0878 8077 4762 [email protected]

Tadabbur Makna Alhamdulillah

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala pujian hanya milik Allah. Dia yang layak dipuji, karena sifat dan perbuatan-Nya.
Kalau kita memiliki kebaikan atau kelebihan, tidak lain itu karena karunia Allah.
Kalau ada manusia yang berbuat baik kepada kita, itupun karena Allah yang menggerakkan.
Sehingga pujian tetap harus diberikan pada-Nya, sebelum berterima kasih kepada si pemberi.
Pujian layak diberikan kepada Allah, karena Dia yang mengatur seluruh alam. Tidak ada yang bergerak sendiri.
Buah dari ayat di atas adalah rasa syukur dan ridha.
Kita bersyukur dan ridha karena Allah, dengan segala sifat baiknya, yang mengatur alam ini.
Sebab, tidak ada aturan dan ketentuan Allah yg buruk.
Karena itu, kita disuruh banyak memuji-Nya.
Pujian kepada Allah di samping mendatangkan ketenangan, juga mendatangkan pahala yang besar.

Tadabbur Ayat Puasa dalam QS Al Baqarah : 183

Tadabbur Q.S. Al Baqarah ayat 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
[الجزء: ٢ | البقرة ٢ | الآية: ١٨٣]

Tadabbur 1:
Allah memanggil orang beriman; bukan semua orang. Sebab yang mau mendengar dan mau taat hanya orang yang memiliki iman.
Saat Abdullah ibn Mas’ud ra diminta nasihat, beliau berkata:
“Bila Allah memanggil dengan ‘Ya ayyuhal Ladzina amanu’, perhatikan baik-baik! Sebab setelah itu ada kebaikan yang Allah perintahkan atau ada keburukan yang Dia larang.”
Itulah panggilan sayang Allah kepada setiap mukmin..
Tadabbur 2:
Puasa adalah kewajiban yang istimewa. Pasalnya, bila shalat, zakat dan lain-lain lebih kepada “menunaikan” dan “mengerjakan”.
Maka puasa sesuai dengan makna bahasanya adalah “menahan” diri untuk tidak melakukan.
Dengan kata lain, puasa mendidik manusia beriman untuk memiliki kemampuan kontrol diri yang kuat.
Seorang mukmin harus mampu mengontrol diri dan nafsunya (terutama nafsu makan, minum, dan syahwat); bukan malah menjadi budak nafsu.
Dari sini dapat dipahami bila puasa adalah madrasah ilahi yang luar biasa sehingga penetapan kewajibannya menggunakan kata “كُتِبَ”.
Wallahu a’lam
Oleh : Ustad Fauzi Bahreisy

Menyiakan Usia

Ibnu Athailah berkata, “Wahai saudaraku, engkau telah menyia-nyiakan sebagian usiamu. Karena itu jagalah sisanya yang tinggal sedikit. Demi Allah, usiamu tidak diukur sejak lahir. Namun sejak engkau mengenal-Nya.
Jangan kau habiskan tarikan nafasmu pada selain ketaatan. Sebab tarikan nafas itu bagaikan emas dan permata. Mungkinkah orang berakal membuangnya ketempat sampah?
Wahai saudaraku, usahakan selalu hadir dalam majelis ilmu agar akal pikiranmu bertambah. Meskipun usiamu pendek, ia akan menjadi panjang. Berkat adanya iman, takut, tadabur, dan kesadaran.”

Bagaimana Hukumnya Shalat Jum'at Tapi Tidak Mendengarkan Khutbah Karena Jaga Kantor

Assalamualaikum wr wb. Saya mau bertanya. Saya kerja security, kalau mau shalat jum’at manajemen bilang boleh shalat jum’at. Tapi pas mau shalatnya aja. Artinya ketika khutbah saya masih jaga kantor. Bagaimana hukumnya shalat jum’at tapi tidak mendengarkan khutbah karena jaga kantor. Kalau hukumnya tidak sah, bagaimana dengan yang mendengarkan khutbah tapi malah tidur. Bangun menjelang iqamah .
Dari Urip Sulaeman
 
Jawaban :
Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatu. Amma ba’du.
Pada dasarnya mendengarkan khutbah jum’at adalah wajib sebagaimana perintah Allah untuk bersegera memenuhi panggilan adzan jum’at pada surat Al-Jumu’ah ayat 9.
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[a]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Jumu’ah : 9)
Karena itu siapa yang tidak mendengarkan khutbah secara sengaja tanpa udzur, maka ia berdosa. Meski shalat jumatnya sah. Namun bila ia masbuk mendapatkan satu rakaat saja bersama imam insya Allah tetap diterima ibadah jum’atnya.
Nabi saw bersabda, “Siapa yang mendapatkan satu rakaat shalat berarti ia mendapatkan shalat tersebut.” (H.R. Muttafaq alaih). Sisanya satu rakaat lagi tinggal disempurnakan.
Demikian hukum orang yang tidak ikut mendengarkan khutbah tanpa udzur dan hanya ikut shalatnya saja.
Sementara dalam kasus Anda, Anda tidak mendengar karena ada udzur (kendala/halangan), yaitu larangan dari pimpinan atau pemilik perusahaan.
Meskipun agar lebih sempurna hendaknya Anda berusaha melobi sang pimpinan agar mengizinkan mendengar khutbah yang tidak lebih dari setengah jam.
Semoga Allah memberikan jalan keluar dan kemudahan. Aamiin
Ustadz Fauzi Bahreisy

Apakah Berprasangka Buruk Kepada Allah Termasuk Dosa Besar?

Assalamualaikum ustadz. Bagaimana prasangka-prasangka manusia terhadap Rabbnya. Trauma terhadap qadha dan qadhar Allah swt. Apakah termasuk dosa besar? Bagaimana cara bertaubatnya? Syukron ustadz.
 
Jawaban :
Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatu. Amma ba’du
Berprasangka buruk terhadap Allah, misalnya Allah tidak sayang padanya dan tidak adil termasuk dosa besar. Bahkan sangat berdampak pada tauhid dan imannya kepada Allah.
Karena itu harus bertaubat dengan taubat nasuha.
Caranya dengan menyesal dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi, disertai dengan banyak istighfar dan melakukan amal-amal saleh.
Wallahu a’lam