by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Jul 11, 2017 | Artikel, Tausiyah Iman
Tadabbur:
واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً
[الجزء: ٤ | آل عمران ٣ | الآية: ١٠٣]
Artinya : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan, maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu menjadi bersaudara…”
Persatuan umat tidak berdiri di atas ruang hampa:
- Tidak berdiri di atas slogan, dan Ungkapan indah
Namun ia hanya bisa berdiri di atas landasan yang kokoh dan kuat, berupa:
- Kebeningan hati, dan Ketulusan jiwa dalam tautan akidah.
Hal itu ditunjukkan oleh kesiapan menerima perbedaan (dalam hal cabang);
- Saling mengingatkan dan memperbaiki dengan cara yang baik.
- Mau belajar kepada setiap ulama yang shalih, meski tidak sealiran
- Menjaga lisan terutama terhadap saudara seiman
- Menunjukkan akhlak dan sikap bersahabat
- Serta saling mendukung dan menguatkan.
Tapi bila yang ditunjukkan adalah sikap merasa paling benar, hanya mau bergaul dengan kelompoknya, tidak mau berguru kepada ulama di luar golongannya, mudah memvonis dan menyalahkan,
Maka ukhuwah dan persatuan umat hanya hayalan belaka.
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Jul 8, 2017 | Artikel, Tausiyah Iman
Ibnul Qayyim berkata, “Sabar yang indah (ash-shabrul jamil), adalah sabar yg tidak disertai keluhan.
Maaf yang indah (ash-shafhul jamil), adalah maaf yang tidak disertai kecaman dan celaan.
Meninggalkan yang indah (al-hajrul jamil), adalah meninggalkan tanpa disertai tindakan menyakitkan.”
Adapun Ibnu Jauzi berkata, “Hukuman yang paling berat adalah ketika seseorang tidak merasa dirinya sedang dihukum. Yang lebih parah, dia malah senang dengannya.
Misalnya : senang mendapat harta haram dan terus melakukan dosa. Orang yang demikian, sulit untuk taat.”
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Jun 12, 2017 | Artikel, Konsultasi, Konsultasi Ibadah, Ramadhan
Assalamualaikum, Saya ingin bertanya, apakah hukumnya apabila seorang wanita mengkonsumsi obat hormon untuk menunda datang bulan selama bulan ramadhan? Dengan tujuan agar tidak tertinggal beribadah di bulan ramadhan. Sekian pertanyaan dari saya. Jazakallah khairan. Wassalamualaikum.
Jawaban :
Assalamu alaikum wr.wb. Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Wa ba’du:
Tidak ada dalil yang melarang seorang wanita untuk mengonsumsi obat penunda haid, dengan tujuan agar bisa melaksanakan puasa Ramadhan. Dalam hal ini puasanya sah.
Namun yang harus diperhatikan adalah bahwa tindakan mengonsumsi obat penunda haid tersebut harus dipastikan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap fisik dan kesehatannya.
Karena itu hendaknya berkonsultasi dengan dokter yang amanah dan dapat dipercaya.
Namun demikian, yang lebih baik dan lebih utama, tidak mengonsumsi obat penunda haid.
Sebab, mengikuti siklus bulanan yang sudah Allah gariskan dan tidak berpuasa di dalamnya karena tunduk pada ketentuan Allah merupakan bentuk ibadah lain, yang juga mendapatkan pahala besar di samping mendatangkan maslahat bagi diri dan kesehatan.
Wallahu a’lam Wassalamu alaikum wr.wb.
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Jun 11, 2017 | Artikel, Konsultasi, Konsultasi Ibadah, Ramadhan
Assalamualaikum wr.wb. saya mau bertanya jika seorang laki-laki bermimpi memeluk seseorang pada waktu sesudah sahur. Apakah puasanya batal atau tidak? Terima kasih
Jawaban :
Waalaikumsalam wr.wb. Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du:
Apa yang terjadi dalam mimpi berada di luar kendali dan kehendak manusia. Karena itu tidak ada dosa di dalamnya.
Dalam Alquran disebutkan, “Allah tidak membebani manusia di luar kemampuannya.” (QS al-Baqarah: 386).
Rasulullah saw juga bersabda, “Telah diangkat pena dari tiga golongan: dari orang gila sampai ia sadar, dari orang tidur hingga ia bangun, dan dari anak kecil hingga ia baligh.” (Shahih Tirmidzi)
Dari sini jelas bahwa dosa terangkat dari orang yang sedang tidur, karena ia berbuat di luar kesadaran.
Dengan demikian, kalau ia “bermimpi” saat puasa, puasanya tidak batal.
Hanya saja, yang harus dilakukan kalau mimpi tersebut menyebabkan keluarnya mani adalah mandi wajib untuk shalat.
Saran kami, karena isi mimpi kadang dipengaruhi oleh kondisi hati dan apa yang dialami sebeum tidur, maka hendaknya menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang positif dan amal salih yang Allah ridhai
Berdoa sebelum tidur dan hendaknya memperbaiki posisi tidur. Upayakan tidur tidak dalam kondisi telungkup karena hal ini dimakruhkan.
Posisi tidur yang paling baik adalah miring ke kanan. Namun boleh juga telentang, atau miring ke kiri.
Wallahu a’lam, Wassalamu alaikum wr.wb.
*Pertanyaan konsultasi bisa dikirim ke kolom message facebook AlimanCenter
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | May 27, 2017 | Artikel, Qur'anic Corner
Tadabbur:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
[الجزء: ٢ | البقرة ٢ | الآية: ١٨٣]
Tadabbur 3:
Kewajiban berpuasa tersebut juga diberlakukan kepada generasi nabi-nabi sebelum Rasul saw. Ini mengandung sejumlah hikmah:
Pertama, berarti umat Muhammad saw tidak sendirian. Tapi umat lain pernah melakukan hal yang sama.
Kedua, ini menunjukkan adanya kesinambungan risalah dan kesamaan sumber risalah. Para nabi sama-sama diutus oleh Allah Swt. Mulai dari Adam as sampai kepada Nabi saw.
Yang membedakan hanya bentuk syariatnya disesuaikan dengan kondisi dan zamannya. Semoga kita termasuk dalam rombongan orang-orang saleh tersebut.
Tadabbur 4:
Tujuan puasa bukan untuk membuat manusia lapar, haus, dan seterusnya. Tidak demikian.
Namun ada tujuan besar yang ingin Allah hadirkan untuk manusia. Yaitu bahwa puasa mendidik manusia agar menjadi orang bertakwa.
- Takwa ditandai dengan kondisi hati yang bersih dan sehat.
- Takwa ditandai dengan kemampuan mengontrol nafsu.
Tanda ditandai dengan kemampuan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Bila hal itu tercapai, maka manusia naik derajat kepada tingkatan yang paling mulia.
Sebab, “yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang bertakwa.
Oleh : Ustad Fauzi
Telegram Tadabbur