by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Feb 14, 2016 | Konsultasi, Konsultasi Umum
Assalamualaikum wr wb. Saya seorang laki-laki yang akan berencana menikahi seorang janda. Namun, saat ini calon saya mengalami kecelakaan hebat dan membutuhkan banyak darah, kemudian saya donor darah saya untuk dia. Nah pertanyaan saya apakah saya tetap boleh menikahi dia walaupun ada darah dalam tubuh dia, sekian terimakasih atas jawabannya. Wassalamu alaikum wr wb.
Hamba Allah
Jawaban:
Assalamu’alaikum wr wb.
Donor darah sama sekali tidak mempengaruhi kemahraman dan pernikahan. Posisinya berbeda dengan menyusui.
Dengan ketentuan yang sudah digariskan, menyusui bisa mempengaruhi kemahraman. Misalnya seperti dalam surat an-Nisa ayat 22, tidak boleh menikahi anak atau saudara sesusuan.
Hal ini tidak berlaku pada donor darah. Sebanyak apapun darah yang diberikan, ia tidak mempengaruhi kemahraman. Yang jelas, donor darah untuk mereka yang membutuhkan termasuk amal yang pahalanya besar sesuai dengan kadar atau kondisi orang yang membutuhkannya. Lewat donor darah bisa jadi banyak nyawa yang terselamatkan dengan izin Allah.
Wallahu a’lam. Wassalamu’alaikum wr wb.
Ustadz Fauzi Bahreisy
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Feb 12, 2016 | Konsultasi, Konsultasi Umum
Assalamu alaikum, Saya memiliki bisnis kaos anak yang kami beru nama “Kaos Edukatif Anak Muslim”, Tulisan pada kaos kami berisi hal-hal edukatif Islam yang kami maksudkan sebagai alternatif bagi anak agar anak anak jangan hanya memakai kaos yang bergambar barbie, naruto dan super hero lain. Namun demikian kami ingin mengkonsultasikan tentang beberapa desain yang rencana akan kami Rilis, salah satunya alah Desain dengan tulisan : Subhanallah, Glory be to Allah, Maha Suci Allah. Kami ingin mengetahui dari sisi syariah apa hukum tulisan Allah pada kaos, dan juga kami rencana membuat gantungan kunci dengan tulisan yang sama. Mohon lihat file terlampir untuk disain yang kami maksud. Jazakumullah khair
Jawaban :
Assalamu alaikum wr.wb. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du:
Setiap muslim hendaknya menghindari perbuatan atau tindakan yang mengarah pada penghinaan, penistaan, dan perendahan terhadap nama Allah. Termasuk hendaknya tidak memberikan peluang kepada orang lain untuk melakukan hal tersebut.
Nah membuat, menuliskan, dan memakai pakaian, kaos, perhiasan, serta benda bertuliskan nama Allah membuka peluang adanya penistaan tersebut. Apalagi di zaman sekarang saat pengetahuan dan kesadaran beragama umat Islam tidak begitu kuat.
Bisa jadi pakaian, kalung, atau gantungan kunci yang bergambar atau bertuliskan nama Allah tersebut dipakai saat masuk ke dalam toilet, dipakai tidur, atau diletakkan di tempat yang tidak layak.
Ibnu Hajar al-Haytsami berkata, “Dilarang menginjak kertas atau kain yang bertuliskan nama Allah dan nama Rasul-Nya. Sebab hal itu mengandung unsur penghinaan…”
Ketika ditanya tentang boleh tidaknya masuk ke kamar kecil dengan pakaian bertuliskan nama Allah, Lajnah Daimah menjawab, “Tidak boleh nama Allah dituliskan di atas pakaian. Juga makruh hukumnya masuk kamar kecil dengan pakaian tersebut karena di dalamnya ada unsur merendahkan nama Allah Swt.”
Karena itu, hendaknya nama Allah tidak dituliskan baik di atas kaos atau gantungan kunci, terkecuali apabila aman dan terjaga dari adanya unsur merendahkan nama-Nya yang agung dan mulia.
Adapun edukasi untuk anak bisa dilakukan dengan cara atau tulisan lain yang benar dan aman secara syariat. Wallahu a’lam.
Wassalamu alaikum wr.wb.
Ustadz Fauzi Bahreisy
Ingin konsultasi seputar ibadah, keluarga, dan muamalah? Kirimkan pertanyaan Anda kesini
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Feb 5, 2016 | Artikel, Qur'anic Corner
Oleh: Fauzi Bahreisy
Jika demikian fasilitas dan kenikmatan yang Allah berikan kepada penduduk sorga, lalu bagaimana caranya agar kita termasuk di dalamnya? Apa saja sifat yang harus dimiliki?
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (7)
Mereka menunaikan nazar dan takut terhadap suatu hari yang azabnya merata di mana-mana (QS al-Insan: 7)
Di antara sifat yang melekat pada golongan mukmin yang taat yang mendapatkan sorga Allah adalah mereka menunaikan nazar. Nazar yang dimaksud di sini tentu berupa nazar dalam hal ketaatan; bukan dalam hal maksiat. Pasalnya, Rasulullah saw. bersabda,
( من نذر أن يطيع الله فليطعه ومن نذر أن يعصه فلا يعصه ) رواه البخاري وأصحاب السنن .
“Siapa yang bernazar untuk menaati Allah, hendaknya ia taat. Sementara, siapa yang bernazar untuk bermaksiat kepada-Nya, janganlah ia lakukan.” (HR al-Bukhari dari Mâlik)
Misalnya kalau orang bernazar untuk bersedekah, pergi haji, salat lima waktu di masjid, berpuasa senin-kamis, mengkhatamkan Alquran dalam sepekan, maka nazar yang semacam ini harus ditepati. Namun, kalau karena sesuatu hal ia tak mampu memenuhinya, ia harus membayar kaffarah (denda) seperti kaffarah orang yang bersumpah. Yaitu, memberi makan sepuluh orang fakir miskin atau memberikan pakaian kepada mereka. Jika tidak mampu maka berpuasa selama tiga hari (lihat QS al-Maidah: 89)
Penunaian nazar secara sempurna sebenarnya merupakan kiasan atas pelaksanaan seluruh kewajiban syariat. Sebab, kalau nazar saja–yang pada dasarnya merupakan sesuatu yang ia wajibkan atas dirinya–dipenuhi dengan baik apalagi kewajiban yang memang telah Allah tetapkan atasnya, seperti salat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat dan seterusnya.
Di samping memenuhi nazar dan kewajiban yang ada, sifat kedua dari penghuni sorga adalah takut terhadap suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Inilah bentuk ketaatan dan ketakwaan yang sempurna dari seorang hamba. Yaitu menjaga kondisi lahir dan batinnya secara bersamaan. Kalau pelaksanaan nazar merupakan cerminan dari kondisi lahir, maka kondisi batin dari orang beriman dicerminkan dari sifat takutnya terhadap siksa Allah. Karena itu, orang beriman meninggalkan segala larangan karena takut kepada siksa di hari kemudian.
Siksa di hari tersebut bukan sekedar siksa biasa. Namun, azabnya merata di mana-mana. Ia mencakup seisi langit dan bumi. Yakni meliputi semua makhluk yang kafir, jahat, dan banyak melakukan maksiat. Adapun orang-orang beriman, mereka dalam kondisi aman dan tenang. Allah befirman,
Mereka tidak dibuat cemas oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata), “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu”. (QS al-Anbiya: 103)
Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (QS az-Zukhruf: 68).
Demikianlah kondisi yang dialami oleh kaum beriman. Mereka tenang, tenteram, damai, dan aman. Mereka tidak tersentuh oleh siksa yang menimpa kaum kafir dan pendosa. Kalau siksa hari pada hari tersebut dikatakan merata, hal itu lantaran jumlah orang yang mendapat siksa jauh lebih banyak sehingga tampak menimpa hampir semua orang.
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (8)
Mereka memberikan makanan yang ia sukai kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan (QS al-Insan: 8)
Selanjutnya sifat dari orang-orang yang mendapatkan kenikmatan di sorga adalah senang memberikan makanan. Sifat ini menunjukkan satu sikap mulia dari mereka; mengasihi sesama manusia. Inilah sifat yang tidak boleh lepas dari diri orang beriman. Di samping hubungan dengan Allah baik, hubungan dengan sesama manusia juga harus baik.
Mereka memberikan makanan. Ini bukan berarti pemberian tersebut hanya terbatas pada makanan. Makanan hanyalah kiasan dari kebaikan yang bisa dilakukan. Kalaupun makanan disebutkan pada ayat di atas, hal itu lantaran ia merupakan kebutuhan primer manusia. Dengan kata lain, ia bisa digantikan dengan pakaian, uang, dan lain sebagainya sesuai dengan keperluan. Yang penting adalah semangat untuk memberi sesuatu yang berguna bagi orang lain.
Hanya saja, ada hal lain yang perlu digarisbawahi. Selain barang yang diberikan berguna, pemberian baru bernilai mulia di sisi Allah, manakala diberikan dalam kondisi hati pemiliknya masih menyukai dan menyayangi barang tersebut. Dengan kata lain, barang tersebut bukan diberikan hanya lantaran merupakan barang sisa, berlebih, dan sudah tidak terpakai atau usang. Namun, barang yang diberikan hendaknya merupakan barang yang ia sukai.
أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ فَقَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا أَلَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ
Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik sedekah adalah yang kau berikan dalam kondisi dirimu masih sehat, kikir (suka), mengharap kaya, dan takut miskin.” (HR Muslim).
Artinya, sedekah terbaik adalah yang diberikan dalam kondisi diri ini masih mencintai dan membutuhkan harta tersebut. Nilai dari sedekah yang diberikan dalam kondisi demikian tentu berbeda dengan sedekah yang diberikan saat seseorang sudah dalam kondisi sakit-sakitan, hampir mati, putus asa, dan sudah tidak mencintai harta.
Jadi, semakin disukai oleh pemiliknya semakin tinggi pula nilai sedekah yang diberikan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 92,
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.
Diriwayatkan bahwa Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah sering memberikan sedekah berupa gula. Lalu ada yang bertanya, “Mengapa engkau sering memberi gula?” Ia menjawab, “Sebab aku menyukainya.” Kemudian beliau mengutip firman Allah di atas (Ali Imran: 92).
Sementara, ketika turun ayat di atas Abu Thalhah pergi menuju hartanya yang paling bernilai, yaitu Bayruhâ`, kebun kurma miliknya. Lalu ia menyedekahkan kebun tersebut di jalan Allah.
Lalu kepada siapa infak dan sedekah itu diberikan?
Mereka memberikan makanan yang ia sukai kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan
1. Orang miskin. Siapa yang disebut miskin?
Menurut Imam Hanafi dan Maliki: “Orang yang tidak memiliki apa-apa.”
Imam Syafii: “Orang yang mampu mendapat penghasilan tetapi tidak mencukupi. Adapula yang menyamakan antara fakir dan miskin.
2. Anak yatim: orang yang ditinggak mati ayahnya sebelum baligh. Ia layak mendapat perhatian dan kasih sayang hingga bisa mandiri. Fadhilah orang yang memerhatikan anak yatim: ia akan bersama Rasul saw di surga (ana wa kafilul yatim ka hatayni fil jannah). Sementara siapa yang tidak memerhatikannya dianggap sebagai orang yang mendustakan agama.
3. Tawanan. Maksudnya tawanan perang, apapun agamanya. Rasul saw menyruh sahabat pada perang Badar untuk mmberikan makan kepada para tawanan tersebut. Inilah etika dan akhlak Islam. Adapula yang menafsirkan tawanan disini sebagai “isteri” karena berada dalam penjagaan suami.”
Mengapa miskin didahulukan, lalu yatim dan tawanan?
1. Dari segi kebutuhan.
Karena kebutuhannya bersifat permanen. (berhak mendapat sedekah dan zakat), sementara yatim tidak selalu membutuhkan karena ada pula yatim yang kaya. Lalu tawanan tidak termasuk yang wajib diberi makan oleh setiap muslim; tetapi oleh penguasa saja.
2. Dari segi jumlahnya.
Orang miskin jauh lebih banyak dari yatim. Sebab yatim berakhir ketika baligh atau sudah bisa mandiri. Apalagi tawanan yang hanya ada di saat perang.
3. Dari segi kemandirian.
Orang miskin lebih mandiri dan lebih bisa memergunakan harta sesuai kebutuhan. Anak yatim tidak. Apalagi tawanan yang tidak bebas merdeka.
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Feb 5, 2016 | Artikel, Qur'anic Corner
Oleh: Fauzi Bahreisy
Setelah menjelaskan tentang keberadaan dua golongan manusia: golongan yang bersyukur dan golongan yang kufur, Allah melanjutkannmya dengan balasan yang akan Dia berikan nanti untuk masing-masing mereka.
إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًا
Kami telah sediakan untuk orang-orang kafir: rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala (QS al-Insan: 4)
Allah telah menyediakan siksa dan hukuman bagi orang kafir. Siksa tersebut tidak hanya disiapkan; tetapi telah disediakan. Karena itu kata kerja yang dipergunakan bukan أعْدَدْنَا (telah menyiapkan); melainkan أعتدنا (telah menyediakan).
Ini memberikan kesan lebih kuat dan lebih dalam. Pasalnya, sesuatu yang disiapkan belum tentu tersedia. Namun, sesuatu yang telah tersedia berarti telah siap dan telah ada.
Di samping itu, menurut pandangan ulama ahlu sunnah wal jamaah, ayat di atas juga menjadi dalil bahwa neraka saat ini telah ada dan telah tercipta. Pandangan ini diperkuat oleh sejumlah hadits Rasul saw. yang mengisyaratkan telah terciptanya neraka dan sorga. Di antaranya hadits tentang perjalanan manusia sesudah mati dan setelah dikubur.
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Thabrani, ketika telah mendapat pertanyaan dari malaikat, orang yang berada dalam kubur akan diperlihatkan pintu yang menuju neraka. “Bukakan untuknya pintu menuju neraka!” Maka, dibukalah pintu menuju neraka untuknya.”
Lalu, apa bentuk siksa yang didapat orang kafir? Salah satu yang disebutkan dalam surat ini adalah rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Rantai dipakai untuk mengikat kaki mereka. Belenggu dipakai untuk mengikat tangan ke leher. Sementara, neraka yang menyala adalah untuk membakar sehingga mereka menjadi kayu bakar jahannam.
Ada sebuah pertanyaan yang muncul; yaitu mengapa Allah menyebutkan rantai dan belenggu sebagai salah satu siksa bagi orang kafir di antara sekian banyak siksa yang diberikan kepada mereka? Apalagi penyebutan neraka yang menyala-nya sudah mencakup dan meliputi semua jenis siksa?
Menurut Dr. Fadhil Shalih al-Samira’I, hal itu terkait dengan kebebasan yang Allah berikan sebelumnya ketika manusia berada di dunia. Bukankah sebelumnya Allah memberikan kebebasan untuk memilih sehingga ada yang bersyukur dan ada yang kufur?!
Nah, karena orang kafir ketika berada di dunia tidak memanfaatkan kebebasan tersebut untuk memilih jalan yang benar, maka di akhirat kebebasan tadi tertutup bagi mereka. Sebagai akibatnya, kaki, tangan dan leher mereka terikat; tak bisa bebas bergerak. Itulah balasan bagi orang yang tak bisa memanfaatkan peluang kebebasan yang Allah berikan ketika di dunia.
Bayangkanlah bagaimana kondisinya ketika ia digiring ke neraka yang menyala-nyala dalam kondisi demikian. Sungguh sebuah gambaran yang menyeramkan. Semoga Allah melindungi kita darinya.
إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا
Orang-orang yang berbuat kebajikan meminum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur (QS al-Insan: 5)
Setelah menggambarkan siksa yang diberikan kepada orang kafir, Allah mengetengahkan gambaran penduduk surga. Sengaja gambaran tentang nikmat yang diberikan kepada orang mukmin yang pandai bersyukur diletakkan sesudah berbicara tentang siksa padahal penyebutan orang yang beryukur pada ayat ketiga diletakkan sebelum orang yang kufur. Hal itu di antaranya untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi penjelasan tentang berbagai kenikmatan yang ada. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, yang dimaksudkan untuk mendekatkan pada kondisi yang sebenarnya sehingga kita terpacu untuk bisa meraihnya. Orang-orang yang berbuat kebajikan. Inilah golongan yang mendapatkan kenikmatan di surga.
Sebenarnya ada dua kata dalam bahasa Arab yang sama-sama mengacu kepada pelaku kebajikan dalam bentuk plural: أبرار dan بررة. Hanya saja di dalam Alquran ada perbedaan penggunaan untuk keduanya. Bentuk pertama dipergunakan untuk manusia, sementara bentuk kedua dipergunakan untuk malaikat; tidak pernah dipergunakan untuk manusia. Lihat misalnya dalam surat Abasa ayat 15 dan 16:
كِرَامٍ بَرَرَةٍ (16) قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (17)
Di tangan Para penulis (malaikat), yang mulia dan berbuat bajik.
Mengapa demikian? Tidak lain karena kata abrar mengacu kepada pelaku kebajikan yang jumlahnya sedikit, sedangkan bararah mengacu kepada pelaku kebaikan yang jumlahnya banyak. Hal ini sesuai dengan penjelasan Allah yaitu bahwa malaikat seluruhnya taat dan tunduk kepada-Nya, sementara tidak demikian dengan manusia. Hanya sedikit jumlah manusia yang beriman dan bersyukur di tengah limpahan karunia Allah yang tak terhingga. Fakta dan kondisi saat ini menjadi bukti atasnya.
Berapa banyak orang yang taat? Berapa banyak orang yang jujur? Berapa banyak orang yang melaksanakan salat lima waktu secara istikamah? Berapa banyak yang rutin mengaji? Allah befirman,
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ (13)
Sedikit sekali di antara hamba-Ku yang pandai bersyukur (QS Saba: 13)
Meminum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. Inilah nikmat yang didapatkan oleh orang yang berbuat bajik dan taat. Penggunaan kata kerja “meminum” dalam bentuk mudhari (present tense) mengisyaratkan bahwa mereka bisa minum kapan saja mereka kehendaki tanpa ada yang menghalangi. Lebih dari itu, bukan sembarang minuman yang mereka reguk. Tetapi, minuman istimewa karena dicampur dengan air kafur; yang aromanya wangi, berwarna putih, dan lezat rasanya.
Menurut Sayyid Quthb, dahulu orang-orang Arab biasa mencampur khamar yang biasa mereka minum dengan kafur atau dengan jahe untuk menambah kenikmatan. Ternyata minuman sejenis itu juga disediakan oleh Allah di surga. Hanya saja, tentu kualitasnya jauh berbeda. Pasalnya, apa yang terdapat di surga jauh lebih lezat, lebih segar, dan jauh lebih nikmat daripada apa yang terdapat di dunia. Dalam hal ini kafur yang berada di surga berupa mata air seperti diterangkan oleh ayat selanjutnya.
عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا (6)
(Yaitu) mata air (di surga) yang hamba-hamba Allah minum darinya. Mereka dapat mengalirkannya ke mana saja (QS al-Insan: 6)
Ya, itulah yang dimaksud dengan kafur. Ia merupakan mata air yang mengalir di dalam surga. Lalu, siapa yang berhak mendapatkan dan meminum mata air tersebut secara langsung tanpa dicampur?
Hamba-hamba Allah minum darinya. Ini menunjukkan bahwa ibadullah (hamba Allah) yang dimaksud pada ayat di atas memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada al-abrâr (pelaku kebajikan dan ketaatan). Pasalnya ibadullah meminum air kafur tersebut secara murni tanpa dicampur dengan yang lain, sementara al-abrar meminum kafur hanya sebagai campuran.
Perumpamaannya adalah seperti orang yang meminum susu murni dan orang yang meminum susu dicampur dengan air. Tentu kedudukan antara kedua orang tersebut berbeda. Memang di akhirat nanti manusia terbagi tiga kelompok.
Allah befirman, “Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya. Lalu gunung-gunung dihancurluluhkan seluluh-luluhnya. Maka, jadilah ia debu yang beterbangan. Dan kamu menjadi tiga golongan: yaitu (1) golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan (2) golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Selanjutnya (3) orang-orang yang cekatan dalam kebaikan. Mereka Itulah al-muqarrabûn (yang didekatkan kepada Allah. Mereka berada dalam surga kenikmatan” (QS al-Waqiah: 4-12)
Nah, dalam hal ini al-abrar adalah golongan kanan, orang kafir golongan kiri, sementara ibadullah adalah orang yang cekatan dalam kebaikan yang kedudukannya dekat dengan Allah (al-muqarrabun). Jadi, orang yang cekatan dan menunjukkan ketaatan yang istimewa sebagai hamba Allah mendapatkan kedudukan khusus di sisi-Nya.
Di antara keistimewaan tersebut adalah pemberian mata air kafur sebagai minuman mereka. Tidak hanya sekedar minuman murni, bahkan, mereka dapat mengalirkannya ke mana saja. Artinya, mata air tersebut bisa dipancarkan ke mana saja mereka kehendaki dan di mana saja mereka berada. Entah ketika mereka berada di istana, rumah, kebun, ataupun majlis tempat duduk mereka. Entah dalam kondisi berdiri, duduk, tidur, ataupun di saat mereka berjalan. Subhanallah!
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Feb 2, 2016 | Artikel, Kajian
Oleh: Fauzi Bahreisy
Setiap surat yang terdapat dalam Alquran memiliki keistimewaan masing-masing; entah dari sisi isi, gaya bahasa, cara penyampaian, ataupun fadhilah-nya. Demikian pula dengan surat al-Insan. Surat ini—yang juga disebut dengan surat ad-Dahr—memiliki keistimewaan dan keutamaan sendiri.
Dalam Shahih Muslim seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. disebutkan bahwa Rasulullah SAW pada saat melakukan shalat subuh di hari jumat membaca surat as-Sajadah pada rakaat pertama dan surat al-Insan pada rakaat kedua. Tentu bukan karena kebetulan beliau memilih surat al-Insan sebagai bacaan dalam salat beliau. Pastilah hal itu dilakukan karena kedudukan dan rahasia yang terdapat di dalamnya.
Sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini merupakan surat Madaniyyah; diturunkan setelah Rasulullah SAW berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Namun, pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa surat ini dilihat dari muatan isi dan konteksnya merupakan surat Makkiyyah; yakni diturunkan sebelum hijrah. Pasalnya, di sini Allah mengetengahkan gambaran yang cukup panjang tentang surga berikut gambaran tentang siksa.
Di dalamnya Allah juga memberikan pengarahan kepada RasulullahSAW untuk bersabar menghadapi kondisi yang ada dan untuk tidak menaati orang kafir; di mana semua ini terjadi saat beliau mendapatkan intimidasi dan tekanan keras dari penduduk Mekkah. Karena itu, surat ini lebih mencerminkan ciri dari surat Makkiyyah.
Lalu mengapa ia disebut dengan surat al-Insan yang secara bahasa bermakna manusia? Pasalnya, menurut Dr. Fadhil Shalih as-Samira’i, dari segi konteks dan isi, surat ini mengemukakan berbagai tahapan kondisi manusia dari awal sampai akhir. Diawali dengan penegasan tentang fase ketiadaannya, lalu kedatangannya ke dunia yang berasal dari nuthfah, kemudian keberadaannya sebagai manusia yang mendapatkan tugas dan beban taklif, serta kesudahannya entah menuju sorga yang penuh dengan nikmat atau menuju neraka yang penuh siksa dan derita.
Semua itu dijelaskan oleh Allah dalam bentuk yang menarik. Menarik karena gambaran tentang keduanya (surga dan neraka) mendapatkan porsi yang sangat berbeda. Kalau gambaran siksa neraka dilukiskan hanya secara umum dan singkat, sebaliknya gambaran tentang sorga dilukiskan secara detil dan indah. Tentu saja gambaran semacam itu menjadi pemicu bagi kita semua untuk menumbuhkan keinginan, menambatkan harapan, mengarahkan perhatian, dan menyiapkan bekal guna menggapai surga-Nya.
Peluang dan kesempatan untuk menggapai kenikmatan abadi tersebut terbuka bagi kita semua; yaitu yang memiliki akal, perasaan, tekad, dan bashirah. Kalau surga berhasil digapai—di mana ini menjadi doa dan harapan kita semua–sungguh merupakan lompatan perjalanan dan perpindahan yang luar biasa. Semuanya merupakan nikmat dan karunia Allah untuk manusia. Bayangkan manusia yang tadinya tiada, setelah dihadirkan ke dunia tidak dibiarkan begitu saja. Dengan karunia, kehendak, bimbingan dan kekuasaan-Nya Allah arahkan manusia untuk menggapai kenikmatan abadi di dalam surga-Nya. Semoga taufik dan hidayah-Nya senantiasa bersama kita. Amin.
Tadabbur
Sekarang, marilah kita menelaah, mempelajari, dan mentadabburi ayat demi ayat dari surat al-Insan ini untuk kemudian menjadi bekal, modal, dan landasan dalam beramal.
هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (1)
Bukankah telah datang kepada manusia satu waktu dari masa, yang ketika itu ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS al-Insan: 1)
Ini merupakan ayat pertama yang menjadi pembuka surat al-Insan. Ia dimulai dengan sebuah pertanyaan. Namun, pertanyaan tersebut bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Melainkan pertanyaan yang bermakna penegasan. Sama seperti ketika kita berkata kepada seseorang, “Bukankah sebelumnya engkau berada dalam kondisi miskin?! Bukankah ia telah memberikan banyak bantuan kepadamu?! Bukankah aku telah mengatakan hal tersebut sebelumnya?”
Nah, ayat di atas juga bermakna demikian. Dengan bentuk pertanyaan seperti itu Allah ingin menegaskan sekaligus mengingatkan kita tentang sebuah hakikat yang sangat penting. Yaitu bahwa sebelum hadir ke dunia, manusia tidak memiliki wujud dan belum menjadi sesuatu yang disebut-sebut. Jangankan eksistensi dan wujudnya, namanya saja belum ada. Entah berada di mana kita seratus tahun, dua ratus tahun, atau seribu tahun yang lalu. Lalu jika demikian, bagaimana manusia bisa berlaku sombong, congkak dan angkuh. Tidakkah ia mengingat kondisinya yang berawal dari tiada?! Tidakkah ia mengingat kelemahan dan ketidakberdayaannya?! Kalaulah saat ini kita menjadi besar, tampan, cantik, memiliki harta, dan jabatan maka harus disadari bahwa sebelumnya kita tiada, tidak mempunyai modal, dan tidak memiliki apa-apa.
Redaksi di atas merupakan cara Allah dalam menyadarkan dan mengingatkan manusia bahwa Dia Mahakuasa, sementara manusia lemah dan tak berdaya. Dalam surat Maryam ayat 9 Allah juga befirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku. Aku telah menciptakan kamu sebelum itu, yaitu di saat kamu belum ada.”
Kembali pada ayat pertama di atas, apa gerangan jawaban atas pertanyaan dan penegasan Allah tersebut? Adakah di antara kita yang menyangkal kalau manusia tadinya tiada kemudian ada?! Tentu tak ada yang bisa menyangkal. Kalau demikian, siapa yang yang telah menghadirkan manusia ke dunia dan dari mana asalnya? Ayat kedua dari surat al-Insan memberikan jawaban:
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (2)
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur untuk Kami uji. Karena itu, Kami jadikan ia mendengar dan melihat”.
Sangat jelas bahwa yang menghadirkan manusia dan menciptakannya adalah Allah. Hal ini diperkuat dengan huruf inna (sungguh) yang berfungsi untuk mempertegas agar tidak ada lagi yang ragu dan bimbang.
Ya, manusia tidak hadir dengan sendirinya ke dunia dan tidak berasal dari sebuah kebetulan. Tetapi, manusia hadir dari sebuah proses penciptaan yang rumit dan sempurna. Dan yang menciptakannya tidak lain adalah Allah SWT.
Dari apa Allah menciptakan manusia? “Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur.” Inilah asal dan bahan dasar penciptaan kita. Siapapun kita, apapun jabatan kita, dan di manapun kita berada, semua berasal dari nuthfah atau mani. Lalu, dengan kekuasaan, pengetahuan, dan kebijaksanaan Allah, mani yang kotor dan menjijikkan itu secara perlahan-lahan berubah menjadi janin dan berbentuk manusia. Betapa besar kemurahan Allah atas kita!
Manusia berasal dari setetes mani yang bercampur; yaitu campuran antara sperma laki-laki dan ovum wanita. Dengan kehendak-Nya mani tersebut bersatu dan berproses untuk kemudian menjadi manusia.
Selanjutnya, setelah manusia tercipta muncul pertanyaan lain: Apa makna dari kehadiran manusia ke dunia? Apakah hanya untuk bermain-main, bersenda gurau, dan bersenang-senang? Apakah hanya untuk memperturutkan nafsu dan melampiaskan syahwat? Apa hanya untuk makan dan minum? Untuk berbuat berbagai kezaliman dan penyimpangan? Atau hanya sekedar menghabiskan waktu tanpa tujuan yang jelas?
Tentu saja tidak. Allah tidak pernah bermain-main dalam menciptakan makhluk; apalagi dalam menciptakan manusia.
Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS al-Mu’minun: 115)
Ada tujuan yang jelas dari penciptaan manusia. Yaitu “untuk Kami uji”. Jadi, Allah menghadirkan manusia untuk diuji sehingga tampak sejauh mana kualitasnya. Hal sama Allah sebutkan dalam ayat kedua surat al-Mulk,
Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah terdapat segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Dia) yang menjadikan mati dan hidup untuk mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (QS al-Mulk: 1-2)
Inilah hakikat dari keberadaan kita di dunia. Kita semua pada dasarnya sedang diuji oleh Allah. Sepanjang berada di dunia selama itu pula kita harus siap menerima berbagai ujian. Karena itu, dunia disebut sebagai dar al-ibtila (negeri tempat ujian), sementara akhirat disebut sebagai dar al-jaza (negeri tempat pemberian balasan). Ujian yang Allah berikan mempunyai beragam bentuk. Ujian tersebut berupa perintah dan larangan-Nya, berupa kesenangan dan kesulitan, berupa nikmat dan bencana, sehat dan sakit, kaya dan miskin, dan seterusnya. Kalau kita berhasil mengatasi semua ujian yang Allah berikan dengan baik, maka sorga berikut segala kenikmatan di dalamnya menjadi milik kita. Namun, jika tidak, akibatnya adalah derita. Naudzu billah.
Oleh sebab itu, kita tidak boleh tertipu dengan dunia yang hanya merupakan tempat ujian dan bersifat sementara. Pasalnya, tempat kita yang hakiki dan abadi adalah akhirat.
Nah, karena keberadaan kita di dunia ini dalam rangka untuk diuji, maka di antara bentuk kasih sayang Allah Dia membekali kita dengan sejumlah perangkat yang membuat kita siap menghadapi ujian tersebut. Seandainya Allah menguji kita tanpa memberikan bekal, perangkat, dan penjelasan, tentu ini merupakan sebuah kezaliman. Namun, Mahasuci Allah dari sifat tersebut.
Kami jadikan ia mendengar dan melihat. Allah membuat kita bisa mendengar dan melihat. Pendengaran dan penglihatan merupakan perangkat dan indera utama manusia. Dua hal inilah yang Allah sebutkan mengingat kedudukan dan fungsinya yang sangat penting. Manusia baru bisa menangkap ilmu pengetahuan, menjangkau dan memahami segala informasi, memilih dan menghadapi ujian yang Allah berikan lewat keberadaan kedua perangkat tersebut.
Di samping itu, ada hal menarik lain pada redaksi di atas. Yaitu ketika Allah mendahulukan kata “mendengar” sebelum “melihat”. Hal sama Allah sebutkan dalam sejumlah ayat lain, misalnya:
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Lalu Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur (QS an-Nahl: 78).
Janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungan jawab. (QS al-Isra: 36)
Pada kedua ayat di atas dan juga pada ayat-ayat lain yang senada, Allah selalu menyebutkan pendengaran sebelum penglihatan. Di satu sisi ini menunjukkan bahwa dalam menangkap pengetahuan, pendengaran memiliki kedudukan yang lebih penting dan lebih utama. Di sisi lain ia juga menegaskan bahwa indera pendengaranlah yang lebih dahulu berfungsi daripada penglihatan. Bukankah bayi yang baru lahir tidak bisa langsung melihat?! Butuh beberapa waktu baginya untuk bisa melihat meski hanya sekedar bayangan. Hal ini berbeda dengan pendengaran yang bisa langsung berfungsi yang karena itu pula bayi yang baru lahir dianjurkan untuk segera diazani dan diiqamahi.
Setelah memberikan pendengaran dan penglihatan, Allah juga menganugerahkan kepada kita sebuah petunjuk jalan.
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا (3)
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur” (QS al-Insan: 3)
Inilah penyempurna dan nikmat paling utama dari seluruh nikmat yang diterima manusia. Menurut Fakhruddin ar-Razi, yang dimaksud dengan jalan lurus di atas adalah petunjuk, akal, nabi, dan kitab suci yang Allah anugerahkan untuk membimbing manusia. Hal ini penting karena meskipun manusia telah diberi pendengaran dan penglihatan, namun tanpa bimbingan dan petunjuk dari Allah manusia takkan bisa menemukan hakikat kebenaran. Tanpa petunjuknya, manusia akan tercerai-berai dan tersesat. Semua akan berjalan sesuai dengan kehendak, kemauan, dan keinginan masing-masing. Oleh sebab itu, jalan lurus hanya berasal dari Allah yang berupa manhaj dan ajaran-Nya. Hanya Dia—sebagai Zat Pencipta—yang mengetahui apa yang mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan bagi manusia.
Setelah Allah menganugerahkan pendengaran, penglihatan, akal dan petunjuk, manusia terbagi dua kelompok besar: ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. Demikianlah fenomena yang kita saksikan dalam realitas nyata. Ini sekaligus menunjukkan hasil dari ujian yang Allah berikan kepada mereka.
Sikap syukur merupakan respon alami yang muncul dari dalam kalbu kita manakala mendapatkan limpahan nikmat dan karunia. Apalagi, karunia tersebut mengantarkan kepada nikmat berikutnya yang abadi. Dalam kondisi demikian sudah selayaknya manusia bersyukur.
Namun, jika sikap yang ditunjukkan justru sebaliknya. Yaitu ingkar dan tidak mensyukuri nikmat tadi, ini sungguh merupakan sikap yang keterlaluan. Karena itu, tidak aneh kalau bentuk kata yang dipergunakan adalah kafûr yang dalam bahasan Arab dikenal sebagai bentuk mubalaghah (hiperbola). Bentuk tersebut dalam Alquran dipergunakan untuk mereka yang sangat membangkang atau untuk mereka yang tidak pandai membalas budi dan kufur nikmat. Misalnya Allah berfirman, setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (QS al-Isra’: 27)