by Danu Wijaya danuw | Jun 1, 2017 | Artikel, Ramadhan
Penting bagi muslimin untuk memperbanyak amal sunnah disaat puasa, diantaranya sebagai berikut :
1. Berdo’a ketika berbuka
Doa amat penting sebelum makan. Agar syautan tidak ikut makan dan .engambil keberkahan makanan kita. Waktu berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya do’a.
“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak akan ditolak ketika berbuka.” (HR. Ibnu Majah 1753, Al-Hakim 1/422, Ibnu Sunni 128, dan At-Thayalisi 299 dari dua jalur. Al-Bushiri mengatakan (2/81): ‘Sanad hadis ini shahih, perawinya tsiqqah’.
2. Memberi makan pada orang yang berbuka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga,”( HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
3. Lebih banyak berderma dan beribadah di bulan Ramadhan
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau.
Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus,” (HR. Bukhari no. 1902 dan Muslim no. 2308).
Sumber : Islampos
by Danu Wijaya danuw | Jun 1, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Habib Rizieq Shihab (HRS) dijadikan tersangka tepat di bulan Ramadhan, di mana umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa. Sebagian besar masyarakat Indonesia terganggu kekhusyu’an bulan puasa dengan kasus yang masih penuh kontra dan belum jelas tersebut.
“HRS ditersangkakan Polda Metro Jaya tepat di bulan Ramadahan ini takdir. Bulan Ramadhan, bulan jihad. Bisakah dibendung Polda Metro Jaya? Spirit jihad ini. Yuk, mikir,” tulis politisi Partai Bulan Bintang, MS Ka’ban di akun Twitter pribadi miliknya, Selasa (30/5/2017).
Bahkan dalam sumpah sebelum menjadi saksi pun menurut Ka’ban seharusnya tidak perlu diragukan kebenarannya.
“Untuk apa orang bersumpah sebelum diperiksa sebagai saksi ahli untuk tegak hukum? Kenapa ragu dengan mubahalah, tidak percaya? Coba saja entar. Rasakan akibatnya.”
Menurut Ka’ban, di bulan Ramadhan pula di mana setiap doa-doa menurutnya akan dikabulkan. “Siapa yang tahu doa para pencinta ulama. Dan doa qunut para ulama.”
Sebagaimana informasi yang didapat, rencana HRS akan pulang kemungkinan besar Minggu-minggu ini.
Ka’ban pun memprediksi kedatangan HRS nanti akan menyedot perhatian masyarakat.
“HRS yakin, dengan izin Allah SWT pulang dari Saudi ke Tanah Air lalu dijemput polisi dengan pasukan lengkap. Kemudian HRS ditahan/tidak bakal rame, lah.
Habib Rizieq Tersangka, Kuasa Hukum Angkat Tangan Jika Umat Islam Turun Ke Jalan
Penetapan tersangka terhadap Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab dinilai bisa memicu reaksi Umat Islam.
Menurut Kuasa Hukum Habib Rizieq, Kapitra Ampera, potensi umat muslim marah lantaran sang Imam diduga melakukan chat porno dengan Firza Husein, sangat besar.
Oleh sebab itu, pihaknya angkat tangan jika nantinya umat Islam akan turun ke jalan melakukan aksi besar kepada Polri.
Sumber : Voa Islam/Jawa Pos
by Danu Wijaya danuw | Jun 1, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membantah bahwa dirinya telah melarang Ustadz Bachtiar Nasir memberikan ceramah keagamaan di kampus-kampus.
“Benarkah UBN katakan hal itu? Mengapa media itu tak sebutkan nama rektor dan UIN apa? Mengapa tak konfirmasi ke saya? Mana cover both sides?” tweet Lukman Hakim melalui akun twitternya, selasa(30/5/2017), dilansir Islamedia.
Tweet yang ditulis Lukman merupakan jawaban dari pertanyaan yang disampaikan oleh Tokoh Muhammadiyah Ustadz Fahmi Salim.
“Kami ingin pertanyakan ini kepada yth @lukmansaifuddin benar atau tidak, mengapa spt itu?” tanya Ustadz Fahmi Salim melalui akun twitternya @Fahmisalim2.
Lukman juga menampilkan sebuah link website resmi Kementrian Agama kemenag.go.id yang berjudul “Forum Pimpinan PTKIN: Menag Tidak Pernah Larang Ceramah Keagamaan di Kampus”.
“Semoga klarifikasi Forum Pimpinan Rektor PTKIN ini mampu menepis ‘berita’ yg tak ‘cover both sides’ itu” tweet Lukman.
Sementara pihak Forum pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menegaskan bahwa Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin tidak pernah melarang siapapun untuk menyampaikan ceramah keagamaan di kampus.
Hanya saja Forum pimpinan PTKIN mengaku pernah mendapatkan arahan dari Menteri Agama, tapi itu terkait dua hal berikut:
Pertama, memantau dan mengawasi aktivitas kemahasiswaan, dosen, dan segenap civitas akademika agar tidak menyebarkan ajaran/paham ekstrem dan radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moderasi Islam serta Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Menag juga meminta agar rekruitmen dosen dan tenaga kependidikan diseleksi dengan ketat terkait paham dan komitmennya terhadap nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Kedua, menyampaikan dan menjelaskan ke publik melalui media massa di daerahnya tentang sikap penolakan terhadap paham dan gerakan Khilafah beserta alasan-alasan yang menyertainya.
Seperti diketahui bahwa bereda berita yang didasarkan pada pernyataan Ustadz Bachtiar Nasir yang mengisi masjid Jogokariyan.
Ustadz Bachtiar mengungkapkan bahwa dirinya dilarang ceramah di kampus oleh Menteri Agama.
“Ketika saya dilarang untuk bicara di Universitas Islam Negeri (UIN), saya ketemu salah satu rektor UIN di daerah lain. Lalu diperlihatkan whatsapp nya, yang melarang saya ternyata Menteri Agama. Karena ada grupnya.” imbuhnya.
Sumber : pekanews
by Danu Wijaya danuw | Jun 1, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
SEMARANG – Ranu Muda Adi Nugroho, wartawan Panjimas.com, yang sempat mendekam di balik terali besi selama berbulan-bulan akhirnya menghirup udara bebas. Ranu dan para tokoh pimpinan Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) yang ditangkap pada akhir Desember 2016 lalu divonis bebas.
Ranu yang saat itu tengah bertugas meliput, ikut terseret kasus aksi nahi munkar kemaksiatan di cafe Social Kitchen yang menjajakan miras dan tarian erotis. Namun justru dipenjarakan.
Hari ini di persidangan terakhirnya di Pengadilan Negeri Semarang, Jalan Siliwangi 512, Semarang, Jawa Tengah, pada Rabu (31/5/2017), Ranu dan tokoh LUIS akhirnya divonis bebas.
“Menimbang pasal yang didakwakan oleh Jaksa penuntut umum, 1, 2 , 3, 4 dan 5 dan adanya bukti-bukti maka terdakwa dinyatakan tidak terbukti. Untuk itu Pengadilan Negeri Semarang menjatuhkan kepada para terdakwa, Edi Lukito, Salman Al Farizi, Yusuf Suparno, Endro Sudarsono, Joko Sutarto, Ranu Muda Adi Nugroho, Laksito dan Mulyadi tidak terbukti secara sah dengan dakwaan jaksa,” kata Pudji Widodo, Ketua Majelis Hakim PN Semarang.
“Membebaskan para terdakwa dan biaya perkara ditanggung oleh Negara,” imbuhnya seperti dikutip dari Panjimas
Menanggapi vonis bebas, Ranu Muda Adi Nugroho bersyukur kepada Allah Ta’ala. Setelah berbulan-bulan mendekam di penjara, akhirnya terbukti bahwa dirinya tidak bersalah. Ia berharap, jangan ada lagi jurnalis yang dikriminalisasi seperti dirinya.
“Pada kesempatan ini saya ingin sampaikan bahwa semoga saya jurnalis yang terakhir dikriminalisasi. Terakhir dan tidak ada lagi jurnalis yang diperlakukan seperti saya,” kata Ranu kepada wartawan usai sidang.
Ada banyak pihak yang selama ini mendukung Ranu dan kuasa hukumnya untuk memperjuangkan hak-haknya mencari keadilan sebagai warga negara. Oleh sebab itu ia tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukungnya.
“Terima kasih umat Islam semuanya yang terus menerus mendoakan saya,” pungkasnya.
Selama dipenjara, Ranu mengubah sel menjadi tempat berdakwah.
Rhanu menggelar majelis ta’lim yang diikuti narapidana di Kedung Pane.
Meski ia bukan Ustadz Kondang dan majelis ta’limnya itu hanya sederhana, setidaknya ia bisa mengisi waktu selama di dalam penjara, dengan terus beramal shalih. Ranu menyebutkan, salah satu santrinya itu adalah seorang muallaf.
“Ada tiga napi yang saat ini belajar Al Quran. Jika tak ada jadwal sidang, mereka belajar di kamar saya,” ujarnya
Anggota JITU (Jurnalis Islam Bersatu) ini memang sudah dikenal masyarakat khususnya tetangga sekitar rumah Ranu di Solo, sebagai aktivis masjid.
“Salah satu dari napi tersebut adalah seorang mualaf. Ia tertarik dengan Islam dan setiap hari kita belajar bersama. Mulai belajar shalat beserta bacaannya dan juga belajar Iqra,” ucapnya.
Sumber : Panjimas
by Danu Wijaya danuw | Jun 1, 2017 | Artikel, Ramadhan
SEBAGAIMANA dengan hadits Rasulullah SAW, “Pemimpin terbaik bagi kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Pemimpin terburuk bagi kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka membenci kalian,” (HR. Muslim).
Dapat dilihat dari kutipan hadits di atas, bahwa hubungan di antara pemimpin dan rakyat harus ada sebuah ikatan kasih sayang, dan diperlukannya kerjasama yang solid agar terciptanya sistem pemerintahan yang dapat menyejahterakan semua rakyat di sebuah negara tertentu. Tidak terkecuali dengan Indonesia. Akan damai negeri ini jika didalamnya terdapat orang-orang yang saling membangun hubungan dengan dilandasi cinta, kasih sayang, keikhlasan, dan saling mendoakan. Nah, inilah yang selama ini sering kita lupakan, rakyat dan pemimpin seolah menafikan campur tangan Tuhan dalam menuju bangsa yang lebih baik lagi.
Padahal, bila saja pemimpin dan seantero rakyat ini saling mendoakan dan bersama-sama saling memohon ampun, maka tidak lama lagi akan terwujud perbaikan dari berbagai lini kehidupan. Allah berfirman, “Maka Aku katakan kepada mereka: Mohon ampunlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai,” (QS. Nuh [71]: 10-12).
Menilik dari ayat Allah tersebut, bahwa terdapat solusi dari berbagai masalah yang menimpa negeri ini, yakni dengan berdoa pada Allah dan senantiasa memohon ampun kepada-Nya. Dengan seperti itu, insyaAllah akan segera terbuka pintu-pintu rezeki. Baik rezeki berupa uang dan harta, rezeki perdamaian, rezeki kerukunan, rezeki kesejahteraan, rezeki keamanan, rezeki kebahagiaan, rezeki saling mempercayai satu dengan yang lainnya, dan rezeki pemimpin yang mampu memberikan jalan keluar atas krisis multidimensi yang telah lama mendera kita.
Di bulan yang suci ini, mari kita bersama-sama mendoakan untuk para pemimpin kita sebuah doa yang baik agar mereka semua dapat mengemban amanah dengan penuh rasa tanggung jawab.
Dan juga agar mereka tidak mengalami nasib seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Apabila seorang manusia yang diberikan kekuasaan memimpin rakyat mati, sedangkan di hari matinya dia telah mengkhianati rakyat, maka Allah mengharamkan surga kepadanya,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pada bulan yang dikabulkan segala doa ini mari kita saling mendoakan yang baik satu sama lain. Perlu disadari bahwa kita semua adalah bersaudara. Begitu pula dengan pemimpin kita, dia juga adalah saudara kita.
Apabila kita diam-diam mendoakan kebaikan bagi mereka, maka diam-diam pula malaikat mendoakan kebaikan pada kita. Akhirnya kita semua berada pada kebaikan, kebahagiaan, dan penuh kasih sayang.
Dalam QS. Al-Hasyr [59]: 10 Allah telah menuntun kita dalam berdoa,
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Sumber : Buku The Power of Ramadhan, penerbit Haqiena Media
Oleh : Ust. Muhammad Arifin Ilham dan Ustadz. Dr. H. S. Suryani Taher
by Danu Wijaya danuw | May 30, 2017 | Artikel, Ramadhan
Bagi umat muslim buka puasa dengan makanan atau minuman manis disunnahkan. Sayangnya, nafsu makan yang besar saat berbuka puasa sering kali berujung pada konsumsi yang salah, seperti memakan pedas yang membuat perut sakit.
Ketika berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan atau minuman selama kurang lebih 13-14 jam. Dalam durasi yang cukup lama ini, hipoglikemi mungkin saja terjadi. Beberapa gejala yang mungkin dirasakan oleh orang yang berpuasa.
“Jadi kita harus berbuka dengan yang manis,” ungkap dokter spesialis gizi klinik Fiastuti Witjaksono.
Ada banyak makanan atau minuman manis yang bisa menjadi pilihan menu berbuka. Beberapa di antaranya ialah kolak, kurma hingga jus buah.
Konsumsi makanan atau minuman manis saat berbuka diharapkan cepat menggantikan kadar gula yang menjadi rendah saat berpuasa.
Berbuka dengan Kurma dan Air Putih
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila diantara kalian berpuasa, berbukalah dengan kurma, jika tidak ada kurma, maka berbukalah dengan air, sebab air itu suci”.
(H.R. Abu Daud, Al-Baihaqi dan Al-Hakim. Menurut Al-Hakim, hadits ini shahih berdasarkan kriteria persyaratan Imam Al-Bukhari)
Nabi Muhammad saw juga bersabda tentang keberkahan Kurma
إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ , فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ , فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَمَاءٌ , فَإِنَّهُ طُهُورٌ
“Apabila diantara kalian berbuka puasa, maka berbukalah dengan tamr (kurma), sebab kurma itu barokah, namun jika tidak ada maka berbukalah dengan air, sebab air itu suci” [HR. Ibnu Khuzaimah didalam Shahihnya]
Meskipun berbuka puasa dengan kurma diperintahkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, namun hukumnya hanya sunnah (mustahab), bukan wajib.
Menjauhi Makanan Syubhat
Imam An-Nawawi didalam kitabnya Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, bahkan ada juga yang mengatakan seperti berikut:
“Al-Qadli Husain berkata, yang utama dizaman kami adalah berbuka puasa dengan apa yang diambil sendiri dari sungai (air), sebab itu jauh dari perkara yang syubhat”.
Ada hikmah yang bisa diambil dibalik perkataan Al-Qadli Husain, yaitu pentingnya memperhatikan sesuatu yang masuk kedalam tubuh kita khususnya dibulan puasa, perkataan beliau juga menunjukkan betapa beliau sangat hati-hati dalam persoalan makanan bahkan terhadap yang syubhat sekalipun.
Mungkin saja dizaman Al-Qadli Husain begitu banyak syubhat bertebaran sehingga perlu kehati-hatian terhadap setiap yang hendak dimakan.
Apalagi dizaman sekarang, makanan tanpa logo halal MUI bertebaran dan sering kita asal makan tanpa memperhatikannya.
Wallahu A’lam.