0878 8077 4762 [email protected]

Kisah Hikmah: Engkau Sudah Berperang dengan Romawi?

Oleh: Fauzi Bahreisy
 
Seorang yang senang berghibah duduk di dekat ar-Rabi ibn Khutsaym. Sebagian orang memang memiliki lisan yang suka membicarakan keburukan orang. Ia laksana gergaji yang memotong kehormatan atau seperti lalat yang suka bertengger pada bagian yang luka.
Setiap manusia memiliki kesalahan. Namun peng-ghibah suka mengumpulkannya. Ia suka memperhatikan orang-orang. Ia tidak senang dengan kesuksesan orang. Dirinya sakit. Melihat orang dengan pandangan buruk. Yang terlihat hanya aib dan kekurangan orang.
Namun sebagian lagi memiliki hati yang bersih. Ia selalu berusaha memaklumi saudaranya. Ia melihat pada sisi-sisi positif dari kehidupan mereka dan kepada akhlak mereka yang mulia. Ia memuji sisi tersebut.
Nah, orang yang suka berghibah tadi datang kepada ar-Rabi ibn Khutsaym. Mendengar hal itu a-Rabi berujar, “Engkau sudah berperang dengan Romawi?”
“Belum,” jawabnya.
“Engkau sudah berjihad melawan Persia?” tanyanya lagi
“Belum.” jawabnya
“Romawi dan Persia selamat darimu, sementara saudaramu sendiri sesama muslim tidak selamat dari lisanmu?!”

Kisah Hikmah: Antara "Paku" dan Luka di Hati

Oleh: Fauzi Bahreisy
 
Ada seorang anak yang agak emosional. Menanggapi hal itu, sang ayah memberinya sekantung paku seraya berkata kepadanya, “Palu paku ini ke tembok taman setiap kali engkau emosi dan amat marah”.
Pada hari pertama si anak memalu 37 paku. Pada pekan berikutnya si anak belajar bagaimana cara mengontrol diri. Jumlah paku yang dipalu setiap hari berkurang. Dari sana si anak dapat belajar dengan mudah bagaimana cara mengontrol diri; lebih mudah daripada memalu paku ke tembok taman.
Akhirnya tibalah hari yang di dalamnya si anak tidak memalu satupun paku di tembok taman. Pada saat itu ia langsung memberitahu ayahnya bahwa ia tidak lagi perlu memalu paku.
Namun si ayah berujar, “Sekarang, copot satu paku pada setiap hari yang kau lewati tanpa marah.”
Beberapa hari berlalu. Akhirnya si anak memberitahu ayahnya bahwa ia telah berhasil mencopot semua paku yang terdapat di tembok.
Kemudian si ayah membawa anaknya ke tembok tadi. Ia berkata kepadanya, “Wahai anakku, engkau telah melakukan dengan baik. Akan tetapi, lihat lubang-lubang yang kau tinggalkan di tembok. Tembok itu tidak akan kembali seperti semula. Ketika terjadi konflik atau perselisihan antara dirimu dan orang lain lalu engkau mengeluarkan kata-kata buruk di saat marah, sebenarnya engkau telah meninggalkan luka di hati mereka sama seperti lubang yang kau lihat ini.”

Fatwa Al Azhar Mesir: Apa Hukum Melakukan Qunut Shubuh?

Alhamdulillah, asshalatu wassalaamu ala Rasulillah.
Menurut madzhab Syafii dan Maliki, melakukan qunut pada saat shalat shubuh adalah sunnah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.
مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
Rasulullah SAW senantiasa melakukan qunut pada saat shalat shubuh hingga ia meninggal dunia.” (HR. Ahmad).
Imam Nawawi mengomentari hadits ini dalam kitab “al-Khulashah” bahwa hadits ini shahih. Sebagian besar ahli hadits juga meriwayatkan hadits ini dan mereka juga mengatakan bahwa ia adalah hadits yang shahih.
Diantaranya ialah Imam al-Hakim di kitab “al-Mustadrak”, begitu juga Imam Baihaqi di beberapa kitabnya, serta al-‘Allamah al-Mu’allami di dalam kitab ‘at-Tankiil”. Qunut dalam shalat shubuh juga dilakukan oleh para sahabat, tabi’in dan para salaf.
Imam Nawawi berkata, “Ketahuilah, bahwa qunut adalah ibadah yang disyari’atkan pada shalat shubuh. Ia termasuk sunnah muakkadah, namun jika tidak dilakukan shalatnya tidak batal, akan tetapi ia harus melakukan sujud sahwi, baik karena disengaja ataupun lupa.” (Kitab al-Adzkaar, hal: 59)
Qunut dilakukan pada saat melaksanakan shalat shubuh, pada raka’at kedua setelah ruku’. Adapun menurut madzhab Maliki, ia dilakukan sebelum ruku’.
Namun demikian, kita tidak boleh memungkiri adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini. Sebab, ulama dari madzhab Hanafi dan Hanbali berpendapat bahwa qunut tidak ada dalam shalat shubuh.
Oleh karena itu, tidak boleh mengingkari orang yang melakukan qunut ataupun yang tidak melakukannya, walaupun kita lebih condong untuk memilih pendapatnya madzhab Syafi’i, karena dalil-dalilnya lebih kuat.
Selain itu, Imam Malik dan Imam Syafi’i berasal dari hijaz, mereka lebih mengetahui hadits-hadits yang tidak diketahui oleh imam yang lainnya.
Kami juga mengingatkan agar tidak menuduh kaum muslimin lainnya dengan ucapan bid’ah atau sesat, sebab mereka semua berada di atas kebenaran. Mereka juga memiliki keinginan dan berusaha untuk mengikuti Rasulullah saw. Maka dari itu, tidak boleh menyulut api fitnah diantara mereka.
Wallahu a’lam.
Sumber:
Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah (Dewan Fatwa Mesir)
Judul: Qunut Pada shalat Shubuh adalah bagian dari sunnah.
No Fatwa: 3536
Tanggal: 20-10-2009
Penerjemah: Fahmi Bahreisy, Lc
 

Untukmu Kader Dakwah : At Tadhiyah

Oleh : KH. Rahmat Abdullah
 
Yang dimaksud dengan at tadhiyah (pengorbanan) disini adalah
Pengorbanan jiwa raga, harta, dan waktu serta segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan. Dan tidak ada kata dakwah di dunia ini tanpa adanya rasa pengorbanan. Jangan merasa bahwa pengorbanan akan hilang begitu saja demi meniti jalan fikrah ini. Tapi itu tak lain adalah sebuah ganjaran yang melimpah dan pahala yang besar. Dan barangsiapa yang tak mau berkorban dengan kami, maka ia berdosa. Karena Allah Ta’ala telah menegaskan hal itu dalam banyak ayat Al Qur’an. Dengan memahami ini, maka Anda akan memahami doktrin “Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi”

(Hasan al Bana)

Ajruki ’ala qadri nashabiki (Ganjaranmu tergantung kadar lelahmu) H.R. Muslim dari Aisyah ra.
Kemauan Berkorban dan Sikap Jujur
Kemauan ini yang berani menantang bahaya dan segala hambatan seperti halnya akar sehat yang menembus tanah keras dan bebatuan. Ketika kaum beriman dihadang berulang kali, yang muncul adalah keberanian dalam merespon tantangan. Dua kali mereka berhasil memukul mundur serangan kafir Quraisy di Badar dan Uhud dalam rentang waktu yang amat singkat. Ternyata masih disusul dengan serangan sekutu yang secara kuantitatif tak seimbang (gabungan Yahudi, Quraisy, Ghathafan, dan Munafiqun).
Iman dan amal shalih digemukkan dengan pengorbanan. Ruh pengorbanan semakin besar bila semakin sedikit tubuh mendapat kenikmatan syahwatnya. Kisah Bal’am adalah sejenis makhluk yang mengikuti syahwat dunia. Berapapun ia diberi, tetaplah ia menjulur bagaikan seekor anjing (Q.S. Al Araf :175). Ia rela mengorbankan kehormatannya sebagai orang berilmu demi dunia yang tak memuaskan dahaga.
Jadi Orang Besar dengan Resiko Besar
Apa jadinya bila Nabi Ibrahim gagal berkorban dengan meninggalkan Istrinya dan anaknya Ismail di lembah tak bertanaman didekat Kabah (Q.S. Ibrahim: 37)? Apa jadinya bila Ismail yang telah remaja menghindari bapaknya agar tak terjadi pengorbanan besar itu (Q.S. Shaad : 102)?
Jelas mereka akan menjadi sosok yang tak pernah punya peran di panggung sejarah, karena sejarah tak pernah mau mengabadikan orang-orang biasa yang perjalanannya datar tanpa tantangan.
Belakangan datang generasi yang tak merasakan lelahnya berkorban di zaman awal Islam, saat muhajirin dan anshar bahu membahu. Mereka tak merasakan pergi meninggalkan tanah air atau disita harta dan dibunuhi keluarga mereka. Mereka tak merasakan diblokade tiga tahun di Syi’b, dan memakan daun perdu yang membuat luka kerongkongan.
Suatu hari datanglah Mush’ab bin Umair ke majelis Rasulullah SAW dengan pakaian tambal sambil mengenang masa-masanya dimanjakan orang tuanya dalam jahiliyah. Beliau diingatkan para sahabat agar menunggu masa jaya Islam.
Para sahabat bertanya : “Bukankah saat nanti kami lebih baik, ketika masa kemenangan dan ketenangan, karena sepenuh waktu beribadah dan tercukupi kebutuhan pokok?”
Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, kamu hari ini lebih baik daripada hari itu.”
Pengorbanan dan Tabiat Dakwah
Ia adalah langkah kembali yang benar dan jalan menghindari eksploitasi pengorbanan manusia bagi kepentingan Fir’aunisme, Hamanisme, Qarunisme, dan Bal’amnisme. Dan target ini sesungguhnya target dakwah itu sendiri yaitu pembebasan.
Pengorbanan dan Tabiat Dakwah menjadi perlindungan bagi hamba-hamba tak berdaya, membawa uang yang mereka peroleh dengan keringat dan darah bagi monster riba yang kejam dan mati rasa, bagi pemilik modal yang arogan dan sadis, dimangsa para kamera elit yang tak bermalu, pemimpin dengan fanatisme yang dendam dan dusta.
Pengorbanan rakyat yang terus dibodohi oleh para pemimpin berbaju paderi dan kiai, yang memanfaatkan kultus individu dan keyakinan lugu tentang kewalian dan adi kodrati. Padahal sang pemimpin lebih dekat kepada ateisme daripada monotaisme bahkan daripada politeisme sekalipun.
Pengorbanan menjadi shahih bila dapat mengantarkan atau mempersembahkan supremasi tertinggi di tangan Allah dan termuliakannya darah dan nyawa. Karenanya, tertutup semua jalan bagi berjayanya para penipu, pemeras dan kalangan yang memperdayakan mayoritas mengambang.
Kisah pengorbanan umat sebelumnya lebih berat, saat Rasul menceritakan kepada sahabatnya. “Sesungguhnya pada sebelum kamu, ada yang disisir dengan besi yang menancap ke bawah tulang, daging atau syarafnya. Semua itu tak mengalihkan merela dari agama. Sungguh Allah akan sempurnakan urusan ini, sampai seseorang dapat pergi sendirian dari Shan’a ke Hadhramaut tanpa takut kepada siapapun kecuali Allah” (Al Buthy, Fiqh Sirah 106)
Hanya Untuk-Nya
Dalil apapun tak terbuka bagi pengorbanan individu untuk kepentingan figur bagi dirinya sendiri. Justru yang ada melimpahnya teks larangan kultus, dan celaan bagi orang yang senang berdiri menyambut kedatangannya.
Ketika Imam Ali bin Abi Thalib berkunjung ke suatu tempat, rakyat datang dengan sikap merunduk-runduk. Kemudian Ali menasihati “Alangkah ruginya kelelahan yang berujung siksaan. Dan alangkah beruntungnya sikap ringan yang berubah aman bagi mereka”.
Seseorang yang menikmati ketentraman ibadah ritualnya dan melupakan tugas jihad lisan untuk menasihati mencegah kemungkaran di masyarakat ibarat burung unta yang merasa aman karena telah berhasil menyembunyikan kepalanya ke dalam gundukan pasir.
Suatu hari Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk menumpahkan adzab kepada penduduk suatu negeri. “Ya Rabbi, disana ada seorang shalih,” lapor malaikat dan sungguh Allah tahu hal itu. “Justru mulailah dari dia, karena tak pernah wajahnya memerah karena-Ku” (ketersinggungan karena kehormatan Allah dihinakan) H.R. Ahmad
Mahar perjuangan yang mahal tidak hanya menjadi tiket menuju kemenangan generasi ta’sis (perintis), tetapi juga bagi generasi sesudahnya. Dan mereka harus membayar dengan pengorbanan yang sama dalam bentuk, format, dan gaya yang berbeda.
Bagi generasi yang tak terdesak oleh jihad tangan (qital) selalu terbuka pengorbanan dengan berbagai jalan : pengorbanan waktu, perasaan, harta, kesenangan diri, dan lain sebagainya.
Mukmin sejati takkan bergembira karena tertinggal dari kesertaan berkorban, betapapun uzur bagi mereka rukhsah (keringanan), namun “Mereka berpaling dengan mata yang basah menangis karena tak menemukan biaya (untuk biaya angkutan perang).” Q.S. At Taubah : 92.
Referensi :
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Dakwatuna, KH Rahmat Abdullah
 
 
 
 

Utsman bin Affan, Malaikatpun Malu Padanya

Oleh: Muhammad Syukron Muchtar
 
Tidak akan pernah ada rasa bosan saat kita membaca atau mendengarkan kisah hidup ataupun perkataan para Sahabat Nabi SAW, sebab setiap ucapan dan perbuatan yang mereka lakukan selalu mengandung hikmah dan pelajaran yang penting untuk kita pahami dan kemudian kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Diantara kisah yang mengandung hikmah adalah kisah seorang Sahabat Nabi SAW yang bernama Utsman bin Affan –radhiyallhu ‘anhu– yang terdapat dalam kitab hadits shahih Muslim.
Ummul mukminin ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– bercerita :
Pada suatu hari Rasulullah SAW sedang duduk dan pakaian beliau sedikit terbuka hingga terlihatlah bagian dari betis dan paha beliau SAW, disaat seperti itu datang Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta izin untuk menemui Rasulullah SAW, Rasulullah SAW pun memberikan izin kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menemuinya tanpa membenahi pakaiannya (tetap terlihat betis dan pahanya).
Tidak lama setelah kedatangan Abu Bakar Ash-Shiddiq datanglah sahabat Umar bin Khattab, Umar bin Khattab pun meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk masuk menemuinya, Rasulullah SAW pun memberikan izin kepada Umar bin Khattab untuk masuk dan tetap membiarkan bagian dari betis dan pahanya terbuka.
Kemudian tidak lama setelah itu datanglah Sahabat Utsman bin Affan, Utsman bin Affan pun meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk masuk menemuinya, mengetahui Utsman bin Affan yang datang, Rasulullah SAW bergegas merapihkan pakaiannya (menutupi betis dan pahanya yang terbuka) dan kemudian mempersilahkan Utsman bin Affan untuk masuk menemuinya.
Melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, Ummul Mukminin ‘Aisyah pun terheran. Dan setelah Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan pergi, Ummul Mukminin ‘Aisyah pun bertanya perihal perubahan sikap Rasulullah SAW saat kedatangan Sahabat Utsman bin Affan.
‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– berkata :
“Wahai Rasullullah SAW, saat Abu Bakar masuk menemuimu, tetap membiarkan betis dan pahamu terlihat. Begitu pula saat Umar masuk menemuimu, engkau tetap membiarkan betis dan pahamu terlihat. Sedangkan ketika Utsman masuk, engkau segera duduk dan membenahi pakaianmu!” Mengapa hal itu engkau lakukan wahai Rasulullah?”
Rasulullah SAW menjawab, “Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang malaikat pun merasa malu kepadanya?
Subhanallah, begitulah keutamaan Sahabat Utsman bin Affan, malaikat dan Rasulullah SAW malu kepadanya, Rasulullah sangat cinta kepadanya, saking cintanya Rasulullah SAW kepada Utsman bin Affan, dua orang anak Rasulullah SAW yang bernama Ruqayyah dan Ummu Kultsum pun dinikahkan kepadanya (dinikahkan setelah istri pertamanya wafat, bukan saat yang bersamaan). Karenanyalah Utsman bin Affan mendapati gelar dzunnurain (pemilik dua cahaya).
ed : danw

Al Khansa : Wanita Tegar di Perang Qadisiyyah

Oleh : Lia Nurbaiti
 
Manusia yang hidup tanpa iman ibarat bulu yang melayang oleh hembusan angin. Ia tidak pernah tetap dan tenang, melainkan membawanya. Orang yang hidup tanpa iman tidak akan memiliki arti ataupun akar yang mengokohkannya. Hidupnya selalu dipenuhi rasa gelisah, gundah, bingung dan tidak memiliki tujuan hidup dan tidak pula mengerti untuk apa ia hidup.
Kehilangan iman seperti manusia yang hidup namun sesungguhnya ia sudah mati.
Bukankah sesungguhnya iman itu adalah cahaya, iman itu adalah penolong, iman itu adalah sesuatu yang merubah kehidupan dan hati seseorang menjadi mulia.
Seorang Wanita Penyair Terbesar
Pada zaman Rasulullah SAW ada seorang sahabat wanita agung yang ditempa dengan berbagai macam ujian dalam hidupnya. Sehingga ia mampu menjadi sahabat wanita yang tangguh dan penuh hikmah. Ia adalah Al-Khansa. Wanita yg memiliki nama asli Tumadhar binti A’mr bin Syuraid bin Ushayyah As-Sulamiyah. Ia sangat terkenal sebagai wanita mulia lagi pandai sebagai penyair.
Kesedihan Al-Khansa atas Kematian Saudaranya
Al-Khansa begitu sedih ketika saudara kandungnya yakni, Muawiyah bin Amr meninggal. Tapi kesedihannya tidak lebih sedih dari saudara kandung dari ayahnya yang bernama Shakhr. Shakhr terluka tertusuk pada saat berperang melawan Bani Asad, hingga ia terluka sampai pada akhirnya Shakhr meninggal. Dan inilah yg menjadi titik awal Al Khansa menuliskan dan membuat syair -syair dan puisi yang menggambarkan kesedihan yang teramat mendalam atas kepergian saudara-saudaranya.
Sinar Islam Menembus Hatinya
Takdir Allah SWT menghendaki awan iman bergerak di atas Al-Khansa lalu menumpahkan air hujan keimanan ke dalam dadanya, hingga iman menyentuh lubuk hatinya yang terdalam. Al-Khansa menepis debu-debu jahiliyah dan mengusung panji tauhid untuk memberi pelajaran kepada seluruh jagat raya yang tidak akan dilupakan dalam catatan sejarah sepanjang masa.
Al-Khansa ikut dalam rombongan kabilahnya yaitu Bani Sulaiman untuk menemui Nabi SAW dan menyatakan keislamannya. Penyesalan sangat meliputi hati Al-Khansa mengingat masa jahiliyahnya dahulu. Namun, kini Islam telah mengubah dan menempa dirinya menjadi seorang wanita yang berkepribadian kuat yang ia tuangkan juga dalam tulisan-tulisannya.
Sabar dan Tabah dalam Peristiwa Perang Qadisiyyah 
Allah menunjukkan rasa sayang-Nya melalui ujian dimana keempat anak Al-Khansa radhiyallahu ‘anha mati syahid dalam perang Qadisiyyah. Tapi inilah wanita mulia, kesedihan yang terjadi atas syahidnya keempat puteranya dalam perang Qadisiyyah telah membuatnya kokoh atas rasa sabar yang diiringi dengan iman dan ketakwaan yang menghujam hatinya.
Al-Khansa hanya berkata, “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) yang telah memberiku kemuliaan dengan kematian mereka. Aku berharap, Allah akan mengumpulkanku dengan mereka di tempat limpahan kasih sayangNya.”
Ada sebuah pesan yang ia sampaikan kepada keempat puteranya sehari sebelum mereka mati syahid dalam perang Qadisiyyah. Antara lain sebagai berikut , “Hai putera-puteraku, kalian semua memeluk Islam dengan suka rela dan berhijrah dengan senang hati. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah keturunan dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak pernah merendahkan kehormatan dan mengubah garis keturunan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia yang fana”.
“Putera-puteraku, sabarlah, tabahlah, bertahanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. Jika kalian melihat genderang perang telah ditabuh dan apinya telah berkobar, maka terjunlah ke medan laga dan serbulah pusat kekuatan musuh, pasti kalian akan meraih kemenangan dan kemuliaan di dalam kehidupan abadi dan kekal selama-lamanya.”
Sungguh perkataan wanita mulia untuk keempat puteranya yang kokoh hati dan imannya dalam memperjuangkan agama Allah.
Saatnya Berpisah
Segala sesuatu yang memiliki titik permulaan akan berakhir. Namun, sungguh indah ketika kehidupan seseorang berakhir pada satu titik yakni keimanan yang manis dan ketakwaan yang kokoh.
Itulah yang dialami oleh Al-Khansa. Ia terbaring di atas kasur kematian setelah merelakan keempat puteranya untuk meraih ridha Allah. Tulus, ketabahan dan kesabaranlah menjadi pengorbanan terbesarnya. Demi menjadi penghuni surga seperti sabda Rasulullah SAW: “Siapa yang merelakan tiga orang putera kandungnya (meninggal dunia), maka dia akan masuk surga”. Seorang wanita bertanya “Bagaimana jika hanya dua putera?” Rasulullah SAW menjawab, “Begitu juga dua putra.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Hibban dari Anas ra. Al-Albani menyatakan hadist ini shahih dalam kitab Shahiihul Jaami’, no.5969).
Al-Khansa radhiyallahu ‘anha yang telah ditempa luar biasa oleh Islam dan menjadi teladan bagi setiap ibu yang sabar, gigih dalam berjuang dan tegar itu telah meninggalkan kita selama-lamanya.
Semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha, serta menjadikan surga firdaus sebagai tempat persinggahan terakhirnya.
Referensi :
35 Sirah Shahabiyah Jilid 2, Penerbit Al I’tishom, Mahmud Al-Mishri