0878 8077 4762 [email protected]
Bincang Iman: Membangun Optimisme Untuk Masa Depan Islam

Bincang Iman: Membangun Optimisme Untuk Masa Depan Islam

Kajian Bincang Iman Spesial

Optimisme (Sikap Optimis) merupakan keyakinan diri dan salah satu sikap baik yang dianjurkan dalam Islam. Dengan sikap optimistis, seseorang akan bersemangat dalam menjalani kehidupan, baik demi kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak.

BAGAIMANA CARA MEMBANGUN NYA ?

Temukan jawabannya di Kajian Bincang Iman Spesial :

Membangun Optimisme Untuk Masa Depan Islam

Bersama:
Dr. Gamal Albinsaid
[ 50 Most Impactful Social innovator (Global Listing) ]

JUMAT, 25 Desember 2020
PKL. 20.00 s.d 21.30 WIB

FREE untuk umum
Online Via Zoom

Pendaftaran :
https://rebrand.ly/daftarbincangiman

Informasi :
http://wa.me/6287786554289

 

Al Iman Center
==========
Website : https://alimancenter.com/
Contact : 0838 9467 3439 (Call/Whatsapp)
Contact : 0813 1113 9686 (Call/Whatsapp)

Tim Konsultasi
Ustadz Fauzi B : +62 878-8289-8699 (Whatsapp)
Ustadz Fahmi B : +62 878-7609-0922 (Whatsapp)
Ustadz Rasid B : +62 817-6580-004 (Whatsapp)

Tim Lembaga
Ariyanto : +62 819-2809-0999 (Media)
M Rizki : +62 897-9046-692 (Ta’lim)
Ahmad M : +62 838-9467-3439 (Santunan)

Email : [email protected]

Liwa dan Rayah, Bendera Panji Islam Semasa Rasulullah

Liwa dan Rayah, Bendera Panji Islam Semasa Rasulullah

Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu memiliki bendera tauhid dengan bentuk dan corak yang khas. Para sahabat Rasulullah saw selalu berharap bahwa diri merekalah yang menjadi pembawa bendera tauhid itu.
Salah satu contohnya ditunjukkan pada saat perang Khaibar, dimalam hari dimana keesokan paginya Rasulullah saw akan menyerahkan bendera/panji-panji kepada seseorang:
«فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوْكُوْنَ لَيْلَتَهُمْ: أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا؟»
“Malam harinya, semua orang tidak tidur dan memikirkan siapa diantara mereka yang besok akan diserahi bendera itu.”(HR. Bukhari)
Kisah diatas menunjukkan betapa pentingnya kedudukan bendera dan panji-panji didalam Islam.
Orang yang diserahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membawanya memiliki kemuliaan yang sangat tinggi.
Pengertian Liwa dan Rayah
Di dalam bahasa Arab, bendera disebut dengan liwa (jamaknya adalah alwiyah). Sedangkan panji-panji perang dinamakan dengan rayah. Disebut juga dengan istilah al-‘alam.
Rayah adalah panji-panji yang diserahkan kepada pemimpin kaum muslim, dimana seluruh pasukan di bawah naungannya dan (ia) akan mempertahankannya hidup atau mati.
Sedangkan liwa adalah bendera yang menunjukkan posisi pemimpin pasukan, dan ia akan dibawa mengikuti posisi pemimpin pasukan.
liwa rayan_1494379026818
Liwa adalah al-‘alam atau bendera tauhid berwarna putih yang berukuran besar. Seringkali sebagai penanda sebagai wilayah muslim.
Sedangkan rayah adalah bendera tauhid berwarna hitam yang berukuran lebih kecil, yang diserahkan oleh Khalifah atau wakilnya kepada pemimpin, serta komandan-komandan pasukan Islam lainnya.
Rayah merupakan tanda yang menunjukkan bahwa orang yang membawanya adalah pemimpin pasukan.
Jadi Liwa (bendera negara) berwarna putih, sedangkan rayah (panji-panji) berwarna hitam.
Riwayat hadist tentang bendera Rasulullah
Banyak riwayat (hadits) yang menunjukkan warna liwa dan rayah, diantaranya:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ –صلعم- كَانَتْ رَايَتُهُ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Rayahnya (panji peperangan) Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, sedangkan benderanya (liwa-nya) berwarna putih.” (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)
Riwayat lain,

كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ –صلعم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Panji (rayah) Nabi saw berwarna hitam, sedangkan liwa-nya (benderanya) berwarna putih. Meskipun terdapat juga hadits-hadits lain yang menggambarkan warna-warna lain untuk liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang), akan tetapi sebagian besar ahli hadits meriwayatkan warna liwa dengan warna putih, dan rayah dengan warna hitam.”
Panji-panji Nabi saw dikenal dengan sebutan al-‘uqab, sebagaimana yang dituturkan:
إِسْمُ رَايَةِ رَسُوْلِ اللهِ –صلعم- الْعُقَابُ
Nama panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-‘uqab. Tidak terdapat keterangan (teks nash) yang menjelaskan ukuran bendera dan panji-panji Islam di masa Rasulullah saw, tetapi terdapat keterangan tentang bentuknya, yaitu persegi empat.
Dalam hadist lain
كَانَتْ رَايَتُهُ سَوْدَاءَ مُرَبِّعَةً مِنْ نَمْرَةٍ
“Panji Rasulullah saw berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol.” (HR. Tirmidzi)
Al-Kittani mengetengahkan sebuah hadits yang menyebutkan:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ –صلعم- عَقَدَ لَهُ رَايَةً، رُقْعَةً بَيْضَاءَ ذِرَاعًا فِيْ ذِرَاعٍ
“Rasulullah saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan Lâ ilâha illa Allah, Muhammad Rasulullah.
Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih”. (Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas)
Imam Thabrani meriwayatkannya melalui jalur Buraidah al-Aslami, sedangkan Ibnu Adi melalui jalur Abu Hurairah.
Begitu juga hadits-hadits yang menunjukkan adanya lafadz Lâ ilâha illa Allah, Muhammad Rasulullah, pada bendera tauhid dan panji-panji, terdapat pada kitab Fathul Bari.
Sebagian besar para fuqaha dan ahli hadits menganggap bahwa keberadaan liwa dan rayah adalah sunnah.
Kisah panji Islam di masa Rasulullah
Ibnul Qayyim berkata: Pasukan disunnahkan membawa bendera tauhid besar dan panji-panji. Warna liwa (bendera besar) disunnahkan berwarna putih, sedangkan panji-panjinya boleh berwarna hitam’.
Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengangkat orang-orang tertentu sebagai pemegang panji-panji, juga dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar ra, sebagaimana yang dituturkan Abu Yusuf:
‘Rasulullah saw biasa menyerahkan liwa kepada pemimpin pasukan, yang diikatkan di ujung tombaknya. Rasulullah saw telah menyerahkan liwa kepada Amru bin Ash dalam perang Dzatu Salasil.
Setelah beliau saw wafat, Abu Bakar ash-Shiddiq menyerahkan liwa kepada Khalid bin Walid, yang dipasang di ujung tombaknya’.
Imam Ibnu Hajar menyebutkan sunnah untuk membawa bendera tauhid Liwa dan Rayah di dalam pasukan.
 
Wallahu’alam Bishowab
 
Sumber : MuslimJurnalism/SejarahIslam

Ringkasan Taklim : Dakwah Bil Hal

Ringkasan Kajian Tadabbur Al-Qur’an Surat Ash-Shaff ayat 1-3.
Dakwah Bil Hal
Ahad, 28 Februari 2016
Pkl. 18.00-19.30
Di Majelis Taklim Al Iman, Jl. Kebagusan Raya No.66, Kebagusan, Jakarta Selatan
Bersama:
Ustadz Fauzi Bahreisy
 
Mukaddimah
Surat Ash-Shaff adalah Surat Madaniyah (turun setelah hijrah) yang berjumlah 14 ayat.
Tema besar Surat Ash-Shaff adalah terkait dengan qital/jihad berjuang menegakkan kalimat Allah.
Kata Ash-Shaff di ambil dari ayat ke-4, karena di dalam kata Ash-Shaff terkandung beberapa pelajaran penting :

  1. Di dalam Shaf adanya intidzam (keteraturan), yang menjadi salah satu diantara ciri-ciri Islam, maka sudah seharusnya bagi seorang Muslim menjadikan keteraturan itu bagian dari kehidupannya, teratur dalam menata hidup, waktu, kerja, tugas dan lain-lain.
  2. Di dalam Shaf ada istiqamah (lurus), karena shaf yang benar adalah shaf yang lurus.
  3. Di dalam Shaf ada at-Tarabuth (saling terpaut), shaf yang benar adalah shaf yang adanya keterpautan antara kita yang menunjukkan soliditas dan kekuatan.

Tadabbur Ayat
Ayat ke-1
(سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١
Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana“.
Semua makhluk yang ada di langit dan di bumi bertasbih mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di dalam Al-Qur’an kata tasbih terkadang di sebutkan dengan sighah madhi “sabbaha” yang menunjukkan waktu lampau dan terkadang dengan shighah mudhari’ “yusabbihu” yang menunjukkan waktu sekarang dan yang akan datang, untuk memberi penegasan agar kita selalu bertasbih kepada Allah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan.
Jika seluruh makhluk yang lain bertasbih kepada Allah, maka kita selaku manusia yang di berikan hati dan akal lebih layak untuk bertasbih kepada-Nya.
Al-‘Aziz maknanya Maha Perkasa dan tidak ada yang dapat mengalahkan-Nya sedangkan Al-Hakim maknanya Bijaksana. Di dalam banyak ayat dalam Al-Qur’an Allah Swt. menggandengkan antara kalimat Al-Aziz “Perkasa” dan Al-Hakim “Bijaksana”, ini menunjukkan bahwa Allah tidak berlaku Dzalim.
Ayat Ke-2 dan 3 :
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ (٣
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan“.
Allah SWT menegur/mengingatkan orang-orang yang beriman agar tidak mengatakan sesuatu tetapi dia sendiri tidak mengerjakannya atau sengaja tidak mengerjakannya. Besar murka Allah jika seorang mukmin mengatakan sesuatu sedangkan dia sendiri tidak mengerjakannya.
Dalam Tafsir Al-Kasyaf dan Al-Kabir serta kitab-kitab tafsir yang lainnya menyebutkan bahwa asbabunnuzul “Sebab-sebab turunnya ayat ini” adalah diantara para sahabat ada yang berandai-andai sekiranya mereka mengetahui amal yang lebih dicintai Allah, pasti mereka akan mengerjakannya, akan tetapi ketika Allah mewajibkan kepada mereka jihad maka diantara mereka tidak suka dan mundur, kemudian Allah menegur dengan turunnya ayat ini
Kita dianjurkan untuk berdakwah di jalan Allah, dimana dakwah merupakan amal yang sangat besar dan paling  utama serta paling di sukai oleh Allah SWT yang menjadi tugasnya para Nabi dan Rasul serta Ulama setelahnya. Akan tetapi jangan sampai kita hanya pandai bermain kata sedangkan kita sendiri tidak melakukannya, yang tidak ubahnya seperti orang munafiq, maka inilah yang di kecam oleh Allah SWT.
Dakwah dapat dilakukan dengan dua cara : Billisan “ucapan atau perkataan” dan Bilhal “menampilkan Islam dalam amal kehidupan sehari-hari”. Dakwah dengan lisan banyak orang yang bisa melakukannya, akan tetapi sering hanya sebatas ungkapan secara verbal saja.
Yang diinginkan oleh Allah SWT adalah juga disertai dengan amal perbuatan kita, jika ini kita lakukan maka orang akan dapat melihat Islam secara konkret. Oleh karena itu, kenapa Rasulullah SAW berhasil dalam berdakwah?
Karena Rasulullah SAW mengerjakan apa yang beliau sampaikan yang menjadi akhlak dan tingkah laku yang di tampilkan. Para sahabat menjadi generasi terbaik.
***
Majelis Ta’lim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
1. Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
2. Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
3. Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!

Ringkasan Ta’lim : Seputar Hukum Nikah dalam Islam

Ringkasan Kajian Tadabbur Al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah ayat 10-11.
 
Ahad, 31 Januari 2016
Pukul 18.00-19.30
Di Majelis Ta’lim Al Iman, Jl. Kebagusan Raya No.66, Jakarta Selatan
Bersama: Ustadz Fauzi Bahreisy
 
Ayat ke-10 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَآتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ۚ ذَٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
10. “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman Maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana“.
Allah Swt membuka ayat ini dengan Nida’ (Panggilan Allah kepada orang-orang yang beriman), ini adalah sebuah bentuk keistimewaan yang dikhusus untuk orang-orang yang beriman, karena konten setelah seruan tersebut berbeda dengan konten yang seruannya kepada seluruh manusia.
Jika seruannya kepada seluruh manusia maka kontennya berkaitan dengan perintah ibadah secara umum, sedangkan untuk orang-orang yang beriman maka kontennya adalah berkaitan dengan hal-hal yang detil tentang syari’at agama, yang menjadi rambu-rambu syari’at bagi orang-orang yang beriman, karena mereka sudah siap menjalankan taklif (hukum agama).
Adapun diantara taklif yang di sebutkan di dalam ayat ini adalah perintah untuk menguji keimanan orang-orang yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah.
Ayat ini berkaitan dengan perjanjian (shulhu hudaibiyah) antara Rasul Saw. dengan kafir Quraisy, adapun isi perjanjian tersebut adalah “Apabila ada penduduk Mekkah yang lari ke Madinah walaupun mereka seorang mukmin maka harus di kembalikan ke Mekkah, namun jika ada penduduk Madinah yang lari ke Mekkah, maka mereka tidak boleh di kembalikan ke Madinah” Walaupun perjanjian ini kelihatannya seperti tidak adil namun Rasulullah Saw menyetujui perjanjian tersebut.
Adapun hikmah di balik perjanjian tersebut adalah : Kesempatan yang sangat berharga bagi penduduk Mekkah yang telah beriman untuk tetap tinggal dan bebas beragama di Mekkah karena mereka di kembalikan lagi ke Mekkah, sedangkan jumlah penduduk Mekkah yang masuk Islam pada saat itu sangat banyak dan ini merupakan kemenangan besar bagi kaum Muslimin.
Tapi semenjak turun ayat ini orang-orang yang masuk Islam dan lari ke Madinah tidak boleh di kembalikan lagi ke Mekkah, sehingga timbul pertanyaan : apakah ini sebuah bentuk pelanggaran dari perjanjian tersebut ?

  • Sebagian Ulama mengatakan tidak, karena pasalnya adalah berlaku buat laki-laki bukan perempuan.
  • Sebagian lagi mengatakan bahwa ayat ini menasakh sunnah (perjanjian hudaibiyah).

Allah memerintahkan kepada Rasul Saw untuk menguji keimanan mereka, karena jangan sampai tertipu dengan masuk Islamnya mereka, dan itu banyak terjadi sampai sekarang.
Famtahinuuhunna” maksudnya tanyakan/introgasi kenapa mereka masuk Islam, apakah karena ada persoalan lain”.
Wallahu A’lamu biimananihinna” maksudnya adalah kita hanya menilai seseorang dari dhahirnya saja, namun Allah yang mengetahui hakikat sebenarnya. Setelah kita berusaha menilai dari zhahirnya namun ternyata tidak seperti itu maka serahkan lah kepada Allah, karena yang penting adalah usaha kita, setelah kita berusaha ternyata salah maka in-syaa Allah, Allah  mengampuni.
Setelah di uji dan masuk Islam maka wanita-wanita tersebut tidak boleh di kembalikan kepada suami-suami mereka yang kafir, karena wanita-wanita tersebut tidak halal bagi mereka dan demikian juga sebaliknya.
Jika terjadi perceraian karena masuk Islam maka keduanya harus di pisah, namun di berikan kesempatan untuk mengajak suaminya masuk Islam, apabila suaminya tidak bersedia maka dia harus menunggu selesai masa iddah baru boleh menikah dengan laki-laki lain, tapi kalau suaminya bersedia masuk Islam maka mereka bisa langsung bercampur sebagai suami istri yang sah tanpa harus menunggu masa iddah, akad dan mahar baru.
Jika perceraian itu terjadi maka Islam memerintahkan kepada wanita-wanita tersebut untuk mengembalikan mahar yang pernah di berikan kepada mereka oleh suami-suami mereka yang kafir. inilah contoh keadilan di dalam Islam walau dengan orang kafir sekalipun.
Wanita-wanita yang sudah masuk Islam dari mereka boleh dinikahi dengan syarat memberikan mahar dan memperhatikan nafkahnya.
Jumhur ulama mengatakan bahwa mahar bukan rukun dan syarat sah nikah, nikah tetap sah tanpa mahar jika wanitanya bersedia, yang menjadi rukun dan syarat sah nikah adalah wali dan dua orang saksi.
Pemberian mahar adalah sebagai simbol bahwa seorang suami siap memberikan nafkah kepada istrinya.
Menikahi wanita-wanita yahudi dan Nasrani dibolehkan di dalam Islam asalkan dia wanita yang baik-baik (muhsanat), kalau selain itu (wanita musyrik) tidak boleh sama sekali.
Seorang Muslim boleh meminta kembali mahar yang pernah mereka berikan, jika istri-istri mereka lari dari Islam menuju ke negeri kafir. dan jika ada wanita-wanita yang masuk Islam maka biarkanlah suami-suami mereka (yang masih kafir) meminta kembali mahar yang pernah mereka berikan. itulah hukum-hukum Allah.
 
Ayat ke-11 :
وَإِنْ فَاتَكُمْ شَيْءٌ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ إِلَى الْكُفَّارِ فَعَاقَبْتُمْ فَآتُوا الَّذِينَ ذَهَبَتْ أَزْوَاجُهُمْ مِثْلَ مَا أَنْفَقُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ
11. “Dan jika seseorang dari isteri-isterimu lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari isterinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya kamu beriman
Bagi lelaki (muslim) yang istrinya lari kepada orang-orang kafir, maharnya bisa di kembalikan dari hasil rampasan perang.
 
***
Majelis Ta’lim Al Iman
Tiap Ahad. Pukul 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
 
Jadwal Pengajian:

  • Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
  • Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
  • Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.

Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!

Ringkasan Ta’lim : Memaafkan dan Berpaling dari Orang-Orang Bodoh

Ringkasan Kajian Kitab Riyadhus Shalihin Bab ke-75
 
MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI ORANG-ORANG BODOH
 
Ahad, 24 Januari 2016
Pkl. 18.00-19.30
Di Majelis Ta’lim Al Iman, Jl. Kebagusan Raya No.66, Jakarta Selatan
 
Bersama:
Oleh : Ust. Rasyid Bakhbabazy, Lc
 
Ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi yang dikaji adalah sebagai berikut:
Ayat Al Qur’an
Surat Al-A’raf ayat 199
“Jadilah engkau pemaaf dan perintahkanlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”
Penjelasan:
Yang di maksud bodoh di sini adalah sikapnya yang salah/tidak benar.
Surat Al-Hijr ayat 85
“…Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik”
Surat An-Nur ayat 22
“…Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampuni mu?”
Penjelasan:
Jika kita di hadapkan kepada sikap orang yang tidak baik maka berpalinglah dengan tidak memberikan balasan dan dengan hati yang lapang (tidak marah) dan hendaklah memberikan maaf.
Surat Ali Imran ayat 134
“… Dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”
Penjelasan:
Termasuk bagian dari kebajikan adalah memberikan  maaf.
Surat Asy-Syura ayat 43
“Namun, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang di utamakan”
Penjelasan:
Memaafkan adalah sesuatu yang diharapkan dan diperintahkan oleh syari’at.
Hadits-Hadits Rasulullah SAW
Dari Aisyah Ra. bahwa ia berkata kepada Nabi SAW “Saya bertanya kepada Nabi SAW ‘Pernahkah engkau mengalami penderitaan yang lebih berat dari perang uhud?’ Beliau menjawab, ‘Sungguh aku telah mendapat penderitaan karena (perbuatan) kaummu sedang yang paling berat adalah pada hari aqabah. Ketika aku menyempatkan diri untuk mengajak putra Abdul Yalail bin Abdul Kulal, ia tidak menyambutku sebagaimana harapanku. Kemudian aku pergi dengan perasaan sedih sekali dan tidak sadar. Namun sesampainya di Qarnuts Tsa’lib aku sadar dan mengangkat kepalaku. Waktu itu, aku dinaungi oleh awan. Setelah aku memandangnya, ternyata di situ ada malaikat Jibril As. Ia memanggilku seraya berkata, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mendengar kaummu mencela dan menolak ajakanmu. Dan Allah mengutus malaikat penjaga gunung untukmu. Ia akan memenuhi apa saja yang kamu kehendaki terhadap mereka’. Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan aku adalah malaikat penjaga gunung. Allah telah mengutusku untuk memenuhi perintamu. Maka apakah yang kamu kehendaki? Apabila kamu menghendaki, akan aku runtuhkan dua gunung itu untuk menyiksa mereka.’ Nabi SAW menjawab, ‘Aku masih berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang belakang mereka orang yang beribadah (menyembah) pada Allah Yang Maha Esa dan mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun‘.” (HR. Al-Bukhari: 3231).
 
Aisyah Ra. berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah memukul apapun dengan tangannya, ia juga tidak pernah memukul istri-istri dan pelayannya. Kecuali, apabila beliau berjihad di jalan Allah. Dan ketika beliau disakiti, beliau sama sekali tidak membalas orang yang menyakitinya, kecuali bila apa yang telah diharamkan Allah Ta’ala itu dilanggar, maka beliau membalas karena Allah Ta’ala” (HR. Muslim: 2328).
Anas Ra. berkata, “Saya pernah berjalan bersama Rasulullah SAW dan beliau mengenakan baju buatan negeri Najran yang kasar tepinya. Lalu ada seorang Arab Badui yang menemuinya, kemudian ia menarik-narik selendang beliau dengan kuat. Saya melihat leher beliau terdapat bekas ujung baju, karena kerasnya tarikan orang Badui itu. Kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad SAW berikanlah kepadaku harta Allah yang ada padamu.’ Beliau menoleh kepada orang Badui itu. Sambil tersenyum beliau menyuruh untuk memenuhi permintaan orang Badui itu’.” (HR. Al-Bukhari : 3149 dan Muslim : 1057).
Penjelasan Hadits:
Pembalasan tidak menunjukkan ketinggian akhlak, karena seorang Ibadurrahman (hamba Allah) berjalan dengan rendah hati dan membalas keburukan dengan kata-kata yang lebih baik.
Ibnu Mas’ud Ra. berkata, “Seolah-olah saya masih dapat melihat Rasulullah SAW ketika beliau menceritakan seorang Nabi dari para Nabi Shalawatullah wasalamuhu’alaihim, yaitu ketika Nabi tersebut dipukul oleh kaumnya hingga menyebabkan keluar darahnya dan Nabi itu mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka itu tidak mengetahui’.” (HR. Al-Bukhari : 3477, 54 dan Muslim : 1792).
Penjelasan Hadits:
Sebenarnya Nabi yang di maksud dalam kisah ini adalah Rasulullah SAW sendiri, tapi Rasulullah SAW tidak menyebutkannya karena sikap tawadhu’ beliau. Dan dari kisah ini maka pantaslah Rasulullah SAW disebut sebagai Rahmatan Lil’aalamin dan yang memiliki akhlak yang agung.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bukannya orang yang kuat itu adalah orang yang menang dalam gulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhari : 6114 dan Muslim : 2609, 107)
Penjelasan Hadits:
Yakni menahan marah padahal dia mampu untuk membalasnya, inilah orang yang kuat.
 
***
Majelis Ta’lim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
 
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
 
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
 
? Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!

Tadabur Surat Al-Insan ayat 1-3

Oleh: Fauzi Bahreisy
 
Setiap surat yang terdapat dalam Alquran memiliki keistimewaan masing-masing; entah dari sisi isi, gaya bahasa, cara penyampaian, ataupun fadhilah-nya. Demikian pula dengan surat al-Insan. Surat ini—yang juga disebut dengan surat ad-Dahr—memiliki keistimewaan dan keutamaan sendiri.
Dalam Shahih Muslim seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. disebutkan bahwa Rasulullah SAW pada saat melakukan shalat subuh di hari jumat membaca surat as-Sajadah pada rakaat pertama dan surat al-Insan pada rakaat kedua. Tentu bukan karena kebetulan beliau memilih surat al-Insan sebagai bacaan dalam salat beliau. Pastilah hal itu dilakukan karena kedudukan dan rahasia yang terdapat di dalamnya.
Sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini merupakan surat Madaniyyah; diturunkan setelah Rasulullah SAW berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Namun, pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa surat ini dilihat dari muatan isi dan konteksnya merupakan surat Makkiyyah; yakni diturunkan sebelum hijrah. Pasalnya, di sini Allah mengetengahkan gambaran yang cukup panjang tentang surga berikut gambaran tentang siksa.
Di dalamnya Allah juga memberikan pengarahan kepada RasulullahSAW untuk bersabar menghadapi kondisi yang ada dan untuk tidak menaati orang kafir; di mana semua ini terjadi saat beliau mendapatkan intimidasi dan tekanan keras dari penduduk Mekkah. Karena itu, surat ini lebih mencerminkan ciri dari surat Makkiyyah.
Lalu mengapa ia disebut dengan surat al-Insan yang secara bahasa bermakna manusia? Pasalnya, menurut Dr. Fadhil Shalih as-Samira’i, dari segi konteks dan isi, surat ini mengemukakan berbagai tahapan kondisi manusia dari awal sampai akhir. Diawali dengan penegasan tentang fase ketiadaannya, lalu kedatangannya ke dunia yang berasal dari nuthfah, kemudian keberadaannya sebagai manusia yang mendapatkan tugas dan beban taklif, serta kesudahannya entah menuju sorga yang penuh dengan nikmat atau menuju neraka yang penuh siksa dan derita.
Semua itu dijelaskan oleh Allah dalam bentuk yang menarik. Menarik karena gambaran tentang keduanya (surga dan neraka) mendapatkan porsi yang sangat berbeda. Kalau gambaran siksa neraka dilukiskan hanya secara umum dan singkat, sebaliknya gambaran tentang sorga dilukiskan secara detil dan indah. Tentu saja gambaran semacam itu menjadi pemicu bagi kita semua untuk menumbuhkan keinginan, menambatkan harapan, mengarahkan perhatian, dan menyiapkan bekal guna menggapai surga-Nya.
Peluang dan kesempatan untuk menggapai kenikmatan abadi tersebut terbuka bagi kita semua; yaitu yang memiliki akal, perasaan, tekad, dan bashirah. Kalau surga berhasil digapai—di mana ini menjadi doa dan harapan kita semua–sungguh merupakan lompatan perjalanan dan perpindahan yang luar biasa. Semuanya merupakan nikmat dan karunia Allah untuk manusia. Bayangkan manusia yang tadinya tiada, setelah dihadirkan ke dunia tidak dibiarkan begitu saja. Dengan karunia, kehendak, bimbingan dan kekuasaan-Nya Allah arahkan manusia untuk menggapai kenikmatan abadi di dalam surga-Nya. Semoga taufik dan hidayah-Nya senantiasa bersama kita. Amin.
Tadabbur
Sekarang, marilah kita menelaah, mempelajari, dan mentadabburi ayat demi ayat dari surat al-Insan ini untuk kemudian menjadi bekal, modal, dan landasan dalam beramal.
هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (1)
Bukankah telah datang kepada manusia satu waktu dari masa, yang ketika itu ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS al-Insan: 1)
Ini merupakan ayat pertama yang menjadi pembuka surat al-Insan. Ia dimulai dengan sebuah pertanyaan. Namun, pertanyaan tersebut bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Melainkan pertanyaan yang bermakna penegasan. Sama seperti ketika kita berkata kepada seseorang, “Bukankah sebelumnya engkau berada dalam kondisi miskin?! Bukankah ia telah memberikan banyak bantuan kepadamu?! Bukankah aku telah mengatakan hal tersebut sebelumnya?”
Nah, ayat di atas juga bermakna demikian. Dengan bentuk pertanyaan seperti itu Allah ingin menegaskan sekaligus mengingatkan kita tentang sebuah hakikat yang sangat penting. Yaitu bahwa sebelum hadir ke dunia, manusia tidak memiliki wujud dan belum menjadi sesuatu yang disebut-sebut. Jangankan eksistensi dan wujudnya, namanya saja belum ada. Entah berada di mana kita seratus tahun, dua ratus tahun, atau seribu tahun yang lalu. Lalu jika demikian, bagaimana manusia bisa berlaku sombong, congkak dan angkuh. Tidakkah ia mengingat kondisinya yang berawal dari tiada?! Tidakkah ia mengingat kelemahan dan ketidakberdayaannya?! Kalaulah saat ini kita menjadi besar, tampan, cantik, memiliki harta, dan jabatan maka harus disadari bahwa sebelumnya kita tiada, tidak mempunyai modal, dan tidak memiliki apa-apa.
Redaksi di atas merupakan cara Allah dalam menyadarkan dan mengingatkan manusia bahwa Dia Mahakuasa, sementara manusia lemah dan tak berdaya. Dalam surat Maryam ayat 9 Allah juga befirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku. Aku telah menciptakan kamu sebelum itu, yaitu di saat kamu belum ada.”
Kembali pada ayat pertama di atas, apa gerangan jawaban atas pertanyaan dan penegasan Allah tersebut? Adakah di antara kita yang menyangkal kalau manusia tadinya tiada kemudian ada?! Tentu tak ada yang bisa menyangkal. Kalau demikian, siapa yang yang telah menghadirkan manusia ke dunia dan dari mana asalnya? Ayat kedua dari surat al-Insan memberikan jawaban:
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (2)
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur untuk Kami uji. Karena itu, Kami jadikan ia mendengar dan melihat”.
Sangat jelas bahwa yang menghadirkan manusia dan menciptakannya adalah Allah. Hal ini diperkuat dengan huruf inna (sungguh) yang berfungsi untuk mempertegas agar tidak ada lagi yang ragu dan bimbang.
Ya, manusia tidak hadir dengan sendirinya ke dunia dan tidak berasal dari sebuah kebetulan. Tetapi, manusia hadir dari sebuah proses penciptaan yang rumit dan sempurna. Dan yang menciptakannya tidak lain adalah Allah SWT.
Dari apa Allah menciptakan manusia? “Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur.” Inilah asal dan bahan dasar penciptaan kita. Siapapun kita, apapun jabatan kita, dan di manapun kita berada, semua berasal dari nuthfah atau mani. Lalu, dengan kekuasaan, pengetahuan, dan kebijaksanaan Allah, mani yang kotor dan menjijikkan itu secara perlahan-lahan berubah menjadi janin dan berbentuk manusia. Betapa besar kemurahan Allah atas kita!
Manusia berasal dari setetes mani yang bercampur; yaitu campuran antara sperma laki-laki dan ovum wanita. Dengan kehendak-Nya mani tersebut bersatu dan berproses untuk kemudian menjadi manusia.
Selanjutnya, setelah manusia tercipta muncul pertanyaan lain: Apa makna dari kehadiran manusia ke dunia? Apakah hanya untuk bermain-main, bersenda gurau, dan bersenang-senang? Apakah hanya untuk memperturutkan nafsu dan melampiaskan syahwat? Apa hanya untuk makan dan minum? Untuk berbuat berbagai kezaliman dan penyimpangan? Atau hanya sekedar menghabiskan waktu tanpa tujuan yang jelas?
Tentu saja tidak. Allah tidak pernah bermain-main dalam menciptakan makhluk; apalagi dalam menciptakan manusia.
Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS al-Mu’minun: 115)
Ada tujuan yang jelas dari penciptaan manusia. Yaitu “untuk Kami uji”. Jadi, Allah menghadirkan manusia untuk diuji sehingga tampak sejauh mana kualitasnya. Hal sama Allah sebutkan dalam ayat kedua surat al-Mulk,
Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah terdapat segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Dia) yang menjadikan mati dan hidup untuk mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (QS al-Mulk: 1-2)
Inilah hakikat dari keberadaan kita di dunia. Kita semua pada dasarnya sedang diuji oleh Allah. Sepanjang berada di dunia selama itu pula kita harus siap menerima berbagai ujian. Karena itu, dunia disebut sebagai dar al-ibtila (negeri tempat ujian), sementara akhirat disebut sebagai dar al-jaza (negeri tempat pemberian balasan). Ujian yang Allah berikan mempunyai beragam bentuk. Ujian tersebut berupa perintah dan larangan-Nya, berupa kesenangan dan kesulitan, berupa nikmat dan bencana, sehat dan sakit, kaya dan miskin, dan seterusnya. Kalau kita berhasil mengatasi semua ujian yang Allah berikan dengan baik, maka sorga berikut segala kenikmatan di dalamnya menjadi milik kita. Namun, jika tidak, akibatnya adalah derita. Naudzu billah.
Oleh sebab itu, kita tidak boleh tertipu dengan dunia yang hanya merupakan tempat ujian dan bersifat sementara. Pasalnya, tempat kita yang hakiki dan abadi adalah akhirat.
Nah, karena keberadaan kita di dunia ini dalam rangka untuk diuji, maka di antara bentuk kasih sayang Allah Dia membekali kita dengan sejumlah perangkat yang membuat kita siap menghadapi ujian tersebut. Seandainya Allah menguji kita tanpa memberikan bekal, perangkat, dan penjelasan, tentu ini merupakan sebuah kezaliman. Namun, Mahasuci Allah dari sifat tersebut.
Kami jadikan ia mendengar dan melihat. Allah membuat kita bisa mendengar dan melihat. Pendengaran dan penglihatan merupakan perangkat dan indera utama manusia. Dua hal inilah yang Allah sebutkan mengingat kedudukan dan fungsinya yang sangat penting. Manusia baru bisa menangkap ilmu pengetahuan, menjangkau dan memahami segala informasi, memilih dan menghadapi ujian yang Allah berikan lewat keberadaan kedua perangkat tersebut.
Di samping itu, ada hal menarik lain pada redaksi di atas. Yaitu ketika Allah mendahulukan kata “mendengar” sebelum “melihat”. Hal sama Allah sebutkan dalam sejumlah ayat lain, misalnya:
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Lalu Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur (QS an-Nahl: 78).
Janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungan jawab. (QS al-Isra: 36)
Pada kedua ayat di atas dan juga pada ayat-ayat lain yang senada, Allah selalu menyebutkan pendengaran sebelum penglihatan. Di satu sisi ini menunjukkan bahwa dalam menangkap pengetahuan, pendengaran memiliki kedudukan yang lebih penting dan lebih utama. Di sisi lain ia juga menegaskan bahwa indera pendengaranlah yang lebih dahulu berfungsi daripada penglihatan. Bukankah bayi yang baru lahir tidak bisa langsung melihat?! Butuh beberapa waktu baginya untuk bisa melihat meski hanya sekedar bayangan. Hal ini berbeda dengan pendengaran yang bisa langsung berfungsi yang karena itu pula bayi yang baru lahir dianjurkan untuk segera diazani dan diiqamahi.
Setelah memberikan pendengaran dan penglihatan, Allah juga menganugerahkan kepada kita sebuah petunjuk jalan.
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا (3)
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur” (QS al-Insan: 3)
Inilah penyempurna dan nikmat paling utama dari seluruh nikmat yang diterima manusia. Menurut Fakhruddin ar-Razi, yang dimaksud dengan jalan lurus di atas adalah petunjuk, akal, nabi, dan kitab suci yang Allah anugerahkan untuk membimbing manusia. Hal ini penting karena meskipun manusia telah diberi pendengaran dan penglihatan, namun tanpa bimbingan dan petunjuk dari Allah manusia takkan bisa menemukan hakikat kebenaran. Tanpa petunjuknya, manusia akan tercerai-berai dan tersesat. Semua akan berjalan sesuai dengan kehendak, kemauan, dan keinginan masing-masing. Oleh sebab itu, jalan lurus hanya berasal dari Allah yang berupa manhaj dan ajaran-Nya. Hanya Dia—sebagai Zat Pencipta—yang mengetahui apa yang mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan bagi manusia.
Setelah Allah menganugerahkan pendengaran, penglihatan, akal dan petunjuk, manusia terbagi dua kelompok besar: ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. Demikianlah fenomena yang kita saksikan dalam realitas nyata. Ini sekaligus menunjukkan hasil dari ujian yang Allah berikan kepada mereka.
Sikap syukur merupakan respon alami yang muncul dari dalam kalbu kita manakala mendapatkan limpahan nikmat dan karunia. Apalagi, karunia tersebut mengantarkan kepada nikmat berikutnya yang abadi. Dalam kondisi demikian sudah selayaknya manusia bersyukur.
Namun, jika sikap yang ditunjukkan justru sebaliknya. Yaitu ingkar dan tidak mensyukuri nikmat tadi, ini sungguh merupakan sikap yang keterlaluan. Karena itu, tidak aneh kalau bentuk kata yang dipergunakan adalah kafûr yang dalam bahasan Arab dikenal sebagai bentuk mubalaghah (hiperbola). Bentuk tersebut dalam Alquran dipergunakan untuk mereka yang sangat membangkang atau untuk mereka yang tidak pandai membalas budi dan kufur nikmat. Misalnya Allah berfirman, setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (QS al-Isra’: 27)