan Perdana Menteri, Negara Brunei Darussalam
Penulis/Ulama : Pehin Datu Seri Maharaja Dato Paduka Seri Setia
Tarikh Diisu : 1999
Nota: Fatwa Mufti Kerajaan 1999
Sumber: infad.usim – Fatwa Brunei – Hadis Palsu
Lihat Juga: http://www.al-ahkam.net/home/hadis-fadhilat-tarawih-tiada-dalam-kitab-muktabar-ahlus-sunnah
3. Mufti Terengganu, Negara Malaysia
Dikeluarkan oleh: Jabatan Mufti Terengganu, Malaysia
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang. Puji-pujian bagi Allah Subhanahu wata’ala, Selawat dan salam ke atas junjungan kita Nabi Muhammad Sallaahu ‘alaihi wasallam serta para sahabatnya.
Sejak beberapa tahun kebelakangan ini satu hadis tentang kelebihan tarawikh pada malam-malam ramadhan telah tersebar dengan meluas sekali.
Namun begitu setelah diajukan pertanyaan kepada beberapa tokoh agama tanah air tentang kedudukan hadis ini, dari manakah ianya diambil, semuanya tidak dapat memberikan penjelasan.
Dan setelah diteliti dalam kitab induk hadis seperti Sunan Sittah dan lain-lain kitab hadis lagi, ianya tidak ditemui. Begitu juga dalam kitab-kitab hadis palsu (maudhu`aat) sendiri pun tidak didapati hadis ini.
Ini menunjukkan bahawa hadis ini merupakan satu hadis yang baru diada-adakan sehingga ulama-ulama hadis dahulu yang menulis tentang hadis maudhu` pun tidak mengetahui akan wujudnya hadis ini.
Kita tidak menafikan kelebihan sembahyang tarawih dan kedudukannya didalam sunnah. Namun begitu kita tidak mahu umat Islam tertipu dengan berbagai-bagai janji palsu yang menyebabkan umat Islam mengerjakan amalan-amalan kebaikan dengan mengharapkan sesuatu yang sebenarnya tidak akan diperolehinya.
Dengan tersebarnya hadis-hadis palsu seumpama ini juga akan mencemarkan kesucian hadis Rasulullah s.a.w. yang dipelihara dengan dengan begitu baik oleh ulama-ulama kita dahulu.
Sumber fatwa malaysia : http://mufti.islam.gov.my/terengganu/?subid=10&parent=06
Selamat menjalankan ibadah puasa dan mendirikan qiyam Ramadhan. Semoga diberi ilmu agar dapat menjauhi dusta atas nama Nabi SAW.
Sumber : Abu Anas Madani.com & Muslim.or.id
by Danu Wijaya danuw | Jun 2, 2017 | Artikel, Ramadhan
Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa hukum shalat tarawih adalah sunnah seperti yang sudah disepakati oleh para ulama.
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah shalat Tarawih, dan para ulama telah bersepakat bahwa shalat Tarawih itu hukumnya mustahab (sunnah/dianjurkan).” (Lihat Syarh Shohih Muslim VI/282, Dan kitab Al-Majmu’ III/526).
Keutamaan Shalat Tarawih
Disini akan dibahas keutamaan shalat Tarawih berdasarkan hadits-hadits yang Shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
1. Keutamaan Pertama
Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi siapa saja yang melakukan shalat Tarawih dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dan ridho Allah semata. Bukan karena riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar amal kebaikannya oleh orang lain.
Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم : « مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (yakni shalat malam pada bulan zromadhon) karena iman dan mengharap pahala dan ridho Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. al-Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat Tarawih.”
Ibnul Mundzir rahimahullah menerangkan berdasarkan nash (tekstual) hadits ini bahwa yang dimaksud: “pengampunan terhadap dosa-dosa yang telah lalu dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil.”
Sedangkan imam An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil saja. Karena dosa-dosa besar tidaklah diampuni dengan sebab melakukan amal-amal Sholih. Akan tetapi hanya dengan melakukan taubah Nasuha, yakni taubah yang sempurna.
2. Keutamaan Kedua
Barangsiapa melaksanakan shalat Tarawih berjamaah bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya pahala seperti orang yang melakukan qiyamul lail semalam penuh.
Hal ini berdasarkan Hadits Shohih berikut ini:
Dari Abu Dzar rdhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda:
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
“Sesungguhnya barangsiapa yang shalat (Tarawih) bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyamul lail satu malam penuh.”
(HR. An-Nasai no.1605, At-Tirmidzi no.806, Ibnu Majah no.1327, dan selainnya. Dan hadits ini dinyatakan SHOHIH oleh At-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani dalam Irwa’ Al-Gholil no. 447).
Demikian keutamaan shalat Tarawih berdasarkan hadits-hadits Shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala memberikan Taufiq dan pertolongan-Nya kepada kita semua untuk dapat istiqomah dalam melaksanakan shalat Tarawih dan ibadah lainnya di bulan Romadhon dan di bulan-bulan setelahnya. Amiin. (Klaten, 15 Juli 2013).
Sumber : Abi Fawaz
Oleh: Ustad Muhammad Wasitho Abu Fawaz
by Danu Wijaya danuw | Jun 2, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Sebuah bentuk toleransi dan kebersamaan antar-umat manusia terjadi di tengah krisis di Marawi, Mindanao, Filipina.
Sebanyak 39 warga Kristen yang terjebak dalam baku tembak antara militan Maute dan tentara diselamatkan dan ditampung di sebuah desa Muslim.
Wakil Gubernur Lanao del Sur Mamintal Adiong Jr, Minggu (27/5/2017) mengatakan, penyelamatan ke-39 orang itu diprakarsai seorang pejabat lokal beragama Islam, Salma Jayne Tamano.
“Ini adalah kisah yang bagus tentang persatuan umat Muslim dan Kristen yang layak dibagikan ke seluruh dunia,” ujar Adiong.
Adiong menambahkan, dia mengucapkan terima kasih kepada warga Muslim yang melindungi 39 warga Kristen itu dari marabahaya yang mengintai.
Sementara itu, kepala kepolisian Lanao del Sur, Senior Superintenden Oscar Nantes mengatakan, ke-39 orang itu selama lebih dari 36 jam bersembunyi tanpa mengonsumsi makana setelah kelompok militan menyerbut Maute kota Marawi.
Nantes mengatakan, tim penyelamat yang dipimpin Tamano juga menyelamatkan dua tetua Muslim yang memberikan perlindungan kepada 39 orang itu di kediaman mereka.
Kini para warga yang kelaparan itu sudah mendapatkan makanan dan tim kesehatan tengah mengevaluasi kesehatan mereka.
Sementara itu, Gubernur Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM), Mujiv Hataman menyebut anggota kelompok militan Maute telah kehilangan kendali.

Mujiv Hataman, Gubernur ARMM saat Pemilu mengajak memilih Duterte
Dia juga mengatakan agar kelompok-kelompok militan yang pro-ISIS agar menggunakan bulan Ramadhan sebagai sarana mengevaluasi diri.
“Saya harap mereka menyadari bahwa apa yang mereka yakini sebagai jihad adalah tidak benar karena mereka hanya akan menyakiti dan menghancurkan hidup mereka sendiri dan orang lain,” ujar Hataman.
Pada 2015, majelis ulama ARMM telah mengeluarkan fatwa bahwa terorisme atau perilaku kekerasan lainnya tak bisa disamakan dengan jihad.
“Sebab, Islam memerintahkan kita agar mengasihi semua makhluk hidup,” ujar majelis ulama ARMM.
Majelis melanjutkan, Islam tak bisa membenarkan praktik-praktik kejahatan atau terorisme. Sebab menyerang, merampok, menyebar teror, dan ketakutan dilarang dalam Islam.
Sumber : SindoNews
by Danu Wijaya danuw | Jun 2, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Dalam sepekan ini, nama kota Marawi yang terletak di Filipina menjadi pembicaraan dunia. Sebab, di kota tersebut sedang terjadi pemberontokan yang dilakukan oleh kelompok Maute. Bentrokan antara kelompok yang dituding sebagai teroris dengan militer Filipina tidak terelakkan.
Sudah banyak korban yang jatuh di antara kedua belah pihak. Kelompok Maute makin dikenal Karena pemberontakan itu diduga kuat punya kaitan dengan ISIS. Lantas seperti apa kota Marawi yang dihuni 201 ribu jiwa sebelum krisis berdarah itu terjadi?
Marawi sebelum konflik itu pecah, dikenal sebagai kota dengan penduduk mayoritas muslim. Itulah kenapa, dari kota seluas 87,55 km itu mudah ditemukan banyak sekali atribut muslim yang diperdagangkan.
’’Pedagang biasanya lewat Marawi karena banyak yang bisa dibeli terutama jilbab,’’ ujar Presiden Asosiasi Mahasiswa Asing Universitas Mindanao kota Davao, Chadijah Saraswati.

Gerbang masuk kota Islam Marawi dengan gubernur muslim sendiri
Marawi merupakan ibu kota dari provinsi Lanao del Sur. Penduduknya biasa disebut dengan Maranao dan bahasa yang digunakan adalah Maranao. Nama itu diambil dari sebuah danau yang berada di kota tersebut yakni Lanao. Nama danau itu jika dilafalkan adalah Ranao.
’’Kalau mau ke sana, butuh waktu sampai tujuh jam perjalanan dari Davao,’’ ujar Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Filipina Hidayatullah Negarawan. Kota Davao merupakan daerah asal dari presiden Filipina Rodrigo Duterte.
Sebagai kawasan yang 96 persen penduduknya muslim, hukum syariah sebenarnya berlaku di kota itu. Namun, tidak sepenuhnya mengikuti tata cara Islam dalam menjatuhkan hukum. Misalnya, tidak ada hukuman potong tangan, rajam, atau bentuk lain yang bertentangan dengan sistem di Filipina secara umum.
Hukum Islam bisa diterapkan di Marawi karena menjadi bagian dari Wilayah Otonomi Muslim Mindanao atau dikenal Autonomous Region in Muslim Mindanao (ARMM). Kekhususan itu muncul akibat dari pemberontakan di Filipina yang dimotori oleh Moro National Liberation Front (MNLF) pada 1972.
Keberadaan MNLF menuntut kebebasan. Apalagi, Mindanao merupakan kawasan di Filipina yang terpisah karena berbeda kepulauan. ARMM muncul sebagai hasil berunding antara MNLF dan pemerintah Filipina. Pada 1989 di Cotabato, menghasilkan kesepakatan adanya daerah otonomi muslim itu.
Marawi kerap disebut sebagai jantung komunitas Muslim di Filipina. Itulah kenapa, kehidupan yang Islami bisa dilihat di kota itu. Berbagai arsitektur khas Islam, termasuk masjid banyak ditemukan.

Salah satu masjid di Marawi
Dikutip dari www.vigattintourism.com, selain berjualan berbagai pernak pernik Muslim, orang Marawi mengandalkan agrikultur. Bagaimana untuk tujuan wisata? hanya beberapa informasi yang menyatakan sebagai tujuan wisata.
Selain masjid-masjid yang indah, turis bisa menuju Danau Lanao, Aga Khan Museum di Universitas Negeri Mindanao kota Marawi, Monumen Moncado Colony, sampai katedral Maria Auxiliadora.
Bisa jadi, Karena kawasan itu mengutamakan perdagangan, jadi tidak terlalu banyak tempat untuk wisata.
Sumber : JawaPos