by Syahrul syahrul | Feb 3, 2016 | Fatwa
Assalamualaikum ustadz, apa hukum menjadikan bacaan Al-Qur’an dan suara adzan sebagai nada dering HP (Hand Phone) ?
Jawaban :
Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Rasul yang paling mulia dan sebaik-baik makhluk-Nya, yaitu Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
Kita telah di perintahkan untuk memuliakan dan mengagungkannya (Al-Qur’an), serta melakukan interaksi yang baik dengannya (Al-Qur’an) dengan cara yang berbeda antara interaksi kita dengan yang lainnya; di antaranya adalah tidak boleh menyentuh mushaf (Al-Qur’an) kecuali orang yang suci dari hadats kecil dan besar, sebagaimana Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak ada menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al-Waaqi’ah : 77 – 79).
Demikian juga tidak boleh meletakkan kitab-kitab atau buku-buku yang lain di atasnya (Al-Qur’an), karena Al-Qur’an itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Keutamaan Kalam Allah dari seluruh kalam lainnya sama seperti keutamaan Allah di atas makhluk-Nya.
Oleh karena itu, tidaklah pantas dan bukan termasuk adab yang mulia menjadikan Al-Qur’an sebagai nada dering Hand Phone (HP); sebab ia memiliki kedudukan yang suci dan posisi yang mulia sehingga ia tidak boleh diperlakukan seperti itu. “Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, Maka Sesungguhnya itu adalah bagian dari Ketakwaan hati” (QS. Al-Hajj : 32)
Menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai nada dering HP adalah salah satu bentuk mempermainkan kesucian Al-Qur’an. Padahal ia diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk dijadikan sebagai zikir dan ibadah dengan membacanya, bukan menggunakannya pada sesuatu hal yang merendahkan kedudukannya yang mulia dan diluar aturan syar’iat.
Kita di perintahkan untuk mentadabburinya dan memahami makna-makna yang terkandung di dalam setiap lafadz nya. Menjadikan ayat-ayat Al-Quran sebagai nada dering HP merupakan sebuah pergeseran dari makna syar’i kepada makna yang lain, yang mana hal ini dapat melalaikan seseorang dari mentadabburinya (ayat-ayat Al-Qur’an) sehingga lebih perhatian pada yang lain yaitu menjawab panggilan telepon.
Selain itu juga, ia dapat menjadikan ayat Al-Qur’an terpotong atau terputus baik dari lafadznya maupun maknanya – bahkan terkadang juga dapat membolak-baliknya – ketika menghentikan bacaan ayat suci Al-Qur’an demi mengangkat panggilan masuk.
Demikian juga halnya dengan suara adzan, tidaklah pantas bila ia dijadikan sebagai nada dering HP; karena azan di syari’atkan sebagai pemberitahuan masuknya waktu shalat. Ketika dia digunakan sebagai nada dering HP, maka akan menyebabkan kerancuan dan menimbulkan dugaan akan masuknya waktu shalat. Dengan begitu, berarti ia telah menggunakannya bukan pada tempat yang semestinya.
Sebaiknya dia menggantinya dengan nasyid-nasyid yang Islami atau puji-pujian kepada Nabi yang sesuai dengan lamanya waktu nada dering HP, sedangkan untuk firman Allah (Al-Qur’an), harus ada perlakuan khusus yang sesuai dengan kesuciannya. Wallahu Ta’ala ‘alam.
Sumber: Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah (Dewan Fatwa Mesir)
Nomor : 3715
Tgl: 26/05/2008
Penerjemah: Syahrul
Editor Ahli: Fahmi Bahreisy, Lc
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Feb 2, 2016 | Artikel, Kajian
Oleh: Fauzi Bahreisy
Setiap surat yang terdapat dalam Alquran memiliki keistimewaan masing-masing; entah dari sisi isi, gaya bahasa, cara penyampaian, ataupun fadhilah-nya. Demikian pula dengan surat al-Insan. Surat ini—yang juga disebut dengan surat ad-Dahr—memiliki keistimewaan dan keutamaan sendiri.
Dalam Shahih Muslim seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. disebutkan bahwa Rasulullah SAW pada saat melakukan shalat subuh di hari jumat membaca surat as-Sajadah pada rakaat pertama dan surat al-Insan pada rakaat kedua. Tentu bukan karena kebetulan beliau memilih surat al-Insan sebagai bacaan dalam salat beliau. Pastilah hal itu dilakukan karena kedudukan dan rahasia yang terdapat di dalamnya.
Sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini merupakan surat Madaniyyah; diturunkan setelah Rasulullah SAW berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Namun, pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa surat ini dilihat dari muatan isi dan konteksnya merupakan surat Makkiyyah; yakni diturunkan sebelum hijrah. Pasalnya, di sini Allah mengetengahkan gambaran yang cukup panjang tentang surga berikut gambaran tentang siksa.
Di dalamnya Allah juga memberikan pengarahan kepada RasulullahSAW untuk bersabar menghadapi kondisi yang ada dan untuk tidak menaati orang kafir; di mana semua ini terjadi saat beliau mendapatkan intimidasi dan tekanan keras dari penduduk Mekkah. Karena itu, surat ini lebih mencerminkan ciri dari surat Makkiyyah.
Lalu mengapa ia disebut dengan surat al-Insan yang secara bahasa bermakna manusia? Pasalnya, menurut Dr. Fadhil Shalih as-Samira’i, dari segi konteks dan isi, surat ini mengemukakan berbagai tahapan kondisi manusia dari awal sampai akhir. Diawali dengan penegasan tentang fase ketiadaannya, lalu kedatangannya ke dunia yang berasal dari nuthfah, kemudian keberadaannya sebagai manusia yang mendapatkan tugas dan beban taklif, serta kesudahannya entah menuju sorga yang penuh dengan nikmat atau menuju neraka yang penuh siksa dan derita.
Semua itu dijelaskan oleh Allah dalam bentuk yang menarik. Menarik karena gambaran tentang keduanya (surga dan neraka) mendapatkan porsi yang sangat berbeda. Kalau gambaran siksa neraka dilukiskan hanya secara umum dan singkat, sebaliknya gambaran tentang sorga dilukiskan secara detil dan indah. Tentu saja gambaran semacam itu menjadi pemicu bagi kita semua untuk menumbuhkan keinginan, menambatkan harapan, mengarahkan perhatian, dan menyiapkan bekal guna menggapai surga-Nya.
Peluang dan kesempatan untuk menggapai kenikmatan abadi tersebut terbuka bagi kita semua; yaitu yang memiliki akal, perasaan, tekad, dan bashirah. Kalau surga berhasil digapai—di mana ini menjadi doa dan harapan kita semua–sungguh merupakan lompatan perjalanan dan perpindahan yang luar biasa. Semuanya merupakan nikmat dan karunia Allah untuk manusia. Bayangkan manusia yang tadinya tiada, setelah dihadirkan ke dunia tidak dibiarkan begitu saja. Dengan karunia, kehendak, bimbingan dan kekuasaan-Nya Allah arahkan manusia untuk menggapai kenikmatan abadi di dalam surga-Nya. Semoga taufik dan hidayah-Nya senantiasa bersama kita. Amin.
Tadabbur
Sekarang, marilah kita menelaah, mempelajari, dan mentadabburi ayat demi ayat dari surat al-Insan ini untuk kemudian menjadi bekal, modal, dan landasan dalam beramal.
هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (1)
Bukankah telah datang kepada manusia satu waktu dari masa, yang ketika itu ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS al-Insan: 1)
Ini merupakan ayat pertama yang menjadi pembuka surat al-Insan. Ia dimulai dengan sebuah pertanyaan. Namun, pertanyaan tersebut bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Melainkan pertanyaan yang bermakna penegasan. Sama seperti ketika kita berkata kepada seseorang, “Bukankah sebelumnya engkau berada dalam kondisi miskin?! Bukankah ia telah memberikan banyak bantuan kepadamu?! Bukankah aku telah mengatakan hal tersebut sebelumnya?”
Nah, ayat di atas juga bermakna demikian. Dengan bentuk pertanyaan seperti itu Allah ingin menegaskan sekaligus mengingatkan kita tentang sebuah hakikat yang sangat penting. Yaitu bahwa sebelum hadir ke dunia, manusia tidak memiliki wujud dan belum menjadi sesuatu yang disebut-sebut. Jangankan eksistensi dan wujudnya, namanya saja belum ada. Entah berada di mana kita seratus tahun, dua ratus tahun, atau seribu tahun yang lalu. Lalu jika demikian, bagaimana manusia bisa berlaku sombong, congkak dan angkuh. Tidakkah ia mengingat kondisinya yang berawal dari tiada?! Tidakkah ia mengingat kelemahan dan ketidakberdayaannya?! Kalaulah saat ini kita menjadi besar, tampan, cantik, memiliki harta, dan jabatan maka harus disadari bahwa sebelumnya kita tiada, tidak mempunyai modal, dan tidak memiliki apa-apa.
Redaksi di atas merupakan cara Allah dalam menyadarkan dan mengingatkan manusia bahwa Dia Mahakuasa, sementara manusia lemah dan tak berdaya. Dalam surat Maryam ayat 9 Allah juga befirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku. Aku telah menciptakan kamu sebelum itu, yaitu di saat kamu belum ada.”
Kembali pada ayat pertama di atas, apa gerangan jawaban atas pertanyaan dan penegasan Allah tersebut? Adakah di antara kita yang menyangkal kalau manusia tadinya tiada kemudian ada?! Tentu tak ada yang bisa menyangkal. Kalau demikian, siapa yang yang telah menghadirkan manusia ke dunia dan dari mana asalnya? Ayat kedua dari surat al-Insan memberikan jawaban:
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (2)
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur untuk Kami uji. Karena itu, Kami jadikan ia mendengar dan melihat”.
Sangat jelas bahwa yang menghadirkan manusia dan menciptakannya adalah Allah. Hal ini diperkuat dengan huruf inna (sungguh) yang berfungsi untuk mempertegas agar tidak ada lagi yang ragu dan bimbang.
Ya, manusia tidak hadir dengan sendirinya ke dunia dan tidak berasal dari sebuah kebetulan. Tetapi, manusia hadir dari sebuah proses penciptaan yang rumit dan sempurna. Dan yang menciptakannya tidak lain adalah Allah SWT.
Dari apa Allah menciptakan manusia? “Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur.” Inilah asal dan bahan dasar penciptaan kita. Siapapun kita, apapun jabatan kita, dan di manapun kita berada, semua berasal dari nuthfah atau mani. Lalu, dengan kekuasaan, pengetahuan, dan kebijaksanaan Allah, mani yang kotor dan menjijikkan itu secara perlahan-lahan berubah menjadi janin dan berbentuk manusia. Betapa besar kemurahan Allah atas kita!
Manusia berasal dari setetes mani yang bercampur; yaitu campuran antara sperma laki-laki dan ovum wanita. Dengan kehendak-Nya mani tersebut bersatu dan berproses untuk kemudian menjadi manusia.
Selanjutnya, setelah manusia tercipta muncul pertanyaan lain: Apa makna dari kehadiran manusia ke dunia? Apakah hanya untuk bermain-main, bersenda gurau, dan bersenang-senang? Apakah hanya untuk memperturutkan nafsu dan melampiaskan syahwat? Apa hanya untuk makan dan minum? Untuk berbuat berbagai kezaliman dan penyimpangan? Atau hanya sekedar menghabiskan waktu tanpa tujuan yang jelas?
Tentu saja tidak. Allah tidak pernah bermain-main dalam menciptakan makhluk; apalagi dalam menciptakan manusia.
Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS al-Mu’minun: 115)
Ada tujuan yang jelas dari penciptaan manusia. Yaitu “untuk Kami uji”. Jadi, Allah menghadirkan manusia untuk diuji sehingga tampak sejauh mana kualitasnya. Hal sama Allah sebutkan dalam ayat kedua surat al-Mulk,
Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah terdapat segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Dia) yang menjadikan mati dan hidup untuk mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (QS al-Mulk: 1-2)
Inilah hakikat dari keberadaan kita di dunia. Kita semua pada dasarnya sedang diuji oleh Allah. Sepanjang berada di dunia selama itu pula kita harus siap menerima berbagai ujian. Karena itu, dunia disebut sebagai dar al-ibtila (negeri tempat ujian), sementara akhirat disebut sebagai dar al-jaza (negeri tempat pemberian balasan). Ujian yang Allah berikan mempunyai beragam bentuk. Ujian tersebut berupa perintah dan larangan-Nya, berupa kesenangan dan kesulitan, berupa nikmat dan bencana, sehat dan sakit, kaya dan miskin, dan seterusnya. Kalau kita berhasil mengatasi semua ujian yang Allah berikan dengan baik, maka sorga berikut segala kenikmatan di dalamnya menjadi milik kita. Namun, jika tidak, akibatnya adalah derita. Naudzu billah.
Oleh sebab itu, kita tidak boleh tertipu dengan dunia yang hanya merupakan tempat ujian dan bersifat sementara. Pasalnya, tempat kita yang hakiki dan abadi adalah akhirat.
Nah, karena keberadaan kita di dunia ini dalam rangka untuk diuji, maka di antara bentuk kasih sayang Allah Dia membekali kita dengan sejumlah perangkat yang membuat kita siap menghadapi ujian tersebut. Seandainya Allah menguji kita tanpa memberikan bekal, perangkat, dan penjelasan, tentu ini merupakan sebuah kezaliman. Namun, Mahasuci Allah dari sifat tersebut.
Kami jadikan ia mendengar dan melihat. Allah membuat kita bisa mendengar dan melihat. Pendengaran dan penglihatan merupakan perangkat dan indera utama manusia. Dua hal inilah yang Allah sebutkan mengingat kedudukan dan fungsinya yang sangat penting. Manusia baru bisa menangkap ilmu pengetahuan, menjangkau dan memahami segala informasi, memilih dan menghadapi ujian yang Allah berikan lewat keberadaan kedua perangkat tersebut.
Di samping itu, ada hal menarik lain pada redaksi di atas. Yaitu ketika Allah mendahulukan kata “mendengar” sebelum “melihat”. Hal sama Allah sebutkan dalam sejumlah ayat lain, misalnya:
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Lalu Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur (QS an-Nahl: 78).
Janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungan jawab. (QS al-Isra: 36)
Pada kedua ayat di atas dan juga pada ayat-ayat lain yang senada, Allah selalu menyebutkan pendengaran sebelum penglihatan. Di satu sisi ini menunjukkan bahwa dalam menangkap pengetahuan, pendengaran memiliki kedudukan yang lebih penting dan lebih utama. Di sisi lain ia juga menegaskan bahwa indera pendengaranlah yang lebih dahulu berfungsi daripada penglihatan. Bukankah bayi yang baru lahir tidak bisa langsung melihat?! Butuh beberapa waktu baginya untuk bisa melihat meski hanya sekedar bayangan. Hal ini berbeda dengan pendengaran yang bisa langsung berfungsi yang karena itu pula bayi yang baru lahir dianjurkan untuk segera diazani dan diiqamahi.
Setelah memberikan pendengaran dan penglihatan, Allah juga menganugerahkan kepada kita sebuah petunjuk jalan.
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا (3)
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur” (QS al-Insan: 3)
Inilah penyempurna dan nikmat paling utama dari seluruh nikmat yang diterima manusia. Menurut Fakhruddin ar-Razi, yang dimaksud dengan jalan lurus di atas adalah petunjuk, akal, nabi, dan kitab suci yang Allah anugerahkan untuk membimbing manusia. Hal ini penting karena meskipun manusia telah diberi pendengaran dan penglihatan, namun tanpa bimbingan dan petunjuk dari Allah manusia takkan bisa menemukan hakikat kebenaran. Tanpa petunjuknya, manusia akan tercerai-berai dan tersesat. Semua akan berjalan sesuai dengan kehendak, kemauan, dan keinginan masing-masing. Oleh sebab itu, jalan lurus hanya berasal dari Allah yang berupa manhaj dan ajaran-Nya. Hanya Dia—sebagai Zat Pencipta—yang mengetahui apa yang mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan bagi manusia.
Setelah Allah menganugerahkan pendengaran, penglihatan, akal dan petunjuk, manusia terbagi dua kelompok besar: ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. Demikianlah fenomena yang kita saksikan dalam realitas nyata. Ini sekaligus menunjukkan hasil dari ujian yang Allah berikan kepada mereka.
Sikap syukur merupakan respon alami yang muncul dari dalam kalbu kita manakala mendapatkan limpahan nikmat dan karunia. Apalagi, karunia tersebut mengantarkan kepada nikmat berikutnya yang abadi. Dalam kondisi demikian sudah selayaknya manusia bersyukur.
Namun, jika sikap yang ditunjukkan justru sebaliknya. Yaitu ingkar dan tidak mensyukuri nikmat tadi, ini sungguh merupakan sikap yang keterlaluan. Karena itu, tidak aneh kalau bentuk kata yang dipergunakan adalah kafûr yang dalam bahasan Arab dikenal sebagai bentuk mubalaghah (hiperbola). Bentuk tersebut dalam Alquran dipergunakan untuk mereka yang sangat membangkang atau untuk mereka yang tidak pandai membalas budi dan kufur nikmat. Misalnya Allah berfirman, setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (QS al-Isra’: 27)
by Danu Wijaya danuw | Jan 30, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh: KH. Rahmat Abdullah
Arti al ukhuwah yang dimaksud disini adalah
Agar seorang aktifis dakwah menggabungkan antara hati dan ruh dengan tali aqidah, sementara aqidah itu sendiri merupakan tali yang paling kuat dan paling mahal. Ukhuwah (persaudaraan) adalah saudara (teman) seiman, sementara perpecahan itu saudara kekafiran. Kekuatan yang pertama adalah kuatnya persatuan dan kesatuan.
Tak ada persatuan bila tak ada cinta kasih. Sedangkan derajat cinta yang paling rendah adalah hati yang selamat dari buruk sangka kepada muslim lainnya, dan paling tinggi adalah itsar, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan pribadi.
(Hasan al Banna)
Suara merdu persaudaraan sepatutnya didominasi oleh nuansa bening. Serendah-rendahnya bermuatan kelapangan hati dan setinggi-tingginya itsar; memprioritaskan saudara melebihi diri sendiri. Ada hamba Allah bukan nabi bukan syuhada, namun menjadikan iri para nabi dan syuhada.
“Mereka orang-orang yang saling mencintai dengan Ruh Allah, bukan karena hubungan sedarah atau kepentingan memperoleh kekayaan. Demi Allah, wajah-wajah mereka cahaya. Mereka takkan merasakan ketakutan ketika banyak orang ketakutan dan tdak akan bersedih bila umat bersedih”. (H.R. Ahmad)
Bersaudara dalam Senang dan Susah
Belakangan, sosok jamaah dengan sejumlah prestasi gemilang justru menjadi pengunjung tetap penjara (zuwwarus sijn). Mereka telah menata siapa yang lebih banyak hafalan Al Qur’an, kuliah penjara atau program lainnya, tambahan bahasa asing. Sehingga mereka keluar penjara dengan hafalan Al Qur’an dan selesai dengan berbagai strata mata kuliah. Kamar sesak tak jadi soal. Yang tidur belakangan merelakan pangkuan menjadi bantal bagi saudaranya.
Banyak orang mengira mampu menghancurkan mereka dengan cara melontarkan fitnah kedalam shaf. Serangan fisik dan penghancuran sebagai sarana. Mungkin kepala dapat terpisah dari jasad namun, ukhuwah tetap kokoh dan abadi, tak terkeruhkan oleh keterbatasan sifat-sifat kemanusiaan.
Ukhuwah yang Jujur dan Benar
Banyak orang bersaudara karena kesatuan suku, usaha, partai, ormas dan jamaah. Tidak sepatutnya ukhuwah Islamiyah dibatasi oleh tembok-tembok rapuh. Karenanya membicarakan keburukan orang lain (ghibah), membawa berita permusuhan (namimah), serta memata-matai orang (tajassus) tidak serta merta menjadi halal, hanya karena mereka bukan saudara seorganisasi. Siapapun mereka dalam ikatan iman telah memiliki kesakralan ukhuwah yang pantang dinodai.
Abdullah bin Amr kecewa karena pengintaiannya beberapa malam dirumah seorang calon penghuni surga gagal total. Karena ia tak menemukan ibadah-ibadah unggulan pada saudaranya tersebut. Namun ia sangat terhibur ketika lelaki sederhana itu mengatakan “Yang selalu kujaga ialah tak pernah menutup mata untuk tidur sebelum melepaskan perasaan tak baik terhadap sesama muslim”.
Dalam kekalahan perang unta melawan Ali bin Abi Thalib ra, seseorang mencerca Aisyah ra. Namun Ammar bin Yasir ra sebagai panglima Ali, membela Aisyah. “Diam kau wahai si buruk laku. Akankah kau sakiti kecintaan Rasulullah SAW. Aku bersaksi bahwa ia adalah istri Rasulullah di surga. Ibunda Aisyah telah memilih jalannya dan kita tahu ia adalah istri Rasulullah SAW. Akan tetapi Allah telah menguji kita dengannya agar ia tahu apakan kepada-Nya kita taat atau kepadanya.”
Ketika Imam Ali bin Abi Thalib ditanya apakah lawan-lawan politiknya itu musyrik? Jawabnya: “Justru dari kemusyrikan mereka berlari.” Tanya lagi: “Jadi siapa mereka itu?” Jawabnya: “Mereka ikhwan (saudara) kita walau berontak kepada kita”
Zaid bin Tsabit pernah berbeda pendapat yang tajam dalam suatu masalah. Namun mereka akur. Ibnu Abbas ra menuntun kendaraan Zaid bin Tsabit. “Tidak usahlah wahai paman Rasulullah” pinta Zaid. “Demikianlah kami diperintahkan menghormati ulama dan pembesar kami”, jawab Ibnu Abbas. Kemudian Zaid mencium tangannya. “Begitulah kami diperintahkan terhadap Ahli bait Rasulullah” ujar Zaid.
Saudara dan Persaudaraan
Arrabi’ Al Aslami dari generasi gemilang sahabat Rasul dipersilahkan mengajukan permintaan. Apa jawab Arrabi? “Kuminta agar dapat tetap menemanimu di surga” sahutnya.
Hasan al Bashri dengan kesederhanaan hidup dan ketajaman pandangannya berujar: “Tak ada yang tersisa dari kehidupan kecuali tiga:
Pertama, saudara (akh)-mu yang dapat kau peroleh kebaikan dari bergaul dengannya. Bila engkau tersesat dari jalan lurus ia akan meluruskanmu.
Kedua, shalat dalam keterpaduan, engkau terlindung dari melupakannya dan meliput ganjarannya
Ketiga, cukuplah kebahagiaan hidup bila engkau tak punya beban tuntutan seseorang yang harus kau tanggung di hari kiamat”.
Syair dari Imam Syafii ra :
Sahabat yang tak berguna saat datangnya derita
Nyarislah seperti seteru lainnya
………………..
Selamat tinggal dunia
Bila tak ada lagi teman sejati
Yang jujur, tepat janji dan saling mengerti
Referensi :
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Dakwatuna, KH Rahmat Abdullah
by Ahmad Sodikun S.Pd.I. ahmadsodikun | Jan 30, 2016 | Artikel
Oleh: Ahmad Sodikun, S.Pd.I., M.Pd.I
Syaikh Nashr bin Muhammad As-Samarqandi dalam Syathrun Mintanbiihil Ghafilin menyebutkan, “Sebagian para tabi’in berkata “Barang siapa mendapat berbagai nikmat hendaknya mengucapkan Alhamdulillah. Barang siapa sering merasa sedih dan gelisah hendaknya mengucapkan istighfar (astaghfirullah). Barang siapa ditimpa kemiskinan hendaknya mengucapkan laa haulaa walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adziim.”
Membaca tahmid (Alhamdulillah) ketika mendapatkan nikmat merupakan salah satu indikator orang yang bersyukur. Pertanyaannya “Apakah bersyukur cukup hanya dengan mengucapkan hamdalah (Alhamdulillah)?
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan (Minhajul-Qasidin hal.103).
Adapun tugasnya hati dalam bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah :
1. Mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah Ta’ala dan bukan dari selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)….” (QS. An-Nahl : 53).
Meskipun secara zahir kita mendapatkan nikmat itu melalui banyak wasilah misalkan dari teman kita, aktivitas jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara yang Allah Ta’ala gunakan untuk memberikan nikmat-Nya.
2. Mencintai Allah Ta’ala sang pemberi nikmat.
3. Meniatkan untuk menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah ridhai.
Adapun tugasnya lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut pada kita. Hamba yang bersyukur kepada Allah Ta’ala ialah hamba yang bersyukur dengan lisannya. Allah sangat senang apabila dipuji oleh hamba-Nya. Allah cinta kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa memuji Allah Ta’ala.
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (QS. Adh Dhuha: 11)
Seorang hamba yang setelah makan mengucapkan rasa syukurnya dengan berdoa, maka ia telah bersyukur. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ . غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458. Tirmidzi berkata, hadits ini adalah hadits hasan gharib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734).
Sementara tugasnya anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk melakukan amal sholeh dan menahan diri agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya. Dan semua yang kita lakukan akan ditanya dan dimintai pertanggungjawabannya.
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian engkau pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang telah engkau terima di dunia)“. (QS. At-Takatsur : 8)
Saudaraku mari kita jadikan syukur mendarah daging dengan tubuh, kemudian menjadi nafas kehidupan serta menjadi tingkah laku dan perbuatan kita. Dengan demikian sebenarnya kita telah mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih besar daripada nikmat yang telah kita terima. Al-Hasan meriwayatkan :
“Apabila Allah memberi seorang hamba nikmat, besar maupun kecil, lalu ia bersyukur kepada Allah, maka ia telah diberi nikmat yang lebih besar dari yang ia terima.” (H.R. Hakim)
Wallahu a’lam
by M. Nasir Azzainy mnasirazzainy | Jan 28, 2016 | Artikel
Ringkasan Kajian Hadits Majelis Ta’lim Al Iman
4 Wasiat Rasulullah SAW
Ahad, 17 Januari 2016
Pkl. 18.00-19.30
Di Majelis Ta’lim Al Iman, Jl. Kebagusan Raya No.66 Jakarta Selatan
Bersama:
Ust. Fahmi Bahreisy, Lc
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي يُوسُف عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سلام رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَم، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأَرْحَام، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَام، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلَام
(رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ)
Dari Abu Yusuf, Abdullah bin Salam r.a. ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, jalin tali silaturrahim, dan shalatlah di malam hari, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. At-Tirmidzi).
4 wasiat Rasulullah yang terkandung dalam hadits diatas adalah:
1. Menyebarkan Salam
Ulama bersepakat bahwa yang dimaksud dengan menyebarkan salam yaitu mengucapkan kalimat “Assalamu’alaikum.…” kepada sesama muslim.
Hukum memberi salam adalah sunnah sedangkan menjawab salam hukumnya wajib.
Dalam kaidah fikih disebutkan “pahala amalan wajib lebih besar dibandingkan dengan pahala amalan sunnah”. Namun kaidah ini tidak berlaku dalam memberi salam, meskipun memberi salam hukumnya sunnah namun, lebih besar pahalanya daripada yang menjawabnya yang hukumnya wajib.
Salam yang diajarkan oleh Rasulullah menggunakan kata isim (kata benda) yaitu “assalamu” bukan fi’il (kata kerja) “sallama” maka dalam tata bahasa arab apabila diawali dengan isim maka hal itu menunjukkan sesuatu yang tetap (as-tsubut). Oleh karena itu salam adalah sebuah doa agar keselamatan selalu ditetapkan kepada orang yang diberi salam.
Mengucapkan “assalamu’alaikum” mendapat 10 pahala, sedangkan “assalamu’alaikum warahmatullah” mendapat 20 pahala. Adapun “assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” mendapat 30 pahala. Semakin sempurna salam yang kita ucapkan semakin besar pula pahala yang kita dapatkan.
Adab dalam memberi salam yaitu : orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk, yang muda memberi salam kepada yang tua, kerumunan orang yang sedikit memberi salam kepada kerumunan orang yang banyak.
2. Memberi Makan
Dalam hadits diatas Rasulullah menyebutkan kata-kata “wa-ath’imutha’am” yang bermakna memberi makan, hal ini karena makanan merupakan salah satu hal yang urgen bagi manusia.
Ulama bersepakat tidak hanya terbatas memberi makanan namun bisa sesuatu yang lain seperti uang, pakaian dan lain-lain.
Seorang wanita Yahudi yang buta yang selalu menghina Rasulullah SAW selalu diberikan dan disuapkan makanan oleh Rasulullah, sampai akhinya wanita tersebut memeluk agama Islam karena ketulusan Rasulullah tersebut.
3. Menyambung Tali Silaturrahim
Menyambung tali silaturrahim dengan sesama merupakan salah satu amal ibadah yang bernilai besar dihadapan Allah SWT, begitu juga sebaliknya, memutuskan tali silaturrahim adalah termasuk dosa besar.
4. Shalat Malam
Merupakan salah satu ibadah yang dapat melunakkan hati.
Apabila kita melakukan empat wasiat ini maka sebagaimana janji Rasul diakhir hadits adalah kita akan masuk surga dengan selamat atau “bissalam“. Para ulama mengartikan kata “bissalam” ini yaitu masuk surga tanpa hisab & tidak singgah di neraka. Wallahua’lam.
***
Majelis Ta’lim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!