by Danu Wijaya danuw | May 6, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Aksi 55 yang diprakarsai Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) ini bertujuan menuntut keadilan terkait kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Aksi dilakukan menjelang putusan majelis hakim pada 9 Mei mendatang.
Ribuan peserta Aksi Damai 505 tiba di Jakarta dengan kondisi yang berpencar. Sebagian berkumpul di masjid At Tin TMII, dan masjid lain di Jakarta. Sebagian besar berkumpul di masjid Istiqlal.
Jamaah yang dominan mengenakan pakaian serba putih. Mereka memenuhi lebih dari setengah ruang utama masjid Istiqlal. Peserta aksi diketahui datang dari berbagai daerah. Menurut salah satu petugas keamanan Masjid Istiqlal, Taman, ada yang datang dari Purwakarta, Pekanbaru, Palembang, Pontianak, hingga Medan.
Kebanyakan mereka datang secara pribadi dan kelompok-kelompok kecil. Ada yang datang menggunakan motor, mobil pribadi dan transportasi lain.

Peserta shalat jumat di jalan sekitar masjid Istiqlal

Peserta shalat jumat di jalan sekitar Istiqlal

Agam Jawara datang bersama ormas Forkabi dan Jawara Betawi

Banyak peserta yang datang berjalan kaki

Ada 5 bule di 4 foto berbeda

Warga NU kabupaten sukabumi
Aa Gym Khotbah Subuh di Masjid At Tin
Aa menyoroti beberapa kejadian mencemaskan di antaranya pengadilan penistaan agama yang sedang berlangsung saat ini.
Ia berharap mudah-mudahan dengan munajat bersama, Allah memberikan hidayah dan taufik kepada majelis hakim untuk bisa memberikan keputusan seadil-adilnya yang bisa memenuhi dahaga keadilan sehinga bisa dirasakan masyarakat, khususnya umat Islam.
“Insya Allah aksi 505 kegiatan yang penuh berkah. Yang hadir niatnya lurus demi kebaikan. Laksanakan dengan niat yang baik, perkataan baik dengan sikap yang terbaik agar Allah yang maha menyaksikan Ridho kepada kita memberikan takdir terbaik bagi kita.”
Adapun bagi yang tak bisa hadir, kata Aa, silahkan shalat jumat di tempat masing-masing dan memperbanyak doa. Insya Allah tak ada yang disia-siakan.
“Dan berdoa bisa mengubah takdir ke takdir yang lebih baik. Insya Allah kita lakukan ini atas kecintaan terhadap negara kesatuan Indonesia kita yang utuh dan martabat ini.”
KH Adnan MUI Khotbah Jumat di Istiqlal
Khotib sholat Jumat Masjid Istiqlal kali ini adalah KH M Adnan Harahap dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam khotbahnya KH Adnan menyatakan, Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia. Pemimpin negara – negara di dunia pernah menyempatkan untuk datang ke Masjid Istiqlal untuk belajar tentang Islam di Indonesia.
“Para pemimpin dunia pernah datang ke Masjid Istiqlal tidak lain untuk belajar Islam di Indonesia yang merupakan terbesar di dunia,” jelas KH Adnan.
KH Adnan juga berperan agar umat Islam menjadi umat yang bermanfaat dan bermartabat untuk orang lain. Seperti dalam ayat Al Quran jadilah kamu menjadi umat yang terbaik, umat yang bermartabat, umat yang tertib, umat yang memiliki harga diri. Contoh dari umat bermartabat ditunjukan dengan ikut aksi yang dilakukan dengan penuh kedamaian.
“Itulah makna dari umat yang bermartabat, sama seperti hari ini kegiatan mulia aksi damai. Ini mayoritas gelar aksi damai. Inilah wajah Islam Indonesia. Kita luruskan niat semata-mata lillahi taala. Niat yang lurus juga untuk masyarakat kita, para pemimpin kita,” tegasnya.
by Danu Wijaya danuw | May 5, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Aksi 5 Mei alias aksi 505 yang dipelopori Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI telah dilaksanakan hari ini. Massa melakukan aksi long march dari Masjid Istiqlal menuju Mahkamah Agung (MA).
Mereka long march menuju gedung MA untuk mengawal vonis kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok).
Saat massa tiba di samping kantor Kementerian Dalam Negeri, tak jauh dari MA, peserta aksi terlebih dahulu makan bersama.
Pantauan merdeka.com di lokasi, banyak para peserta aksi yang mengantri untuk mendapatkan nasi kotak.
“Abis makan, kotak nasi bekasnya tolong jangan buang sembarangan, taruh di dus aqua kosong,” kata sala satu donatur Nurjahid Pembela Islam (NPI), Maharani Hasan, Jakarta, Jumat (5/5).
Pengusaha catering ini pun mengaku menyediakan 500 kotak nasi kebuli, 1.000 roti sobek, dan juga 25 dus botol air mineral. Makan dan minum itu sengaja dibagikan secara gratis untuk para peserta aksi.
“Ini hasil dari usaha catering saya, tapi ada juga teman-teman yang lain nambahin,” ujarnya.
Menurutnya, anggota NPI ini satu dengan yang lain sebelumnya tidak saling kenal dan belum bertemu. Mereka tergabung dalam media sosial.
“Ini awalnya dari Facebook, saya yang pertama kali bikin grup di WhatsApp buat kumpulin para donatur. Ini juga perwakilan dari setiap daerah ada, tapi sebagian dari Jakarta,” jelasnya.
Sumber : nurhabibi/merdeka
by Danu Wijaya danuw | May 5, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Massa 505 tiba di sekitar gedung MA pada pukul 13.30 WIB. Pengunjuk rasa tertahan barikade petugas, di depan Kementrian Dalam Negeri, Jl Medan Merdeka Utara.
15 Orang perwakilan dari aksi ‘505’ GNPF MUI yang diterima Mahkamah Agung (MA) RI. Mereka diterima di Ruang Media Centre Harifin Tumpa, Gedung MA.
Informasi dari Kasubbag Humas Polres Jakpus Kompol Suyatno, 15 orang perwakilan aksi ‘505’ GNPF MUI itu yakni;
- Prof Dr Didin Hafiduddin
- Dr Kapitra Ampera
- Nasrulloh Nasution
- KH Shobri Lubis
- Ahmad Doli Kurnia
- DR Ahmad Luthfi Fathullah
- Muhammad Luthfie Hakim
- Heri Aryanto
- KH Nazar Haris
- Ustaz Bobby Herwibowo
- Ustadz Asufri Sambo
- Ustadz Bahtiar Nasir.
- Amien Rais
- Habib Rizieq
- Ustadz GNPF
12 Orang tersebut akan diterima oleh 5 orang pejabat MA, yakni:
- Sunarto (Ketua Muda Pengawasan)
- Mode (Panitera)
- Suharto (Panitera Muda Pidana).
- Pujo Harsono (Sekretaris MA)
- Ridwan Mansyur (Kabiro Humas)
Saat ini massa aksi ‘505’ tertahan blokade polisi di depan Gedung Kemendagri. Rencana awalnya, mereka melakukan longmarch dari Masjid Istiqlal menuju Gedung MA.
Sambil menunggu pertemuan dengan perwakilan MA berakhir, pengunjuk rasa melakukan orasi di depan Kementerian Dalam Negeri.
Dalam orasinya, massa menyerukan aksi 505 bukan aksi menentang Pancasila, tapi aksi menuntut keadilan untuk proses hukum Ahok. Dalam orasinya, pengunjuk rasa juga memprotes pengiriman bunga untuk Ahok.

Mimbar bebas orasi aksi 505
“Ada yang bawa bunga ke sini? Bunga itu untuk di kuburan. Kita enggak usah bawa bunga, yang kita bawa ke sini adalah Iman. Bunga bisa layu, tapi iman kita enggak akan mati,” kata salah satu pemimpin aksi dari mobil komando.
Situasi sempat memanas saat salah satu pemimpin aksi meminta barikade aparat dibuka, agar massa bisa maju hingga ke depan gedung MA, karena antrean massa sudah memanjang dari depan Kementerian Dalam Negeri hingga ke depan Stasiun Gambir. Namun, massa kembali tenang setelah pemimpin aksi lainnya meminta pengunjuk rasa untuk duduk.
Kendati dianggap tak perlu oleh berbagai organisasi utama Islam, GNPF MUI tetap menggelar aksi yang dimulai dengan salat Jumat di Istiqlal, dengan rencana berjalan kaki ke Gedung Mahkamah Agung.
Aksi 505 ini digelar terkait persidangan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang Selasa (9/5) akan memasuki tahap akhir: putusan.
Massa menganggap tuntutan jaksa, 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun, terlalu ringan, dan menuntut hakim menjatuhkan hukuman lebih berat.
Sejak akhir tahun lalu GNPF-MUI melakukan rangkaian aksi untuk menuntut agar aparat hukum mengadili Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama terkait penyebutan surat Al-Maidah 51 dalam pidato di Kepulauan Seribu.
Dalam pidato itu Ahok dianggap menghina surat Al-Maidah dan menyusul demonstrasi yang diikuti ratusan ribu hingga jutaan umat Islam pada Desember lalu, Ahok kemudian diadili.
Diolah dari : merdeka/bbc
by Danu Wijaya danuw | May 3, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin menyatakan mendukung aksi simpatik 5 Mei 2017 nanti.
Melalui pesan whatsapp yang dibacakan Ketua GNPF MUI Bachtiar Nasir, Din menegaskan aksi damai Jumat besok merupakan jihad.
“Saya mendukung aksi 5 Mei besok. Semoga ini menjadi jihad kita,” kata Bachtiar Nasir membacakan whatsapp yang diterimanya dari Mantan Ketua MUI tahun 2014-2015 saat konferensi pers di AQL, Tebet, Jakarta, Selasa (02/05).
Bachtiar juga menyampaikan permintaan maaf Din Syamsudin yang saat ini masih di Malang. Sehingga tidak bisa menghadiri konferensi pers.
Seperti diketahui, saat pembukaan Rakernas II MUI dirinya menegaskan akan turun langsung memimpin aksi jika Ahok bebas.
“Kalau sampai (Ahok) bebas, saya akan turun memimpin perlawanan,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015.
GNPF MUI Siap Gelar Aksi Simpatik 5 Mei di Jakarta

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) siap menggelar aksi terkait kondisi penegakan hukum di Indonesia belakangan ini.
Ketua Umum GNPF MUI, Bachtiar Nasir menyatakan, aksi simpatik yang akan digelar pada Jumat, 5 Mei nanti merupakan momen yang ditunggu umat Islam untuk menegakkan keadilan.
“Momen ini sangat ditunggu masyarakat,” katanya saat memberikan keterangan konferensi pers di AQL Islamic Centre, Tebet, Jakarta, Selasa (02/05).
Menurutnya, permasalahan besar yang sekarang melanda bangsa ini membuat GNPF harus turun langsung.
“Masalah besar yang melanda bangsa ini adalah soal rasa keadilan umat Islam,” ujarnya.
Sumber : Panjimas
by Danu Wijaya danuw | May 3, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Stockholm – Di Hari Buruh Internasional, Senin (01/05/2017) kemarin para muslimah di Swedia turun ke jalan, menuntut hak berjilbab di tempat kerja.
Aksi dilakukan setelah Hakim Pengadilan Uni Eropa, mengizinkan perusahaan swasta untuk melarang karyawan mengenakan simbol-simbol keagamaan.
Secara tidak langsung, keputusan itu merupakan serangan langsung terhadap wanita-wanita yang mengenakan jilbab di tempat kerja mereka. Keputusan diambil setelah seorang wanita Belgia dan seorang wanita Perancis mengajukan tuntutan hukum karena diberhentikan dari pekerjaan mereka karena mengenakan jilbab.
Aksi ini tidak hanya dilakukan di ibukota Stockholm, tetapi juga di kota-kota Malmo, Gothenburg, Vasteras, Sala dan Umea. Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti “Hancurkan Rasisme!”, “Jilbab Saya Bukanlah Urusan Anda” dan “Pekerjaan adalah Hak Kita”.
Pesan para demonstran
“Wanita Muslim di sini (Gothenburg) biasanya tidak pergi untuk demonstrasi pada May Day. Aksi ini menunjukkan begitu banyak orang dari berbagai latar belakang yang memperjuangkan hak-hak buruh,” kata Maimuna Abdullahi, salah satu penyelenggara acara tersebut kepada Al Jazeera.
“Saya keluar karena ini adalah tanggung jawab masyarakat kita untuk membela kita semua,” kata Gabrielle Guastad, seorang peserta aksi dari jaringan aktivis Swedia di Gothenburg, The Right Our Bodies.
“Tidak ada kritik keras terhadap keputusan tersebut, terutama di Swedia, sebuah negara yang dipuji karena hak asasi manusia,” kata Abdullahi.
Untuk mempromosikan pawai tersebut, Aftab Soltani, salah satu panitia, mengungkapkan bahwa Muslimah adalah sosok yang kuat. Dia mengatakan bahwa tujuan aksi untuk membalikkan citra Muslimah sebagai korban diskriminasi.
Sementara itu, para netizen langsung menyebarkan postingan-postingan terkait aksi itu, sembati menyematkan hastag #Muslimwomenban.
“Kata-kata pengadilan tentang netralitas di sebuah perusahaan juga menunjukkan bahwa hijab dianggap abnormal,” kata Hajar El Jahidi dari Forum Eropa untuk Wanita Muslim.
“Keputusan pengadilan tersebut juga menyebabkan beberapa pengusaha sektor swasta memasukkan klausul netralitas dalam kebijakan mereka sebagai dasar untuk menghapus atau melarang pekerja yang mengenakan jilbab,” pungkasnya.
Sumber: Al-Jazeera
by Danu Wijaya danuw | May 2, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Hari ini, tanggal 2 Mei adalah hari pendidikan nasional (Hardiknas). Hari di mana lahir seorang tokoh nasional bernama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau umum dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Ia lahir pada 2 Mei 1889.
Sudah sepantasnya pemerintah memperingati tanggal 2 Mei menjadi hari pendidikan nasional. Karena kiprah dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara bagi bangsa ini.
Ia berjuang lewat pendidikan, dengan mendirikan perguruan Taman Siswa. Sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh kaum pribumi di saat pemerintah kolonial Belanda masih bercokol di negeri ini.
Perkembangan Taman Siswa
Dalam buku “Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang” dikatakan bahwa perkembangan Taman Siswa dinilai sebagai keberhasilan pergerakan nasional dalam membuat pemerintah kolonial mundur secara lebih jauh dan menyeluruh.
MC Ricklefs dalam bukunya “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008”, menjelaskan bahwa Taman Siswa dengan cepat tersebar ke luar Yogyakarta.
Bahkan pada tahun 1932, Perguruan Nasional Taman Siswa ini telah mempunyai 166 sekolah dan 11.000 murid.
Keberhasilan Ki Hajar Dewantara dalam pergerakan pendidikan ini mengantarkannya menjadi tokoh pendidikan nasional. Dan saat Indonesia Merdeka, Dialah Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang pertama.
Kisah Santri Ki Hajar Dewantara
Tapi sayang, sejarah Ki Hajar Dewantara masa kecilnya ada yang luput dari catatan sejarah. Bahkan sedikit orang yang tahu. Karena memang sisi lain kehidupannya yang satu ini mungkin sengaja ditutupi. Bahwa ternyata beliau adalah seorang santri.
Berikut petikan ceramah KH Achmad Chalwani Purworejo mengenai Ki Hajar Dewantara:
Maka bisa dilihat yang jadi santri-santrinya Kyai, menjadi penggerak di Indonesia ini. Coba dilihat, di Jogja ada seorang Kyai namanya Kyai Sulaiman Zainuddin, berada di Kalasan Prambanan.
Mempunyai putra santri banyak, salah satunya beliau mempunyai santri namanya Suwardi Suryaningrat.
Santri yang bernama Suwardi Suryaningrat tadi akhirnya menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.
Ki Hajar Dewantara itu dulu belajar Al-Qur’an, dia seorang santri. Tapi sayang sejarahnya Ki Hajar Dewantara dulu belajar Al-Qur’an tidak pernah diterangkan oleh guru-guru di sekolah.
Ki Hajar Dewantara itu ngaji Al-Qur’an dan yang mengajar adalah Kyai Sulaiman Zainuddin. Ayo kita buka sejarah Taman Siswa, anak didik supaya tahu utuh, sejarah jangan dipotong-potong, kalau anda memotong sejarah pada saatnya nanti sejarah Anda akan dipotong oleh Allah SWT.
Yang mengatakan Kyai Sulaiman Zainuddin mempunyai murid Suwardi Suryaningrat mengaji di sana itu, saya baca di Sejarah Taman Siswa.
Inilah sudut kecil sejarah Ki Hajar Dewantara yang sedikit orang tahu. Padahal dari sinilah karakter beliu terbentuk.
Di bawah bimbingan Kyai Sulaiman Zainuddin, Ki Hajar Dewantara memperdalam Al-Qur’an. Menelusuri seluk beluk mendalam firman-firman Allah, hingga kemudian menggerakkan beliau berjuang untuk bangsa lewat dunia pendidikan. Dengan perguruan Taman Siswanya.
Tiga Semboyan
Ki Hadjar Dewantara memiliki semboyan yang selalu ia terapkan dalam sistem pendidikan. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi :
- Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik)
- Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide)
- Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan),
Hingga kini, semboyan pendidikan Ki Hadjar Dewantara tersebut sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia dan terus digunakan dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia.
Tulisan Ki Hajar Dewantara yang Membuat Belanda Marah
Tahun 1913 itu pemerintah kolonial hendak merayakan hari kemerdekaan Belanda dengan besar-besaran. Tahun itu adalah tepat seabad Belanda lepas dari penjajahan Perancis-nya Napoleon.
Tak hanya oleh kalangan kolonialis, pemerintah berharap perayaan itu juga diikuti oleh seluruh warga Hindia Belanda maksudnya Rakyat Indonesia karena belum ada Indonesia. Namun Ki Hajar Dewantara menulis kritikan di kabar harian De Express
“…Seandainya aku orang Belanda, aku protes peringatan yang akan diadakan itu… Tapi aku bukan bangsa Belanda. Aku hanya putra bangsa kulit coklat warga negara jajahan Belanda. Karenanya, aku tidak protes…
Sudah sebagai kewajibanku sebagai penduduk tanah jajahan Belanda untuk memperingati dengan sepenuhnya hari kemerdekaan Negeri Belanda, negara yang kami pertuan. Aku akan minta pada segenap kawan sebangsa dan sependuduk jajahan kerajaan Belanda untuk ikut merayakannya…
Dengan demikian, kami akan mengadakan ‘demonstrasi kesetiaan’. Alangkah besar hati dan gembiraku… Syukur alhamdulillah bahwa aku bukan orang Belanda…”
Reaksi Belanda atas tulisan itu pun tak kalah galaknya. Bersama dua rekannya, dr Cipto Mangunkusumo dan Deuwes Dekker, pada 13 September 1913, Ki Hajar Dewantoro dibuang ke Negeri Belanda selama hampir enam tahun.
Source: Komunitas Penikmat Buku/Fiqh Menjawab