by Lia Nurbaiti Lia Nurbaiti | Feb 19, 2016 | Artikel, Sirah Shahabiyah
Oleh: Lia Nurbaiti
Sepeninggal Rasulullah SAW, Ummu Aiman tetap dihormati oleh para sahabat. Ketika itu Abu Bakar ra. berkata kepada Umar, “Mari kita mengunjungi Ummu Aiman sebagaimana Rasulullah mengunjunginya.”
Ketika sampai di rumah Ummu Aiman, ditemuinya Ummu Aiman dalam keadaan sedang menangis. Mereka bertanya “Apa yang membuat ibunda menangis? Apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah.” Ummu Aiman menjawab, “Aku menangis bukan karena aku tidak tahu apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah. Akan tetapi, aku menangis karena sekarang tidak ada wahyu lagi.” Jawaban itu membuat keduanya menangis.
Begitulah rasa cinta dan sayangnya Ummu Aiman yang begitu dalam terhadap Rasulullah SAW.
Ummu Aiman diberi umur panjang oleh Allah SWT. Ia mengikuti masa pemerintahan Abu Bakar ra. hingga pemerintahan Umar ra. Bahkan ketika Umar ra. terbunuh, Ummu Aiman menangis dan berkata, “Hari ini Islam mulai lemah”.
Saatnya Berpisah
Umur panjang yang dikaruniakan kepada Ummu Aiman sungguh sangat bermakna perannya terhadap perjuangan Islam akan selalu tercatat dalam sejarah. Namun setiap manusia akan mati, begitu juga dengan ibunda kita ini. Pada masa pemerintahan Utsman ra. Allah memanggilnya untuk berkumpul dengan orang yang dicintainya (Rasulullah) di surga, yang kenikmatannya tiada terkira.
Allah berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.“(QS. Al-Baqarah: 155-157).
Teriring doa, Semoga Allah meridhai pengasuh Rasul-Nya. Dia-lah panutan sejati wanita dunia. Kejernihan hati, semangat perjuangan dan pengorbanan untuk kebenaran, semuanya ada padanya.
Referensi:
35 Shirah Shahabiyah, Jilid 2, Mahmud Al-Mishri
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Feb 18, 2016 | Artikel, Buletin Al Iman
Oleh: Fauzi Bahreisy
Allah berfirman, “Katakan (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian…” (QS al-Baqarah: 31).
Itulah diantara tanda iman adalah cinta kepada Allah. Bahkan kecintaan orang beriman kepada Allah mengalahkan cintanya kepada yang lain. Cintanya kepada Allah mengalahkan cintanya kepada anak, orang tua, kerabat, harta dan segalanya.
Allah berfirman, “Orang-orang beriman, sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS al-Baqarah: 165).
Hal ini karena orang beriman sadar bahwa Allah-lah yang menciptakannya, yang memberikan semua kebutuhannya, yang memberikan indera dan perasaan cinta padanya, yang menghadirkan orang-orang yang ia cinta, yang menuntun jalannya, hingga mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Lalu bagaimana perasaan cinta itu terwujud secara benar? Bagaimana cara mengaplikasikan rasa cinta sebagai wujud dari keimanan? Dengan kata lain, apa tanda iman dan cinta yang hakiki?
Menurut para ulama, ayat di atas merupakan standar untuk membedakan antara orang yang benar-benar cinta kepada Allah dan orang yang hanya sekedar mengaku cinta.
Orang yang benar-benar mencintai Allah adalah yang mau mengikuti ajaran dan keteladanan yang dihadirkan oleh Nabi SAW. Sementara, yang tidak mengikuti atau tidak mau mengikuti beliau, maka pengakuan iman dan cintanya tidak bisa diterima.
Dengan demikian, jika ada orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau melaksanakan ibadah shalat, tidak mau berpuasa, tidak mau membayar zakat, dan tidak mau melaksanakan berbagai ajaran Nabi SAW, dengan alasan yang penting memiliki akhlak baik, maka ini bertentangan dengan bunyi ayat di atas. Sebab, Rasul SAW adalah orang yang paling hebat ibadahnya.
Jika ada orang yang mengaku beriman akan tetapi tidak menunjukkan akhlak mulia, pembicaraannya kasar, ungkapannya penuh dengan fitnah dan caci maki, sering menipu dan berbohong, maka ini bertentangan dengan bunyi ayat di atas, sebab Rasul SAW adalah orang yang berakhlak mulia.
Jika ada orang yang mengaku beriman, akan tetapi malas beribadah dan akhlaknya kurang baik, dengan alasan yang penting hatinya bersih dan mulia, ini juga bertentangan dengan ayat diatas. Pasalnya Rasul SAW adalah orang yang berhati bersih sekaligus banyak beribadah dan berperangai terpuji.
Jadi ayas diatas merupakan standar untuk mengukur sejauh mana kualitas keimanan dan cinta kita kepada Allah SWT. Mukmin sejati adalah yang memerhatikan ibadah, akhlak, dan kebersihan hati. Inilah yang terpancar dari pribadi Nabi SAW.
Selanjutnya manakala seseorang berusaha dengan sungguh-sungguh menyelaraskan hidupnya dengan apa yang telah dicontohkan dan diajarkan oleh Nabi SAW, seperti bunyi ayat di atas, ia akan mendapatkan cinta Allah SWT; sebuah kedudukan mulia yang hanya diberikan kepada orang-orang istimewa. Disamping itu, secara otomatis ia juga akan mendapatkan jaminan untuk masuk ke dalam surga-Nya.
Rasul SAW bersabda, “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau?” “Ya Rasulullah, ada yang tidak mau?” tanya sahabat. Beliau menjawab, “Yang mengikuti akan masuk surga. Sementara yang tidak mengikutiku, berarti ia tidak mau (masuk surga).”
Wallahu a’lam.
Sumber :
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 360 – 12 Februari 2016. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman: BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by Danu Wijaya danuw | Feb 18, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh : Persatuan Ulama Islam Sedunia (Al Ittihad al Alamiy li Ulama al-Muslimin)
Landasan pertama dimana umat tegak diatasnya dan dengannya adalah akidah Islam. Karena itu tugas umat ini adalah menanamkan akidah, memeliharanya, mengokohkannya, melindunginya, serta menebarkan cahayanya ke seluruh penjuru dunia. Akidah Islam tercermin dalam keimanan kepada Allah, malaikat, kitab suci, para rasul dan hari akhir
Firman Allah swt : “Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari kemudian sesungguhnya orang itu telah tersesat sejauh-jauhnya” (Q.S. An Nisa : 136)
Akidah Islam adalah akidah yang membangun, bukan menghancurkan serta menyatukan bukan memecah belah. Pasalnya ia tegak diatas peninggalan seluruh risalah Tuhan dan tegak diatas keimanan kepada rasul-Nya.
Firman Allah swt : “Wahai ahlul kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah. Kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatupun, serta sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah” (Q.S. Ali Imran : 64)
As Sunah menambah kelima rukun iman yang terdapat dalam Al Qur’an dengan iman kepada qadar. Ia termasuk dalam aspek keimanan kepada Allah swt, karena terkait dengan ilmu,kehendak dan kekuasaannya. Seluruh yang terjadi di alam ini terwujud dengan takdir dan pengaturan Allah, bukan terjadi begitu saja.
Akidah Islam mencerminkan sudut pandang kaum muslimin terhadap dunia, Tuhan, materi, alam, kehidupan, apa yang ada dibalik kehidupan, dan alam yang tak terlihat oleh mata. Dengan kata lain, ia merupakan sudut pandang kaum muslimin kepada Khalik dan makhluk ,dunia dan akhirat, serta alam nyata dan alam gaib. Siapa yang tidak mengenal hakikat dunia, tirainya akan tersingkap di akhirat.
Kita berpandangan bahwa Islam tidak mengenal adanya perdukunan dan orang-orang suci yang memonopoli agama. Imam dalam shalat adalah pemimpin, bukan orang suci. Setiap muslim bisa saja menjadi imam selama memenuhi syarat-syarat agama.
Kalaupun ada muslim yang melakukan dosa besar dan kecil, Allah berikan hal yang bisa menjadi pembersih dan penghapusnya. Entah itu wudhu, shalat, puasa, sedekah, zikir, ujian dan cobaan yang menimpa disertai istighfar dan tobat.
Ulama agama dalam Islam adalah pewaris nabi sekaligus pimpinan umat. Mereka merupakan ahli dalam bidang spesialisasi mereka yang menjadi rujukan sebagaimana para pemilik ilmu lain. Setiap muslim kalau ia mau bisa menjadi ulama agama dengan cara belajar dan mengambil spesialisasi, bukan dengan pewarisan, dengan gelar, pakaian, dan monopoli.
Islam menolak adanya pemilahan ilmu yang bersifat ilmu agama dan ilmu non agama. Sehingga tidak ada keterpisahan antara manusia, pengajaran, hukum, dan lembaga.Semuanya harus dalam memperjuangkan Islam.
Referensi: Buku 25 Prinsip Islam Moderat
Penyusun: Al Ittihad al Alamiy li Ulama al Muslimin (Persatuan Ulama Islam Sedunia)
Penerbit: Sharia Consulting Center (Pusat Konsultasi Syariah)
by Yayasan Telaga Insan Beriman (Al-Iman Center) | Feb 16, 2016 | Artikel, Ringkasan Taklim
Ringkasan Tadabbur Al-Qur’an Surat Al Mumtahanah Ayat 12-13
Baiat Para Wanita
Ahad, 14 Februari 2016
Pkl. 18.00-19.30
Di Majelis Taklim Al Iman, Jl. Kebagusan Raya No.66, Jakarta Selatan
Bersama:
Ust. Fauzi Bahreisy
Surat Al Mumtahanah Ayat 12
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلا يَسْرِقْنَ وَلا يَزْنِينَ وَلا يَقْتُلْنَ أَوْلادَهُنَّ وَلا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٢)
Artinya: “Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan bai’at (janji setia), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dosa yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Surat Al Mumtahanah Ayat 13
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ (١٣)
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan orang-orang yang dimurkai Allah sebagai penolongmu, sungguh, mereka telah putus asa terhadap akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur juga berputus asa.”
Tadabbur Ayat 12-13
1. Ayat ini dimulai dengan panggilan penghormatan atas kedudukan dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW.
2. Nabi-nabi yang lain dipanggil langsung dengan namanya. Hal ini mengisyaratkan kepada kita untuk selalu memuliakan Rasulullah SAW dengan adab/akhlak yang baik.
3. Kaum wanita yang datang kepada Nabi untuk berbai’at, menandakan bahwa beliau adalah pemimpin yang dekat dengan rakyat, baik laki/perempuan.
4. Islam mengangkat dan memuliakan kedudukan kaum wanita, salah satunya ada surat khusus tentang wanita namanya “An Nisaa” dalam Al-Qur’an.
5. Pada zaman Rasul pernah beberapa kali wanita datang kepada Rasul, diantaranya tentang “protes” mereka atas kelebihan kaum lelaki. Lalu Rasul mencerahkan dengan kalimat “Bakti kalian kepada suami adalah bagian dari jihad”.
6. Isi baiat para wanita kepada Rasulullah yaitu:
– Tidak berbuat syirik
– Tidak mencuri
– Tidak berzina
– Tidak membunuh anak
– Tidak dusta
– Tidak membangkang
7. Ayat terakhir menerangkan agar kita memiliki loyalitas kepada Allah, Nabi, dan orang-orang beriman.
***
Majelis Ta’lim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by Ahmad Sodikun S.Pd.I. ahmadsodikun | Feb 16, 2016 | Artikel
Kita perhatikan pula para sahabat Rasulullah SAW mereka sangat memahami ajaran Al-Qur’an yang disampaikan oleh guru mereka yang tidak lain adalah Rasulullah SAW sendiri. Mereka sangat menghayati Al-Qur’an.
Diriwayatkan Abdullah bin Syadad berkata, ”Saya mendengar suara tangis Umar ra sedang saya di barisan akhir pada shalat subuh, dia membaca surat Yusuf hingga pada ayat 86“.
Yakub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf : 86).
Hisyam bin al Hasan berkata “Umar bin Khatab membaca Qur’an, tenggorokannya hampir tercekik hingga ia menangis sampai terjatuh. Lalu ia kembali ke rumahnya dan orang banyak menyangka ia demam.”
Begitu juga Abu Bakar, ketika Rasululah SAW sakit pada akhir hayatnya, beliau meminta Abu Bakar ra. menggantikannya menjadi imam. Aisyah mengingatkan, ”Wahai Rasululah, Abu Bakar itu laki-laki yang lemah. Jika ia membaca Al-Qur’an ia tidak bisa menahan tangisnya.
Dalam riwayat lain dikatakan “Abu Bakar jika berdiri menggantikanmu di depan orang-orang, tidak terdengar bacaannya oleh orang yang dibelakang karena tangisannya”
Lain lagi dengan Abdurrahman bin Auf. Syu’bah bin Sya’ad bercerita, satu ketika makan malam sudah dihidangkan dihadapan Abdurahman bin Auf, setelah siang harinya ia berpuasa. Ia membaca surat al Muzzamil hingga sampai ayat 12-13.
“Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih ” (Q.S. Al-Muzzamil : 12-13).
Abdurahman bin Auf menangis, dan terus menangis hingga ia tidak jadi makan malam. Begitu dalamnya penghayatan mereka sehingga mampu membuat mereka melupakan kesenangan dunia dan hati mereka terfokus pada akhirat.
Kebiasaan ini pun terwarisi oleh generasi sholeh setelahnya, kita ambil contoh seperti yang disebutkan Yasir bin Dzaluq berkata, “Aku bermalam di rumah Al Rabi’ bin Khait sampai dan suatu malam, kemudian Ar Rabi’ melaksanakan shalat dan membaca surat al Jatsiah ayat 21
“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al-Jatsiah : 21).
Kemudian ia tidak tidur semalam penuh hingga subuh dalam keadaan menangis. Al Imam An-Nawawi berkata dalam kitabnya memberikan dorongan “Menangis disunahkan ketika membaca Qur’an. Dan itu adalah sifat orang-orang arif dalam syiar bagi hamba-hamba Allah yang saleh”
Demikianlah sekelumit kisah dari para sahabat Al-Qur’an yang bisa kita baca semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an, bukan sekedar membacanya tapi meningkat pada level penghayatan ayat-ayat Al-Qur’an.
Kemudian tanyakan kepada hati kita apakah masih sulit untuk menangis ketika membaca atau mendengar kalam-Nya yang begitu mempesona? Kalau masih sulit, menangislah karena kerasnya hati yang sulit memahami dan merenungi Al-Qur’an yang mulia.
Sekiranya manusia mau memperhatikan Al-Qur’an dan merenungkannya, niscaya hatinya akan lembut dan khusyu’. Inilah kalamullah, yang mampu menghancurkan gunung yang kokoh, karena takut dan tunduk kepada Allah SWT.
لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
“Seandainya Al-Qur’an ini Kami turunkan kepada gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah”. (QS. Al-Hasyr: 21).
by Ahmad Sodikun S.Pd.I. ahmadsodikun | Feb 15, 2016 | Artikel
Menangis merupakan karunia dari Allah SWT, ia menjadi indikator hati yang sehat dan jernih. Ibnu Abbas berkata saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua mata yang tidak disentuh api neraka yaitu, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang semalaman berjaga di jalan Allah“ (HR. Tirmidzi).
Bahkan kita harus menghawatirkan diri kita yang tidak mampu menangis terlebih karena dosa-dosa kita dan jauhnya kita dari Allah SWT. Hal ini menunjukkan kerasnya hati. “Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.” (QS. Az Zumar : 22).
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.
Beriman, menangis menjadi kebiasaan, sebagai pengaruh dari penghambaan yang tinggi kepada Rabbul ‘Izzati yang memiliki keagungan tiada batasnya. Sensitivitas hatinya sangat tajam. Ia mudah tersentuh manakala diingatkan dengan akhirat. Terlebih bagi para sahabat Al-Qur’an yang mendapatkan sentuhan langsung dari Allah SWT melalui kalam-kalam-Nya yang suci nan agung.
“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58).
Al-Qur’an adalah kitab yang dahsyat yang mampu menggetarkan hati orang yang membaca atau mendengarkan ayat-ayatnya. Pemuka-pemuka kaum Quraisy pernah meminta para jamah haji yang datang ke Makkah agar menutup kupingnya dengan kapas, karena khawatir akan terpengaruh oleh bacaan Al Qur’an yang dibaca oleh pengikut Nabi Muhammad saw.
Bacaan Al-Qur’an sangat berbekas di dalam hati orang yang beriman. Ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur’an diantara mereka ada yang menangis dan menyungkur sujud dengan dahinya sebagaimana disebutkan dalam surat Maryam ayat 58 diatas.
Mari kita bercermin pada para pendahulu kita. Bagaimana tetesan air suci yang keluar dari kedua mata para sahabat Al-Qur’an disebabkan kecintaan mereka pada kalamullah (ayat-ayat Al-Qur’an) yang mereka baca dan mendengarnya.
Abdullah bin Mas’ud mengisahkan Rasulullah saw berkata kepadaku “Bacalah Al-Qur’an dihadapanku”. Aku berkata, “Aku membaca atasmu? Dan atasmulah Al-Qur’an itu turun”. Rasulullah berkata “Sesungguhnya aku lebih suka mendengarkannya daripada selainku”. Kemudian aku membaca surat An Nisa hingga sampai ayat 41
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (QS. An Nisa : 41).
Kemudian beliau berkata “Tahan bacaanmu”. Tiba-tiba kedua mata beliau meneteskan air mata. Beliau mengulangi perkataannya: ”Tahan bacaanmu”. Kemudian aku angkat kepalaku, dan aku lihat air mata Rasulullah mengalir. *bersambung